Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Tidur Bareng?


__ADS_3

Sinar surya yang semula berwarna oren,kini sudah menghilang sepenuhnya. Berganti dengan hamparan bintang yang di bubuhi dengan ribuan sparkel gemintang yang terlihat berkelap-kelip genit di angkasa.


Sepasang muda-mudi yang semula duduk di lantai dermaga,kini mulai meregangkan tubuh mereka masing-masing.


"Habis ini,lo langsung anterin gue pulang kan Rey?"


"Rey.."


Bukannya menjawab,sosok laki-laki yang tengah Callista panggil itu justru terlihat kembali melamun di tempatnya.


"Reyno Margantara! Jangan ngadi-ngadi deh."


Callista mulai panik,takut Reyno kesurupan karena kini kepala Reyno mulai berotasi seperti zombie.


"Callista.."


"Hmm..?"


"Mau gak? Malam ini tidur bareng gue?"


Hening selama beberapa detik. Sepertinya otak Callista ngelag,oh tidak-tidak,telinganya konslet mungkin?"


"Barusan ngomong apa?" Callista memastikan sekali lagi.


"Tidur bareng gue malam ini."


"Plak.."


Bukan,bukan pipi Reyno yang di tampar. Tapi pipinya sendiri lah yang Callista tampar saking shocknya dengan ucapan Reyno.


"Serius? Lo gila ya?"


Marah? Tentu saja Callista ingin marah. "Ajakan macam apa itu Rey? Lo sadar sama ucapan lo?"


Reyno berdiri dari posisinya,mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh gadis itu lalu memegang pundaknya dengan lembut. Untung Callista tak menepisnya,gadis itu hanya diam sembari masih menatap Reyno dengan tajam.


"Dengerin penjelasan gue dulu,oke?"


"Penjelasan apa maksud lo?"


Menarik napasnya sebentar,sebelum akhirnya lanjut berbicara. "Gue emang ngajak lo tidur bareng. Tapi tidur dalam artian benar-benar tidur. Gue serius sama ucapan gue kemarin Callista,gue mau ngabisin satu hari penuh ini sama lo. Termasuk malam ini."


Dengan pelan Callista menurunkan tangan Reyno dari pundaknya. "Serius lo makin aneh deh Rey,lo kenapa sih sebenarnya?"


Bukannya menjawab,badan Callista malah terhuyung ke belakang. Dalam hitungan detik Callista bisa merasakan tubuh besar seseorang mendekapnya,belum lagi lilitan tangan kekar itu menguncinya dengan kuat.


"Lo serius gak apa-apa?" Callista bertanya lagi di sela-sela pelukannya.


Anggukan kepala Reyno terasa di pundaknya.


"Mau,enggak?"


"Sebelum gue jawab,lepas dulu pelukannya,bisa?"


Reyno menurut,pelukan Reyno terlepas dan kini Callista bisa lebih leluasa melihat wajah pria itu dari jarak dekat.


Sebenarnya tidak ada yang aneh,Reyno tidak kelihatan sedih,tidak juga kelihatan ada masalah,hanya saja setiap berbicara,tatapan matanya menyiratkan permohonan yang mendalam. Itu lah yang sulit Callista pahami.

__ADS_1


"Rey,maaf sebelumnya. Gue bukannya enggak peduli sama lo,tapi lo sendiri pun tau kan,cewek sama cowok yang udah remaja kayak kita,gak baik tidur bareng. Walaupun enggak ngapa-ngapain,kesannya tetap enggak baik Rey."


"Tapi gue gak bakalan ngapa-ngapain lo!"


"Sekarang lo bisa ngomong kayak gitu,gak tau nantinya. Pikiran setiap orang gak bisa di selami,dan gue gak bisa percaya aja kalau lo gak bakalan ngapa-ngapain gue! Lo gak bisa jamin itu Reyno!"


"Kalau gue bisa?"


"Gue yang enggak mau!" Callista tetap kekeh pada pendiriannya.


"Lagian kenapa harus tidur bareng sih? Bukannya besok juga bakalan ketemu di sekolah,lusa dan masih ada semester satu dan dua di kelas tiga nanti,kita masih banyak waktu buat ketemu di siang hari. Kalau lo mau,juga lo bisa main ke rumah gue kan?"


"Sayangnya itu enggak mungkin Callista."


Nada bicara Reyno mulai berubah.


Callista menatap penuh tanya. "Kenapa enggak bisa?"


"Lo beneran mau pergi? Atau pindah sekolah?"


"Reyno emang gak akan pindah sekolah kemanapun Callista,lo bisa ketemu sama Reyno setiap hari,lo bisa liat dia terus tapi enggak dengan gue. Setelah ini,gak ada yang bisa jamin apa kita masih punya waktu untuk ketemu. Makanya malam ini aja,gue mohon sama lo. Temenin gue nginap di apartemen gue. Mau ya?"


"Gak!" Tolak Callista untuk yang kesekian kalinya.


Putus asa memang bukan pilihan. Tapi memaksakan kehendak seseorang juga bukan keputusan yang baik,untuk itu Reyno mengalah. Ia mengayun kakinya. Berjalan melewati Callista tanpa sepatah kata apapun.


"Rey..?"


"Pulang Callista."


"Hah?"


Callista mengangguk.


"Ayo. Gue anterin."


Setelahnya Reyno kembali berbalik,berjalan menuruni dermaga hingga kakinya kembali menjejak di hamparan pasir yang akan mengantarkannya ke pinggir pantai,tempat mobilnya di parkir.


Suasana pantai memang sudah sepi,bias-bias lampu dari dalam cafe-cafe yang ada di pinggiran pantai menjadi salah satu penerang di sana.


Reyno sampai di parkiran,masuk ke dalam mobilnya,dan tak lama setelahnya,Callista menyusul masuk.


Hening,tak ada obrolan,tak ada candaan,hanya deru kendaraan yang melintas lah yang mengisi kekosongan.


Sampai di depan gerbang rumah Callista,Reyno menghentikan mobilnya.


"Gak masuk dulu?" Callista berbasa-basi.


Reyno hanya memberikan senyuman tipisnya tanpa menjawab.


Callista pun memilih acuh. "Gue masuk ya." Ujarnya berpamitan.


Pintu mobil di buka,sebelah kaki Callista sudah di julurkan,bersiap untuk turun,ketika tangan Reyno mencengkram pergelangannya dengan lembut.


Merasa tangannya di cekal,Callista menoleh meminta penjelasan.


"Kenapa lagi?"

__ADS_1


"Makasih buat hari ini." Reyno berujar pelan.


"Gue pulang ya,jaga diri lo baik-baik."


♡♡♡


Dinginnya angin malam itu terasa menusuk kulit. Mobil sport putih yang tadinya melaju kini berbelok pelan dan berhenti tepat di depan sebuah gedung tinggi bercat putih.


Turun dari mobil dengan tas di cangklongkan ke pudak,laki-laki itu lantas berjalan memasuki lorong rumah sakit yang berbau obat.


Ia masuk ke dalam lift,menekan nomor lantai tujuan dan berdiri mematung,menunggu besi kotak raksasa itu mengantarkannya ke atas.


Ting..


Dentingan pintu lift terdengar memecah keheningan. Pria itu akhirnya sampai di lantai tujuan. Berjalan beberapa langkah ke depan,hingga akhirnya ia sampai di depan kamar VVIP tempat yang satu minggu belakangan ini,rutin ia kunjungi.


"Gue pulang.."


Pria itu masuk ke dalam setelah sempat memberi permisis tanda kedatangan.


"Kok belum tidur?" Laki-laki itu bertanya lembut pada pasien yang nampak terbaring dengan mata terbuka di depan kasur.


"Belum ngantuk,abang kenapa baru pulang?"


"Abis kencan sama calon cewek lo."


"Ckk,bang Ray,Nano serius!" Laki-laki sakit itu memberenggut kesal karena ucapan abangnya.


"Gak usah kayak cewek gitu! Ingat kata gue kemarin,ubah sifat manja lo! Lo mau jadi korban bullying lagi kayak dulu?"


Sang abang menatap tajam yang langsung di sambut gelengan cepat.


"Makanya,ubah sikap manja lo itu!"


"Denger Nano,di sekolah sana,gue udah bikin lo jadi anak pinter,populer dan punya banyak kelebihan. Gue udah persiapkan semuanya buat lo,dan terutama satu. Ada cewek yang yang mesti lo jaga nanti,namanya Callista Andriana Wijaya. Gue percayain dia sama lo. Jangan ngecewain gue!"


♡♡♡


Bersambung...


Maaf ya kalau gaje,aku itu lagi gak fokus bangett...


Capek guys..,lagi handle kegiatan besar yang akan di langsungkan bulan Juni nanti.


Semalam tuh ngejilid sebelas proposal sampe larut malam,kebayang kan gimana capeknya? Mana maag-ku pake kambuh lagi,rasanya tuh asoyyy sekaleeee...


Dahlah..,aku gak mau ngeluh..,aku mau tetap happy kiyowo :)


(mau minum obat dulu,bye....:)


♡♡♡


Oh iyachh...


Mau promosi dulu hehe,di bawah ini ada novel teman otor yang gak kalah kecenya sama novel otor..


Profil,Judul,sama sinopsisnya ada di gambar,jangan lupa tinggalin jejak kalian ya...

__ADS_1


Love u..😘



__ADS_2