
Suara ketukan yang bergema berkali-kali di depan pintu tidak di hiraukan oleh seorang pria remaja yang saat itu tengah bersandar lesu di tepi kasur dengan keadaan yang amat kacau dan rambut acak-acakkan.
Sudah dua hari ini ia mengurung diri di kamar. Berusaha memahami kemelut yang terus bergelut antara rasa bersalah,menyesal,amarah dan segala kekacauan bercampur menjadi satu.
"Sekali aja kamu datang ke rumah sakit Ray,dia butuh kamu."
"Pa,kita harus bujuk abang. Mama yakin kalau abang yang ke rumah sakit,keadaan adek bakalan semakin membaik. Papa ingat kan kemarin? Pas kita sebut nama abang? Dia bereaksi pa,dia bereaksi. Mama yakin,walaupun dalam keadaan tidak sadar dia bisa mendengar apa yang kita bicarakan. Bukannya dokter juga bilang begitu kan?"
"Ray tidak akan bisa di bujuk. Jangankan di bujuk untuk ke rumah sakit,untuk di ajak bicara saja sulit. Sebegitu marahnya dia pada kita ma,papa sudah kehabisan akal."
"Lalu bagaimana dengan Nano? Dia butuh Rey pa. Nano gak bersalah,tidak seharusnya Ray ikut dendam pada Nano,kalau memang tidak bisa di bujuk baik-baik,kenapa tidak sekalian saja kita ingatkan pada Ray,apa yang membuat Nano sampai seperti itu?"
"Cukup ma!! Apa mama lupa? Ray seperti itu karena siapa?"
♡♡♡
Siang itu,sepulang sekolah,Tama mampir ke kediaman keluarga Margantara. Begitu sampai di depan pintu,ia langsung di sambut oleh ibunda dari sahabatnya yang memang akhir-akhir ini sering berada di rumah. Suatu perubahan yang sebenarnya cukup drastis setelah kejadian 'naas' yang pernah terjadi dua tahun silam.
"Syukurlah Tam,akhirnya kamu di sini. Tante tuh pusing banget,abang gak mau keluar kamar dari dua hari yang lalu. Tante sama om bingung. Dua hari yang lalu,abang memang sempat pulang dalam keadaan yang agak kurang baik,bibirnya pecah,kayak habis berantem."
"Tante bantu obatin lukanya,awalnya manut,gak tau kenapa habis itu abangnya tiba-tiba pergi. Pas papanya ngebahas masalah Nano,dia malah pergi,gak ngomong apa-apa. Malamnya sampai sekarang gak mau keluar kamar."
"Kamu bisa tolong bujuk? Minimal sampai dia mau keluar buat sekedar makan,tante beneran takut. Dia belum makan apa-apa dari kemarin."
Tama terdiam. Sebenarnya ia tau persis bahwa sahabatnya itu tidak benar-benar mogok makan dengan mengurung diri di kamar,semalam mereka sempat vidio call dan Tama tau jelas bahwa sahabatnya itu menyimpan stok camilan tersembunyi yang ia taroh di dalam koper di bawah kasur.
Kelakuan sahabatnya itu kekanak-kanakan dan agak konyol,walaupun sedang ngambek ia tak bodoh dengan melalukan mogok makan sebagai pelampiasan.
"Sedih juga butuh energi kali. Jangan bego,pikiran boleh kacau tapi asupan harus tetap masuk."
"Kalau lagi sedih ya tetap harus makan,jadi manusia jangan egois. Lo yang punya masalah,cacing di dalam perut lo gak salah apa-apa. Dia tetap butuh asupan."
Tama geleng-geleng kepala sembari mengulum senyum saat teringat beberapa kalimat konyol yang pernah di ucapkan oleh sahabatnya itu. Bukannya mengajak orang lain ikut merasakan masalah yang ia rasakan,sahabatnya itu justu sering bertingkah konu saat dalam masalah,suatu tindakan yang jarang bisa di lakukan oleh orang lain.
"Kalo lo gak di kasih kehidupan yang bahagia,ya minimal jadi orang yang bisa ngasih kebahagiaan.
"Tan,boleh Tama langsung ke kamarnya Ray?"
Nandita mengangguk cepat. "Boleh,boleh. Tapi ikut tante ke dapur dulu,nanti kamu ke atasnya bawain makanan buat abang. Pokoknya tante mau kamu mastiin kalo abang makan semua makannya,ya?"
Tama mengangguk. "Iya tante,siap."
Tama mengikuti Nandita ke dapur,wanita itu tampak langsung mengambil piring,menambahkan secentong nasi ke dalam sana beserta beberapa sayur mayur,menatanya di nampan dan tak lupa segelas minuman serta segelas susu hangat ia letakkan juga di sana.
"Nah,ini makanan buat abang. Bilang abang,suruh di habisin. Oh satu lagi..."
Nandita tampak berjalan lagi,keluar dari ruang makan. Selama beberapa detik,sebelum akhirnya ia kembali lagi sembari membawa sesuatu di tangannya.
"Ini vitamin c,nanti sebelum atau sesudah abang makan,suruh dia minum vitaminnya ya."
Tama mengangguk lagi. Kalo boleh jujur,perlakuan Nandita hari ini cukup membuatnya terkesan. Ia lalu meraih nampan yang sudah di siapkan kemudian bersiap membawanya naik ke lantai atas. Sebelum benar-benar beranjak,ia mengulas senyum tipis.
"Makasih tante,makasih karena sudah berusaha memperbaiki semuanya."
♡♡♡
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Reyno yang tengah berbaring di kasur,mengeliat malas. Tidak berniat menbuka pintu.
"Ray,ini gue!"
Suara seseorang yang amat ia kenal tiba-tiba terdengar. Reyno nyaris melompat dari kasurnya,ia lantas turun dan beranjak ke depan pintu.
"Kok lo di sini?"
Tama memutar bola matanya malas. "Minggir,biarin gue masuk."
Tanpa di persilahkan,Tama langsung nyelonong,menerbos lewat celah sempit hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar bernuansa suram itu.
"Di suruh tante Dita lah,apa lagi?"
"Oh.." Reyno mengangguk-angguk paham. Sebenarnya tak perlu bertanya pun ia harusnya sudah bisa menebak,jika tak inisiatif sendiri,pastilah ada dari salah satu orangtuanya yang menyuruh Tama datang.
Secara setiap dirinya melakukan aksi 'sok ngambek' hanya Tama lah satu-satu pawang yang mampun mengendalikannya. Biasalah,Tama itu ibaratkan belahan jiwa sekaligus tulang rusuk yang dikirim Tuhan untuk menjadi pendamping sepadan. Skip homo :)
"Ngapain pake acara pura-pura ngambek sih? Kayak bocah tau! Gak sekalian lo masukin pakain-pakaian lo ke koper terus pura-pura minggat. Kan lebih mendalami peran."
Reyno memutar bola matanya malas. "King of dramatisir beraksi. Alay teriak alay!"
__ADS_1
"Udahlah,gak usah sok-sok-an ceramah. Maksud lo ke sini apa nih? Kalo mau bujukin gue biar mau ikut ke rumah sakit dengan dalih lo yang nemenin,gue saranin mending lo pulang aja. Gak butuh,gue tetep gak mau."
Tama melempar sepotong kecil tempe ke wajah Reyno yang segera di-elakkan oleh pria itu.
"Lo ke-ge'eran. Gue ke sini cuma nyuruh lo makan. Sekalian jengukin elu yang katanya kemarin sempat bonyok,sejujurnya gue hampir gak percaya kalo lo berantem sama orang,tapi setelah gue amati lebih ke dekat bibir lo,emang ada bekas biru-biru samar sih."
"Lo berantem sama siapa? Kok gue gak tau?"
Mendadak pelipis Reyno gatal. Sebuah kebiasaan saat gugup selain menggaruk ujung hidung.
"Gue di tonjok abangnya Callista."
Nampan yang di pegang Tama sontak ia letakkan di lantai.
Laki-laki dengan wajah terkejut,mendekati Reyno dan mencengkram pundaknya dengan raut terkejut.
"Lo ngapain Callista,anjir?"
♡♡♡
"Bwahahaha,bego,si anjir. Ya jelas lah lo di tonjok,lagian jadi manusia kok ya hobinya nyosor kayak soang. Minimal tempat sepi bro,lah ini,tengah jalan anjir. Benar-benar titisan soang."
Reyno memutar bola matanya dengan malas. Memang dasarnya punya teman laknat,ya begini nasibnya. Sudah cerita dengan gaya sok dramatis,bukannya di kasihani,ia malah di tertawai seolah sedang stand up comedy.
"Serius,mending lo pulang deh Tam. Gak guna juga lo di sini." Reyno tak urung berujar keki saat dirinya di jadikan bahan tertawaan oleh sahabatnya sendiri.
Tama menghentikan tawanya sembari menatap Reyno sinis. "Doyan banget ngusir. Lagian gue juga gak bakalan pulang sebelum lo makan,jadi mending sekarang lo makan deh."
Reyno menatap ke arah nampan yang sedari tadi di angguri oleh keduanya. Diam-diam ia berliur,lauk serta aroma yang terkuar cukup membuat perutnya yang selama dua hari hanya di isi oleh snack,bergolak.
"Udah,gak usah gengsi. Kalau lo gak mau makan,biar gue yang makan. Kebetulan gue belum makan nih."
Reyno mendelik sinis. "Gue pites,mau?"
"Ampun Ray.." Tama terkikik geli.
Reyno tak menanggapi guyonan Tama. Ia memilih mengambil nampan, membawanya turun dan meletakkannya ke lantai kamar,sebelum makan,ia membawa gelas berisi air minum ke balkon dan menggunakan air minum di gelas itu untuk mencuci tangannya.
"Tam,sini."
"Sini,cuci tangan."
"Hah?" Tama menatap Reyno tak paham.
"Lo belum makan kan? Cuci tangan lo,kita makan barengan. Sepiring."
Tama sontak tergelak,sahabatnya itu memang tidak pernah berubah. Selalu baik dan paling tidak tegaan. Mulutnya saja yang pedes,aslinya mah baik. Ibarat pepatah,muka security jiwa hello kitty :)
♡♡♡
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tama yang sedang asyik bermain game online bersama Reyno,harus menjeda sejenak panggilannya saat sang pacar,Karamel, tiba-tiba menelponnya dengan mode vidio call.
"Ckk,bentar Ray. Gue angkat telpon dari cewek gue dulu."
Reyno mengangguk singkat.
"Calm,just call your girlfriend.
Tama mengangguk. Ia lalu beranjak keluar,menuju balkon untuk mengangkat panggilan dari pacarnya itu.
"Haii.." Tama menyapa sambil melebarkan senyumnya.
Wajah sang pacar terlihat sangat tidak bersahabat.
^^^"Dimana kamu??"^^^
^^^"Dari tadi aku chat ya,kamu gak balas."^^^
^^^"Sengaja?"^^^
^^^"Aku nunggu kamu loh dari tadi!"^^^
^^^"Dimana kamu?"^^^
"Kan aku udah bilang,aku harus ke rumah
Ray dulu. Dia lagi sakit loh yank."
__ADS_1
Wajah Karamel makin terlihat tidak bersahabat.
^^^"Au,ah. Kamu selalu gitu,kalo^^^
^^^udah berurusan sama si Ray-Ray itu."^^^
^^^"Aku curiga deh,Ray itu sebenarnya^^^
^^^cowok apa cewek sih?"^^^
^^^"Kayaknya kamu lebih perhatian sama^^^
^^^Ray ketimbang aku."^^^
^^^"Dia selingkuhan kamu,jangan-jangan?"^^^
Mata Karamel melisik curiga.
^^^" Itu kamu dimana? kayak di balkon kamar.^^^
^^^Kamu lagi ngapain sih?"^^^
Tama menghela napas pelan.
"Sayang,kan udah di bilangin lagi di rumah Ray.
Ray-nya sakit. Iya ini emang di balkon kamar,kan Ray-nya sakit tidurannya di kamar,aku gak mungkin telponan di dalam kamarnya,ganggu dong entar."
^^^"Pokoknya aku gak mau tau ya.^^^
^^^Kamu ke rumah aku sekarang,^^^
^^^atau aku berangkat ke pesta^^^
^^^ulang tahunnya Laura sama^^^
^^^cowok lain aja. Mau kamu?"^^^
Tama sontak gelagapan. Ia baru ingat,malam ini pesta ulang tahunnnya Laura dan setiap orang yang di undang harus bawa pasangan mereka masing-masing.
Tama menepuk jidanya sendiri.
"Sayang maaf,aku lupa."
"Tapi kamu tenang aja ya,habis ini aku
langsung mandi terus aku ke rumah kamu. Okey?"
^^^"Gak ada! Habis ini kamu langsung^^^
^^^ke rumah aku. Gak usah mandi.^^^
^^^Aku tunggu. Dua pukuluh lima menit^^^
^^^kamu gak datang,awas aja!!"^^^
^^^"Put...."^^^
Tut...
Tut...
Tut...
Buru-buru Tama menekan icon merah. Tamatlah riwayatnya jika sang pacar sudah mengancam,salah langkah sedikit maka butuh waktu berhari-hari baginya untuk kembali mendapatkan respek dari sang pacar. Karamel itu lembut,tapi bisa galak di saat bersamaan.
Tak ada pilihan lain bagi Tama selain kembali masuk ke dalam kamar Reyno dan mengemasi tasnya dengan terburu-buru.
"Pulang?" Reyno bertanya dengan satu alis terangkat.
Tama mengangguk. "Hm,Kara marah."
Senyum meledek langsung terbit di bibir Reyno.
"Habislah..."
♡♡♡
__ADS_1