Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 9


__ADS_3

Rasa remuk sekujur badan yang dirasakan Velicia membuat dirinya tertarik dari alam mimpi indah yang tengah berlangsung menyelimuti tidurnya.


Mulutnya menguap seiring kedua tangannya yang ikut direnggangkan untuk melunturkan otot ototnya.


Rasa perih yang disertai nyeri dibagian intinya membuat Velicia cepat sadar dari sisa sisa rasa kantuknya. Air matanya untuk kesekian kalinya jatuh dari pelupuk mata indahnya saat mengingat kejadian yang baru menimpanya kemarin malam.


Davin dengan brengseknya merenggut apa yang seharusnya bukan miliknya, merenggut apa yang telah menjadi kebanggaannya selama ini, merenggut masa depan yang cerah bagi Velicia dan Evan.


Apa yang harus Velicia lakukan jika kekasihnya sampai tahu tentang kejadian yang menimpanya?


Bayangan bayangan rasa kekecewaan Evan terukir dengan jelas dibenak Velicia saat dirinya kembali menangis. Dirinya menangis lebih keras tanpa ada orang yang tahu, menutupi wajahnya dengan rasa penyesalan yang teramat dalam.


Kenapa Davin bisa setega ini padanya?


Kenapa dia begitu tega pada Evan?


Jelas Davin tahu bahwa Evan sangat mencitaiku, tapi kenapa dia berbuat seperti ini?


Batin Velicia selalu bertanya tanya..


Apakah dirinya memiliki suatu kesalahan pada orang lain hingga dirinya bisa mendapatkan karma buruk seperti ini?


Apakah pernah dirinya menyakiti orang lain hingga dirinya dilecehkan dengan begitu mudahnya oleh Davin?


Velicia: "Davin.. kenapa kamu tega? KENAPA?!!"


Velicia: "Apa salahku?" tanyanya pada diri sendiri.


Velicia mencoba untuk mengingat apa pernah dirinya berbuat salah pada Davin hingga Davin bisa dengan teganya merenggut miliknya dengan paksa.


Tetapi sejauh pikiran Velicia melayang membayangkan pertemuan pertama mereka sampai sekarang, baginya tidak ada hal yang Velicia rasa telah menyinggung perasaan Davin. Velicia bahkan merasa bahwa sikapnya tidak ada yang salah terhadapnya.


Velicia: "Apa dia dendam padaku karna kecelakan waktu itu?" gumamnya pada dirinya sendiri.


Velicia kembali terpuruk dengan memeluk selimut tebal itu seorang diri dengan cukup kuat. Rasa nyeri yang teramat dari rongga intinya masih kalah sakit dari hatinya yang tercabik cabik untuk menerima kenyataan bahwa dirinya sudah tidak gadis lagi. Dirinya sudah bukan wanita utuh karna Davin telah merusaknya, merenggutnya serta meninggalkan luka batin terdalam bagi Velicia.


Velicia hanya bisa terus menangis merutuki nasib sialnya karna telah mengenal Davin bahkan telah menganggapnya sebagai sahabat dekat karna sebelumnya Velicia anggap Davin adalah salah satu pria yang dingin tapi juga mudah untuk menjadi temannya.


Setelah dirasanya cukup melampiaskan amarahnya dengan menangis yang membuat matanya sembab, Velicia membersihkan diri hendak kembali kerumahnya.

__ADS_1


Tak terbayang seperti apa kekhawatiran orang tua nya karna dirinya tidak pulang semalaman.


Velicia bergegas meninggalkan sisa sisa kenangan pahitnya semalam dan pergi menuju tempat utama sebelum dirinya hendak pulang kerumah.


Tak butuh waktu terlalu lama bagi dirinya hanya sekitar empat puluh menit dari hotel lalu tempat tujuannya dan juga rumahnya.


Velicia menekan bel yang tertera disalah satu dinding ramping sebelah sebelah gerbang.


Biasanya dirinya tak perlu menekan bel cukup mengklakson saja, tapi kali ini beda dirinya tidak membawa mobil saat pergi menemui pria ******** yang menidurinya semalam lalu pergi tanpa permisi bahkan meminta maaf padanya atas apa yang dia lakukan. Meski Davin meminta maaf pun Velicia tidak akan pernah memaafkannya karna Davin telah bertindak sesukanya sendiri.


Velicia mulai memasuki pelataran rumahnya yang tidak terlalu megah dan besar. Tapi ini sudah terlihat sangat cukup untuk dihuni paling tidak oleh kedua orang tuanya, dirinya dan dua pekerja rumah tangga yang membantu merawat rumah dan memenuhi setiap kebutuhan yang diperlukan.


Tanpa Velicia sadari, dirinya tidak menyadari adanya kehadiran orang lain didalam rumahnya.


Tamu itu duduk berselisih dengan papahnya.


Karna Velicia yang masuk melalui pintu garasi tidak lah dirinya melihat terlebih dahulu orang yang bertamu pukul sembilan yang masih termasuk jam pagi dan belum selayaknya seseorang datang untuk bertamu.


"Lah pah.. ini Veli sudah pulang" kata sang ibu memberikan informasi pada ayahnya yang duduk diruang tamu.


"Vel.. ini ada tamu, katanya mau berbicara pada papah mamah tapi menunggu kamu pulang. Sini nak" ajak sang ayah memanggilnya meski belum melihat wujud tubuh putrinya.


Velicia mengernyit tapi tak urung dirinya melangkah dari arah dapur utama menuju ruang tamu yang hanya terhalang ruang tengah yang lumayan luas.


Saat menuruni anak tangga yang memang tidak terlalu tinggi hanya untuk menyeka antara ruang tamu dan ruanh tengah langkahnya terhenti tepat anak tangga pertama yang dia injak.


Sedangkan mamahnya terus melangkah turun hingga beliau menaruh segelas air yang terlihat segar itu tepat dihadapan pria yang tidak ingin lagi dilihat oleh sepasang mata indah miliknya.


Velicia tertegun dalam amarah yang meluap tapi tidak bisa dikeluarkannya karna tak enak hati pada kedua orang tuanya.


Sedangkan pria ******** itu hanya tersenyum seramah seperti biasanya membuat Velicia muak bercampur jijik didalamnya.


"Vel?" panggil sang ibu karna merasa heran putrinya hanya diam mematung dan tidak ikut turun.


"Veli capek mah.. Veli masuk kamar terlebih dahulu" pamitnya hendak berbalik badan.


"Saya minta maaf om dan tante, sepertinya Velicia marah terhadap saya" selanya membuat Velicia menghentikan kakinya yang hendak menaiki tangga berikutnya dan melemparkan pandangan tajam pada pemuda bejad yang telah menodai tubuhnya.


"Sebenarnya saya datang kemari hanya untuk meminta ijin kepada om dan tante untuk meminang Velicia" katanya tanpa basa basi yang membuat Velicia membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tapi nak Davin, bukankah nak Davin sudah tahu bahwa putri kami ini telah menjalin hubungan yang sangat dekat dengan nak Evan. Bahkan nak Davin juga tahu setelah kecelakan itu bukan?" tanya sang ayah karna merasa tidak sepatutnya Davin meminta ijin atas putrinya yang telah berhubungan dekat dengan dokter muda yang sama berparas tampan yang bernama Evan.


"Iya saya tahu om, hanya saja..


Pandangan Davin melihat arah keberadaan Velicia yang menahan amarahnya.


"Hanya saja saya hendak bertanggung jawab atas perbuatan saya terhadap Velicia. Maaf om dan tante sebelumnya saya telah memperkosa Velicia tadi malam"


Ucapan yang secara terang terangan keluar dari mulut pria bernama Davin itu sontak membuat mata Velicia lebih membulat lagi. Bagaimana tidak, dengan gamblangnya Davin mengatakan bahwa semalam mereka telah berhubungan intim diluar sebuah ikatan pernikahan yang menjadi sebuah dasar hubungan sakral.


Dan kedua orang tua Velicia terlihat begitu kaget dan syok dengan penuturan pemuda berparas tampan dan elegan yang dipenuhi aura aura dingin didalamnya.


"Benarkah itu Vel? semalam kamu tidak pulang karna..


Sang ibu menutup mulutnya sendiri tak kuasa menahan ragu yang berkepanjangan.


Sedangkan Velicia terus saja menatap Davin dengan tajam dan tak menjawab apa yang dipertanyakan oleh mamahnya.


"Maka dari itu sebelum nantinya tiba tiba ada sebuah janin dalam rahimnya karna kesalahan saya. Saya meminta ijin pada om dan tante untuk meminang Velicia supaya saya bisa mencegah nantinya gunjingan gunjingan yang terarah pada Velicia sendiri" terang Davin panjang lebar.


"Bagaimana ini pah?" sang ibu mengintrupsi.


"Ya mau bagaimana lagi, takutnya juga nanti Velicia terlanjur hamil tanpa suami bisa berpengaruh juga pada nama baiknya" sahut sang bapak setelah berpikir matang.


"Iya om.. saya sendiri berfikir seperti itu, saya takut karna kesalahan saya itu malah yang membuat nama baik desainer tanah air ini menjadi bahan olok olok orang banyak termasuk yang tidak menyukainya" Davin terus berusaha meyakinkan kedua orang tua itu.


Sedangkan Velicia menautkan alis sebelah kirinya setelah mendapat senyuman manis yang menunjukan suatu maksud dari raut wajah Davin terhadapnya.


"Maaf tuan Davin Aditya Mayndra yang terhormat, tapi saya rasa anda tidak perlu repot repot bertanggung jawab. Karna saya Velicia Atmarini Ellena menolak untuk menikah dengan anda" ucapnya tegas.


"Dan lagi, jangan terlalu banyak berhalusinasi tetang sebuah janin yang tidak pasti karna saya telah memastikannya bahwa saya seratus persen tidak akan pernah hamil anak anda atas apa yang anda lakukan semalam terhadap saya" Velicia jelas yakin karna pagi tadi sevelum dirinya pulang, Velicia menyempatkan diri terlebih dahulu kesebuah apotek hanya untuk sekedar membeli pil pencegah kehamilan untuk berjaga jaga supaya apa yang direncanakan Davin tidak akan terwujud.


"Dan untuk keprawanan saya yang anda rebut secara paksa, saya mengikhlaskannya untuk anda sebagai bentuk perpisahan selamanya. Saya Velicia tidak pernah ingin lagi bertemu dengan anda apalagi bertegur sapa. Terima kasih"


Velicia yang meninggalkan tempat semulanya tak akan pernah tau bahwa dirinya telah mengusik ego Davin terdalam.


Ego Davin yang tak pernah mau kalah.


Ego Davin yang selalu mengalahkan setiap keputusaan seseorang yang menentangnya.

__ADS_1


Jangan salahkan aku jika kamu sudah mengusik jiwa otoriterku batin Davin melihat setiap langkah Velicia yang menaiki sebuah anak tangga tanpa berkedip sedikitpun.



__ADS_2