Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 45


__ADS_3

Jangan terlalu lama berendam nanti kamu sakit.


Velicia hanya bisa diam membisu saat ucapan Davin langsung benar benar menerpa tubuhnya.


Kepergian Davin yang meminta ijin padanya untuk membelikannya air minum karna tidak tersedia di dalam kamar mereka memaksa pria itu pergi dengan meninggalkan pesan bahwa wanitanya tidak boleh terlalu lama berendam meski Velicia menyukainya.


Namun apa daya, ketenangan dan kenyamanan yang Velicia dapat rupanya membuat dirinya lupa akan suatu pesan yang seharusnya ia dengarkan dengan baik.


Dirinya tertidur dalam bathtub hingga Davin kembali dengan membawa dua botol minum berukuran dua liter dimasing masing botolnya.


Dan karna tidak mendengarkan perkataan Davin, Velicia yang merasa bersalah pun hanya bisa diam. Diam karna juga merasa bingung, kali ini ayah dari calon anaknya marah dalam diamnya. Belum pernah terjadi sebelumnya, biasanya Davin akan memarahi Velicia atau akan memaksa wanita itu untuk tidur dengannya dan melayaninya jika Velicia tidak mendengarkan perintah Davin.


Tetapi kali ini benar benar tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari pria yang sedari tadi terus berusaha bekerja merawatnya yang mulai demam.


Badan dengan suhu tiga puluh sembilan koma lima belas derajat celcius itu membuat Velicia hanya bisa terbaring di atas kasur yang belum sempat mereka berdua tempati.


Air hangat untuk mengompres kening beserta lehernya tak jauh sama sekali dari tempatnya berada. Dipasang pula penghangat tubuh yang Davin sewa secara khusus untuk dipasang di bawah seprei tempat Velicia terbaring.


Tiga gelas teh hangat yang telah kandas hanya menyisakan bebetapa tetes air ikut melengkapi situasi yang tidak diinginkan Velicia.


Pusing, lemas dan hidung yang mulai tersumbat karna merasa pilek semakin membuat Velicia merasa tidak enak hati pada Davin yang tidak letihnya sedari tadi menjaga dan merawatnya dalam diamnya.


Kondisinya yang tengah hamil memaksa dirinya tidak bisa meminum obat sembarangan.


Davin yaitu calon ayah dari anaknya bahkan melarang segala jenis obat yang masuk ke dalam mulut Velicia.


"Hallo mom" ucap pria itu pada seseorang dibalik panggilan yang tengah berlangsung.


Davin: "Vevei sakit mom, dia demam. Davin tidak bisa pulang besok. Bisakah mommy bantu Davin akan beberapa hal yang diperlukan untuk resepsi?"


Davin duduk di tepi ranjang, menyentuh pelan kening begitu pula dengan leher Velicia lembut. Mengecek suhu badannya lagi menggunakan termometer.


Davin: "Iya mom.. maaf ini salah Davin" ucapnya pada ibunya sambil menaikan kembali selimut supaya lebih menutupi tubuh wanitanya.


Davin: "Davin kurang memperhatikannya"


Davin: "Ya Davin mengerti"


Davin: "Iya mom Davin akan lebih memperhatikannya lagi"


Davin bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju arah bar mini yang tersedia dengan masih berbicara dengan lawan bicaranya yang diyakini adalah mommy nya.


Davin: "Kita lihat nanti ya mom, kalau Vevei sudah sehat Davin baru pulang"


Davin: "Iya mommy juga di situ jaga kesehatan ya, jangan begadang malam malam. Bilang sama daddy kalau Davin tidak ada daddy juga tidak boleh bertindak sesuka hatinya" petuahnya dengan telah memegang segalas air yang sedikit mengeluarkan asap kecil kecil.


Davin: "Iya Davin sayang mommy" kata terakhirnya sebelum meletakkan ponselnya di atas meja nakas.


Davin langsung menyodorkan gelas yang dipegangnya pada wanitanya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan percakapan antara anak laki laki dengan ibunya.


Lantas karna itu pula Velicia pun bangkit dari rebahannya.


Velicia: "Maaf" ucapnya tulus dengan menerima gelas yang diberikan padanya.

__ADS_1


Davin tak menjawab dan hanya duduk diam sambil memperhatikan Velicia.


Benar benar diam dan tanpa ekspresi sama sekali, membuat Velicia merasa canggung dan tidak enak karna diperhatikan oleh pria itu.


Velicia: "Kita bisa pulang kapan pun, aku tidak apa apa" lanjutnya membuat Davin menautkan alis kirinya.


Velicia: "Aku hanya tidak ingin karna sakit ku ini semakin membuatmu repot. Kita bisa pulang, di rumah ada banyak begitu dokter bu..


Kalimatnya terhenti saat bibirnya dibungkam akan sebuah kelembutan lain yang membuatnya tiba tiba melambung.


Perlahan dan penuh rasa sayang yang Davin ulurkan melalui ******* demi *******. Lebih lagi melambungkan Velicia untuk melupakan apa yang tadi dibicarakan.


Matanya yang terpejam, bibirnya yang manis dan sedikit lebih dingin dari bibir Velicia semakin membuat kedua mata wanita itu sayu akan permainan Davin.


Jantungnya yang telah berdebar dan semakin lebih berdebar lagi saat Davin mendorong punggungnya agar semakin mendekat ke arahnya.


Cukup lama mereka melakukannya, seperti lupa akan kondisi dari salah satunya yang kurang sehat dan lebih mementingkan rasa yang hadir di satu sama lainnya.


Hingga akhirnya Davin menyudahinya, memberinya kecupan kecil sebelum meninggalkan bibir wanitanya.


Davin: "Jangan katakan beberapa kalimat yang tidak perlu. Karna aku sedang tidak ingin mendengarkannya sekarang"


🍂🍂🍂


Tubuhnya yang semakin malam semakin tidak karuan. Panas di dalam dan dingin di luar, hidungnya yang sulit untuk bernafas serta gemetar sekujur badan yang hanya bisa bersembunyi di balik selimut memaksa Davin tidak berani lagi meninggalkan Velicia sendirian di dalam kamar bahkan hanya untuk sekedar membeli makanan atau minuman.


Velicia: "Aku ingin es krim Vin" ucapnya parau dalam dekapan Davin yang ikut berusaha menghangatkan tubuh wanitanya dalam balutan selimut.


Velicia: "Vin?" panggilnya lagi dengan suara yang sedikit bergetar.


Namun yang dilakukan Davin bukan menjawabnya atau hanya sekedar memberi penjelasan bahwa itu tidak diperbolehkan malah lebih memilih mengeratkan pelukannya.


Velicia memang tahu pasti salah jika meminta hal yang tidak mungkin dituruti oleh Davin, namun apa daya jika perasaan yang tidak membuatnya nyaman karna sakit yang dideritanya menginginkan dirinya meminta akan hal yang tidak mungkin sampai kapanpun dituruti oleh ayah dari calon anaknya itu.


Velicia lantas langsung memaksakan dirinya untuk tidur meski sebenarnya tidak bisa.


Tapi tak urung dirinya pun mulai terbawa arus mimpi yang tiba tiba membuatnya lupa segalanya.


Mimpi indah pertamanya bersama pria yang awalnya tidak diinginkannya.


Segala sikap manis dan lembut Davin, Davin yang tersenyum ramah padanya bersamaan dengan segala perhatian yang belum pernah diberikan oleh Evan pria yang singgah di hatinya, atau mungkin saat ini posisi Evan telah tergantikan.


Posisi pria yang baik baik tergantikan oleh pria yang sukanya hanya memerintah dan bertindak sesuka hatinya.


Secepat ini kah aku menerimanya dan telah jatuh cinta padanya?


Tanpa diduga, demam yang melanda telah berlalu begitu saja. Bersisakan hidungnya yang masih sedikit tersumbat.


Sebangunnya dari tidur panjangnya semalam yang selalu merintih dan meminta dinyalakan pendingin rungan, wanita itu bangun dengan baju yang basah akan keringatnya sendiri.


Davin: "Jangan mandi dan ganti baju lah, kita akan ke stasiun"


Penampakan pria yang duduk membelakanginya dengan rambut yang sangat berantakan dan tengah menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri itu langsung menarik perhatian Velicia.

__ADS_1


Davin memijit mijit pelan tengkuknya lalu berjalan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan ranjang, membasuh wajahnya di wastafel lalu mengelapnya menggunakan handuk yang tergantung di pintu kaca kamar mandi yang tak jauh darinya.


Dan segala yang dilakukan Davin seolah tidak lepas dari pandangan Velicia yang sedari tadi terus memperhatikannya.


Bahkan Velicia tanpa malu malu lagi tetap memperhatikan betapa polosnya Davin dari balik pintu kaca yang mempertontonkan tubuhnya terguyur air shower.


Terlihat segar dipandang, saat menggunakan shampo dan juga sabun benar benar tidak pernah lepas dari kedua matanya.


Sampai tiba tiba dirinya menyadari bahwa seseorang yang sedari tadi diperhatikannya tengah melihat ke arahnya pula.


Menatapnya dengan tangan kiri yang sedang memegangi rambutnya karna basah.


Tidak terasa tiba tiba sebuah melodi masuk ke dalam indra pendengarannya. Melodi musik dan sebuah lirik lagu dari arah balkon tetangga kamarnya yang saat ini sangat mengenai hatinya.


Sangat pas untuk menjabarkan tentang kondisinya saat ini.


*Got all this time on our hands


Might as well cancel our plans


I could stay here


For a


Lifetime


So lock the door, and throw out the key


Can't fight this no more, it's just you and me


And there's nothing I, nothing I, I can do


I'm stuck with you


Stuck with you


Stuck with you


So go ahead and drive me insane


Baby run your mouth, I still wouldn't change


Being stuck with you


Stuck with you


Stuck with you


I'm stuck with you


Stuck with you*


__ADS_1


__ADS_2