Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 74


__ADS_3


Bukan hanya Vallen yang terkejut akan ucapan Davin, namun wanita yang perlahan menjauh pun pikirannya ikut melayang memikirkan segala ucapan suaminya yang terlontar.


Vallenci: "Jangan suka bercanda seperti itu Vin" katanya terdengar dengan tawa canggungnya.


Vallenci: "Oh?!"


Vallenci: "Atau ini trik mu lagi untuk membuat adik palsu ku ini percaya lagi padamu supaya tidak melapor pada daddy dan mommy mu?"


Davin: "Aku tidak sedang bercanda. Terlebih jika itu denganmu" sahutnya terdengar dingin.


Vallenci: "Vin, tolong jangan mengerjaiku dengan kebohongan yang sama dengan yang kamu lakukan pada adik palsu ku ini" katanya masih tidak percaya dengan ucapan Davin.


Davin: "Kau bisa mengeceknya sendiri kalau tidak percaya. Cek lah sepuas dan sebanyak mungkin yang kamu inginkan bila kamu tidak mudah percaya pada satu benda atau satu orang"


Davin berjalan perlahan dan meraih Velicia untuk mendekat kembali pada dirinya. Memeluknya dan memberikan kecupan manis pada kening yang sedikit terasa hangat di bibir Davin.


Davin: "Wanita yang aku tiduri hanya Velicia"


Davin: "Aku harap kamu paham akan ucapanku itu"


Kalimat itu memang terdengar untuk Vallen supaya sadar diri.


Namun bila melihat bagaimana cara Davin berucap, bagaimana tingkah Davin saat berbicara sungguh itu sangat terlihat tertuju untuk Velicia.


Pria itu ingin menyadarkan kembali pada istrinya yang masih menaruh curiga pada dirinya, bahwa Davin memang sungguh sungguh hanya melakukan hubungan dengan Velicia seorang. Bukan dengan orang lain terlebih lagi dengan kakak dari Velicia yang pernah menjadi mantan kekasihnya.


Vallenci: "Lalu siapa yang tidur denganku bila itu bukan dirimu Vin?!" katanya terdengar tidak terima.


Vallenci: "Kita satu kamar Vin. Satu kamar setiap malam!" lanjutnya lagi mengingatkan Davin yang hanya terkekeh dengan tawa ringannya.


Davin: "Kau tidak ingat bahwa kau selalu ku buat mabuk disetiap malam?"


Vallenci: "Bukankah itu permintaanmu sebelum kita berhubungan?"


Vallenci: "Kalau kau masih menyangkalnya, bagaimana dengan bekas gigitanmu disetiap malam yang selalu bertambah?"


Davin: "Aku adalah pria cerdik. Apa kamu lupa itu wahai mantan kekasihku yang berselingkuh dengan...


Vallenci: "Apa kamu sudah ingat semuanya?!" katanya terdengar terkejut.


Davin: "Jelas aku ingat semuanya. Karna sesungguhnya aku tidak pernah melupakan semuanya sedikit pun"



🍂🍂🍂


Setelah mengungkap kebenaran di hadapan sang mantan kekasih dan sang ibu mertua. Davin meminta ijin pada ibu mertuanya untuk tidak ikut campur dalam urusannya, termasuk dalam tindakannya yang mengurung paksa Vallenci dalam kamar yang pernah Davin dan Vallenci tempati bersama.


Tak jauh dari itu, Davin pun mengabari anggota keluarganya tentang kebenaran dirinya yang tidak lupa ingatan.


Terkecuali anak sulung keluarga Mayndra yang hilang bagai tertelan bumi setalah berpamitan meminta ijin untuk pergi beberapa saat ke suatu negara yang tidak diketahui oleh Davin.


Segala pertanyaan yang melayang untuk Davin dari mommy tercinta mengenai alasan mengapa putranya melakukan itu semua tidak dapat Davin jawab sepenuhnya.


Ada beberapa alasan mengapa pria bertubuh tinggi itu menutupi segala jawaban yang mommy nya butuhkan.


Akan tetapi beda halnya dengan sang ibu yang telah melahirkannya, kali ini wanita yang kelak akan melahirkan anak kedua dari Davin selalu memasang raut wajah curiga dan tidak mudah percaya segala ucapan suaminya.


Seperti saat ini, saat dimana Davin hendak merehatkan pikirannya dari suatu beban yang telah lama terpendam sendiri dan belum bisa terangkat sebelum semuanya terselesaikan namun terhalang oleh ocehan sang istri yang tidak bisa tenang di sampingnya yang menodong segala pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Davin jawab.


Velicia: "Kenapa kamu pura pura lupa ingatan Vin?" tanyanya yang sudah kesekian kalinya hingga membuat telinga Davin tuli karna pertanyaan yang diulang ulang kembali secara terus menerus.

__ADS_1


Davin: "Ingin memancing" sahutnya sekenanya karna sudah benar benar mengantuk.


Velicia: "Aku tanya betul betul!" serunya tidak terima atas jawaban dari suaminya.


Davin: "Aku juga sudah jawab betul betul betul" sahutnya sudah memejamkan mata dengan mulai nada bergumam.


Davin: "Hmm?" sahutnya sudah mulai malas.


Velicia: "Davin!" panggilnya lagi yang kini mulai memposisikan diri duduk di atas perut suaminya.


Meski merasakan rasa sakit akibat ulah Velicia yang menaiki tubuhnya sembarangan, namun Davin seolah menutupi rasa itu dari Velicia.


Jelas nampak saat pria itu tetep menutup matanya dan berusaha mengalihkan segala pertanyaan Velicia yang tidak ingin ia jawab.


Velicia: "Jangan tidur dulu!" pekiknya berbicara dengan lantang tepat di depan telinga Davin yang membuat pria itu tidak nyaman.


Segala usaha Velicia kerahkan untuk membuat Davin terbangun dan membuka matanya supaya dapat ia interogasi mengenai segala hal yang ingin ia ketahui.


Termasuk dengan masih mempertahankan Vallenci di kamar bawah yang Davin kunci dengan pengawasan dari dirinya sendiri.


Mulai dari matanya yang Velicia colok colok, bulu matanya yang ia cabut satu persatu hingga dirinya yang gemas karna bibir Davin yang tertutup rapat.


Berkali kali mengecup dan bermain di bibir Davin tanpa menghiraukan sang pemilik yang sudah sangat terganggu karnanya.


Velicia: "Vin?"


CUP


Velicia: "Bangun"


CUP


Velicia: "Bangun"


CUP


CUP


Velicia: "Daviiiin?"


CUP


Velicia: "Bangun Dav..


CUP


Velicia: "Viiiiiiiin?"


Sekeras kepala seperti apapun Velicia tidak akan pernah bisa mengalahkan sekeras kepalanya Davin terhadap segala hal.


Velicia: "Kamu tega membiarkan aku..


CUP


Velicia: "Cium kamu..


CUP


Velicia: "Sampai pagi?"


Karna dirinya yang mudah merasa jengah, terlebih saat pria yang ia cintai tidak memperhatikannya membuat rasa rendah diri pada diri Velicia pun menjadi timbul.


Mulai berpikiran sempit lagi bahwa Davin sengaja mengurung kakaknya karna masih memiliki segurat rasa dan sebagainya.

__ADS_1


Membuat dirinya kembali terduduk di atas perut Davin dengan rasa kesal, menggoncangkan tubuhnya dan membuat perut Davin tertimpa kembali setelah wanita itu baru saja tengkurap di atas tubuhnya.


Dan karna itu pula, Davin menjadi terbangun dengan raut wajah kesal.


Davin: "Apa yang kamu lakukan?!" bentaknya pada wanitanya yang hanya menatap Davin dengan tidak suka.


Bukannya meminta maaf atas tindakannya, Velicia malah mengulanginya kembali.


Mengguncang tubuhnya sendiri dan semakin menindih lebih kuat bagian perut Davin karna merasa tidak terima Davin memarahinya.


Davin: "Vei!" serunya tidak suka akan sikap Velicia.


Velicia: "Apa?!"


Davin: "Kau ingin membunuh anakmu di dalam? Huh?!"


Pria itu bukan mempermasalahkan dirinya yang dijadikan tumpuan bagi istrinya berjingkrak ria di atas perutnya. Namun dirinya memikirkan bagaimana janin muda yang masih rawan itu terguncang beberapa kali karna kecerobohan sang ibu yang seperti anak kecil.


Velicia: "Maka jawab pertanyaanku!" pintanya benar benar memaksa.


Semakin keras Davin pada Velicia, maka akan semakin membuat wanita itu bertindak ceroboh dan tidak memikirkan dirinya sendiri karna rasa penasaran yang teramat.


Davin: "Aku hanya akan menjawab satu pertanyaan, maka tanyakan satu hal saja tidak ada acara lebih atau tambahan" ucapnya mengalah dengan memberi isyarat jari telunjuk tangan kanannya yang menunjukan angka satu dan sebuah peringatan.


Velicia: "Untuk apa kamu pura pura lupa ingatan?" tanyanya langsung merasa sudah bener benar penasaran.


Davin: "Untuk memancing kakak mu supaya keluar dari sarang" sahutnya langsung tanpa berpikir.


Velicia: "Supaya?" tanyanya mengernyit heran.


Davin: "Hanya satu Velicia ku sayang. Hanya satu" katanya mengingatkan.


Velicia: "Setiap jawaban memiliki penjelasan Davin. Jangan curang kamu!" sahutnya tidak cukup dengan jawaban dari suaminya.


Davin: "Supaya aku bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berharga dalam hidupku" sahutnya semakin tidak dimengerti oleh Velicia.


Velicia: "Memanfaatkannya?" gumam wanita itu sendiri dengan pemikirannya.


Velicia: "Apa yang berharga untuk hidupmu?" tanyanya penasaran.


Davin: "Aku tidak ingin menjawabnya"


Velicia: "Apa Davin?!" paksanya ingin tahu.


Davin: "Jangan curang Vei, aku hanya memberimu satu pertanyaan" katanya mengingatkan istrinya kembali.


Velicia: "Apa!"


Seakan tidak takut akan peringatan dari suaminya, dirinya lantas hendak menyudutkan Davin kembali karna Velicia benar benar ingin tahu apa yang lebih berharga dari dirinya dalam hidup seorang Davin Aditya Mayndra.


Davin: "Kamu curang Vei, kamu curang!" cegatnya saat sang istri hendak menggoncangkan tubuhnya kembali di atas perutnya.


Velicia: "Jawab! Apa?!" paksanya merasa menang.


Cukup lumayan lama Davin berpikir, memikirkan haruskah wanitanya mengetahui semuanya diawal sebelum semuanya terselesaikan. Akan tetapi dirinya tidak bisa lagi menutup nutupi saat Velicia dengan beraninya kembali ingin berjingkrak di atas perut Davin.


Davin: "Vania" sahutnya yang membuat Velicia terdiam.


Davin: "Semua aku lakukan hanya untuk Vania. Vania putri kecil kita" lanjutnya yang semakin membuat bingung Velicia.


Davin: "Aku membutuhkan Vallen untuk mengambil kembali Vania yang kini berada di tangan mantan kekasihmu"


__ADS_1


__ADS_2