Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 29


__ADS_3

Rasa remang remang pada bulu bulu tipis yang menghiasi permukaan tubuh bagian punggungnya yang merinding karna merasa kedinginan akibat tak memakai sehelai kain pun dan masih dibantu dengan pendingin ruangan yang tingkat kedinginannya tak wajar benar benar memaksa gadis berusia dua puluh empat tahun itu harus diam menerima perlakuan pria yang sebenarnya juga sedang berusaha membantunya. Atau mungkin lebih tepatnya kondisi yang di alami gadis itu memang seutuhnya murni rencana pria yang tak kunjung juga melepaskan pelukannya pada tubuh putih mulus berhiaskan bulu tipis yang bahkan tak bisa terlihat dengan mata telanjang.


Pelukan erat sejak usai perdebatan antara memilih tidur di ranjang atau di sofa telah diawali dengan sebuah lumatan hangat dan perlahan sebelum akhirnya mereka sama sama tertidur dalam kondisi yang sama sama menguntungkan.


Rasa dingin yang begitu mengusik permukaan kulit Velicia membuat dirinya berada seutuhnya dalam selimut tebal dan masih dengan berada dalam dekapan seorang Davin.


Semakin malam semakin dingin dan semakin membuat Velicia bertambah gusar lalu Davin pun semakin erat memeluknya dan semakin mendekatkan dirinya.


Tetapi yang membuat Velicia jengkel ialah, Davin tetap memakai pakaiannya lengkap sedangkan dirinya bertelanjang sekujur badan dengan suhu yang Velicia kira sudah sama dinginnya dengan lemari pendingin.


Bukan maksud Velicia ingin Davin juga melepaskan pakaian, hanya saja harusnya Davin tak berbuat serendah itu hanya untuk bisa memeluk tubuhnnya dalam tidur lelap pria yang masih juga belum membuka matanya.


Velicia: "Vin?" panggilnya lirih pada pria yang masih saja tertidur meski cahaya matahari telah mengintip sedikit dari celah hordeng kamar.


Tak ada sahutan sama sekali dari pemilik tubuh yang masih melekatkan tangannya pada perut Velicia.


Velicia: "Vin sudah siang" katanya lagi tapi tetap tidak ada respon.


Sebenarnya bisa saja Velicia memaksa melepaskan diri, namun setiap kali dirinya berusaha terlepas dari pelukan Davin maka tangan Davin akan mulai menangkup bagian bagian yang tak diinginkan oleh Velicia.


Tapi tak urung karna merasa tak ada pergerakan dari pria yang masih memeluknya saat ini dari belakang, dirinya kembali mencoba. Mencoba untuk melepaskan diri dan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin darinya.


Sayangnya niat yang baru saja muncul dibenaknya, niat yang baru saja akan dilakukan olehnya harus terpatahkan dengan pergerakan tangan Davin yang menarik punggung Velicia untuk berbalik menghadapnya.


Davin: "Aku ingin sekarang" katanya dengan masih dalam kondisi mata tertutup.


Velicia: "Aku mau mandi" sahutnya membantah tak ingin menuruti perkataan Davin yang sudah mulai bisa Velicia pahami.


Tak lagi menyahut Davin hanya membuka matanya dan menatap dalam kedua retina yang berhasil menarik sedikit sudut bibirnya ke atas untuk memberikan seulas senyumnya.


Davin: "Oh mau mandi? silahkan" kedua tangan Davin melepaskan pelukannya dan berbalik mulai bangkit dari tidurnya dan terduduk menyesuaikan tubuhnya kembali untuk siap beraktifitas.


Sedangkan Velicia melangkah menjauh dengan menutupi sebagian tubuh bagian depannya menggunakan kemeja Davin yang baru kemarin dia kenakan.


Yang tanpa ia sadari bahwa Davin telah memasang senyumnya setelah melihat tubuh bagian belakang gadis itu yang sama sekali tidak tertutupi oleh kain.


Bahkan alisnya terangkat sebelah melihat setiap langkah kecil dari gadisnya yang mulai menjauh.


Davin: "Kapan kau akan mengandung anakku dan menjadi istriku Vei?" gumamnya saat pintu kamar mandi telah tertutup menghilangkan seogok tubuh yang semalam telah dengan puas Davin peluk dengan erat bahkan tanpa sebuah penghalang.


Davin terus berfikir, terlebih sangat memikirkan bagaimana kemurkaan mommy nya setiap kali melihat dirinya yang belum kunjung juga melepaskan gadis yang telah ia perkosa kala itu bahkan hingga kini.


Davin terus berfikir dengan terus mengamati daun pintu kaca yang menjadi penghalang antara dirinya dan wanitanya.

__ADS_1


Davin jelas pria normal dengan tingkat kesehatan yang seutuhnya pasti sudah terbukti karna mommy nya hingga kini terus memantau kesehatan setiap anggota keluarga tanpa terkecuali tak terkecuali daddy nya.


Tapi bagaimana dengan wanitanya?


Bagaimana dengan kondisi kesehatan Velicia?


Apa dia memiliki riwayat penyakit hingga menjadi penghalang dan penyebab gadis itu tak kunjung jua mengandung?


Apa waktu yang dibutuhkan masih terlalu lama hingga wanitanya bisa cepat mengandung anaknya?


Apa dirinya harus selalu menyentuh wanitanya disetiap saat bahkan saat dirinya sedang tidak menginginkannya?


Apa Davin masih kurang menyentuhnya?


Memang Davin belum lama ini memulainya kembali, belum lama saat mereka masih berada di Amsterdam. Mungkin jika dihitung hitung kembali dirinya baru empat kali meniduri Velicia terlepas saat dirinya telah kembali ke tanah air dan melakukannya di dalam rumahnya atau lebih tepatnya di dalam kamarnya.


Pikiran pikiran itu terus menggantung tanpa adanya sebuah jawaban dalam benak Davin yang masih terduduk di atas ranjangnya.


Davin tak ingin terlalu lama mengurung wanitanya, Davin pula tak ingin terlalu lama ditegur oleh mommy tersayangnya.


Dan yang lebih penting.


Davin: "Aku tidak ingin terlalu lama menyembunyikanmu dari kekasih mu yang sesungguhnya Vei. Aku sudah tak sabar ingin memamerkan hubungan kita terhadap pria yang selalu kau banggakan akan kesetiaannya itu"


Davin teralihkan oleh suara pintu kaca yang mulai terbuka perlahan dan menampakkan sebuah tubuh yang memberikan aroma harum yang sama seperti yang biasa ia kenakan saat sedang mandi.


Sedangkan yang ditatap berusaha mengalihkan dirinya sendiri supaya tidak menganggap keberadaan orang lain meski sebenarnya dirinya lah yang pantas disebut orang lain itu jika dilihat dari pemilik ruangan yang ditempatinya.


Namun saat langkah pertamanya yang hendak keluar dari dalam kamar mandi yang baru saja dikenakan olehnya sendiri, langkahnya dihentikan terlebih dahulu oleh pria yang sedari tadi memperhatikannya bahkan sejak pintu kaca itu baru saja ia buka.


Velicia: "Apa yang kau lakukan?!" bentaknya saat Davin tiba tiba mendorong tubuhnya kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Davin tak menjawab dan hanya terus mendorongnya hingga terdesak antara tubuh Davin dan wastafel.


Tangannya mulai merayap menyentuh kesana kemari, bagaikan kupu kupu yang menari indah diatas bunga yang harumnya memabukkan.


Davin mulai gelap akan segalanya, bahkan dirinya tak menghiraukan segala tampikkan tangan Velicia yang tak menginginkan sentuhannya.


Davin: "Apa kau wanita mandul?"


Bagai tersambar petir yang membuat wanita itu terdiam bahkan tak lagi melakukan perlawanannya atas tindakan Davin.


Milik Davin telah mengetuk ketuk meminta untuk dikeluarkan dan ingin mulai merasakan. Namun ia tahan saat Velicia tiba tiba diam membisu bahkan kali ini dirinya tertunduk dihadapannya.

__ADS_1


Davin: "Apa yang aku katakan benar?" katanya lirih berhenti sesaat dari aktifitasnya pada tubuh wanitanya.


Davin: "Aku bertanya padamu Velicia Verica Ellena" katanya lagi saat wanita itu tak kunjung menjawab.


Ada gurat amarah yang mulai timbul didalam diri Davin. Namun saat dirinya hendak meledakan amarahnya, Davin terhenti saat tiba tiba kakinya tertimpa setetes air bening yang cukup mengagetkan dirinya.


Air yang awal mulanya berawal dari setetes tiba tiba mulai merambah memperbanyak diri.


Davin: "Vei?" panggilnya lirih dengan mengangkat dagu wanitanya.


Segelimang cairan bening itu berasal dari mata indah yang disukai oleh Davin.


Mata yang menjadi candu baginya menampakkan kesedihan yang teramat dan mulai mengusik perasaan lain didalam diri Davin.


Davin tertegun antara merasa bersalah dan merasa bahwa wanitanya harus mengikuti keinginannya.


Velicia: "Apa masih kurang?" kalimat yang keluar dari sela tangisnya yang tak bersuara.


Davin masih diam memperhatikan sepasang mata yang masih saja menampakkan kesedihan.


Velicia: "Apa setelah kau menghina tubuh ku dengan menjadikan ku mainan s*ks mu kau masih belum puas hingga menghina kesempurnaan ku sebagai seorang wanita?"


Davin: "Aku tak menghina, aku hanya bertanya?" bela Davin membela dirinya sendiri.


Velicia: "Apa pertanyaanmu layak untuk dipertanyakan?!" nada suaranya mulai meninggi merasa benar benar tidak terima.


Davin: "Aku hanya bertanya jadi apa susahnya untuk menjawab hal yang aku pertanyakan"


Davin: "Aku telah menyentuhmu beberapa kali, meski bukan terhitung sering dan banyak tapi bukankah itu sudah cukup untuk seorang wanita muda yang subur?" lanjutnya mengeluarkan apa yang berada dalam pikirannya.


Davin: "Jika kau sehat kau pasti telah mengandung anakku sekarang, tapi apa buktinya? bahkan sampai sekarang belum juga ada tanda tanda bahwa kau mengandung. Bagaimana mungkin aku tak berfikir bahwa kau mandul"


Velicia: "Kalau begitu..


Tangisnya semakin menjadi membuatnya sesegukan bahkan sampai tak tertahan.


Velicia: "Kalau begitu silahkan buktikan aku wanita mandul atau bukan" katanya melanjutkan meski ada kesedihan mendalam saat mengatakannya.


Velicia: "Aku membebaskanmu menyentuhku setiap kau mau. Aku tak akan melawan lagi. Aku...


Dada Velicia begitu sesak bahkan hanya untuk sekedar melanjutkan setiap kalimatnya.


Velicia: "Aku capek.. Aku lelah Vin. Aku lelah karna setiap aku melawan kau tetap yang menang. Sekuat apapun aku menghindar kau tetap bisa mendapatkannya. Jadi apa gunanya lagi aku melawan dan menentangmu jika hasil akhirnya tetap sama terlebih aku masih harus menerima penghinaanmu yang begitu pedas"

__ADS_1


Velicia: "Selamat Vin"


Velicia: "Selamat atas kemenanganmu Davin Aditya Mayndra. Tubuhku seutuhnya milikmu bukan milik orang lain. Bukan milik orang lain"


__ADS_2