Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Abangnya Nano


__ADS_3

Sekitaran jam lima sore,taxi yang Raynand kendarai berhenti tepat di depan pagar rumah mewah yang akhir-akhir jarang ia jambangi.


Setelah membayar ongkos perjalanan,Raynand pun masuk ke dalam sana. Menyeret kopernya dengan raut wajah di pasang lelah,berakting seolah dirinya baru dari perjalanan jauh.


Ya,kedua orangtuanya kan memang belum tau bahwasanya Raynand sudah pulang dari dua hari yang lalu.


Seorang penjaga rumah terlihat berjalan mendekati pagar dengan tergesa-gesa.


Sembari membuka pintu,ia memberikan sapaan selamat datang yang hanya Raynand tanggapi dengan anggukan serta tatapan dinginnya.


"Den Raynand,berangkat jam berapa dari sana?"


Suara penjaga itu terdengar bertanya,sembari mengikuti langkah Raynand,setelah sempat menutup kembali pagar rumah.


"Papa belum pulang?"


Raynand tidak menjawab pertanyaan sebelumnya, tapi langsung mengalihkan topik dengan pertanyaan baru.


Sang penjaga rumah yang paham bahwa tuannya itu tidak mau di tanyai,pun langsung menjawab perihal keberadaan kedua orangtuanya.


"Tuan masih di kantor,sementara nyonya tadi pergi keluar dengan di temani den Nano."


Menanggapi dengan anggukan paham,setelahnya, Raynand lantas masuk ke dalam rumah tanpa bertanya lagi.


Di dalam rumah,suasana tak jauh berbeda dengan hatinya. Sepi,kosong,dan dingin.


Dari ruang dapur,seorang wanita paruh baya terlihat berjalan ke arahnya lalu menunduk hormat setelahnya.


"Wah,akhirnya den Raynand datang. Tadi tuan sudah mengabari bahwa den Raynand akan pulang,jadi bibi masakin ayam saos telur asin kesukaan aden. Den Ray mau makan sekarang,atau?"


"Ray belum laper bi."


Hanya jawaban singkat itulah yang Raynand berikan.


Selebihnya,hanya ada tatapan tanpa minat bersamaan dengan langkahnya yang berbalik hendak menaiki tangga.


Baru beberapa langkah ia berjalan,suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumahnya.


Raynand urung melanjutkan langkahnya,ia berdiri mematung di anak tangga selama kurang lebih empat menit. Hingga,suara handle pintu yang di putar dan di dorong masuk ke dalam indera pendengaranya. Tak ketinggalan setelahnya,suara tawa riang bersahut-sahutan ikut terdengar.


Raynand tersenyum miring.


Membalikkan badannya lagi,hingga di detik berikutnya. Netranya bersibobrok dengan netra teduh milik mamanya.


"Abang!"


Wanita berumur yang masih berwajah cantik itu memekik tak percaya.


"Loh.."


Ia kemudian berlari menaiki anak tangga dan menangkup kedua bahu putra sulungnya itu dengan raut yang masih kaget.


"Kok,kok abang pulang gak bilang-bilang?"

__ADS_1


"Sekolahnya libur ya?"


Nandita menanyakan pertanyaannya dengan beruntun.


Menurunkan tangan sang mama dari pundaknya,Raynand lantas mengbela napas.


"Di suruh papa pulang."


Raynand akhirnya memberikan jawaban singkat mengenai keberadaannya di rumah itu.


"Loh? Papa gak ada bilang sama mama,kalau kamu mau pulang."


Sekejap setelahnya,Nandita memicing. "Abang gak buat masalah di sekolah baru abang kan?"


Bibir Raynand refleks mencebik. See? Seburuk itu pandangan ibunya,sampai ia pulang ke rumah pun di kira karena ia membuat masalah.


"Ray gak buat masalah apapun di sekolah baru Ray. Justru Ray datang ke sini karena ada yang harus Ray selesain di sini!"


Nandita kembali memicing.


"Menyelesaikan apa?"


"Tanya papa aja!"


"Raynand capek,mau ke kamar dulu."


Lantas Raynand berbalik meninggalkan Nandita yang masih termangu di anak tangga,sementara di bawah sana,Reyno menatapnya dengan sendu.


"Ma,aku mau susul abang!"


♡♡♡


Raynand yang tengah memindahkan pakaiannya dari koper ke lemari,pun menghentikan aksinya karena merasa terganggu.


"Siapa?"


Suara serak Raynand terdengar bertanya.


"Nano boleh masuk?"


Suara lembut sang adik terdengar bertanya balik.


Terlihat Raynand menghela napas,berdiri,lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Seperti halnya sifat sang ayah,Raynand pun bukan orang yang suka berbasa-basi. Jadi,begitu pintu terbuka,ia langsung bertanya dengan ketus.


"Ada perlu apa?"


"Nano mau main-main ke kamar abang. Boleh?"


"Hm."


Menyahut dengan ogah-ogahan,Raynand lantas membuka pintunya lebih lebar dan membiarkan adiknya itu masuk ke dalam sana.

__ADS_1


"Abang lagi sibuk?"


Reyno bertanya lagi dengan nada suaranya yang lembut.


"Gak." Jawab Raynand diikuti dengan gelengan di kepalanya.


"Gimana suasana di sekolah,aman?"


Raynand mengalihkan topik dengan menanyakan keadaan sang adik selama di sekolah.


Mendengar pertanyaan Raynand,Reyno mengulas senyum,lalu terkekeh lucu.


"Abang aktingnya jago juga. Padahal Nano tau loh,kalau abang stalkingin Nano lewat teman-teman abang."


"Ternyata dari dulu sampai sekarang,abang gak pernah berubah. Selalu jadi abang yang ngejaga Nano walau dengan gengsi yang membumbung tinggi."


Raynand mendengus kesal. "Lo delusional." Cibirnya.


Reyno terkekeh lagi. "Itu fakfa abang. Jujur aja,abang sesayang itu kan sama kita semua? Cuma ketutupan aja sama gengsinya abang."


"Nano,lo kalau ke sini cuma buat nyari ribut. Mending lo keluar!"


Makin menjadi saja jiwa jahil Reyno,melihat duplikatnya yang kini tengah memasang wajah sinisnya padahal jelas-jelas pipi dan kupingnya memerah membuat Reyno makin bersemangat meledek sang abang.


"Malam nanti Nano mau tidur di sini deh. Abang lama kan di sini?"


Menghela napasnya dengan sabar,Raynand lantas mengangkat tangannya dan menunjuk pintu.


"Nano,keluar!"


"Gak mau!"


Bukannya keluar,Reyno justru berjalan ke arah pintu. Menutupnya dengan rapat,lalu setelahnya ia berjalan ke kasur dan membaringkan tubuhnya di sana.


"Empuk,kasur abang bikin Nano betah tidur di sini."


Menggeram pelan. Raynand lantas menolehkan kepalanya sekali lagi.


"Nano! Serius! Beberapa minggu lalu,gue udah ingatin sama lo buat ubah cara bicara lo! Berhenti jadi cowok manja,gue..!"


Ucapan Raynand terpending,saat tau-tau Reyno sudah berada di balik tubuhnya,dan memeluk punggungnya dengan erat.


"Nano manjanya kalau di rumah aja kok. Di sekolah Nano gak manja,Nano udah berusaha berubah,Nano gak nangis-nangis lagi padahal teman-teman abanh suka bentak-bentak Nano."


"Asal abang tau,Nano udah berusaha lawan rasa takut Nano walaupun itu suli!"


Nada suara Reyno terdengar serak,kepalanya semakin menyeruak dalam. Masuk ke dalam ceruk leher Raynand.


Melihat kelakuan melow sang adik,Raynand yang tadi niat mengomeli,mengurungkan niatnya.


Ia membalikkan badannya,membuat posisi kepala Reyno berpindah ke dada bidangnya.


Rambut Reyno yang tebal membuat tangan Raynand tergerak untuk mengelusnya.

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2