
Callista menguap lebar begitu terbangun dari tidur nyenyaknya,merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku,lalu kemudian beranjak turun dari ranjang UKS.
Cukup sudah adegan pura-pura sakit kepala yang membuatnya harus melewatkan mata pelajaran pertama,kini saatnya bagi Callista untuk kembali ke realita bahwa saat ini masih jam sekolah dan sebagai siswi yang baik,sudah seharusnya ia berada di kelas.
Namun deringan lonceng istirahat bertepatan dengan turunnya Callista dari ranjang UKS mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas. Di tambah bunyi krucuk-krucuk yang keluar dari gang tengah organ tubuhnya menambah niat Callista untuk segera melajukan langkahnya ke kantin.
"LISTA!!"
Sebuah panggilan yang cukup nyaring menyambut indera pendengaran Callista saat gadis itu baru membuka pintu UKS.
Wajah seseorang yang tampak panik dengan keringat di kening dan pipinya berhasil menyita perhatian Callista.
"Digo,kenap.."
"Karamel bilang kamu sakit? Sakit apa?"
Digo yang datang dalam balutan seragam basket itu bertanya dengan nada khawatir.
Sentuhan punggung tangan Digo di dahi Callista berhasil menbuat Callista gelagapan dan mundur satu langkah ke belakang,membuatnya kembali masuk ke dalam UKS.
"Astaga,Digo. Gue gak papa,beneran deh. Tadi tuh cuma pusing sama ngantuk. Makanya alasan sakit biar bisa tidur ke UKS."
Raut khawatir yang terpancar di wajah Digo menghilang. Berganti dengan tatapan heran sekaligus bingung.
"Beneran gak sakit? Jadi ke UKS cuma buat numpang tidur?" Digo mengonfirmasi pernyataan Callista.
"Uh'um."
Callista mengangguk santai. Belum sadar jika pernyataannya barusan menimbulkan banyak presepsi di benak Digo.
"Sampai gak bisa tidur dan akhirnya izin ke UKS itu kenapa Lis? Kamu ada masalah?"
Skakmatt!
Bibir Callista mendadak kelu. "A..anu,g..gue lupa ngerjain tugas yang harusnya di kumpul untuk pelajaran kedua nanti. Alhasil demi ngerjain tugas,gue rela begadang deh. Gini nih jadinya,tapi sekarang beneran udah gak papa. Suer."
Callista mengangkat dua jarinya,meyakinkan Digo dengan alasannya.
"Lagian,Digo kenapa harus panik segitunya sih? Kalau pun aku benerana sakit,ya wajar kan? Memang ada manusia yang gak bisa sakit?"
Digo menggeleng. "Masalah yang sakit ini kamu Lis."
"Ya,iya. Memangnya kenapa kalau gue?"
"Lo spesial Lis. Lo pacar gue,kalau lo sakit,gue pasti khawatir. Wajar kan kalau sebagai pacar gue khawatirin lo?"
Pacar..,Pacar..,Pacar..!
Blank..
Otak Callista mendadak bego kembali. Perasaan sudah hari ini,bukannya kontrak mereka harusnya sudah habis? Iya kan?
"Go,tapi kan kemarin.."
"No Lista! Aku gak iya-in apapun kemarin. Gak ada kata putus,kamu lupa aku kemarin ngomong apa?"
"Tapi,Digo.."
__ADS_1
"Stts,seminggu lagi Lis. Kasih aku waktu seminggu,aku akan buat kamu yakin kalau aku beneran suka sama kamu."
"Lagian ada hal yang harus kamu pikirkan baik-baik Callista. Kalau sampai kita putus tepat setelah ulang tahun Laura dan teman-teman kamu tau soal ini,mereka akan curiga. Gak logis aja Callista,terlalu kentara bohongannya."
Callista terdiam. Batinnya mulai membenarkan ucapan Digo,memang akan sangat kentara hubungan pura-puranya itu,jika ia tiba-tiba putus dengan Digo.
Lagi pula,julukan Miss Jones pasti akan melekat lagi dan ia akan kembali jadi bulan-bulanan teman sekelasnya.
"Pikir baik-baik ucapan aku barusan Lis,aku tunggu jawaban kamu nanti."
Digo niat beranjak meninggalkan Callista yang nampak masih bergelut dalam kebimbangannya.
"Aku ke kantin duluan." Ujarnya berpamitan.
Tepat saat Digo berbalik,ujung seragam basketnya di tarik oleh Callista.
"G..gue,setuju sama permintaan lo barusan. Setidaknya untuk satu atau dua minggu ke depan. Mohon bantuannya Go."
Senyum sumringah langsung terpatri di wajah Digo. Cowok itu lantas berbalik dan mengambil alih tangan Callista untuk ia genggam.
"Thanks Lis. Aku janji akan memanfaatkan waktu satu minggu ke depan sebaik-baiknya,akan aku buktikan kalau perasaan aku ke kamu itu serius. Kamu mau kan,kasih kesempatan untuk itu juga?"
Walau agak berat untuk di iyakan,Callista terpaksa akhirnya mengangguk. Ya,selagi tidak membahayakan nyawa,tidak ada salahnya untuk di coba kan?
"Mau bareng ke kantin?"
Callista mengangguk lagi.
♡♡♡
Namun untuk kondisi saat ini,rasanya jiwa kepo Callista minta di lepaskan.
Sedari pertama ia masuk ke kelas setelah tadi sempat izin sakit,Callista mendapati ada aura suram di dalam kelasnya dan sialnya aura suram itu nyata terpancar dari wajah Karamel,teman sebangkunya.
Alis di kerutkan,bibir manyun,juga wajah yang di tekuk sangat merusak pemandangan bagi Callista yang hobi menoleh ke luar jendela.
Lelah bersembunyi di balik gengsi,Callista akhirnya angkat suara dan bertanya.
"Sebenarnya lo kenapa sih Kar? Mendadak tipes?"
Karamel menggeleng.
"Migrain mungkin?"
Karamel menggeleng.
"Sariawan?"
"Sakit tenggorokan?"
"Asam lambung lo naik?"
"Oh atau..,jantung lo bermas.."
"Hati gue Lis! Hati gue yang bermasalah!"
Alamak..! Callista menutup mulutnya dengan dramatis.
__ADS_1
"Masalah hati toh." Batinnya mengguman.
"S..sory,mana gue tau kalau lo punya penyakit hepatitis."
"CALLISTA BEGO!!"
Habis sudah kesabaran Karamel dalam menghadapi kejahilan Callista. Sumpah demi ****** ******** patrick yang gak pernah di cuci,ingin sekali rasanya Karamel memanggang Callista layaknya Krabby Patty di warungnya tuan Crab. Gadis kurang ajar satu itu memang selalu minta di hajar.
Callista menyengir tak berdosa,saat tatapan Karamel semaki menajam dan nyaris memotong tubuhnya menjadi dua. Demi apapun,Callista sama sekali tidak takut,bukannya serem,jatuhnya lucu pemirsa.:)
"Sorry,deh sory. Abis komuk-komuk lo ngajak becanda sih,lagian sakit hati kenapa sih emang? Tama selingkuh?"
Karamel melotot. "Gak lah! Gak mungkin!" Teriaknya lantang dan yakin.
Buru-buru Callista menyumpal bibir Callista dengan buku tulis.
"Jangan teriak-teriak bego! Udah bel masuk ini!"
"Kalem non Kalem. Inhale,exhale..,okey? Ikutin gue,inhale..,ekh.."
"Plak.."
Satu pukulan yang lumayan kencang mendarat di bahu Callista.
"Aku setous tau Lis! Tama tiba-tiba batalan kencan kita dengan izin pulang,kamu tau apa alasan dia?"
"Karna ada latihan basket nanti sore,mungkin?"
"ENGGAK! Hua...,ini lagi-lagi karena Ray! Ray,Ray dan Ray! Cowok sialan satu itu memang selalu cari gara-gara sama aku! Awas aja,nanti aku bakalan susulin mereka bertiga ke rumah sakit."
Kedua alis Callista berkerut penuh tanya. "Ray? Mereka? Maksud lo siapa sih Kar?"
"Ya Ray,Rey sama Tama lah. Siapa lagi?"
Makin menjadi saja kerutan di alis Callista. "Ray sama Rey,itu siapa lagi??"
♡♡♡
Bersambung..?
Udah bisa nebak kemana arah ceritanya?
Aku kira udah sih..
Eh,btw guys. Sadar gak sih,ada beberapa plot hole di part-part sebelumnya? Anyway,sebenarnya aku sendiri udah sadar pas tadi sempat baca2 ulang. Tapi,berhubung revisi sambil ngetik bab lanjutan itu melelahkan,jadi cuma aku tandain aja.
Niatnya revisi pas tamat sekalian,gak papa kan lah ya? Nanti kalau udah di revisi juga aku gak ngeharusin kalian buat baca ulang.
Toh kalian juga udah ngikutin sampe sejauh ini,itu udah cukup buat aku....:) Chuakkss^o^
♡♡♡
Btw sambil nunggu part selanjutnya aku mau ajak kalian buat jalan-jalan ke cerita temanku yang lain. Untuk judul sama sinopsisnya,bisa langsung di liat di bawah ini ya...
(Jangan lupa tinggalin jejak:)
__ADS_1