
Baru saja kemarin Davin meninggalkan kamar utama dan memilih sekamar dengan Vallen, tapi kini bukti nyata bahwa mereka melakukan hal yang tidak diharapkan oleh Velicia tertera di depan mata dengan sangat jelas.
"Apa kau tahu Vel.. semalam pria yang kau sebut dengan suami...
Velicia: "Maaf aku tidak mendengarnya. Dan aku terlalu sibuk untuk mendengarkan hal yang tidak penting" selanya saat sang kakak mendekatinya di pagi hari.
Vallenci: "Tidak penting? Benarkah?" tanyanya yang duduk di salah satu kursi tinggi yang ada di dapur lantai dua dengan bertopang dagu melihat Velicia yang sibuk mengoles dua lembar roti dengan selai kacang.
Vallenci: "Apa masih tidak penting jika tiba tiba nanti aku mengandung anak dari suamimu?"
Untuk seketika, Velicia terhenti. Bayang bayang seorang anak yang dilahirkan oleh kakaknya dari benih suaminya memenuhi isi kepalanya.
Velicia: "Jika memang nanti itu terjadi, maka aku akan pergi" ucapnya tertunduk menahan dadanya yang terasa sesak dan nyeri.
Vallenci: "Baguslah" sahutnya dengan mengangguk angguk dengan senyum meremehkannya.
Vallenci: "Kamu harus menyiapkan persiapan mulai saat ini. Karna mungkin tidak lama lagi, kau akan memiliki seorang keponakan dari suamimu"
Vallenci: "Akan sangat menyenangkan bila putrimu itu tidak meninggal dunia. Mungkin dia akan menjadi kakak kandung sekaligus adik sepupu yang baik untuk anakku dan Davin nanti" ucapnya teramat pedas saat didengar.
Velicia: "Sayangnya Tuhan terlalu baik pada putriku, hingga bayi kecil itu tidak akan pernah melihat bagaimana dia memiliki seorang tante yang jahat sepertimu"
Seolah tak ingin kalah dari sang kakak, Velicia pun ikut menyahut dengan ucapan yang tak kalah pedas dari Vallen.
Karna baginya saat ini, yang dibutuhkan oleh dirinya adalah keteguhan dan kesabaran saat memilih untuk bertahan.
Dan membuang jauh jauh terlebih dahulu sikap cengengnya dan mudah mengeluhkan. Karna dia yakin, Tuhan melihatnya. Tuhan melihat bagaimana cara Velicia ingin terus mempertahankan rumah tangga yang telah diberkati oleh-Nya.
Dan pastinya Tuhan pun akan memilihkan jalan terbaik bagi dirinya maupun hubungannya dengan Davin.
"Vallen?" suara besar dan tegas itu mengalihkan pandangan kedua wanita cantik dengan kepribadian yang sangat berbeda jauh.
"Aku akan menemui Fero, dia ingin bertemu denganku. Kau bisa kan di rumah bersama...
Kalimat lelaki itu terhenti, melihat sekilas ke arah tempat Velicia berdiri dengan dua potong roti panggang di atas meja yang berada di depannya.
Davin: "Bersama dengan adikmu" lanjutnya yang secara langsung membuat pria itu menatap wanita yang sedari tadi tersenyum manis padanya.
Sedangkan yang ditanya hanya menjawabnya dengan senyuman yang lebih lebar lagi dan mengangguk cepat memberikan sebuah jawaban.
Davin: "Ya sudah. Aku pergi dulu" pamitnya.
Namun baru saja hendak berlalu saat baru membalikan badan. Suara tinggi Velicia menghentikan niat awalnya, membuat dirinya berdiri dan membalikan badan kembali ke arah dua wanita itu.
Menatap orang yang memanggilnya dengan sangat intens dan tajam, seakan meminta penjelasan akan maksud mengapa Velicia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Velicia: "Ada dua potong roti, bawalah untuk sarapan di jalan" suaranya terdengar biasa seakan tidak ada apa apa.
Davin: "Maaf" tuturnya langsung dengan menatap kedua roti yang hendak dimasukan ke dalam kotak makan.
Davin: "Tapi aku tidak ingin makan roti yang kau buat" lanjutnya membuat bibir Velicia bergetar.
Davin: "Berikan saja pada Vallen, dia pasti belum sarapan. Jika dia tidak mau maka berikan saja pada orang la...
Belum kunjung selesai kalimatnya, Davin terhenti akan tindakan Velicia. Velicia yang berjalan sejak setelah kata maaf itu tiba tiba saja melakukan hal yang tidak dibayangkan oleh Davin sebelumnya.
Velicia: "Aku bangun pagi dan membuat sarapan untukmu seperti biasa. Tapi jika kau tidak ingin memakannya...
Velicia: "Maka buang saja" lanjutnya yang diikuti tangannya membuang roti yang telah dimasukan ke dalam kotak makan pada sebuah tempat sampah yang tak jauh dari jangkauannya.
Velicia: "Sampah ini tadinya setumpuk roti selai untuk suamiku. Tapi suamiku tidak menginginkannya, jika orang lain menginginkanya maka ambillah setelah aku membuangnya"
Velicia: "Karna aku disini hanya untuk melayani suamiku bukan orang lain, apalagi suatu sampah yang sudah pergi terbuang namun kembali lagi dengan membawa kebusukan"
🍂🍂🍂
Sekuat apapun Velicia saat berhadapan dengan Vallen kakaknya, tetap saja wanita itu rapuh di belakang.
Dirinya mulai rindu akan sikap otoriter Davin, sikap posessifenya dan suka mengaturnya yang tidak ada henti.
Menangis dalam diam adalah suatu hal yang selalu rutin terjadi sebelum Velicia memejamkan mata sebelum tidurnya.
Tidur diatas ranjang yang dulu ia kenakan bersama dengan Davin, kini hanya digunakan oleh dirinya sendiri.
Membayangkan sedang apa suaminya dan wanita lain di bawah sana.
Akan kah Vallen kakaknya benar benar hamil?
Namun bila setiap waktu Davin bersamanya, bukankah peluang Vallen mengandung anak suaminya sangat besar?
Dirundung akan perasaan yang seperti itu kadang membuat Velicia serasa tersiksa batin saat memikirkannya.
TOK TOK TOK
Suara pintu kamarnya di ketuk waktu malam telah menyapa. Mengalihkan etensi Velicia untuk bangkit dari ranjangnya saat namanya disebut oleh seseorang dari balik pintu.
"Bu! Ibu!" panggilnya terdengar lantang di balik pintu itu.
TOK TOK TOK
__ADS_1
"Ibu!" suaranya lagi saat Velicia sudah hendak membuka handle pintu kamarnya.
Velicia: "Kena...
Velicia: "Davin!" sahutnya terkejut saat pekerja rumah tangga lelakinya berdiri di depan pintu kamarnya beserta pria yang ia sebut suami dalam papahannya.
Davin yang tengah dipapah berdiri dengan mata terpejam diikuti seorang pekerja lain yang menggendong sang kakak membuat Velicia bertanya perihal apa yang terjadi pada suaminya.
Velicia: "Bapak kenapa?!" tanyanya panik.
"Bapak sepertinya mabuk bu, tadi turun bersama dengan kakak ibu dari mobil seseorang dan langsung tepar dipinggir jalan" jelas sang pekerja yang biasa menjaga gerbang belakang rumahnya.
Velicia: "Mabuk?"
Tidak seperti biasanya, tidak seperti Davin yang Velicia kenal. Inikah yang disebut oleh kakak iparnya bahwa masa lalu Davin hanya memberi pengaruh buruk bagi Davin?
Velicia memang tahu bahwa sang kakak sudah mulai suka minum minuman bahkan mengonsumsi obat obatan sejak masih duduk dibangku sekolah menengah akhir dulu.
Tapi haruskah kakaknya itu menjerumuskan suaminya pula dalam dunia yang sama dengan dirinya?
"Ibu. Bapak mau istirahat di...
Velicia: "Bawa bapak masuk" selanya langsung memerintahkan agar Davin dipapah ke dalam kamar yang biasa mereka tempati.
Velicia: "Dan dia, rebahkan saja di kamar tamu bawah seperti biasa" perintahnya lagi pada pria yang masih terlihat muda.
"Baik bu" sahutnya lalu meninggalkan tempat.
Saat pekerja yang memapah Davin telah meletakan Davin di atas ranjang, dirinya langsung pamit undur diri pada sang majikan dan meninggalkan Velicia bersama dengan Davin di ruangan yang kerap menjadi saksi cinta mereka ditengah malam hari.
Velicia: "Kamu kenapa jadi begini Vin?"
Meski ada rasa kecewa tapi Velicia tetap berperan sebagai istri yang baik untuk suaminya. Dirinya bahkan melepaskan dan membersihkan diri Davin yang sangat bau akan aroma alkohol.
"Sayang aku ingin" gumam pria itu saat Velicia berusaha memakaikan baju tidur untuk Davin.
Akan tetapi yang Velicia lakukan hanya menulikan pendengarannya dan terus berusaha memakaikan pakaian untuk suaminya.
Davin: "Aku ingin lagi!"
Velicia: "Kamu ingin apa?"
Davin: "Aku ingin ini"
__ADS_1