
Percayalah,baru kali ini Reyno merasa di remehkan oleh tatapan ibu kandungnya sendiri,seumur yang Reyno ingat. Ibu maupun ayahnya,mana pernah tidak mendukung apapun kemauannya.
Segala yang ia minta selalu ia peroleh dengan satu kali permintaan.
Tapi kali ini,sang mama bahkan papanya sampai ikut masuk ke kamar guna memastikan keputusan yang mereka dengar dari mulut Reyno.
"Rey,jangan bercanda."
Entah untuk yang ke berapa kalinya,kalimat bermuatan keraguan itu keluar dari bibir Nandita.
Reyno menatap mamanya dengan malas.
"Ma,tapi Reyno udah deal sama pihak sekolah. Gak mungkin di batalin gitu aja."
"Rey.."
Kali ini Bima yang angkat suara. Kepala Reyno menoleh pada pada Bima.
"Kenapa pa? Papa gak percaya juga sama Nano?"
"Bukan begitu,tapi.." Bima menjeda kalimatnya sejenak.
"Apa gak sebaiknya kita lakukan pertukaran posisi sementara?"
"Maksud papa?" Nandita menatap suaminya dengan raut tak paham yang kentara. Begitupun dengan Reyno.
Bima menegakkan posisi. "Begini Ma,Rey. Sebenarnya papa sudah lebih dulu tau masalah ini ketimbang mama."
Makin heran saja Nandita mendengar itu semua. Ia menatap suaminya penuh tanya.
"Kok? Memangnya siapa yang ngasih tau papa?"
"Raynand. Mungkin sekitaran dua minggu lalu,Raynand juga masih di Singapura saat itu. Tapi entah bagaimana ceritanya,tapi Raynand memberi tahu pada papa kalau ada kemungkinan Nano akan di ajak untuk mengikuti KSN karena nilai-nilai yang Nano peroleh selama Ray menyamar kemarin."
"Ah,begitu rupanya."
Nandita akhirnya mengangguk paham.
"Berati guru-guru di sekolah Nano itu salah paham. Mereka kira yang selama ini pintat itu Nano padahal kan itu Ray. Kalau gitu.."
__ADS_1
Reyno menatap mamanya dengan tajam.
"Jadi maksud mama Reyno bodoh hah?"
Eh? Nandita seketika gelagapan.
"Gak. Bu..bukan begitu Rey,hanya saja ucapan papa kamu itu benar. Ada baiknya selama kompetisi nanti,biar Abang saja yang menggantikan Nano seperti kemarin."
"Belajar itu bikin capek loh Rey,lagi pula papa sama mama kan gak pernah menuntut kamu harus jadi juara kelas atau apapun itu. Apalagi juara kompetisi,ikut kompetisi itu susah Reyno. Mama takut fisik kamu gak kuat. Di gantiin sama abang aja ya?"
Reyno menggeleng dengan cepat. "Gak mau! Reyno udah siap sama resikonya,Reyno pasti bisa kalau Reyno mau usaha!"
"Tapi Rey.."
"Ma,pa."
Seketika Nandita urung berbicara saat sebuah suara berat menginterupsi dari depan pintu.
Tanpa menoleh pun Nandita tau siapa sosok yang ada di sana,dan benar saja. Beberapa detik setelahnya,langkah kaki seseorang terdengar.
Itu Raynand,dia yang tadi hendak menyusul Reyno karena bosah menunggu laki-laki itu. Malah di suguhkan dengan keberadaan kedua orangtuanya yang tengah menyusun rencana untuk lagi-lagi menumbalkan dirinya untuk menyelamatkan sang adik.
Diam-diam Raynand mendengus sebelum akhirnya ia menginterupsi keberadaan mereka.
"Kalian mempersulit hidup Reyno,menghilangkan rasa kepercayaan diri Reyno,banyak hal yang seharusnya bisa Reyno lakuin jadi keliatan gak bisa dia lakuin itu semua karena kalian gak pernah kasih Reyno kesempatan buat buktiin kalo di bisa."
"Kalian terlalu jebak Reyno,membuat Reyno harus selalu bergantung sama kalian yang kalian sadari bahwa baik papa ataupun mama itu gak kekal di dunia ini."
Nandita melotot,begitupun dengan Bima.
"Abang! Kamu nyumpahin papa sama mama biar cepat mati?"
Raynand geleng-geleng sendiri dengan pola pikir mamanya itu.
"Ray gak nyumpahin ma. Tapi gak ada yang tau umurkan?"
"Sebagai orangtua yang baik kalian gak di haruskan buat nyiapin jalan buat masa depan Reyno. Lebih baik kalian siapkan Reyno untuk beradaptasi sebelum nantinya dia di paksa keadaan untuk bediri di kaki dia sendiri."
"Ray gak nyesal dulu selalu nolak semua kekangan kalian,Ray gak nyesal pernah jadi anak pembangkang bahkan sampai gak di sukai oleh papa dan mama."
__ADS_1
"Karena apa? Karena sekarang buktinya Ray sadar kalau dunia gak seramah itu sama kita dan Ray bangga karena Ray masih bisa berdiri di sini kendati Ray tau bahwa dunia begitu menekan."
"Sama halnya dengan Nano,Ray ingin kalian ngelepasin cengkraman kalian yang terlalu kuat itu. Berikan kesempatan pada Nano,dia sudah memutuskan sesuatu dan dia harus menyelesaikan semuanya termasuk segala kemungkinan yang nantinya akan dia hadapi."
"Ray bakalan bantu tapi enggak untuk mengambil alih masalah milik dia. Udah cukup selama ini Ray selama ngalah sama setiap kemauan mama sama papa,kali ini Ray mengambil langkah tegas. Ray mau Nano jadi dirinya sendiri,begitu pun dengan Ray!"
"Abang,tapi.."
"Ma,please."
Raynand kemudian mendekat ke arah Reyno yang masih menatapnya takjub.
"Lo masih yakin di keputusan awal? Atau udah mulai goyah?"
Reyno menggeleng. "Gak. Nano tetap pada keputusan awal,Nano tetap akan ikut KSN tanpa bantuan penyamaran dari abang!"
"Keputusan Nano udah bulat,dan papa sama harus menyetujui itu."
Reyno kemudian turun dari tepian kasur tempat semula ia duduk.
Ia lalu mendekati Raynand dan berniat menggenggam tangan Raynand namun Raynand menghindarinya dengan cara merubah tangannya menjadi bersidekap di dada.
"Belajarnya di kamar gue aja. Udah terlalu larut buat ke apartemen."
Beritahu Raynand dengan nada dingin sebelum akhirnya ia berjalan duluan,mendahului Nano yang mengikutinya dengan patuh.
♡♡
Bersambung...
Haii,haii..
Lama banget ya aku up-nya?
Maaf ya,jadi tuh sebenarnya aku mengalami writer block akhir-akhir ini.
Tau kan writer block itu penyakit yang paling meresahkan banget buat penulis. Aku tuh sebenarnya udah tau konfliknya gimana,terus endingnya itu gimana,cuma aku gak tau cara ngerangkai katanya itu kek gimana.
Aku tiba-tiba ngerasa blank gitu setiap mau nulis and alhasil,berhari-hari kemarin tuh aku cuma mantengin layar tanpa nulis satu katapun.
__ADS_1
Parah bangetlah pokoknya,alhasil di suatu sore alias sore kemarin. Aku di ajakin sama anak-anak SD sekitaran rumah buat ikut main bola toh sama mereka,aku ikut main bola dan bercanda selepas-lepasnya. Pokoknya aku lupain dulu deh perihal nulis. Aku relaxing otakku.
And then,akhirnya hari ini aku ngerasa lega karena perlahan-lahan otakku cair lagi.