
Udara di sore menjelang malam itu terasa hangat namun juga sejuk karena ada angin sepoi-sepoi yang berhembus.
Di ruangan outdoor itu,sepasang pemuda tengah duduk berseberangan dengan tatapan masing-masing lurus menghadap ke arah kolam renang yang membentang cukup luas di hadapan mereka.
"Jadi lo ambil keputusan buat ikut Kompetisi Sain Nasioanal yang bakal di adakan bulan depan?"
Reyno mengangguk,menanggapi pertanyaan Raynand yang tertuju padanya.
Raynand menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Lo punya alasan kenapa lo mau ikut berpartisipasi?"
Kali ini Reyno menggeleng. "N..nano cuma ngikutin insting Nano aja." Lirihnya takut-takut.
Lama tak terdengar jawaban dari Raynand,hingga membuat Reyno harus menggerakkan kepalanya untuk menoleh.
Menelisik ke arah samping,Reyno mendapati Raynand tengah memejamkan matanya dengan punggung bersandar ke kursi. Satu tangannya juga terlihat tengah memijit pelipisnya seolah ia tengah di landa kegundahan.
Beberapa menit setelahnya,barulah Raynand balas menoleh dan melontarkan pertanyaan yang agaknya sedikit menohok.
"Rey,lo tau kan kalau setiap keputusan yang di ambil ada resikonya?"
"Nano tau bang." Jawab Reyno lugas.
"Dan lo udah siap sama resikonya?"
"Siap! Sebelum ambil keputusan ini juga tadi Reyno udah pikirin baik-baik."
Raynand mendelik. "Oh ya? Seberapa lo mikirin semuanya sebelum lo ambil keputusan?"
Kali ini Reyno terdiam.
Raynand tersenyum miring.
"See? Lo bahkan gak bisa jawab. Nano,gue takut ini cuma obsesi lo doang."
"Sekarang gue tanya sama lo. Lo tau apa tujuan yang mau lo capai dengan lo ikut kompetisi itu?"
Terdiam sejenak,sebelum akhirnya Reyno mengangguk pelan terkesan ragu.
"N..Nano,mungkin Nano ingin buktikan ke orang-orang di sekitar Nano kalau Nano bukan beban dan Nano bisa di andalkan."
__ADS_1
Terlihat sorot mata penuh keraguan saat Nano menjawab itu semua dan Raynand menyadarinya sehingga ia tersenyum remeh.
Sayangnya Reyno menyadari tatapan remeh itu dan ia merasa tersinggung.
"Abang kenapa liatin Nano kayak gitu? Abang gak yakin sama kemapuan Nano?"
Wajah Raynand datar kembali. "Gue gak ngerasa ngomong kayak gitu. Lo sendiri yang menilai."
"Cih..,bilang aja kalau abang juga raguin kemampuan Nano. Iyakan?"
Membenarkan posisi duduknya dan mengubahnya menjadi miring,kini Raynand persis menghadap ke arah Reyno.
"Lo ngerasa butuh bantuin gue?"
Raut yang tadi sinis,kini berubah jadi binar penuh permohonan.
"Abang mau bantuin Nano belajar?"
Raynand mengangguk. "Mau-mau aja. Walau gue gak bisa jamin hasilnya."
"Nano akan kasih yang terbaik!"
"Nano tau bang! Nano tau dan Nano sudah siap untuk itu."
Mencebikkan bibirnya dengan kepala yang terangguk-angguk. Raynand lantas bertanya lagi.
"Jadi kapan,rencana belajarnya di mulai?"
"Malam ini juga. Nano tadi di kasih banyak modul buat di pelajari dan Nano mau abang bantu jelasin ke Nano dengan kalimat yang mudah Nano pahami. Abang tau kan kalau Nano agak susah dalam mengingat sesuatu terutama rumus-rumus."
Menepuk pundak sang adik dengan raut hangat,Raynand lantas menunjukkan sisi dewasanya.
"Lo tenang aja. Gue bakalan bantuin lo sebisa gue dan untuk hasilnya,itu semua tergantung usaha lo. Selebihnya gue angkat tangan."
Raynand lalu bangkit dari duduknya dan merapikan celana pendeknya yang sedikit kusut.
"Habis makan malam,kita pergi belajar ke rooftop apartemen gue."
♡♡♡
Reyno mengemasi beberapa buah buku berukulan tebal ke dalam tas ranselnya. Tak ketinggalan sejumlah modul berbentuk lembaran kertas yang sudah di satukan juga ia masukkan ke dalam ransel beserta alat tulis lainnya.
__ADS_1
Makan malam sudah usai,dan sesuai janji Raynand tadi,mereka berdua akan ke apartemen Raynand untuk belajar.
"Nano,vitamin sama obatnya udah di minum belum?"
Terdengar suara sang mama menggelegar dari balik pintu kamar.
Reyno yang tengah mengemasi barang-barang bawaannya pun menyahut dengan sedikit berteriak.
"Nanti aja ma,tunggu udah udah pulang dari belajar. Reyno takut ngantuk."
Tak ada jawaban selama beberapa saat hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka.
Terlihat Nandita berdiri di ambang pintu dengan tatapan herannya.
"Kamu mau belajar dimana memangnya?" Nandita tentu bertanya heran mengenai pernyataan 'tunggu pulang dari belajar' yang anak bungsunya itu lontarkan beberapa saar lalu.
Menyelesaikan aktivitasnya sejenak,sebelum akhirnya Reyno bangkit dari posisinya dengan pundak yang sudah menyandang tas.
"Nano mau belajar sama abang di rooftop apartemennya abang."
Mata Nandita terlihat melotot tak santai. "Apa? Rooftop?"
Reyno mengangguk.
"Reyno,kamu jangan macam-macam ya. Kamu kan alergi dingin!"
Nandita kemudian mengibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri. "Gak boleh! Gak ada istilah belajar di luar ruangan,mama bakalan kasih tau ke Raynand supaya dia ubah tempat belajarnya atau enggak usah belajar sama sekali."
"Lagian kenapa harus keluar sih belajarnya? Malam-malam lagi,kamu kelupaan ngerjain tugas atau gimana sih?"
Reyno menggeleng cepat.
"Gak ma,bukan gitu! Nano bukan belajar buat ngerjain PR."
"Terus?"
"Nano mau ikut Kompetisi Sains Nasional."
"Apaaa??"
♡♡♡
__ADS_1