
"Awali pagi mu dengan sarapan bukan harapan.."
Callista berteriak riang,menggemakan slogan sindiran yang biasa muncul di fyp tiktoknya.
"Awal.."
"Berisik!!"
Kallandra yang baru saja turun dari lantas atas langsung menghentikan teriakan cempreng sang adik.
Melihat kehadiran sang abang,Callista langsung berlari dan bergelayut manja di lengannya.
"Abang,hari ini gak usah anterin Caca ke sekolah. Caca berangkat sama Alina aja."
Callista berkata sambil bergelayut manja di lengan Kallandra. Caca adalah panggilan kesayangan yang Callista gelar untuk dirinya sendiri saat ada yang dia inginkan.
"Bukannya semalam udah nginap di sana? Masih lo monopoli juga cewek gue?" Kallandra bertanya dengan sinis.
"Plak.."
Satu tamparan kecil mendarat di pundak Kallandra.
"Cewek gue,cewek gue! Alina itu sahabat Caca ya! Gak usah sok. Lagian Alina bukan cewek bang Kala,bang Kala aja yang ngarap!"
Sadis sekali. Rasanya jantung Kallandra pindah posisi ke empedu saking tertohoknya dengan ucapan sang adik.
"Jahat banget! Harusnya lo dukung hubungan gue sama Alina. Lo kan udah kenal sama Alina,emang lo gak mau punya kakak ipar tetangga sekaligus sahabat sendiri?"
"Ogah! Gak cocok,abang ketuaan buat Alina."
"Anjing!"
Sekarang jantung Kallandra benar-benar pindah posisi ke dengkul. Harga dirinya terinjak-injak pemirsa:)
"Abang,mulutnya di jaga."
Kallandra dan Callista kompak menoleh. Terlihat Karina dan Hartono turut berjalan mendekati meja makan.
"Hehe,mama. Maaf ma,abisnya adek nyebelin. Masa ngatain Kalla ketuaan buat Alina,Kalla kan jadi sebel." Adu Kallandra manja.
Bukannya memberi dukungan,Karina malah mengerutkan alisnya.
"Loh,kok sebel? Memangnya Callista salah? Bukannya kamu memang ketuaan buat Alina? Iya kan pa?"
"Iya..l
"Mama,papa!!"
Makin menjadi-jadi saja rengekan Kallandra. Kelakuan childish-nya itu berhasil menjadi bahan tertawaan yang semakin menghangatkan suasana pagi di kediaman Wijaya.
♡♡♡
Berbeda dengan suasana hangat yang selalu Callista dapatkan,di rumah sakit tempat Reyno berada,justru hanya di isi dengan keheningan.
Sang pasien yang memang belum bisa bicara dengan baik itu pun hanya menatap sendu wajah kakak sulung serta kedua orangtuanya.
"M..mau sa..m..pa..i ka..pa..n ka..lian di..am-di..aman."
Sang kakak menoleh sembari tersenyum tipis kemudian mendekati ranjang sang adik.
"Udah,bocil kayak lo diam aja! Gak usah banyak bacot. Fokus aja sama proses pemulihan lo,okay?"
Nano mengerjab pelan. "I..iya."
__ADS_1
"Kakak berangkat ya.."
"Mau sekolah dulu,nyari ilmu yang banyak buat pesugihan." Candanya garing namun berhasil membuat senyum di bibir adiknya terbit.
"Heh bonyok.."
Kini ia berjalan mendekati kedua orangtuanya.
"Minta duit jajan dong,lo berdua kan udah kerja. Jajan gue abis."
Dengan santainya ia menyodorkan tangannya.
Beruntung orangtuanya punya kesabaran sampai keluar planet Mars. Jadi menghadapi kelakuan kurang ajar si putra sulungnya ini sudah biasa bagi mereka.
"Abang butuh berapa.."
"Terserah,sedikasihnya,gue mah penurut. Apalagi kalau di kasih dua juta,lumayan bisa sambil cuci mobil."
"Nih dua juta."
Sang papa memberikan uang case sesuai nominal yang di sebutkan dan pastinya langsung di sambut baik olehnya.
"Makasih loh. Baik juga kalian ternyata. Sering-sering kayak gini,biar gue betah di rumah."
Setelah mengatakan kalimat nakalnya,laki-laki itu lantas keluar meninggalkan kedua orangtuanya yang hanya bisa geleng-geleng menanggapi ketidaksopanan anak sulungnya itu.
"Mau sampai kapan,Raynand bersikap kurang ajar?"
♡♡♡
Callista melangkah riang memasuki halaman rumah sang sahabat,terlihat Alina sudah menunggu di mobil bersama supir pribadinya.
"Pagi Lin,gue nebeng ya.."
Alina mendengus. "Lo udah ngomong kayak gitu sebanyak sepuluh kali dari semalam Lis,gak bosen?"
Calista nyengir. "Ya mangap. Jangan marah-marah cantiknya nanti ilang loh."
Alina memutar bola matanya malas,"gak abang,gak adek,sama aja. Sama-sama tukang gombal."
"Ckk,btw nanti sebelum ke kelas,gue mau ke kelas lo dulu ya. Mau.."
"Mastiin Reyno masuk apa enggak?"
"Hehe,tau aee lo."
♡♡♡
"Tamara!! Sini kamu!!"
Seluruh anak yang ada di kelas 11 IPA 1 menoleh sembari menutup telinga mereka saat mendengar teriakan cempreng Karamel yang begitu menganggu gendang telinga mereka.
"TAMARA!!" Gadis itu akhirnya tiba di hadapan sang pacar,tidak,tepatnya di hadapan Reyno karena pacarnya Tama saat ini sedang menjadikan Reyno tameng sementara dirinya bersembunyi di belakang Reyno.
"Rey,minggir!!"
Merasa tidak ada urusan dengan gadis galak di hadapannya ini,Reyno pun menyingkirkan tubuhnya sehingga kini baik Kara maupun Tama saling berhadapan dengan Tama yang sudah gemetar menahan takut.
"Yang..,yang..,bisa di bicarain baik-baik. Tenang ya..,aku..,aku.."
"Gak ada! Kamu ya,kalau udah sama dia,urusan yang berhubung sama dia,kamu selalu lupa sama kamu. Sebenarnya cewek kamu,aku apa dia sih?"
Kara berkata sambil menunjuk Reyno dan dirinya secara bergantian.
__ADS_1
"Jawab dong,cewek kamu aku apa Ray.."
"Karamel,Reyno,Tama..?"
Ketiga orang itu kompak menoleh,Kara yang tadinya tengah marah-marah pun terpaksa menghentikan aksinya karena atensinya di tarik oleh si sumber suara.
"Alina.."
"Callista,kok kalian di sini?"
Karamel bertanya heran sekaligus memasang tampang was-was.
"Untung tadi gak kelepasan. Semoga Alina sama Callista gak denger apa-apa." Batin Karamel sambil menatap ke arah seseorang yang juga tengah menatapnya tajam di sudut sana.
"Yang,mundur sini.."
Tama berbisik pelan pada Karamel. Karamel menurut,menghindari tatapan tajam Reyno sembari mundur perlahan-lahan.
"Ngapain lo berdua ke sini?"
Kini giliran Tama yang angkat suara,mengalihkan suasana canggung yang sempat tercipta.
"Ah itu..," Callista gelagapan sementara Alina meyenggol-nyenggol rusuk Callista dengan menggunakan sikunya.
"Callista mau nyari Reyno,katanya khawatir."
Memang dasar teman durjana.
Callista mengumpat dalam hati sambil menggigit bibirnya dalam-dalam. Demi apapun,ia ingin menceburkan dirinya ke dalam sumur saking malunya.
Sementara itu,Reyno yang berada di sudut,dekat papan tulis,mengalihkan pandangannya pada sang objek.
"Nyari gue?" Tanyanya datar. Padahal dalam hati ia bersorak senang.
"E..enggak! Enggak,g..gue gak nyariin lo kok. Gue ke sini cuma."
Reyno tak menggubris. Ia justru berjalan melintasi tubuh Callista dan Alina.
"Temuin gue di rooftop. Jam istirahat pertama nanti. Ada yang perlu kita omongin."
Nada bicaranya memang datar,namun atensinya jelas di tujukan pada siapa.
Callista tidak menjawab. Namun dalam hati ia mengiyakan,apalagi saat ia melihat ke arah Karamel dan Tama yang juga tampak memberi kode agar ia mengangguk.
Walaupun tak paham tentang 'ada apa sebenarnya' tapi Callista tetap mengangguk,hanya Alina satu-satunya makhluk yang kebingungan di sana.
♡♡♡
Bersambung..
*** intro guys,jadi sebenarnya...
Besok itu...
Hari minggu...wkwk
♡♡♡
Sambil nunggu update-an bab selanjutnya,mampir yuk ke karya temen otor yang satu ini..
Di jamin gak kalah seru,tinggalin juga jejak kalian di sana ya...
See you..
__ADS_1