
Tubuh Davin langsung meresponnya dengan cepat saat lantunan lantunan sebuah kenyataan telah berhasil menarik dirinya dalam sebuah khayalan kekal yang telah terancang dengan begitu baik dan rapih.
Begitu pula dengan Velicia, wanita yang belum lama telah mendengar pernyataan dari seorang wanita setengah paruh baya yang mengungkapkan bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Bahkan mereka berdua tak menyadari kepergian Melliza yang masih menaruh rasa kecewa pada putranya.
Melliza keluar setelah mengatakan bahwa akan butuh waktu lama untuk bisa menyelesaikan masalah yang telah diperbuat oleh Davin.
Namun tak disangka oleh ibu lima anak itu bahwa Davin sedang tak menghiraukan ucapannya.
Velicia menutup sebagian wajahnya teratas menggunakan lengan kanannya, hingga dapat dengan utuh menutup kedua matanya dalam kegelapan.
Perasaan yang berada dalam benak Velicia tidak dapat dijabarkan lagi menggunakan kata kata.
Sesak yang begitu mendalam, rasa perih yang begitu menoreh perasaan terdalamnya membuat tubuhnya yang masih seutuhnya terbaring lemas harus bergetar akan tangis yang tiba tiba melanda pada dirinya.
Dadanya begitu sesak dan sakit hingga dirinya bahkan tak mampu menahan lagi tangisannya.
Wajah sang kekasih tercinta selalu menghiasi pikirannya saat dimana Velicia sedang dicumbu oleh Davin. Bahkan sampai saat ini, saat dimana dirinya dinyatakan hamil akan pria lain dan bukan Evan pria yang diinginkannya Velicia masih belum bisa menerima.
Meski pada awalnya dirinya lah yang meminta Davin untuk lekas menghamilinya. Bukan karna perkara Velicia wanita murahan yang mudah berpindah hati dan berpindah pasangan. Namun karna hinaan Davin kala itu yang mengira dirinya wanita yang tak bisa menghasilkan keturunan jadilah Velicia geram pada pria yang kini entah sedang melakukan apa di dalam ruangan yang sama bersama dirinya.
Velicia terus menangis dan menangis meratapi sebuah kenyataan pahit bahwa dirinya benar benar akan terkunci oleh Davin.
Pria dingin yang selalu berkata pedas, pria yang selalu memaksanya dalam segala hal dan pria yang selalu haus akan kegiatan ranjang.
Apa mungkin Velicia bisa bertahan dengan seorang pria seperti Davin?
Saat Velicia masih kalut dalam belenggu perasaan yang tak tertahankan.
Dirinya mulai merasakan adanya pergerakan pada selimut yang seutuhnya menutup sebagian besar tubuhnya.
Elusan lembut yang bergerak memutar searah jarum jam pada bagian perutnya itu sedikit lebih menenangkan dirinya.
__ADS_1
Davin: "Aku minta kau jangan menangis" suara yang terdengar biasa itu mulai menarik kembali sisi Velicia yang sebelumnya.
Lengannya ia tarik dan langsung menimbulkan sepasang mata yang sembab dan penuh dengan air mata.
Velicia: "Apa sekarang anda puas bapak Davin Aditya Mayndra?" ucapnya dengan lantang meski masih terdengar isak tangis yang belum berkesudahan.
Velicia: "Aku terbukti tidak mandul seperti yang kau ucapkan kala itu, dan sekarang kabar buruknya aku telah mengandung anakmu. Apa anda sangat puas sekarang?"
Velicia kembali menangis merasa tak tahan lagi untuk membendungnya.
Air mata itu begitu mudah turun dari pelupuk matanya tapi kali ini Velicia tidak ingin menghentikannya. Velicia ingin Davin tahu, Velicia ingin Davin merasakan bahwa dirinya sama sekali tidak menginginkan atas segala tindakan Davin terhadapnya selama ini.
Davin: "Duduk lah, aku akan memakaikanmu baju" sahutnya tak berhubungan dengan yang Velicia tanyakan.
Dan karna merasa geram pada pria di hadapannya, Velicia lekas bangun namun tidak menuruti perkataan Davin melainkan merebut paksa baju yang waktu itu berada di dalam kopernya dan membuangnya ke lantai tepat berada di bawah kaki Davin berada.
Velicia: "Apa kamu puas sekarang?!" pekiknya sambil memelototkan kedua matanya kepada Davin yang duduk di sebelahnya.
Namun masih dengan sabar Davin memungut baju yang dibuang oleh wanitanya kemudian memberikannya kembali.
Velicia: "Bukankah kau melarangku untuk memakai baju, lalu kenapa sekarang kau meminta ku untuk memakai baju?"
Davin tak menjawab dan hanya bangkit lalu bergerak maju memungut kembali kaos yang dibuang oleh wanitanya.
Davin: "Karna kau harus bertemu dengan semua anggota keluargaku" sahut Davin kembali mendekat.
Velicia: "Aku tidak mau"
Davin: "Kalau kau tidak mau bertemu dengan keluargaku berarti kau ingin terus terusan berada di dalam kamar ini? Selamanya? Bahkan setelah anak di dalam perutmu lahir?" terangnya dengan nada biasa.
Davin: "Apa kau ingin anak ini lahir dengan status kedua orang tuanya yang tidak jelas akan hubungannya? Apa kau ingin anak ini harus menerima kenyataan dicibir oleh mulut mulut yang menyebutnya anak diluar nikah?" lanjutnya lagi kali ini membuat Velicia semakin bingung dalam tangisnya.
Davin: "Jika kau ingin seperti itu aku tidak masalah. Aku pihak laki laki tak akan rugi banyak bagiku dari permintaanmu jika kau menginginkan seperti itu"
__ADS_1
Davin: "Tapi jika permintaanmu melepaskan diri dariku dan membawa kandunganmu maka aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Terlebih lagi jika kau terbesit hendak menggugurkan hasil jerih payahku selama ini maka kau akan tanggung sendiri resiko yang akan ku perbuat. Tak akan pernah ada kata maaf atau kebebasan lagi untukmu saat janin dalam kandunganmu lenyap karna sikap keras kepala mu"
Velicia hanya tertunduk dan terus menangis.
Kebingungan yang dirasanya kali ini membuat dirinya hanya diam saat Davin dengan teliti memakaikan baju satu persatu pada tubuhnya.
Bahkan Davin dengan telaten sebelum memakaikannya baju, terlebih dahulu memakaikannya bra dan celana dalam untuk wanitanya.
Davin: "Ayo ke kamar mandi" ajak Davin telah memegangi lengan kanan Velicia yang siap ditarik.
Velicia: "Apa?! Kau ingin melakukannya lagi?"
Davin: "Tidak mungkin. Kau sedang hamil muda bahkan aku belum tahu berapa usia kandunganmu. Menurutmu aku akan melakukannya dan menyiksa calon anak yang aku harapkan dan juga dirimu?"
Davin: "Aku tak sebodoh itu" lanjutnya kemudian menarik pergelangan tangan wanitanya.
Velicia menampik dan berjalan mundur beberapa langkah ke belakang memberi jarak antara mereka berdua.
Velicia: "Tak bisa kah kau membiarkan ku jalan sendiri" dari ucapan wanita itu Davin lekas memberikan akses jalan pada wanitanya untuk lekas berjalan di depannya.
Velicia: "Mau kemana kau? Aku bisa sendiri tak perlu ditemani"
Davin: "Aku hanya sedang berjaga jaga dari segala kemungkinan yang dapat membuat diriku kehilangan salah satu dari kalian atau bahkan keduanya sekaligus"
Velicia: "Kau pikir aku akan bunuh diri?"
Davin: "Itu bisa saja terbesit dalam pikiranmu. Wanita yang dipaksa hamil oleh pria yang tidak dicintainya apa mungkin bisa langsung menerima janinnya dengan suka rela?"
Velicia: "Iya kau benar. Tak akan mudah bagiku untuk menerima janin ini. Meski dia memiliki sebagian kecil dari dalam diriku tapi aku belum bisa menerima kehadirannya dalam diriku. Terlebih ini adalah anakmu!"
Velicia: "Tak akan terbayangkan bagaimana menderitanya aku nanti saat kandungan ini membuat diriku lebih tersiksa lagi akan sikap otoriter mu yang akan lebih menggila lagi karna janin ini. Kau pasti akan lebih menyiksaku dengan keputusan keputusan yang hanya akan membuatku lebih baik memilih untuk mati menyayat denyut nadiku secara langsung dari pada harus mati perlahan akan sikap sok bossy mu yang menjengkelkan itu"
Davin: "Semua tergantung pada prilaku mu. Aku tak akan membatasi setiap keinginanmu pada saat kau benar benar telah menerimaku dan juga janin dalam kandunganmu itu"
__ADS_1
Davin: "Jadi selama kau belum menerima kami berdua maka jangan harap akan kebebasanmu"