Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Terulang


__ADS_3

Perhatian!! Bab sebelumnya sudah di revisi :)


♡♡♡


Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring pagi itu,cukup mendominasi kesunyian yang tercifta di meja makan. Tidak ada candaan. Baik Kallandra,Kirana maupun Hartono sama-sama mengunci mulut mereka.


Bukan tidak ingin bercanda,namun ketiganya sedang di landa penasaran akibat lengkungan hitam yang bersarang di bawah mata sang putri bungsu.


Sebenarnya ada apa?


Terlihat Hartono melirik ke arah Kallandra,seolah meminta penjelasan. Kallandra yang merasa di beri kode,mengendikkan bahunya. 'Gak tau' . Begitulah arti insyarat yang ia berikan.


"Adek,are you okay?"


Sang papa angkat bicara,memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit lalu.


"Gak tidur lo semalam?" Kini giliran Kallandra lah yang bertanya.


Kepala Callista semenjak tadi menunduk,kini mulai di angkat. Mendongak,guna memindai wajah kedua orang tua serta kakak kandungnya itu.


"Semalam banyak tugas. Ada tugas yang lupa Callista kerjain,baru ingat semalam,jadinya begadang."


Memilih berbohong sepertinya adalah solusi yang terbaik untuk pagi ini. Tidak mungkin kan ia memberitahukan perihal otak absurdnya yang dibuat tidak bisa tidur akibat ucapan Reyno semalam. Bisa di permalukan sampai tujuh turunan mungkin.


"Lain kali,kalau ada tugas,pulang sekolah langsung di selesain biar gak keteteran lagi. Ini pelajaran loh buat adek,mengerti?"


Callista mengangguk patuh. Ya,setidanya ia bersyukur karena kebohongannya tak di curigai oleh siapapun.


Callista pun meyakini di dalam dirinya bahwa sampai di sekolah nanti,ia akan membuat perhitungan pada si biang kerok yang sudah berpartisipasi membuat kantung matanya itu menghitam.


Bersiaplah Reyno Margantara,maut menantimu.


♡♡♡


Reyno sudah siap dengan seragam putih abu-abu serta tas yang telah ia sampirkan di pundak. Waktunya berangkat sekolah tiba karena jarum jam sudah menunjuk ke angka enam lewat sepuluh menit.


"Bang.." lagi-lagi panggilan itu mengintrupsinya.


Reyno menoleh malas. Ia yakin sebentar lagi akan ada drama,melihat dari cara berpakain kedua orangtuanya yang telah rapi itu.


"Begini,sebenarnya mama sama papa enggak menghendaki abang untuk bolos apalagi ini hari senin. Tapi ada rapat penting di kantor yang harus papa dan mama tangani pagi ini juga,abang bisa gak.."


"Bisa." Reyno langsung memotong sebelum sang mama selesai berbicara.


Sang papa terlihat mendelik tak suka dan Reyno tidak takut. Ia justru menantang balik dengan memasang wajah remeh.

__ADS_1


"Gak usah sok sinis gitu kali pa. Lagi pula,gue gak pernah punya hak buat nolak apapun permintaan kalian kan? Jangankan perkara jagain Nano,perkara di suruh gantian Nano aja gue jabanin kok. Ya pengecualian karena dia yang waktu itu ketabrak demi nyelamatin gue. Sebuah alibi memuakkan,tapi gak papa kok."


"Gue lagi gak berniat jadi maling kundang hari ini. Lo berdua pergi,urusin kantor,cari duit yang banyak. Biar gue yang jagain Nano di sini. Lagian,bolos sehari gak bakalan bikin gue jadi bego. Tenang aja."


Dengan cueknya Reyno berjalan kembali ke sudut ruangan kamar VVIP itu,melepaskan tasnya dan meletakkannya secara sembarang di sofa,di ikuti tubuhnya yang menyandar santai tanpa beban.


"Udah sana berangkat."


"Gak usah mlotat-mlotot  gitu. Copot tuh mata ntar."


Usapan lembut di bahu papa Reyno,dari tangan Nandita agaknya sedikit berhasil menurunkan emosi laki-laki itu.


Tanpa mau menyahut ketengilan Reyno,keduanya lantas memilih untuk langsung berangkat saja.


Kepergiaan mereka tentu di sambut dengan wajah antusias Reyno,anak kurang ajar satu itu langsung merogoh ponsel di saku bajunya dan menghubungi seseorang.


"Bro,gue bolos nih. Temenin kuy."


♡♡♡


Callista melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah dengan malas. Matanya terasa sangat sulit untuk sekedar di buka,kelopak matanya berat dan terasa panas. Ia benar-benar mengantuk.


"Bruk.."


Tabrakan di bahunya membuatnya hampir terjungkal. Untung orang yang menabraknya itu sigap memegangi lengannya.


Callista mendongak dan mendapati Tama,pacar Karamel lah yang menabraknya.


"Elo Tam,gue kira siapa. Memangnya buru-buru kau kemana?"


Callista berusaha mengusir kantuk di matanya dengan bicara banyak.


"Gue,mau ke rum.."


Tama menghentikan kalimatnya begitu sadar akan sosok yang barusan ia ajak bicara itu.


"Gue izin pulang. Ada urusan keluarga."


"Bolos?"


Tama buru-buru menggeleng. "Gak kok. Udah izin tadi,mana mungkin gue bolos. Gak berani lah."


"Udah ya Lis. Gue bener-bener buru-buru ini. Gue tinggal ya,bye.."


Dengan cepat Tama kembali melangkahkan kakinya ke luar gerbang,dan tak beberapa lama. Sebuah taxi lewat,Tama menghentikan taxi tersebut kemudian menyebutkan alamat yang akan ia tuju.

__ADS_1


Callista melihat segala kelakuan Tama dalam diam. Mata ngantuknya membuat otaknya ikutan lemot,sudah di pastikan setelah ini Callista akan izin ke UKS saja dengan alasan pusing kepala. Ia benar-benar butuh tidur untuk memulihkan kinerja otak dan tubuhnya.


♡♡♡


Taxi yang membawa Tama berhenti di depan sebuah gedung tinggi berwarna putih yang menjulang paling tinggi di antara bangunan yang ada di sekitarnya itu.


Sebuah tulisan bercetak tebal dan besar menyambut pandangannya.


"Rumah Sakit Puri Raharja."


Otak Tama refleks melafalkan deretan huruf yang di lihat oleh matanya.


Meninggalkan gerbang. Tama kini mulai melajukan langkahnya memasuki area rumah sakit. Seperti rumah sakit elit pada umumnya,koridor di sana terlihat bersih juga beberapa perawat yang bertugas terlihat berlalu lalang di sepanjang koridor.


Tama berjalan mendekati meja resepsionis,untuk sekedar berbasa-basi menanyakan ruang rawat seseorang yang padahal sudah ia ketahui sejak satu tahun yang lalu.


Usai bertanya dan di beri arahan,Tama pun berjalan menuju lift untuk ke lantai tujuh belas belas.


Beberapa menit berlalu hingga lift yang ia naiki akhirnya berhenti kemudian terbuka.


Tama keluar dari lift dan butuh beberapa langkah lagi untuknya sampai ke ruangan yang di maksud.


"Tok..,tok.."


Berusaha sesopan mungkin,sebelum masuk Tama melakukan formalitas dengan cara mengetuk pintu sebanyak empat kali.


"Gak di kunci. Masuk aja!"


Suara berat seseorang menyahut dari dalam.


Tama akhirnya memutar handle pintu dan masuk ke dalam ruangan tempat sahabatnya itu berada.


"Ray! Gue tadi.."


Tama menghentikan kalimatnya sembari menatap aneh pada pemandangan di hadapannya kini.


"Anjir,Ray. Lo ngapain??"


♡♡♡


Bersambung...


Sambil nunggu bab berikutnya,mampir yuk ke karya temen author yang satu ini...


Tinggalin jejak kalian juga di sana..

__ADS_1



__ADS_2