
Dentuman musik dj bom-bom yang melantunkan lagu happy birthday terdengar bergema memenuhi hampir ke seluruh ruangan terutama saat para tamu sudah masuk ke dalam ruangan rumah lantai satu milik Laura,yang besarnya hampir menyaingi bandara itu.
Puluhan pasang mata selalu menoleh setiap ada tamu mencolok yang datang dan hal itu berlaku untuk Digo Sadewa dan Calista Andriana. Pasangan fenomenal yang akhir-akhir sering meramaikan instagram lambe turahnya Bina Bangsa.
Kedatangan keduanya tentu saja menyita perhatian terutama bagi ciwi-ciwi rempong yang doyannya bergosip ketimbang mengingat jadwal pelajaran.
"Jangan tegang gitu,senyum." Bisikan dari arah samping terdengar dan hal itu berhasil membuat Calista mengendurkan ketegangan di wajahnya.
"Sorry Go,gue nervous parah." Balas Calista berbisik sembari menahan pandangannya agar tidak terlihat semakin gugup.
"Lo cantik,wajar mereka pada ngeliatin. Gak usah gugup,anggap aja mereka fans fanatik yang lagi terpesona sama keserasian kita."
Demi apapun,bukannya terharu ataupun baper,entah kenapa Calista merasa perutnya bergejolak. Jika boleh mengakui,Calista cuma ingin bilang bahwa dia bukan tipe cewek yang senang dengar kata-kata romantis. Geli-geli gimana gitu.
"Tangan lo dingin,suhu tubuh lo juga kayaknya. Perlu sekalian gue rangkul?"
Mata Calista membulat. "Gak usah Go,di sini ada ortu gue. Gandengan aja." Calista berusaha menjawab dengan tenang,berusaha mengontrol dirinya agar tak membentak Digo saat cowok itu beberapa kali sengaja meyentuh pinggang dan pundaknya.
"Calista sini!" Mata Calista refleks berbelok.
Terlihat papa dan mamanya ada di depan sana,di dekat kedua orangtua Laura. Ada Laura juga di sana,gadis itu berdiri di dekat meja berisi kue ulang tahun yang besarnya juga bukan main itu.
"Selamat ulang tahun ya Ra,wish you all the best."
Calista mengucapkan selamat ulang tahun ala kadarnya pada teman sekaligus rivalnya itu.
Tak lupa ia juga menyodorkan kotak hadiah yang sudah di siapkan olehnya dan Digo tadi siang.
"Di terima ya Ra,semoga suka."
"Oh ya Lis,makasih ya." Gadis itu mengembangkan senyum seolah ia sangat menghargai pemberian Calista.
"Apapun kadonya,kalo yang pilih lo sama Digo. Isinya pasti 'mengagumkan'. Iya kan Go?"
Si kapten basket itu mengangguk sekilas. Terlihat memang,jika pria itu juga tak begitu menyukai Laura .
"Lis,nanti kamu pulangnya sama mama papa,atau mau bareng Digo dulu?"
Suara dari mamanya Calista kembali terdengar. Gadis itu terlihat berpikir sejenak,mungkin inilah saatnya untuk kabur dari Digo. Lagi pula kesepakatannya hanya berlaku sampai besok kan? Setelah besok ia dan Digo tidak ada hubungan apa-apa lagi,jadi tidak ada salahnya jika ia mulai menjaga jarak sejak malam ini.
Digo menoleh menatap Calista yang tak kunjung menjawab. "Lis.."
"Eh..,iya ma. Calista ikut pulang sama mana papa aja,gak papa kan Go?"
Gadis itu balas menoleh,meminta persetujuan pada pacar pura-puranya itu.
Digo yang di tanyai tak kunjung menjawab,yang ia lakukan justru memberi kode pada Calista lewat kerlingan matanya. Tak lama kemudian Digo menggenggam tangan Calista.
Calista yang paham jika Digo ingin membicarakan sesuatu dengannya pun tak urung meminta izin pada kedua orangtuanya untuk pamit dan meminta mereka menunggunya di mobil nanti.
♡♡♡
"Seriusan,gak mau pulang bareng aku?"
__ADS_1
Calista menggeleng pelan.
"Jalan-jalan dulu mungkin? Nanti pasti aku anterin pulang kok. Mau ya?"
"Gak bisa Go. Lagi pula usai malam ini,usai juga kesepakatan kita. Lusa,setelah kita sama-sama masuk sekolah,kita bukan siapa-siapa lagi Go. Cuma dua orang asing yang gak sengaja kejebak di situasi yang gue buat."
Ucapan Calista membuat lengkungan sinis terbit di bibir Digo.
"Maksud ucapan lo?"
Calista mengerutkan alisnya bingung. "Maksud gue? Memangnya kenapa? Malam nanti,setelah lewat jam dua belas,selesai juga hubungan kita."
"Gak bisa!"
"Gue gak mau putus! Gak peduli apapun kesepakatan yang pernah kita buat,gue tetap gak mau hubungan kita berakhir. Jalanin kayak gini terus,bisa kan?"
Sejenak waktu terasa berhenti,otak Calista blank selama beberapa detik.
Jalanin kayak gini terus,bisa kan? Apa maksud kalimat pertanyaan barusan? Digo gak mau putus?
Maksudnya Digo mau terus menjalin hubungan pacaran dengannya? Begitu? Apa Digo menyukainya? Tidak mungkin secepat itu kan?
"Lis..,gimana?"
Digo bertanya lagi,sembari menggoncang bahu Calista beberapa kali sebelum akhirnya menurunkan tangannya untuk menggenggam jemari Calista dengan erat,seolah ingin memberi kekuatan dan keyakinan pada gadis itu agar mau menerimanya.
"Gue suka sama lo. Terlepas dari apapun kesepakatan yang pernah kita buat,gue beneran suka sama lo. Gue gak mau kita putus,tetap kayak gini, please?"
Calista memejamkan matanya sejenak,menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya yang Digo genggam dengan pelan.
"Calista,Digo."
Panggilan dari arah belakang membuat keduanya terpaksa harus menjeda pembicaraan mereka dan kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Ayo pulang." Ternyata ibu-nya Calista lah yang datang menyusul,karena Calista tak kunjung datang ke mobil.
Digo menghela napas pelan,sebelum akhirnya menyusul berdiri di samping tubuh Calista.
"Pulang dulu gih,besok kita bicarain lagi. Tapi ingat satu hal,kita belum putus Calista. Gue gak mau!"
Calista tersenyum kecut,menanggapi ucapan Digo yang begitu lirih itu.
♡♡♡
Mobil yang di kendarai oleh supir pribadi keluarga Wijaya berjalan dengan kecepatan sedang,menembus dinginnya udara malam itu.
Sepanjang jalan,Calista hanya diam memandang ke luar jendela. Raganya memang di mobil,namun pikiran berkelanan mencerna setiap pembicaraan antara dirinya dan Digo tempo lalu.
Ia tidak ingin menjalin hubungan lebih lanjut,seperti yang pernah ia katakan di awal. Dirinya tidak suka terjebak dalam hubungan asmara yang menurutnya ribet,harus saling berkabaran,harus menanyakan kegiatan,dan harus melakukan hal ribet lainnya seperti berkencan di malam minggu,makan bareng di kantin,dan masih banyak lagi ritual wajib orang pacaran yang tidak Calista sukai.
Dua minggu bersama dengan Digo sudah berhasil membuatnya tau rasa tidak enaknya punya pacar. Segala keribetan dan juga keributan yang terjadi di sekelilingnya berhasil membuatnya makin alergi dengan sesuatu yang berhubungan dengan pacaran.
Belum lagi tentang Reyno...
__ADS_1
Reyno?
Mendadak jiwa Calista ditarik kembali ke raganya. Gadis itu tanpa sadar menegakkan tubuhnya.
Mama Calista yang duduk di sebelahnya merasa heran saat melihat keanehan di wajah dan gestur anak bungsunya itu.
"Kenapa Lis? Dari tadi mama perhatiin kamu kayaknya gelisah banget. Ada masalah?"
Pupil mata Calista melebar. "C..Calista,emm,nganu ma. Pengen beli martabak itu loh yang di dekat rumah sakit Puri Raharja. Nanti kan lewat sana,boleh gak? Mampir sebentar."
Kirana memutar kepalanya ke arah sang suami.
"Pa,Calista katanya mau martabak yang di jual dekat RS. Puri Raharja. Kita bisa mampir ke sana sebentar,mama juga kepengen deh kayaknya."
Dalam hati,Calista bersorak riang.
"Aman bos,untung gak di curigain udah gitu dapat martabak lagi. Hmm,yummy."
Tanpa sadar Calista senyum-senyum sendiri membayangkan akting daruratnya yang ternyata justru membuahkan untung besar.
Indosiar rekrut me please....!
♡♡♡
"Makasih ya bang,udah mau di ajak ke rumah sakit. Mama gak seneng banget,akhirnya berkat kamu. Adek ngalamin perubahan drastis ke arah yang lebih baik. Kamu liat kan tadi? Tangannya gerak sedikit,bahkan dia nangis,mama yakin kalau bukan karna kamu dia gak bakalan se-responsif itu."
Reyno memasang senyum kecut ala kadarnya. Menghela napas beberapa kali,meyakinkan bahwa keputusan yang ia ambil beberapa menit lalu tidaklah salah.
"Abang kok diam aja? Abang gak senang adek sembuh?"
Mata Reyno memicing. Jujur ia tersinggung.
"Di mata lo gue sejahat itu?"
Terlihat Nandita terdiam.
Makin kecut saja senyuman yang terpancar di wajah Reyno. Perlahan kepalanya mengangguk-angguk.
"Gue paham kok. Dia masuk rumah sakit juga karena nyelamatin gue. Kakak gak berguna yang sialnya harus ditakdirin satu rahim sama dia. Gue minta maaf,semoga dia segera sembuh dan gue bisa pergi lagi seperti sebelum kecelakaan terbaik. I wish all the best buat dia."
Langkah kaki Reyno kembali terseret berat,berjalan tak tentu arah. Ia tak peduli dengan teriakan mamanya yang berusaha memanggil namanya,pria itu terur berjalan hingga sampai ke tengah jalan raya sebuah mobil nyaris menabraknya membuat suara teriakan dan gema klakson beradu.
Anehnya kaki Reyno berat,ia tak berniat menghindar barang sedikit pun.
Mobil berhenti tepat dua centi di depannya,Reyno tersenyum miris.
"Kenapa gak di tabrak sih." Ia terkekeh pelan,kemudian menoleh ke arah samping. Beberapa orang turun dari mobil,menghampirinya dengan panik.
"Nak,kamu gak papa?"
"Abang...!!!!"
"R..Reyno..??"
__ADS_1
Tubuh Reyno menegang. Suara itu...?
♡♡♡♡