Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Berharap


__ADS_3

Matahari yang tadinya meninggi,kini perlahan mulai condong,semakin condong hingga hampir mendekati bagian barat dari sudut langit.


Tama selaku makhluk purba yang keberadaan wajahnya paling beda di sana mulai menguap lebar. Rasa bosan yang tadi tumbuh sedikit kini mulai meninggi,apalagi setiap menoleh. Dua wajah sama menghiasi pandangannya.


"Cih,dasar abang kurang ajar!"


Tama mengumpat sinis,setiap kali melihat pemandangan mengganjal di depan matanya itu.


"Yang beneran ajalah Ray. Nano itu baru bangun dari koma,bukan baru bangun tidur. Seenaknya lo geserin tubuh dia ke tepi kasur gitu. Kalo jatoh,lo mau tanggung jawab?"


Tama mengomel lagi,hari ini ia sudah seperti emak-emak akibat kelakuan gila sahabat masa kecilnya itu.


"Lu berisik kunyuk. Nano aja gak protes,iya gak No?"


Senyuman samar timbul di bibir manusia yang sekitaran satu jam lalu terbangun dari komanya.


"Lihat,dia aja senyum tuh."


"Pletakk."


Sebuah pen kenko mendarat di pelipis laki-laki kurang ajar itu dan Tama lah pelakunya.


"Sialan,emang. Baek lu turun deh Ray,sebelum gue panggilin satpam buat nyeret lo keluar dari sini."


Bukannya takut,si somplak satu itu malah mengedutkan bibirnya meledek Tama.


"Yang di rawat kan adek gue,lo mana punya alasan buat ngusir gue. Jiakkh.."


"Gila!" Tama mengumpat lagi. Ingin melempari sahabatnya itu dengan barang namun ia takut salah sasaran.


Alhasil daripada terus-terusan emosi,Tama pun memilih berjalan mendekati ranjang dan mengajak mengobrol pasien sebenarnya.


"Rahang lo masih sakit,kalau di paks buat ngomong?"


Terlihat Nano mengerjab-ngerjab sebanyak dua kali.


Lehernya yang masih berbalut gips menyulitkannya untuk berbicara.


"Di lihat-lihat abang lo makin ke sini makin kurang ajar deh. Lo gak ada niatan cepet sembuh apa? Biar gue punya patner,kita hajar abang lo sama-sama,mau?"


Nano mengerjab lagi,kali ini di barengi senyuman yang agak lebar juga mata yang berbinar.


Tama yang melihat respon menakjubkan barusan,langsung merasa senang.


"Gue anggap binar di mata lo itu sebagai jawaban persetujuan. Kita bakalan hajar Ray bareng-bareng sebelum dia balik ke Singapore."


♡♡♡

__ADS_1


Hari beranjak menuju malam. Langit yang tadinya berwarna oren kini berganti menjadi ungu lalu kemudian menggelap bersamaan dengan titik berkelip yang perlahan muncul satu persatu menghiasi langit.


Bulan yang sudah sisa setengah,hendak surut bertengger manis. Terlihat sangat jelas dari jendela ruang rawat inap yang berada di lantai dua belas ini.


Nano memutar bola matanya dengan gelisah dari atas kasur,sementara sang abang yang bertugas menungguinya,malah sibuk bermain game. Posisi sang abang yang sudah pindah ke sofa membuat Nano sulit meminta tolong. Belum lagi lehernya masih di gips.


"Haus.." Batinnya berteriak.


"Eughh.."


Akhirnya lenguhan yang lumayan kencang berhasil ia keluarkan. Upayanya menbuahkan hasil,karena terbukti sang abang menoleh.


"Kenapa?" Laki-laki berwajah menyebalkan dan tengil itu berjalan mendekati ranjang sang adik.


"Ha..us."


Sepatah kata berhasil ia ucapkan walau masih terbata.


Sesuai arahan dari dokter,laki-laki yang di minta tolong itu pun memberikan minuman pada sang adik dengan menggunakan sendok.


"Mau di bantu duduk?" Ia bertanya dengan penuh perhatian.


Nano mengerjab sebanyak dua kali.


Dengan hati-hati sang abang menaikkan kepala ranjang dan memperbaiki posisi bantal agar nyaman saat di jadikan sandaran.


"Ka..ngen."


"Makanya cepet sembuh. Asal lo tau,gue udah buat perubahan banyak di sekolah. Gue berusaha buat nama lo di kenal banyak orang,posisi lo di sekolah itu nomor satu. Lo keren,lo pinter,dan yang paling penting lo gak bakalan di bully lagi karna lo cowok populer di sekolah."


"Satu tahun ini,gue udah berjuang banyak buat lo. Jangan sia-sia in perjuangan gue ya,nanti kalo lo udah bisa masuk sekolah lo harus jadi Nano yang keren,jangan sampai home schooling lagi karena takut di bully. Bisa kan?"


"Lo tenang aja,walaupun nanti gue pergi,ada Tama dan yang lainnya yang bakalan jagain lo. Sebelum balik gue juga bakalan ngajarin lo banyak hal. Termasuk nakhlukin cewek,biar gue kasih tau. Ada satu cewek di Bina Bangsa yang lagi gue incer atas nama lo."


Mata Nano melotot.


Yang beneran saja! Apa dia juga jadi buaya nantinya??


♡♡♡


Semenjak bermain dengan Karamel,Callista merasa jika akhir-akhir ini ia kurang meluangkan waktu dengan sahabatnya Alina. Callista jadi merasa jahat,karena itu,untuk menebus rasa bersalahnya. Malam ini,Callista izin pada orangtuanya untuk menginap di rumah Alina.


Jadi,di sini lah Callista berada. Di kamar Alina yang bernuansa serba pink itu.


"Lin,ngerasa aneh gak sih sama Reyno?"


Callista bertanya sembari menelungkupkan badannya di kasur dengan posisi dagu di angkat dan di alas pada kepala boneka domba.

__ADS_1


Alina menoleh. Mengangkat sebelah alisnya dengan bingung.


"Gak ada. Emangnya Reyno kenapa? Lo buat masalah lagi sama dia? Bukanya udah gak ada urusan?"


Callista mendengus. Sahabatnya itu suka sekali menuduhnya yang tidak-tidak.


"Gue enggak nyari masalah Lin. Cuma ya,gimana ya. Lo tau gak sih,minggu lalu Reyno izin dua hari. Terus tadi,dia gak masuk juga. Aneh lah!"


Alina yang tengah memakaikan lotion di tubuhnya,menghentikan kegiatannya lalu menatap Callista penuh selidim.


"Lo nguntit Reyno ya?" Tuduhnya tajam. "Sampai tau kalau Reyno gak masuk dua hari minggu lalu dan hari ini,segitunya lo stalkingin dia?"


Callista menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gak gitu juga Lin! Aduh,gimana ya ngejelasinnya."


"Huh,jadi gini. Dua hari sebelum pesta,Reyno itu sempat nemuin gue. Lo tau dia bahkan hampir..."


"Pokoknya gitu lah,dan karena kejadian itu Reyno di tonjok sama bang Kala. Gue khawatirnya dia kenapa-napa."


Alina menutup mulutnya dengan kaget.


"Bang Kala nonjok Reyno?" Tanya Alina masih dengan kagetnya.


Callista mengangguk. "Iya,karena..,karena Reyno ngancam mau cium gue di tengah jalan."


"What??" Alina  lagi-lagi menutup mulutnya tak percaya.


Kelakuannya membuat Callista geram. "Udah ya Lin,stop dramatisnya. Pokoknya besok,kalau gue gak nemu Reyno di sekolah. Lo harus ikut sama gue buat nyari Reyno ke rumahnya. Gue tau alamatnya,mau ya?"


Alina mengangguk saja. Rasa terkejutnya masih menempel. Seperti ada yang mengganjal.


"Lis,sadar gak sih? Lo kayak lagi di pepetin dua cowok. Digo dan Reyno! Jangan-jangan mereka berdua sama-sama suka lo? Kalo di suruh milih,lo bakalan pilih siapa?"


♡♡♡


Makin ke sini makin ke sana..:)


Au ah,gelapp..


♡♡♡


Sambil nunggu update selanjutnya,mampir dulu yuk ke karya temen author yang lainnya...


Judul dan sinopsinya ada di bawah..


(Jangan lupa tinggalin jejak,okey😉)

__ADS_1



__ADS_2