
Badan mungil Callista nyaris terpelanting kembali ke dalam wc,untung sebuah tangan kekar menariknya lengannya dengan gerakan cepat hingga tragedi terjungkal itu pun bisa di hindari.
"Lo gak papa?"
Suara serak nan berat itu memasuki gendang telinga Callista membuat kepalanya refleks mendongak.
Dirinya yang tadi berencana ingin marah,kini malah membungkam mulutnya dengan rapat. Ia terhipnotis selama.beberapa detik,kedua matanya terkunci pada sosok berhodie hitam yang kupluknya menutupi kepala.
"L..lo,kok bisa ada di sini?"
Sosok itu melepas cekalan di lengan dan menatap malas manusia di depannya itu.
"Ini fasilitas umum. Suka-suka gue lah,mau di sini kek,mau ngesot kek,bukan urusan lo juga!"
Mata Callista melotot seketika. "Tapi Reyno! Ini toilet cewek!"
Callista menunjuk lambang perempuan mengenakan rok yang terpampang cukup jelas di keterangan pintu masuk.
Si sosok yang sebenarnya adalah Raynand itu hanya garuk-garuk kepala.
"Ckk. Ya udah iya! Anggap aja gue kesasar! Gitu aja di permasalahin. Dasar nyebelin!"
Membentak dengan tidak jelas,sebelum akhirnya sosok yang Callista sangka sebagai Reyno itu berlalu dengan langkah tergesa-gesa.
"Lis.."
Bahu Callista di tepuk dari arah belakang,oleh seseorang. Callista menoleh,dan ternyata itu Karamel yang baru keluar dari toilet.
Ah,Callista sampai lupa kalau tadi ia pergi ke toilet bersama Karamel.
Kini mata Callista beralih melirik ke ujung lorong dengan sedikit was-was. "Untung Reyno sudah pergi,kalau enggak bisa berabe urusannya."
Batin Callista bermonolog lega.
"Kalis ngeliatin apa sih?"
Karamel yang rada merasa heran dengan kemiringan kepala Callista pun bertanya dengan penasaran.
Tangan Callista melambai singkat.
"Gak ada. Ayo,balik ke kelas."
Callista buru-buru merangkul Karamel dan membawa gadis itu kembali ke kelas,mengamankan sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
***
Sampai di kelas,Callista dan Karamel,di suguhi kegiatan teman-temannya yang tengah bergosip. Tidak terlalu ramai karena memang masih di jam pelajaran dan kebetulan gurunya sedang kembali ke kantor,jadi untuk sekedar tolah-toleh,bisalah.
Berhubung mereka bergosip dengan volume suara yang lumayan kedengaran,rungunya Callista mau tak mau menangkap pembicaraan mereka.
"Denger-denger beberapa minggu lagi,mau di adakan acara KSN di Jakarta. Kira-kira perwakilan dari sekolah kita siapa-siapa ya?"
"Kalau pararel IPA,kayaknya sih pasti Reyno. Itu pun kalau dia mau,biasanya sih enggak mau. Kalau dia enggak mau,paling di wakilkan sama Adinda. Atau..,Digo."
"Ya,walaupun dia unggulnya di basket,tapi di bidang akademik dia juga gak anjlok-anjlok banget. Worth it lah buat ikut lomba.
Wait!
__ADS_1
Sampai di sini Callista agaknya sudah bisa menangkap kemana arah pembicaraan teman sekelasnya itu.
Buru-buru Callista bergegas ke kursinya dan mengeluarkan ponsel dari saku tasnya.
Ada seseorang yang ingin ia hubungi saat ini.
To : Reyno Margantara
"Rey,gue boleh nanya?"
***
Selang beberapa menit berlalu,pesan itu belum juga di balas.
Callista menghela napasnya. Kemudian jemarinya kembali mengetik.
To : Reyno Margantara
"Kata teman-teman di kelas gue,beberapa minggu
bakalan di adain KSN. Lo juga di ancang-ancangkan sebagai perwakilan. Udah konfirmasi sama wali kelas?"
To : Reyno Margantara
"Sorry kalau gue keliatan ikut campur. Tapi sepengetahuan gue dan dari beberapa info yang gue denger. Katanya selama ini lo gak pernah mau ikut lomba.
To : Reyno Margantara
"Terus gimana sama yang kali ini? Lo bakalan ikut?"
***
Pupus sudah harapan Callista. Ia pun memasukkan kembali handphonenya ke dalam laci dan memilih mencatat materi di papan tulis yang tadi belum ia selesaikan.
♡♡♡
Di sebuah apartemen yang tak terlalu besar. Seorang pria berhodie hitam tengah menatap layar teleponnya dalam diam.
Ia diam bukan karena tenang,namun karena pikirannya berkecamuk.
Barusan sehuah pesan masuk ke handphonennya, sebuah pesan dari seseorang yang pastinya sangat ia kenali.
Isi di dalam pesan itu menanyakan tentang sesuatu yang dua tahun belakangan ia hindari.
Laki-laki menyalakan layar ponselnya,dan membaca bagian terakhir dari pesan itu sekali lagi.
^^^From : Callista Andriana^^^
^^^"Sorry kalau gue keliatan ikut campur. Tapi sepengetahuan gue dan dari beberapa info yang gue denger. Katanya selama ini lo gak pernah mau ikut lomba.^^^
^^^From : Callista Andriana^^^
^^^"Terus gimana sama yang kali ini? Lo bakalan ikut?"^^^
***
Raynand menghela napasnya dengan berat. Kelar masalah satu,muncul lagi masalah berikutnya.
__ADS_1
Uh,andaikan ia masih menyamar jadi Reyno dan Reyno adiknya itu masih sakit,mungkin ia tidak akan seresah ini dalam hal membalas pesan nyasar Callista.
Di katakan nyasar,karena Raynand sendiri tau kalau Callista sebenarnya ingin mengirimkan pesan ini ke Reyno,hanya saja masuknya ke nomor Raynand.
Karena memang sedari awal dulu,nomor yang sering Callista hubungi itu adalah nomor handphone Raynand bukan Reyno.
Ugh. Memikirkan hal barusan sudah membuat ia keleyengan.
Belum lagi masalah lain.
Raynand kepikiran dengan Reyno,bagaimana dengan adiknya itu? Sedang tadi saja ia kesulitan menjawab soal fisika yang di ajarkan oleh pak Bambang.
Beruntung tadi ada si jutek Sky yang menghubungi Ray dengan mengatakan bahwa Reyno mengalami masalah di kelas.
Secara implusif,Raynand langsung mengambil tindakan cepat dengan pergi ke Bina Bangsa untuk menyelamatkan sang adik dan lagi-lagi keberuntungan masih berpihak pada Reyno karena ia mengambil inisiatif kabur ke toilet.
Dengan begitu,Raynand punya celah untuk masuk dan menyamar menjadi Reyno dan menyelasaikan semua soal tadi dengan mudahnya.
Akan tetapi,dari semua masalah yang tadi Raynand selesaikan dalam waktu singkat,tidaklah menyelesaikan semuanya. Malah justru menimbulkan masalah baru karena ternyata sekolah elit di kota Makassar itu justu akan mengirimkan murid-murid berprestasinya untuk mengikuti Kompetisi Sain Nasional.
Tidak ada yang salah dengan kompetisi yang di adakan,hanya saja ada yang mengkhawatirkan dari salah satu calon peserta yang akan di kirimkan.
Orang yang mengkhawatirkan itu tak lain adalah si Reyno yang asli,dan Raynand yakin. Saat ini,adiknya yang manja itu pasti tengah ketakutan.
"Gue harus buru-buru bertindak." Batin Raynand.
Kembali benda pipih itu ia nyalakan,lalu ia scroll hingga ia menemukan sebuah nomor yang sebenarnya sangat malas ia hubungi.
Calling : Papa Bima
Dua tiga kali,nada sambung terdengar sebelum akhirnya panggilan terhubung dan suara berat sang ayah terdengar.
"Ada apa Ray?"
Seperti biasanya,sang ayah tidak pernah memberikan basa-basi apapun pada Raynand. To the point,adalah konsep teguh yang di biasakan oleh Bima dari sejak Raynand kecil.
Raynand pun demikian,mendapati sang ayah sepertinya tidak mau di usik. Ia pun langsung memberitahukan masalah inti yang ia ingin ia bicarakan.
"Sekolah Nano,beberapa minggu lagi akan mengadakan KSN."
"Lalu?"
"Dari prestasi yang selama ini Ray raih untuk Nano. Kemungkinan Nano untuk menjadi perwakilan itu besar adanya,dan menurut perkiraan Ray itu akan menjadi masalah bagi Nano."
Hening selama beberapa saat,sebelum akhirnya sang papa bersuara dengan memberi jawaban yang tidak terduga.
"Besok kamu pulang dan langsung temui papa. Papa tunggu kamu di kantor."
♡♡♡
Hai,gue balik lagi. Setelah dua hari gak up.
Maaf banget karena menggantung cerita,sejujurnya dari kemarin pingin up hanya saja setelah semua kesibukan otor selesai dan otor pulang kerumah.
Otor justru di sambut kabar duga,salah satu saudara dari pihak papanya otor di kabarkan meninggal dunia tepat di hari otor balik ke rumah.
Di karenakan hal itu,sebagai kerabat otor mau gak mau harus menunda lagi pekerjaan otor dan ikut sibuk di rumah duga.
__ADS_1
Alhasil,pagi ini,setelah om di kuburkan,otor pun meyempatkan diri untuk nulis dan akhirnya bisa up.