
###
Suasana masih sangat pagi dan udara masih sangat dingin,seorang remaja laki-laki terbangun dari tidurnya dalam keadaan yang masih amat mengantuk dah matanya enggan untuk di buka.
"Berisik banget sih,perasaan hari libur." Batin laki-laki itu mendumel kesal.
Nyatanya ia terbangun dari tidur nyenyaknya itu karena mendengar suara yang amat berisik di bawah sana. Suara seperti orang-orang tengah menyusun barang pindahan.
Padahal di hari libur ini ia niatkan untuk tidur hingga siang,biasanya juga begitu. Makhlumkan saja,jika hari biasa ia tak mungkin bisa bangun siang karena sekolah. Jadilah setiap tanggal merah ia manfaatkan untuk berhibernasi di atas kasur.
Namun karena suara berisik di bawah sana,tidur nyenyaknya jadi terganggu. Terpaksa akhirnya ia keluar kamar untuk melihat situasi di lantai bawah.
♡♡♡
Remaja laki-laki itu menuruni tangga lantai dua satu persatu,sampai di pertengahan tangga,ia melihat beberapa pelayan di rumahnya sibuk berlalu lalang,juga ada beberapa orang yang tidak ia kenal tampak datang sembari membopong lemari kayu yang entah akan di bawa kemana.
Buru-buru laki-laki turun menyusul. Hendak tau mengenai gerangan apakah yang sedang terjadi di rumahnya sepagi ini.
Rumahnya kemalingan kah?
Banjir kah?
Atau orangtuanya bangkrut dan barang-barang mereka di sita?
Laki-laki menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan,mengusir pikiran bodoh yang berseliweran di otaknya pagi itu.
Siluet seseorang berdiri di depan pintu masuk. Mata remaja laki-laki itu seketika melotot.
Kedua tangannya terulur mengucek-ngucek matanya hingga beberapa kali.
"Masih ada?" Batinnya berseru heran.
"Mereka pulang?" Kini pertanyaan takjub muncul di batinnya saat siluet remaja yang tadi ia lihat kini semakin jelas.
"Abang...!"
Gendang telinganya mendadak terasa bergetar. Suara panggilan itu menyadarkannya bahwa sesuatu di hadapannya itu nyata adanya.
"Kita liburan ke Indonesia,yeay!"
Remaja laki-laki sebayanya itu bersorak senang.
Ia akhirnya kembali menuruni tangga hingga sampai di hadapan manusia yang mempunyai kemiripan nyaris seratus persen dengannya itu.
"Baru sampai?" Pertanyaan basa-basinya ia keluarkan.
Duplikatnya itu mengangguk. "Iya,papa ambil penerbangan malam."
__ADS_1
"Oh."
Hanya jawaban singkat itulah yang berhasil keluar dari mulutnya sebelum akhirnya kedua orang itu bungkam,kebungkaman mereka tidak berlangsung lama karena setelahnyadua orang lagi yang masuk ke dalam rumah mengintrupsi keberadaan mereka.
"Abang udah bangun,tadi kata bibi masih tidur?"
"Hm."
Laki-laki itu melirik sekilas. Sudah tau berdiri dan ada di sini,ya artinya sudah bangun masa ngigo.
"Papa sama mama mungkin akan berada di Indonesia seminggu,mengurusan pendaftaran SMA-nya adik kamu. Kamu sama Nano nanti satu sekolah ya."
Ucapan pria paruh baya itu menimbulkan reaksi berbeda dari kedua makhluk serupa itu. Satunya tampak berbinar senang satunya lagi malah mengerutkan alis.
"Nano mau di sekolahin di Indonesia?" Ia bertanya dengan kaget.
Tentu saja,hampir lima belas tahun ia hidup dan baru kali inilah ia dan manusia duplikatnya itu diberikan rencana untuk bersatu.
Ada gerangan apa? Pertanyaan itu tentu mendasari rasa penasarannya.
"Nano bosan homeschooling,sekolah tatap muka kayak abang pasti lebih seru. Temannya juga nyata semua,gak virtual,Nano pengen kayak gitu."
"Lagian,memang abang gak senang,satu sekolah sama Nano?"
Laki-laki yang di panggil abang itu langsung menggeleng.
"Bukan begitu,hanya saja,Nano kan.."
Helaan napas lega akhirnya berhasil laki-laki keluarkan. Ya,setidaknya beban hidupnya tidak di tambah dengan menjadi baby sister bagi adiknya yang manjanya kelewatan itu.
Ia bukannya tidak sayang pada adiknya,ia hanya tidak terbiasa mengurusi sesuatu selain dirinya sendiri. Egois?
Salahkan saja kedua orang tuanya yang pilih kasih. Ya,sebagai abang,ia sadar sih kalau adiknya itu punya penyakit. Namun adilkah? ika hanya karena hal itu,kasih sayang yang mereka dapatkan jadi berbeda? Tidak kan?
"Bang,ngelamunnya nanti aja lagi. Sekarang bantuin papa sama mama buat atur plus dekor kamar adik kamu."
"Tapi.."
"Ray..,mohon pengertiannya. Kamu kan tau,Nano gak boleh kecapean. Jangan egois kamu jadi abang!"
Remaja laki-laki itu pasrah. Padahal ia hanya berniat izin cuci muka,namun belum sempat niatnya tersampaikan,ucapannya sudah lebih dulu di potong.
"Nano,kamu istirahat dulu di kamar abang ya. Nanti kalau kamar kamu udah selesai di beresin,mama bangunin kamu. Okey nak?
Nano mengangguk. Sementara sang abang tersenyum miring.
Perbedaannya terlihat jelas bukan?
__ADS_1
♡♡♡
"Jadi Reyno Margantara. Bisa di jawab pertanyaan gue?"
"Perasaan dari tadi lo sengaja melakukan pengalihan dari pertanyaan gue deh. Ada aja alasan lo buat gak jawab,yang ngitung kendaraan lewat lah,mantengin lampu jalan,sampe pura-pura ngambil tisu jatuh segala. Sebenarnya lo kenapa sih?"
Helaan napas berat terdengar bersamaan dengan wajah Reyno yang di palingkan ke arah berlawanan. Lagi,tingkahnya itu sudah ia lakukan berulang kali hingga Callista rasanya ingin memasang penyangga di kepala Reyno agar pria itu tidak bisa menoleh ke kanan dan ke kiri lagi.
"Rey,jawab dong! Di sini ngapain? Sama tante Dita lagi,keluarga lo ada yang sakit?"
"Kemarin papa lo juga di rumah sakit,sekarang lo sama tante Dita. Keluarga lo emang langganan sama rumah sakit ini,apa gimana sih?"
Bawel! Reyno membatin.
Callista sudah menyerupai burung beo di matanya saat ini. Niat jelek beberapa kali muncul di otak Reyno,memerintahkan pada tangannya agar mengeluarkan semua tisu yang ada di meja kedai itu dari kotaknya lalu menyumpalkannya ke mulut Callista agar gadis itu diam.
But,forget it! Reyno menepis pikiran jahatnya.
"Kerabat gue ada yang sakit,kebetulan di rawat di rumah sakit ini."
Reyno akhirnya angkat suara. Sebuah jawaban yang malah membuat Callista makin tertarik.
"Oh ya,kerabat? Siapa adik kamu ya,pasti?"
Degg..
Jantung Reyno mendadak berhenti. Sejenak.
"K..kok lo t..ta.."
"Haha,becanda Reyno! Gue cuma nebak. Habis lo di panggil abang sih sama mama lo dan dari situ,gue ambil kesimpulan kalo lo itu punya adik."
"Kebetulannya lagi,kemarin kan gue gak liat orang lain selain lo dan ortu lo,gak ada sosok adik lo di meja makan dan lo bilang papa lo di rumah sakit. Jadi gue tebak yang sakit adik lo."
"Jadi tebakan gue bener?"
Hening..
Tak ada jawaban. Tatapan Reyno mendadak terlihat hampa.
Masih dengan posisi wajah lurus menghadap jalanan,Reyno kembali angkat suara.
"Semisal gue ini bukan gue,apa suatu saat lo bakalan bisa bedain?"
Pertanyaannya aneh. Kedua alis Callista berkerut tak paham. "Maksud lo?"
♡♡♡
__ADS_1
Sambil nunggu lanjutan bab,mari mampir ke karya temen otor yang satu ini. Judul dan sinopsis ada di bawah. Saling support ya guys...