Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 33


__ADS_3

Sejak kepergian Viana yang bahkan tanpa permisi membuat meja makan itu sunyi untuk beberapa saat sebelum akhirnya harus diramaikan kembali oleh sosok pendiam kedua dalam keluarga itu.


Davin dengan tingkah anehnya untuk pertama kalinya Melliza dan David lihat.


Bagaimana tutur bicaranya yang mengatur ini dan itu untuk seorang wanita yang kala itu dikurung olehnya.


Davin: "Kamu harus makan" serunya membujuk wanita yang kini tengah mengandung calon anaknya.


Velicia tetap diam dan hanya bergeleng kepala tidak menyetujui permintaan sederhana Davin padanya.


Davin: "Harus" kali ini pria itu mulai memaksa bahkan tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan keributan kecil yang sedang terjadi.


Davin: "Ini kamu harus makan ini" katanya setelah menaruh ayam betutu yang telah dipotong olehnya dan di letakan di piring Velicia.


Sedangkan Velicia hanya diam lalu dengan cepat menutup mulutnya dan mendorong jauh piring yang tadi baru saja disiapkan oleh Davin.


Davin: "Kenapa?" tanyanya bingung dan hanya ditanggapi dengan gelengan kepala untuk kesekian kalinya.


Mommy: "Mungkin dia mual, itu biasa terjadi pada awal kehamilan" simpulnya memberi tahu pada putranya.


Davin: "Kamu mual?" tanyanya dan langsung diangguki oleh Velicia tanpa membuka tangannya pada mulutnya yang masih setia ia tutupi.


Davin: "Lalu kamu mau makan apa? Kamu harus makan"


Davin: "Makan ini mau?" tawarnya mengangkat dan mendekatkan semangkuk besar sop iga sapi yang masih terbilang hangat.


Dan lagi lagi jawaban yang diberikan adalah gelengan kepala yang berhasil menjadi pusat perhatian dalam keluarga itu.


Davin: "Kamu ini mau nya apa? Jangan berpura pura tidak mau makan dan membuat kepalaku pusing!" serunya sambil sedikit membentak wanita yang terlihat kaget akan perkataan Davin.


Celine: "Jangan salahkan dia!" sang kakak ikut menimpali merasa keberatan atas sikap adiknya pada wanita yang belum lama bebas dari ke egoisan Davin.


Celine: "Kalau Veli memang benar benar hamil, itu memang wajar jika dia pilih pilih makanan. Karna tidak semua makanan bisa dia makan" serunya lagi menjelaskan akan ketidak tahuan salah satu adiknya itu.


Mommy: "Jangankan makanan. Ada banyak begitu faktor yang dapat mempengaruhi ibu hamil, contohnya mommy dulu waktu mengandungmu, sangat benci pada daddy" sang ibu ikut pula menimpali.


Kanya: "Benarkah?"


Kanya: "Saat mengandung kak Davin?" anak bungsu itu sedikit tertarik dari topik pembicaraan yang awalnya dia tidak sukai.


Daddy: "Bukan hanya membenci, mommy kalian dulu bahkan tidak mau tidur dengan daddy atau jika saja mommy kalian sudah mencium aroma badan daddy dia akan mual mual yang akan menguras habis tenaganya hingga membutuhkan infus" terang pria lima anak itu menjelaskan kejadian yang hampir membuatnya stres kala itu karna sang istri tak mau berdekatan dengannya.


Satya: "Pantas saja kak Davin tak suka pada daddy, ternyata sudah dendam dari dalam kandungan" anak keempat itu memberi kesimpulan yang tak ditanggapi sama sekali oleh Davin.


Davin tak menganggap lebih percakapan yang menurutnya tidak lah penting itu.


Baginya kali ini yang terpenting adalah wanitanya harus makan dan mengisi perutnya dengan berbagai jenis makanan bergizi supaya janin dalam kandungannya tercukupi dan tak memiliki kekurangan sama sekali.


Karna Davin ingin anaknya tumbuh kembang dengan sempurna dan tanpa cacat yang disebabkan oleh keteledoran Velicia dalam mengolah makanan yang akan masuk ke dalam perutnya yang nantinya juga akan diserap oleh calon anaknya.

__ADS_1


Davin: "Masih mual?" tanyanya pelan saat tangan kanan itu mulai turun dan tak lagi menutupi bibir manis yang kerap ia cecap.


Dan sahutan Velicia hanya memberikan isyarat dengan ibu jari dan jari telunjuk yang membentuk sebuah huruf c tanpa mengeluarkan suara.


Mommy: "Veli ada yang mau dimakan? Mungkin ingin sesuatu nanti mommy buatkan" kata Melliza begitu ramah dan terdengar begitu welcome pada gadis yang hanya tertunduk dan menggelengkan kepala.


Kanya: "Kakak ini tidak bisa bicara atau bagaimana? Dari tadi hanya menggeleng"


Mommy: "Kanya?!"


Putri bungsu itu langsung diam tak berkutik saat Melliza memandangnya dengan pandangan sebuah peringatan. Peringatan bahwa Melliza tak suka akan apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya itu.


Velicia: "Aku mau ke kamar saja ya?" katanya begitu lirih pada Davin.


Davin: "Makan dulu baru masuk ke kamar" perintahnya menolak keinginan wanitanya.


Velicia: "Aku seperti mau muntah. Ada bau tidak enak disini" bisiknya lagi berusaha menjaga perasaan yang lain.


Davin: "Bau?" dirinya mengernyit.


Davin: "Bau apa?" tanyanya balik yang hanya diperhatikan oleh mommy nya beserta Celine kakaknya.


Velicia: "Tidak tahu. Ini baunya menyengat sekali, aku tidak kuat" pintanya lagi dengan meremas lengan Davin cukup kuat.


Velicia: "Aku ke kamar saja ya" pintanya sekali lagi.


Davin: "Tidak boleh"


Davin: "Di kulkas ada sayuran apa saja ya mbak Rini?" tanyanya saat seorang wanita muda yang masih berumur sekitar dua puluh tahun itu mendekat.


Rini: "Ada sawi putih, pokcoy, kentang sama pare" sahutnya berusaha mengingat.


Davin: "Hanya itu?"


Rini: "Iya soalnya ibu belum belanja lagi dan tukang sayur yang berada di pengkolan komplek sedang tidak jualan" sahutnya lagi menjelaskan.


Rini: "Oh masih ada brokoli setengah mas Davin, maaf saya lupa" kata wanita muda itu saat Davin sedang berpikir.


Davin: "Brokoli?"


Rini: "Iya" sahutnya mantap.


Mommy: "Mbak Rini, tolong brokolinya ditumis kaya biasa ya" Ibu rumah tangga itu mulai angkat bicara saat melihat putranya kebingungan.


Davin: "Kaya biasa itu yang kaya apa mom?"


Mommy: "Ya kaya biasa yang kamu suka makan itu" terang Melliza mencoba mengingatkan.


Davin: "Yang direbus dulu itu?"

__ADS_1


Mommy: "Iya.. memangnya yang mana lagi?"


Rini: "Jadinya mau bagaimana mas Davin? Mau yang kaya biasa?"


Davin: "Hmm iya boleh kaya biasa tapi jangan direbus ya mbak nanti vitaminnya hilang sama air rebusannya kan tidak dipakai, lalu numisnya jangan lama lama. Pakai garamnya sedikit saja terus..


Davin berpikir tentang apalagi yang harus dilakukan oleh pekerja rumah tangga itu.


Davin: "Terus bawang putihnya..


Kata kata Davin terhenti saat lengannya digoyang goyang secara pelan oleh penghuni kursi makan di sebelahnya.


Davin: "Kenapa?"


Velicia: "Jangan pakai bawang" katanya berbisik.


Davin: "Jangan pakai bawang?" katanya meniru ucapan wanitanya.


Mommy: "Dia tidak suka bau bawang. Mungkin itu yang membuat Veli mual sedari tadi karna kebanyakan menu yang berada di atas meja semua memakai bawang putih yang cukup lumayan banyak"


Daddy: "Mommy banyak tahu ya? Daddy baru tahu mommy berwawasan luas tentang wanita hamil" David mulai angkat bicara atas pengetahuan istrinya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


Mommy: "Memangnya pengalaman hamil lima kali aku masih kurang untuk memiliki wawasan? Daddy lupa dulu saat aku hamil Satya tidak suka bau bunga?"


Daddy: "Daddy jelas ingat. Siapa yang akan lupa saat mommy meminta mbak untuk memanggil tukang kebun harian supaya memangkas habis bunga bunga yang mommy tanam sendiri sejak pertama pindah ke rumah ini"


Satya: "Aku? benarkah?"


Kanya: "Wah benarkah? lalu bagaimana dengan Kanya? Dulu mommy saat mengandung Kanya seperti apa?" tanya anak bungsu itu tidak sabar dengan hingar bingar kebahagiaan.


Daddy: "Mommy kamu dulu suka banget dandan, mau tidur saja dandan dulu, maunya manja manja sama daddy. Kalau mau tidur harus...


Mommy: "Daddy?!" peringatnya saat David hendak keceplosan bahwa dirinya suka bermain terlebih dahulu dengan adek kecil yang berhasil memproduksi lima anak yang telah dewasa semua.


Saat Melliza dan David sedang beragumen tentang masa lalu dengan Kanya, Celine begitu pula Satya. Davin tetap fokus pada wanitanya.


Davin: "Benar kamu tidak suka bau bawang?"


Velicia: "Mungkin" sahutnya singkat.


Davin: "Ya sudah mbak Rini tolong ya tumis brokoli pakai garam sedikit tanpa bawang dan jangan lama lama tumisnya"


Rini: "Iya mas Davin"


Rini: "Ada lagi?"


Davin: "Sama tolong gorengkan ikan dori pakai tepung kaya biasa tanpa penyedap rasa terus jangan pakai minyak banyak banyak. Kalau sudah ditiriskan tolong dilap pakai tisu minyak ya mbak"


Rini: "Iya mas"

__ADS_1


Davin: "Sama satu lagi. Tolong mulai sekarang mbak Rini yang fokus mengurus makanan yang dimakan calon istri saya ya. Selebihnya nanti saya yang akan kasih tahu harus makan menu apa, mbak Rini tinggal masaknya saja"



__ADS_2