Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Langit dan Bumi


__ADS_3

Reyno dan Callista adalah orang yang paling terakhir tiba di lapangan. Berhubung mereka berada di kelas yang berbeda,otomatis,guru yang mengajar mereka juga berbeda.


Setelah menepuk pundak Reyno dan berpamitan sejenak,Callista pun menghampiri teman sekelasnya yang terlihat sudah melakukan pemasanan.


Sempat terlibat drama cek cok dengan pak Bono,namun Callista berhasil mengelak hingga hukuman yang seharusnya ia dapat pun bisa terhindarkan.


Sementara itu,di seberang lapangan. Tepatnya di lapangan futsal,yang jaraknya tak jauh dari kelas IPS berbaris. Reyno terlihat tengah di omeli oleh pelatihnya,terlihat juga tatapan kecewa dari teman se-tim futsalnya.


"Hampir setengah jam teman-teman kamu nunggu kamu Rey. Apalagi setelah dua minggu kamu gak masuk,perfoma tim kita bisa makin menurun kalau kamu begini terus!"


Kepala Reyno makin menunduk. Baru telat saja ia sudah di omeli panjang lebar,lantas bagaimana kalau pelatihnya itu tau kalau Reyno tidak bisa bermain futsal? Apa jangan-jangan ia akan di hukum berat? Oh atau lebih parah mungkin orangtuanya akan di panggil.


Semuanya terasa jacau,jika boleh memilih. Reyno lebih baik masuk sekolah dengan identitas cupunya saja,di bully pun tak apa,lagi pula ia sudah terbiasa di bully.


Kalau bisa memilih,juga dulu ia akan meminta pada orangtuanya agar jangan menyuruh Raynand menyamar menjadi dirinya.


Ia dan Raynand sudah terbiasa menjadi langit dan bumi sejak kecil. Ia si manja dan Raynand si mandiri,ia si lemah dan Raynand si pahlawan,ia si cupu dan Raynand si sorotan. Kelebihan Reyno hanya pada kasih sayang kedua orangtuanya yang berlimpah,sisanya tak ada mengenakkan.


Ia di karunia otak yang tidak pintar,tidak pernah juara,tidak seperti Raynand yang bisa mempelajari segala hal dengan mudah. Namun meski begitu,Reyno tak iri pada Raynand.


Raynand tetaplah kakak terbaiknya,yang selalu pasang badan membelanya,melindunginya bahkan tak segan menerima hukuman hanya untuk membelanya.


Namun sayang sekarang,hanya ada Reyno di Bina Bangsa. Di situ ia di anggap sebagai orang asing,Raynand tak ada,dan Tama?


Orang yang mengenalnya sedari kecil itu bahkan tak sudi membelanya.


Huh..,mengingat hal itu membuat Reyno makin takut saja. Tanpa ia sadari,tubuhnya mulai bergetar dan keringat  dingin mulai mengguyuri tubuhnya.


Di saat-saat seperti ini,Reyno sangat membutuhkan Raynand.


"Abang tolong!" Batinnya menjerit!


♡♡♡


Callista mengamati wajah Reyno dengan lekat. Saat ini mereka berada di kantin,ditemani wajah suram Reyno.


Ya,seperti yang Callista tau. Pria di hadapannya ini baru saja menerima hukuman berupa lari keliling lapangan. Bahkan tadi saat bermain perfoma Reyno sangat buruk,ia beberapa kali terjatuh,salah menendang bola dan yang paling parah adalah ia menjadi korban dorong dari teman-teman setimnya karena larinya yang lemot.


Melihat wajah Reyno yang makin suram,Callista merasa kasian dan tergerak ingin menghibur.


"Rey?" Callista membuka pembicaraan.


Reyno menoleh sejenak. Kemudian,pria itu terlihat mengalihkan pandangannya  kembali ke depan.


Kelakuannya tentu membuat Callista ikut-ikutan menghembuskan napas kesal.


"Lo kenapa sih? Kepikiran ucapan Karam? Atau tersinggung sama sikap Tama?"

__ADS_1


Ya,selain membuat kesalahan di lapangan. Reyno juga mendapat masalah di lingkungan pertemanannya.


Tadi Tama terlihat membentaknya di bangku kantin,aksi mereka bahkan menarik perhatian hingga akhirnya Callista datang dan menarik Reyno menjauh dari sana.


Jadi di sinilah mereka berada,dengan Reyno yang masih bisu dan Callista yang menahan rasa ingin tahunya.


"Rey! Kalau lo gak ngomong.."


"Callista!!"


"Gue cari-cari,taunya mojok di sini. Dasar!"


Callista memutar bola matanya seraya menghembuskan napas kesal. Belum juga kelar ia berbicara,Alina sahabatnya sudah datang menganggu.


Tak lama setelahnya,juga muncul Karamel yang menyusul dari arah belakang.


Kedatangan Karamel,membuat atmosfer di sana berubah.


"Reyno,tumben lo di sini? Gak gabung sama gengnya Tama?"


Alina yang baru saja datang langsung menanyakan keberadaan Reyno dengan heran karena tak biasanya laki-laki keluar dari habitatnya.


"G..gue,"


"Reyno lagi ada masalah sama mereka,makanya Reyno lari ke sini. Benar kan Reyno?"


Beberapa detik setelahnya,Karamel terlihat berjalan memutari meja dan duduk di sisi Callista. Alina pun demikian,ia segera menyusul langkah Karamel dan duduk di kursi yang terisa.


Posisinya Karamel di samping kanan,di tengah Callista dan di sisi kiri Alina. Sementara di hadapan mereka,ada Reyno yang terlihat mengaduk-aduk makanannya tanpa napsu.


"Kalau ada makanan tuh di makan,jangan di aduk-aduk. Kapan kenyangnya coba! Apa mau gue suapin?"


"Gak!" Reyno mendongak dan memasang raut wajah kesal.


Callista terkekeh. Yah,lumayan,setidaknya Reyno mau mengangkat kepalanya barang sejenak.


"Nih sekarang,mumpung ada Karam juga di sini. Gue mau nanya dong sama kalian berdua,kalian ada masalah apa sih?"


"Terutama elo Ram,elo ada masalah apa sih sama Rey? Sampai segitunya sensi sama dia? Biasanya juga lo biasa-biasa aja kalau ketemu Reyno,gak marah-marah kayak akhir-akhir ini."


"Kalian berdua ada masalah?"


"Gak!"


Reyno dan Callista menjawab kompak.


"Tepatnya sih aku gak ada masalah sama dia,cuma jengkel aja sama kecupuan dan kelemotan dia. Nyusahin!"

__ADS_1


Alis Callista berkerut. "Cupu gimana? Bukannya dari dulu Reyno emang begini ya?"


Callista mengamati Reyno sekali lagi. Dari wajahnya,turun ke bawah dan mentok di dada karena terhalang meja kantin.


Tak ada yang berbeda kecuali name tagnya yang sudah di ubah dari yang semula R. Margantara berubah menjadi Reyno. M. Hanya itu,selebihnya tetap sama. Menurut Callista.


"Gak ada yang berubah tuh,masih tetap Reyno. Lagian juga kalau dia cupu dari dulu,kenapa lo baru permasalahin sekarang,kenapa enggak dari dulu-dulu,elo.."


"Ya karena Reyno yang dulu sama Reyno yang sekarang beda orangnya Callista! Lo gak bisa ngeliat sama sekali apa?"


Makin bingung saja otak Callista dengan jawaban Reyno. "Beda gimana sih?"


"Ini gue sumpah deh Ram,gue gak ngerti sama sekali!"


Callista kemudian beralih menatap Alina yang juga plonga-plongo dengan drama di depannya itu.


"Lo ngerti maksudnya Lin?"


"Enggak." Alina menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena terlalu banyak berpikir.


"Tuh,Alina aja gak ngerti. Please ya Ram. Jelasin sama gue dan Alina apa maksud ucapan lo barusan. Lo juga Rey,jelasin ada apa?"


"Karena.."


"Karena gue juga ngerasa sikap lo aneh belakangan ini. Lo gak papa?"


♡♡♡


Gak papa sumpah gak papa...


Aku lagi mumet banget,bolak-balik urus rekening huaaaaa😫😫


Mana kendaraannya macet,astoge!!


Cobaan banget. Akhir bulan aja belum tentu nih novel kelar. Kalian mau sabar nunggu kan? Tapi aku usahain sebelum tanggal enam nih novel udah tamat kok.


Soalnya aku udah siapin draf novel baru judulnya dari kaki naik ke hati. Akunya berharap kalian mau sabar sih. Aku lagi usahain menuntun cerita ini menuju ke konflik akhir. Tungguin ya...


Bye..


♡♡♡


Oh ya,sebelum tekan tombol kembalinya. Liat ke bawah bentar yuk,baca judul dan sinopsis novel temanku yang ada di gambar bawah,kalau tertarik silahkan mampir dan tinggalkan jejak kalian ya..


See uuu(づ ̄ ³ ̄)づ


__ADS_1


__ADS_2