Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Dua Minggu Kemudian


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian


Waktu terapi pasca koma yang di lakukan oleh Reyno di negeri.....,akhirnya selesai. Dengan binar wajah baru serta senyum penuh haru,ia keluar dari ruang pemeriksaan.


Kini tak ada lagi kursi roda yang membantunya berjalan,gips di leher yang selama ini membuatnya kesulitan berbicara juga sudah di lepas sepenuhnya.


Terapi pasca koma yang ia jalani di luar negeri,benar-benar membuahkan hasil,dan sebagai buktinya,kini Reyno tengah melangkah riang menghampiri kedua orangtuanya.


"Papa,mama. Lihat,kaki Nano udah tega,gak kaku dan gak sakit lagi buat jalan. Terapinya berhasil!"


Pria menunjukkan perubahan barunya dengan semangat.


Ia juga memutar-mutar tubuhnya di depan kedua orangtuanya dengan raut yang amat bahagia,senyum lebar tak henti-hentinya ia tampilkan.


Sayangnya,kebahagiaan Reyno harus terpangkas. Ketika Raynand,kakak laki-lakinya bangkit dari kursi dan menginterupsinya dengan nada dingin.


"Jaga kelakuan kamu Nano. Berhenti bersikap kayak anak kecil." Raynand terlihat mendelik tak suka. Rautnya teramat dingin,tanpa ada sedikit pun senyuman di wajahnya.


Kelakuan Raynand,tentu saja melunturkan senyuman cerah yang barusan terpancar.


Reyno menundukkan kepalanya,sementara kedua orangtua mereka menatap Raynand dengan berang.


"Abang bisa gak,jangan terlalu keras sama Nano. Dia itu baru sembuh,wajar dia bahagia. Oh,atau abang emang senang ya,liat Nano sakit? Makanya abang bersikap kayak gini?"


Membalikkan badannya dengan angkuh,si sulung satu itu malah seenak jidatnya mengabaikan amarah sang ibu.


Ia terus berjalan menjauh,hingga di persimpangan lorong,suara dinginnya kembali bergemas.


"Terusin aja,makhlumin semua kelakuan Reyno,nanti juga yang rugi dia. Hidup gak selalu di kandang sendiri,belajar bertarung itu perlu. Bilangin sekalian sama anak kesayangan kalian itu,kalau nanti di jahatin,jangan kaget,jangan aduan,jangan sampe mogok sekolah lagi. Malu-maluin aja!"


Reyno menyindir dengan dingin,membuat kepala sang adik semakin tertunduk sementara rasa geram di hati kedua orangtuanya semakin menjadi.


Tangan sang ayah,akhirnya mendarat di pundak si bungsu,mengelusnya dengan lembut,seolah berusaha mentransfer energi ke sana.


"Udah,Nano gak usah dengerin ucapan Ray. Dia memang egois sejak dulu,dia itu emang selalu gak tau situasi kalau ngomong. Papa yang ayahnya aja gak paham,rasa-rasanya,dia bukan seperti gennya papa,terlalu keras kepala. Jangan di masukkin hati ya?"


"Betul itu." Sang mama ikut mendaratkan tangannya di pundak sang anak. "Abang kamu itu,temperamennya memang tinggi,gak cocok di sandingin sama kamu yang sifatnya lembut. Hidup gak seulit itu kok,selagi ada papa sama mama. Kamu aman,gak usah terlalu di dengerin apa kata abang kamu ya,dia cuma terlalu naif."


Reyno belum menjawab,masih setia dengan kebungkamannya. Sementara itu,di balik dinding putih,seseorang lagi tengah menatap lorong kosong di depannya dengan senyum sinis.


Begitu seterusnya,ia selalu dianggap si paling egois,si paling kuat,si paling naif,si paling gak peka,dan banyak lagi teori-teori kosong lainnya yang orangtuanya sematkan untuknya.


Ia yang katanya berandal,ia yang katanya pembangkang,ia katanya keras kepala,dan banyak lagi julukan lainnya.


"Huh..,hidup kadang kidding. Tapi kiddingnya gak lucu,gak asyik banget!" Ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan ketiga orang yang masih asyik bercengkrama di sana.


Biarlah,selamanya memang ia tak bisa menjadi bagian dari mereka. Tidak akan bisa,ia muak.


♡♡♡


#Flashback on

__ADS_1


Siang itu,di taman belakang sekolah dasar,beberapa orang terlihat tengah meneriaki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu tertunduk sembari memeluk bonekanya erat-erat.


Ia baru saja menerima perlakuan tak mengenakan dari teman-temannya,badannya terlihat basah kuyup,di tambah ada beberapa luka lecet di kedua lutut dan sikunya.


Belum lagi suara teriakan orang-orang di sekitarannya,membuat badan munggilnya itu tambah gemetaran.


"Reyno banci,mainannya boneka-bonekaan huu!"


"Banci-banci,Reyno banci!!"


"Reyno cengeng!"


Teriakan-teriakan itu terus saja bergema,sampai. Dari arah berlawan seorang bocah berseragam SD dengan pakaian yang sudah berantakan meneriaki mereka dengan garang!


"Berhenti! Jangan ganggu Reyno!" Teriaknya lantang.


Ajaib,kumpulan anak-anak yang berkerumun tadi langsung lari kocar-kacir. Bersamaan dengan itu,lemparan akua gelas juga mengikuti langkah mereka.


Bocah laki-laki dengan pakaian berantakan itu terus menerus mengejar mereka hingga ke lorong sekolah.


Kelakuannya tentu saja mengundang perhatian guru-guru yang saat itu tengah beristirahat.


"Anak-anak berhenti!!"


Di teriaki begitu,mereka semua kompak berhenti berlari. Termasuk si anak laki-laki berpakain berantakan tadi.


"Apalagi ini? Kenapa kejar-kejaran gini?"


"Raynand bu! Dia lempar-lempar kita pakai akua gelas!" Mereka mulai mengadu.


Sementara si bocah laki-laki yang menjadi tersangka itu hanya memutar bola matanya dengan malas,kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku seraya bersuara dingin.


"Mereka yang duluan ganggu saya." Ia menjawab ringan seolah tanpa beban.


Ya,dia adalah Raynand Margantara. Kakak laki-laki Reyno atau tepatnya kembaran Reyno yang lahirnya sedikit lebih dulu dari Reyno.


Di sekolah ini,tak ada yang tidak mengenal Raynand. Bukan hanya di bidang prestasi,tapi juga di bidang kenakalan.


Sering di ikutsertai ke dalam berbagai macam perlombaan,tidak serta membuatnya menjadi murid teladan.


Para guru bahkan sering pusing mengurusi anak-anak yang mengadukan kelakuan Raynand.


Pernah mereka mendapatkan laporan bahwa Raynand menempelkan permen karet ke celana teman sekelasnya,menempeli permen karet ke rambut salah satu teman sekelasnya,dan masih banyak lagi kelakuan nakal lainnya yang membuatnya berujung di panggil ke ruang BK.


Jika di tanya apa peyebabnya membuat keributan dengan teman-temannya,maka jawaban Raynand selalu sama.


"Mereka yang duluan ganggu saya."


Itulah jawaban yang selalu ia keluarkan,tak lupa dengan gaya sok coolnya. Ia sudah seperti anak remaja berandalan yang doyan mencari masalah,padahal saat itu usianya baru delapan tahun.


"Saya mau di hukum gak nih? Kalau enggak,saya mau pergi,mau ke taman belakang. Adik saya nungguin saya di sana."

__ADS_1


Raynand mengeluarkan suara dinginnya lagi untuk menanyai para guru yang tengah sibuk memijit pelipisnya itu.


Salah satu dari tiga guru yang ada di situ,menghampirinya dan berjongkok di depannya.


"Ray,anak baik.."


"Ray bukan anak baik. Jangan basa-basi!"


Belum juga gurunya selesai bebricara,ia sudah terlebih dahulu memotong pembicaraan.


"Finalnya aja. Ray di hukum apa enggak nih? Kasian adiknya Ray kelamaan nunggu di taman belakang."


Memejamkan matanya sejenak,guru perempuan tadi lantas berdiri kemudian menatap sang murid dengan sendu.


"Ray,gak mau cerita apa masalahnya sama bu guru?"


"Saya kan sudah bilang mereka yang ganggu saya duluan! Biasanya saya juga bilang begitu,memangnya kalian bakal percaya?"


Anak kecil itu bertanya dengan raut geram.


"Ah,udahlah Ray capek di introgasi kayak gini. Mending langsung kasih hukuman aja deh,Ray udah biasa di gituin."


"Ray!"


Dua orang guru di belakang Raynand,membentaknya dengan berang.


"Bu Susi,bawa Ray ke ruang kepala sekolah. Kita panggilkan orangtuanya saja. Menegur Ray di sini tidak akan membuahkan hasil apapun."


Setelah kedua guru itu berbalik,meninggalkan Ray dan bu Susi yang masih saling menatap.


"Ibu liat sendiri kan,Ray sudah bilang. Ray sudah biasa di hukum,ibu tenang saja."


#Flashback Of


♡♡♡


Haii,mulai up normal sayang2


Besok dan seterusnya aku akan berusaha up setiap hari...


Rencananya tanggal 30 nanti,cerita ini harus udah tamat karena aku mau buat cerita baru..


Terus dukung sampai cerita ini selesainya,bye2..


♡♡♡


Oh ya,sebelum lanjut,baca2 dulu yuk sinopsis cerita teman otor di bawah ini. Di jamin gak kalah seru...


Beri dukungan kalian di sana ya...


__ADS_1


__ADS_2