Miss Jones & Mrs. Badman

Miss Jones & Mrs. Badman
Temu


__ADS_3

###


Seorang remaja tanggung,berseragam putih biru baru saja menyelesaikan kegiatan belajarnya hari itu. Wajah tampak sudah lumayan kucel,rambut acak-acakkan,juga seragam yang ia kenakan tampak mulai kusut.


Untung wajah tampan di usia dininya itu tidak terpengaruh oleh penampilannya yang berantakan se-pulang sekolah siang itu.


"Den Ray.."


Sebuah panggilan yang lumayan nyaring terdengar mengusik pendengarannya.


Laki-laki itu menoleh kemudian menyunggingkan senyum tipisnya. Mas Hardi,supir pribadi yang selama ini setia mengantar dan menjemputnya.


"Sudah selesai kegiatan MPLS-nya? Adik-adik kelasnya gimana? Cakep-cakep?" 


Terdengar pertanyaan bernada godaan dari sang supir.


Laki-laki itu lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi guyonan sang supir.


Lihatlah pa,ma. Bahkan supir pribadi keluarga kita lebih tau tentang keseharian ku di bandingkan kalian. Kalian kemana? Hari bahkan,sebelum-sebelumnya pun kalian tak pernah mau tau.


Ada begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan,ada begitu banyak keluh-kesah yang ingin aku bagikan.


"Den Ray..."


"Iya.."


Perlahan kepala laki-laki menoleh. Berusaha menyadarkan diri dari kemelut yang menghantui pikirannya.


"Ayo pulang."


Ia mengangguk. Kaki lemasnya kembali ia bawa paksa untuk berjalan menuju mobil. Kegiatan mengurus adik-adik kelas yang baru masuk cukup menguras tenaganya.


Ada ratusan adik kelas yang baru saja masuk dan sebagai siswa yang cukup punya prestai di sekolah,dirinya di libatkan untuk menjadi panitia MPLS. Jadi bisa di bilang kegiatannya hari ini cukup membuatnya kelelahan.


Namun ia tak mau mengeluh,malahan bersyukur,ia senang terlibat kegiatan apapun yang di selenggarakan di sekolahnya. Bukan untuk caper,melainkan untuk mengusir kesepian yang sudah menggoroti jiwa raganya dari semenjak ia tau apa itu dunia.


"Hari ini nyonya dan tuan ada menelpon den. Menanyakan kegiatan den Ray,sekaligus menanyakan keputusan den Ray. Sebentar lagi kan den Ray lulus SMP,sudah kepikiran mau lanjut ke SMA mana?"


Remaja laki-laki termenung sejenak. Hanya sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng.


"Belum."


"Loh? Kok belum?"


"Den Ray kan pintar,multitalenta juga,mau masuk kemana aja bisa loh den."


Lagi-lagi remaja laki-laki itu tercenung dengan tatapan yang amat kosong.


"Den Ray..? Kenapa malah ngelamun?"


Ray mengangkat kepalanya dengan sorot mata ragu. "Memang keliatannya aku sepintar itu?"  Remaja laki-laki itu malah terlihat ragu.


"Kalau aku pintar dan membanggakan,kenapa papa sama mama gak pernah mau datang ke sekolah aku?"


Sang supir terdiam. Baginya pertanyaan barusan cukup sulit di cari alasannya. Karena ia sendiri pun tidak tahu,kenapa tuan dan nyonya-nya malah terlihat membedakan antara kedua majikan kecilnya itu.


"Mereka sibuk den,mereka kan kerja. Lagi pula den Nano sering jatuh sakit kalau di tinggal tuan dan nyonya,den Ray berbeda,den Ray terlahir kuat,jarang sakit dan den Ray juga lebih mudah beradaptasi ketimbang den Nano."


Sang supir akhirnya mencoba beralibi. Seperti yang sudah-sudah,remaja laki-laki itu menulikan telinganya.


Alasan klasik,klise. Apapun alasan,Ray benar-benar salut dengan pemikiran kedua orangtuanya itu. Benar-benar tidak adil menurutnya.


Asal mereka tau saja, tidak semandiri itu,ia tidak sekuat itu,ia hanya menguatkan diri,menopang dirinya sendiri,di saat tidak ada seorang pun yang bisa ia andalkan. Ia sama dengan adiknya,pun butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya. Walau tak mengakui,jauh dari lubuk hatinya,Ray iri pada adiknya.


"Ray iri pada Nano."

__ADS_1


###


"Abang...!"


"Abang gak papa?"


Tarikan sekaligus guncangan di tubuhnya membuat raga Reyno ditarik ke dunia nyata.


Pandangannya yang barusan sempat mengabur kini mulai normal kembali,juga otaknya yang beberapa saat di buat blank oleh seutas memories masa lalu,kini mulai beradaptasi lagi pada keadaan saat ini,dimana ia tengah berpijak.


"Abang,hei!!"


Suara di sebelahnya cukup membuat Reyno menolehkan kepala,pada akhirnya.


"Hm,gue baik-baik aja."


Dengan tenang Reyno menurunkan tangan sang mama dari bahunya kemudian memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang. Memberi jarak antara dirinya dan sang mama. Kebiasaan yang mereka ajarkan padanya dari sejak dini,harus di lestarikan bukan?


"Rey,lo gak papa?"


Satu suara lagi dari arah sampingnya,membuat atensi Reyno kembali teralihkan.


"Ada yang luka gak?"


Orang itu bertanya lagi.


Reyno berdehem pelan. Di telitinya perempuan yang barusan datang itu dari atas sampai ke bawah. Gaun berwarna navy dengan aksen bunga-bunga di pinggangnya membuat penampilan gadis itu tampak anggun,juga heels berwarna senada yang tidak terlalu tinggi tampak pas di kakinya.


"Cantik." Batin Reyno.


"Reyno Margantara! Lo denger gue gak sih?"


"Eh,iya.."


"Aduh tante maaf ya,Calista kelepasan. Habis Reynonya plonga-plongo gitu. Calista cuma mastiin dia gak papa aja."


Kedua orangtua Calista juga turun dari mobil dan menghampiri sosok Reyno yang tadi hampir mereka tabrak.


"Ini teman kamu Lis?" Terdengar ibundanya Calista bertanya.


Calista mengangguk sekilas. "Iya ma,namanya Reyno. Ini mamanya,tante Nandita."


Pertemuan tak di sengaja di depan rumah sakit itu berhasil mempertemukan orangtua Calista dengan mama Reyno.


Seperti ibu-ibu pada umumnya,baik mama Reyno maupun mama Calista langsung saling akrab setelah tau nama masing-masing.


"Maaf loh Dit,tadi supirnya mau belok. Mau nyari tempat parkir,eh tau-tau Reynonya tiba-tiba nyebrang. Supirnya kaget untung sempat nge-rem,tapi syukurlah Reynonya gak kenapa-napa."


Nandita mengangguk setuju. "Iya,syukur abangnya kenapa-kenapa. Tuh liat,bahkan sudah di tarik pergi sama Calista." Nandita berkata sembari menunjuk ke arah Reyno yang sudah menyeberangi jalan dengan di tarik oleh Calista.


Pemandangan itu berhasil membuat Nandita geleng-geleng kepala. Dasar abang! Giliran sama Calista aja,langsung nurut.


Mengalihkan pandangannya dari kedua muda-mudi itu,Nandita kini tertarik mengetahui kebetulan apa yang sampai mengantarkan kedua orang Calista itu ke rumah sakit.


"Ngomong-ngomong,Kirana dan suami ke rumah sakit ini ada urusan apa? Apa ada keluarga yang sakit?" Begitulah pertanyaan ramah yang akhirnya Nandita gunakan sebagai celah mengakrabkan diri.


Terlihat kepala kedua orangtua Calista itu menggeleng serentak.


"Gak ada sakit kok,cuma itu,Calistanya tiba-tiba kepingin makan martabak manis yang di jual di depan sana itu loh."


Karina menunjuk sebuah kedai martabak,yang ada di seberang jalan tepat berhadapan dengan rumah sakit ini.


"Tuh liat,Calista bahkan sudah ajak Reyno ke sana. Benar-benar,saya bahkan baru tau kalau Calista punya teman cowok selain Digo. Anak itu padahal agak susah bergaul,tapi sepertinya dia sudah sangat akrab ya dengan Reyno?


Nandita tertawa kecil. "Keliatannya begitu ya?"

__ADS_1


"Sebenarnya saya juga tidak menyangka kalau Reyno akhirnya punya teman cewek yang dekat bahkan sampai di bawah ke rumah."


Pernyataan Nandita barusan berhasil membuat kedua orangtua Calista kaget.


"Calista pernah di bawa ke rumah Reyno?" Papa Calista terlihat bertanya dengan kaget.


Nandita mengangguk dengan tenang. "Iya,satu kali. Waktu itu juga saya sempat menelpon Kirana,meminta izin agar Calista di izinkan pulang telat. Betul kan Kirana?"


Nandita mencoba mengingatkan kejadian tempo lalu pada wanita yang berstatus ibu dari Calista itu.


Awalnya Kirana tampak mengingat-ingat hingga akhirnya ia mengangguk.


"Ah iya benar,saya hampir lupa kejadiannya. Padahal baru minggu lalu ya?" Ujarnya sembari tertawa kecil.


"Makhlum Dit,saya ini lumayan pelupa."


"Lalu ngomong-ngomong tentang ke rumah sakit,Reyno dan Nandita sendiri ada urusan apa ke sini? Apa ada keluarga yang sakit?"


Anggukan kecil dari kepala Nandita menjawab pertanyaan Kirana.


"Anak saya yang ke dua sedang sakit dan di rawat di rumah sakit ini." Jawabnya lebih lanjut.


"Anak kedua? Adiknya Reyno begitu?"


Anggukan dari kepala Nandita lagi-lagi menjawab pertanyaan Kirana.


Melihat respon singkat barusan,Kirana rasanya belum puas. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada sang suami.  "Pa,bagaimana kalau kita menjenguk adiknya Reyno?"


"Jangan!!"


Teriakan Nandita yang tiba-tiba membuat Kirana menoleh heran begitupun dengan Hartono,papanya Calista.


"Kenapa Dit? Apa kami tidak boleh menjenguk adiknya Reyno?"


"B..bukan begitu,h..hanya saja anak kedua kami,ah maksud saya adiknya Reyno ini sedang di rawat intensif dan hanya pihak keluarga saja yang di perbolehkan menjenguk. Itu pun secara bergiliran dan kebetulan di dalam saja masih ada papanya Reyno."


Jawaban yang lumayan logis itu akhirnya cukup membuat kedua orang tua Calista itu mengerti.


"Begitu ya? Ya sudah mungkin lain kali,jika memang kondisi adiknya Reyno ini sudah membaik Nandita atau mungkin Reyno boleh mengabari Calista agar kami bisa menjenguk,hitung-hitung memperat tali silahturami Dit."


Nandita tersenyum kaku. "Iya begitu lebih baik."


"Kalau begitu,saya sepertinya harus masuk ke dalam. Takut di cariin sama suami saya,nanti kalau Reyno dan Calista sudah kembali ke sini,tolong beritahu Reyno agar menyusul kami ke dalam."


"Saya permisi dulu."


Nandita pergi dengan terburu-buru.


Sebuah gerak-gerik aneh yang berhasil membuat bingung kedua orangtua Calista.


Kenapa Nandita terlihat panik?


♡♡♡


Holla readerss...!


Setelah otor baca-baca,ternyata cerita ini banyak typonya.


Otor belom sempat revisi,maaf ya jika membuat suasana membacanya kurang nyaman.


Juga di beberapa paragraf di beberapa bab itu ada kilas balik. Harusnya pas ngetik otor udah buat perbedaan dengan memiringkan font tulisannya. Tapi gak tau kenapa pas udah di update,sama sistemnya,fontnya di normalin lagi.


Jadi keliatan kayak gak ada bedanya,ini nanti juga bakalan di revisi. Untuk sementara biarkan seperti itu dulu,maaf atas ketidaknyamannya.


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2