
Sepanjang setelah pertemuan dimana terdapat Davin yang tiba tiba hadir diantara istri dan keponakannya tengah berbincang. Davin untuk kedua kalinya menjadi pendiam dan tidak mau berbicara lagi kepada Velicia.
Velicia: "Kamu mau bawa aku kemana Vin? Tangan aku sakit kamu tarik tarik seperti ini" keluhnya yang mulai merasakan sakit di pergelangan tangan kanannya saat tiba tiba suaminya merebut putri mereka dan langsung menyeret Velicia masuk ke dalam rumah saat baru saja turun dari mobil yang baru saja mengantarkan mereka untuk menemani putrinya mendapatkan vaksinnya.
Velicia: "Vin?" panggilnya lagi saat suaminya bahkan tidak menghiraukan tangisan Vania putri mereka.
Namun Davin masih saja diam dengan raut wajah yang begitu dingin. Tidak mendengarkan perkataan istrinya atau hanya untuk sekedar menghiraukan tangisan putri mereka.
Davin justru memberikan Vania pada mbak Yanti yaitu salah satu pengurus rumahnya dan tetap menyeret Velicia pada suatu ruangan yang penuh akan barang barang milik Vania.
Davin: "Aku akan tidur dengan Vania, jadi kamu bisa tidur di kamar ini sesuka mu" ucapnya yang langsung berjalan keluar kamar berukuran delapan meter persegi itu.
Velicia: "Vin.. tunggu!" cekalnya saat pria itu hendak menutup pintunya.
Velicia: "Aku minta maaf kalau aku ada salah. Tapi apa yang tadi kamu lihat bukanlah apa yang kamu pikirkan" terangnya yang tidak ingin ditinggal oleh suaminya di dalam kamar putri mereka.
Velicia: "Aku dan kak Evan tidak memiliki hubungan apa apa lagi. Aku pun tadi hanya berbicara biasa, percaya padaku Vin. Aku tisak berbohong, sungguh" ucapnya lagi mencoba meyakinkan suaminya.
Namun yang dilakukan pria itu malah seakan tidak ingin mendapat penjelasan yang benar dan sesungguhnya. Davin menepis dan semakin memancarkan aura gelap bahkan saat Velicia mulai menghadang jalan suaminya untuk keluar dari kamar Vania.
Velicia: "Aku tidak ingin tidur disini. Aku ingin tidur di kamar kita seperti biasa"
Velicia: "Vin.. aku mohon jangan salah sangka denganku. Aku bahkan berdebat dengan kak Evan tadi" terangnya tidak ingin ada celah keributan dalam rumah tangganya.
Davin: "Jika kamu tidak mau tidur disini, maka aku dan Vania yang akan tidur disini. Supaya kau bisa leluasa tidur di kamar utama" perkataan yang diikuti dengan mengalihkan Velicia dari hadapannya membuat hati Velicia semakin kacau dibuatnya.
Velicia: "Aku tidak mau tidur sendiri!" serunya sambil memeluk tubuh Davin erat seakan tidak diperbolehkan pergi dari hadapannya saat ini.
Velicia: "Aku berkata jujur Vin, tidak ada hal baik yang diucapkan kak Evan tadi. Aku bahkan mulai tidak menyukainya karna perkataannya"
Namun dari penjelasan Velicia, Davin masih saja diam bahkan saat istrinya semakin erat memeluknya dari depan. Menyelusupkan wajahnya pada dada suaminya yang masih mengenakan kemeja.
Davin: "Kau mulai tidak menyukainya?" Velicia hanya mengangguk dalam usahanya yang masih tidak ingin melepaskan Davin.
Davin: "Apa bisa dikatakan juga bahwa kau mulai membencinya?" tanyanya lagi yang lagi lagi juga mendapat anggukan dari Velicia.
Davin: "Jika kau benar benar mulai membencinya bukankah seharusnya kau tidak perlu lagi memanggil mantan kekasih mu yang telah menjadi keponakan mu dengan sebutan kakak?"
__ADS_1
Velicia lantas diam dan tak memberikan respon langsung pada Davin yang telah menanti akan jawabannya.
Davin: "Lepaskan" serunya tanpa ada pergerakan.
Velicia menggeleng kuat dan semakin erat lagi bahkan sampai membuat suaminya menarik nafas akan ulahnya.
Davin: "Lepaskan dan merenunglah di dalam kamar Vania beberapa hari. Mungkin kamu akan tahu mana masa depan mu dan mana masa lalu mu"
Velicia: "Evan masa laluku! Kamu dan Vania adalah masa depanku. Aku sudah tahu Vin, aku pun tidak akan kembali pada Evan" serunya dengan suara lantang.
Davin: "Lepaskan"
Velicia: "Tidak!" bentaknya.
Velicia: "Kamu tidak mau mendengar penjelasankan ku maka aku tidak mau melepaskan mu" kekehnya pada keputusannya yang tidak ingin melepaskan pelukannya.
Velicia: "Aku tidak sengaja bertemu dengan Evan disana. Aku juga tidak berniat berbicara padanya. Aku sungguh tidak berbohong padamu"
Velicia: "Dia terus saja mengatakan kata kata pedas pada putri kita. Aku sebagai bundanya bagaimana mungkin bisa tahan saat putri ku sendiri dikata katai olehnya"
Wajahnya yang mendongak ke arah suaminya terus berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Evan tadi di ruang tunggu rumah sakit hanya ditanggapi dengan wajah datar Davin yang masih begitu dingin.
Velicia: "Jangan diam saja Vin" lirihnya masih pada posisinya.
Velicia: "Aku sudah tidak suka dengan sikap diam mu. Bicaralah, marah lah pada ku. Atau lampiaskan semuanya. Tapi jangan hanya seperti ini Vin, aku siap jika kamu ingin melampiaskan semuanya di atas ranjang. Menghukum ku semau mu, selama yang kamu butuhkan dan selama yang kamu inginkan. Aku tidak akan mengeluh atau pun menolak, asal kamu mau percaya akan ucapanku"
Tapi sayangnya dari berbagai penawaran yang diberikan oleh istrinya, Davin masih saja diam bahkan hanya memperhatikan Velicia dalam sikap gelisahnya yang mulai menitikan air matanya.
Velicia: "Vin?"
Davin: "Merenunglah dan putuskan semuanya"
Davin melepaskan paksa pelukan Velicia dan meninggalkannya sendiri di depan pintu kamar putri mereka.
Dan sejak saat itu, meski mereka berada dalam atap yang sama. Dalam bangunan yang disebut akan rumah namun Velicia sudah tidak pernah lagi melihat suaminya atau bahkan putri mereka. Wanita itu dikurung oleh suaminya dalam kamar putri mereka tanpa fasilitas handphone, hanya ada sebuah televisi yang tertempel di salah satu sisi dinding.
Namun meski tidak pernah melihat putrinya, akan tetapi Velicia tidak pernah telat sedikitpun memberikan ASI untuk putrinya. Mbak Yanti selalu datang menemuinya dengan membawa beberapa botol kosong atas perintah dari suaminya yang entah seperti apa kabarnya.
Velicia: "Vania lagi apa mbak? Dia sering menangis atau tidak kalau malam?" tanyanya sudah tidak tahan lagi ingin mengetahui keadaan putrinya.
__ADS_1
Sayangnya yang ditanya hanya diam tidak mau menjawab dan lebih menfokuskan diri mengambil alih botol dan beberapa bungkus plastik krebs khusus penyimpan ASI.
Velicia: "Mbak Yanti?" panggilnya dengan memegangi lengan pembantu rumah tangganya.
Yanti: "Maaf bu, saya hanya ditugaskan untuk mengambil ASI untuk dedek Vania saja. Tidak diijinkan menjawab segala pertanyaan ibu Veli"
Baru satu hari namun rasanya begitu gelisah saat tidak melihat Davin dan Vania berada di sisinya. Biasanya Velicia hanya akan disibukan dengan keperluan Vania dan menemani Davin dalam mandinya atau bahkan tidurnya.
Bahkan dirinya mulai merindukan sikap posessife suaminya yang tidak suka dibantah. Dirinya mulai merasakan kekosongan saat Davin tidak berada didekatnya.
Velicia: "Bagaimana dengan bapak?" tanyanya lagi.
Velicia: "Apa bapak selalu bersama dengan Vania?"
Tapi lagi lagi yang ditanya tetap diam tidak mau menjawab dan berbalik arah hendak meninggalkannya lagi.
Velicia yang sudah mulai frustasi akan rasa yang dia ingin lontarkan pada suami serta putrinya menimbulkan pergolakan dalam dirinya.
Wanita satu anak itu mulai memberontak dan pergi lebih mendahului saat pembantu rumah tangganya baru saja membuka pintu. Sedikit mendorong tubuh wanita yang lebih muda darinya untuk tidak menghalani jalannya.
Sedikit berlari menuju suatu ruangan yang biasa ia dan Davin banyak habiskan waktu bersama dengan putranya juga.
Namun saat dirinya baru saja hendak menuju kamar utama, terdengar rengekan putrinya dari arah lantai bawah. Samar samar terdengar suara lain yang tidak ia kenali. Suara yang tidak begitu jelas karna bersahutan dengan rengekan Vania yang mulai meninggi.
Velicia lantas hendak lekas bergegas menemui putrinya dengan seseorang di bawah sana.
Akan tetapi rasa penasarannya harus terhalang akan dua pembantu rumah tangganya yang menahan langkahnya.
"Vin biarkan aku saja yang menggendongnya, aku seorang wanita aku juga memiliki sisi ke ibu an pula seperti ibu nya"
Suara samar samar itu kian memperjelas akan siapa yang berada di ruang tamu bawah tepat di bawah ruang makan lantai dua.
Davin, putrinya dan seorang wanita tengah bersama tanpa adanya dirinya diantara mereka.
Hal buruk apa lagi yang akan melanda rumah tangganya?
Apa suaminya telah tergoda dengan wanita lain karna rasa kecewanya pada Velicia?
Apa memang ini yang dinamakan cobaan dalam rumah tangga?
__ADS_1