
Di meja makan yang ukuran panjang dan lebarnya itu lumayan. Sudah berkumpul keluarga kecil Margantara,ada Bima selaku kepala keluarga,ada juga Nandita sebagai nyonya besar di sana,dan sepasang pemuda tampan berwajah sangat mirip yang tak lain adalah Raynand dan Reyno.
Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya sound pengisi di meja makan itu,selain hembusan napas tentunya.
Hingga beberapa menit berlalu,salah satu kursi yang di duduki bergeser,seluruh kepala yang ada di sana mendongak dan melihat Raynand sebagai pelakunya.
Melihat Reyno akan beranjak,Nandita pun bertanya heran.
"Abang sudah selesai?"
Raynand mengangguk singkat.
Mata Nandita mendelik ke dalam isi yang ada di piring Reyno. Masih cukup banyak. Ia pun menghela napas.
"Setidaknya di habiskan dulu makanannya abang,mama bela-belain masak loh buat kamu."
Nandita berusaha membujuk putra sulungnya itu dengan nada lembut.
Walau tak mengiyakan,ternyata Reyno tetap menuruti. Terbukti,ia yang tadi niat beranjak,kembali mendudukkan tubuhnya lagi dan mulai memakan ulang makanan yang ada di piringnya.
Diam-diam Nandita mengulum senyumnya. Sejak kecil Raynand adalah makhluk yang mempunyai sifat berlawanan dengan orang-orang yang ada di rumah itu.
Membuatnya menuruti keinginan adalah sesuatu yang sangat sulit bahkan bagi Nandita selaku ibunya.
Lain halnya dengan Reyno yang begitu manja,penurut dan ingin selalu dekat dengan kedua orangtuanya.
Maka dari situlah,perlakuan yang memang seharusnya adil di dapatkan justru menjadi cenderung ke Reyno,sementara Raynand,makin beranjak remaja ia justru makin sulit di tebak dan di urus bahkan cenderung ugal-ugalan.
"Bagaimana sekolahmu di Singapura? Kerasan?"
Tiba-tiba suara Bima terdengar bertanya,pertanyaan yang membuat Raynand malas menjawab sebenarnya.
Ia pun hanya menghela napas pendek kemudian lanjut makan lagi.
"Papa tau kok Ray,kamu diam-diam pulang ke Indonesia minggu lalu. Di bantu Tama dan tinggal di apartemen mamanya Tama. Iya kan?"
Kini aktivitas makan Raynand benar-benar terhenti bersamaan dengan makanannya yang memang juga sudah habis.
Ia beranjak dari duduknya,sembari tangannya menyambi gelas.
"Mata-mata papa bekerja dengan baik ternyata."
Sudut bibir Bima terangkat membentuk lengkungan puas.
"Kamu memang tajam dan misterius seperti almarhum kakekmu Ray. Tebakan mu selalu mengarah pada objek yang tepat."
Menanggapi dengan wajah datar,Ray hanya mengendikkan bahunya.
"Saya hanya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi sedewasa mungkin,agar kelak bisa menjadi penerus yang tidak mengecewakan kalian."
Anggukan berulang terlihat dari kepala Bima.
"Ya,ya,papa paham dengan sikapmu. Tapi Raynand,jangan terlalu menutupi rasa dengan bersikap kaku,pemimpin yang baik tidak selalu harus bersikap dingin."
"Jika kamu ingin menjadi pemimpin yang baik,cobalah belajar jadi ayah yang baik. Walau papa tau,di mata kamu papa kelihatan tak layak mengatakan hal ini."
"Tapi satu kalimat yang papa ingin kamu ingat baik-baik. Bersikap hangat agar semua orang berani mendekati,dan bersikap tegas agar kamu di segani."
Raynand tercenung di tempatnya.
Tepukan di bahunya membuat kelopak matanya berkedip.
Raynand menoleh,terlihat papanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Semangat anak papa,kamu sudah melakukan semuanya dengan baik. Tinggal di poles sedikit lagi maka semuanya akan menjadi sempurna."
Bima menepuk bahu Raynand lagi.
"Dan yang terakhir,jangan lupa minum. Okey."
Lalu Bima pergi meninggalkan Raynand yang langsung cegukan karena sedari tadi belum meminum air barang seteguk pun.
♡♡♡
Reyno m3r3m4s-r3m4s kedua tangannya dengan gelisah saat tiba-tiba Raynand menjambangi kamarnya.
"A..abang ngapain di sini sih?"
Raynand mencebikkan bibirnya dengan tampang menyebalkan.
"Kenapa memangnya? Salah? Lo main di kamar gue tadi sore,bebas-bebas aja tuh. Gue usir juga lo gak pedulikan?"
Tajam. Reyno sampai menganga dengan kejulidtan kembaran satu rahimnya itu.
"Abang!!"
Reyno menatap tajam manusia di depannya itu,mengancam Raynand dengan mata melotot seolah berusaha menakuti kembarannya itu dengan pelototannya.
"Apa?"
"Balik ke kamar abang ih! Rey mau ngerjain PR ini..!"
"Ckk! Gue ke sini juga karna mau bantuin lo ngerjain PR. Sekaligus bantuin lo belajar buat persiapan KSN. Gue tau lo lagi di persiapkan sebagai salah satu peserta kan?"
Seketika,pulpen yang ada di genggaman Reyno terlepas dan jatuh menggelinding ke lantai.
"A..abang tau?"
"Salah gue juga karena buat perubahan tanpa mempersiapkan lo terlebih dahulu,makanya sekarang gue ada di sini. Gue bakalan bantuin lo,sebisa gue."
"Lo percayakan sama gue?"
Reyno hanya bisa menganga,karena untuk yang kesekian kalinya. Raynand berperan sebagai abang sekaligus malaikat pelindungnya.
♡♡♡
"Baju lo,keluarin aja! Buka satu kancing atas seragam lo."
"Ya gitu. Dasinya itu..,agak di turunin dikit."
"Hm,ah. Gaya rambut lo terlalu rapi tapi terkesan culun. Coba poninya agak di acak dikit."
"Okey,tas nya jangan di gendong di punggung,cangklongin aja di pundak sebelah kiri lo."
"Oke,terus itu kaos kaki lo turunin jadi sebatas mata kaki."
"Oke,good. Urusan penampilan lo udah keliatan benar-benar mirip sama gue. Sekarang giliran cara jalan."
"Gue bakalan pandu lo jalan sampe ke ruang makan. Lo ikutin cara jalan gue,okey?"
Reyno hanya bisa mengangguk pasrah. Ketika Raynand yang biasanya kalem,hari ini berubah menjadi tutor fashion show dadakan.
"Fyuh..! Gini amat hidup gue!" Reyno berteriak dalam hati.
"Jangan ngeluh!"
Glek..
__ADS_1
Ludah Reyno tercekat. Selain bakat jadi tutor fashion show ternyata Raynand juga punya bakat jadi peramal. Nasib-nasib.
♡♡♡
"Wow!"
Tama membolakan matanya dengan sangat lebar.
Di hadapannya kini sudah berdiri sepasang makhluk kembar yang nyaris sulit ia bedakan.
Ya,siapa lagi kalau bukan Raynand dan Reyno.
"Jadi yang Raynand mana? Yang Reyno mana?"
Tama bertanya nyeleneh.
Raynand mencebikkan bibirnya dengan raut sinis.
"Buruan,bawa adek gue ke sekolah. Jaga baik-baik,sampai dia pulang dalam keadaan lecet. Gue mutilasi usus lo!"
Tama mengangguk-angguk saja.
"Boleh lah,boleh lah. Tapi bayarannya apa dulu nih?"
"Gue beliin satu skin hero apapun yang lo mau."
"Deal. Sekalian beliin tiket liburan ke Jepang ya..!"
"Sekarang atau..!"
"Ya udah iya,iya!"
Tama merangkul bahu Reyno dengan malas dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil ia menatap Reyno dengan kesal.
"Bilangin sama abang lo buat berhenti posesif-pin lo!"
"Dasar nyebelin!"
Tama mendengus kasar di depan wajah Reyno.
♡♡♡
Bersambung...
Hei,aku mau nitip pesen dikit dong..
Mampir yuk ke novel aku yang Judulnya : Dari Kaki Naik Ke Hati...
Nama Pena : Azellea Rensima (Klik profilku aja:)
Sinopsisnya ada di bawah ini :
Ini kisah konyol,antara Anila Anindya dan tetangganya Athala Ezra.
Anila atau yang akrab di sapa Nila,suka sekali menjahili Ezra dengan mengatakan Ezra suaminya. Saat itu Ezra baru berusia 12 tahun,masih duduk di bangku Sekolah Dasar akhir sedangkan Nila sendiri sudah berusia sembilan belas tahun dan sedang duduk di bangku kuliah.
Siapa sangka,seiring berjalannya waktu,candaan itu berubah menjadi keseriusaan bagi Ezra.
Hingga bocah menjelang remaja yang selama ini Anila anggap sebagai bocil itu,justru menawarkan hubungan yang serius pada Anila.
Bagaimanakah kelanjutannya cerita mereka? Ikuti cerita ini dan tinggalkan jejak kalian...
__ADS_1