Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 80


__ADS_3


Rasa kesal Davin terhadap kehamilan kedua Velicia tidak cukup hanya sampai disitu.


Pria itu kira, istrinya hanya akan merasa mual hanya pada saat itu juga karna aroma amis yang sebenarnya tidak ada. Tapi nyatanya Velicia selalu merasa mual apabila berada di dekat Davin.


Awalnya Davin mengira bahwa janin itu membenci ayahnya, namun perkiraannya ternyata salah besar.


Saat usahanya yang hendak perlahan menjauhi istrinya agar Velicia tidak harus merasa mual saat berada di dekatnya atau mengalami muntah berlebih ternyata itu semakin menyiksa Velicia.


Velicia tidak bisa tidur karna perutnya yang kian melilit disetiap malam atau bahkan setiap saat bila Davin tidak berada di sampingnya.


Dan perutnya akan membaik saat sakit bila Davin mengelusnya atau saat Davin berbicara pada janin di dalamnya.


Ayah disini.


Dua kata itu yang diiringi dengan sentuhan pada permukaan kulit Velicia sudah cukup mampu menghilangkan rasa sakitnya secara perlahan.


Dan oleh sebab itu, karna Velicia tidak bisa bertahan jauh dari Davin disepanjang waktu dan juga karna Velicia yang tidak bisa tahan akan aroma amis yang dicium dari tubuh suaminya, maka Davin memutuskan untuk mengalah dan menjalani hari harinya dengan mandi air lemon setiap tiga kali sehari.


🍂🍂🍂



Kehamilan yang hendak menuju tujuh bulan tengah Velicia dan Davin lewati.


Bukan hanya Velicia yang merasa benar benar akan memiliki anak keduanya, namun Davin selaku ayahnya pun benar benar mengalami apa yang dulu tidak ia alami saat kehamilan Vania anak pertamanya yang tenang tenang saja.


"Aku ingin makan martabak telur Vin!"


Sudah sedari tadi Velicia berkicau menginginkan makanan ringan yang hampir digemari oleh semua kalangan baik muda maupun tua.


Davin: "Siang siang seperti ini tidak ada penjual martabak Vei. Nanti malam aku belikan ok?" bujuknya sudah tidak sekali dua kali lagi.


Davin: "Sekarang makan yang ada, atau kalau kamu mau yang lain juga boleh asal meminta yang jelas ada baru aku turutin"


Velicia: "Aku tidak mau yang lain"


Semakin bertambahnya hari, maka semakin keras kepala lah Velicia terhadap suaminya.


Menolak tawaran lain yang dianjurkan dan tetap pada keputusannya sendiri. Membuat bukan hanya Davin yang kelimpungan menghadapi masa kehamilan anak keduanya dengan Velicia namun juga mempengaruhi mommy nya pula.


Mommy: "Minta tolong saja pada daddy, daddy pernah membuatkan mommy dulu" wanita yang tidak pernah kehilangan aura kecantikannya itu mulai angkat bicara memberikan solusi pada putranya.


Davin: "Itu terdengar mustahil" spekulasinya sendiri.


Mommy: "Kenapa?"


Davin: "Daddy tidak akan mau menolong Davin mom"


Mommy: "Dicoba saja belum"


Davin: "Tanpa dicoba Davin sudah tahu jawaban daddy, daddy pasti menolak. Tapi beda hal nya bila mommy yang meminta tolong pada daddy"


Davin: "Mommy meminta satu pasti daddy berikan sepuluh, mommy meminta setengah pasti daddy berikan semuanya. Apapun itu yang keluar dari mulut mommy bagai ultimatum dalam hidup daddy"


Karna perkataan putranya, Melliza menatap lekat wajah lesuh menantunya yang sedari tadi pagi tidak mau mengisi perutnya karna rasa mual yang tidak mau dihilangkan.


Selain karna kehamilan Velicia, putranya pula harus bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang Vania.


Keadaan Velicia yang membuat dirinya tidak bisa menjaga bayi yang semakin aktif disepanjang harinya membuat tanggung jawab itu dilempar pada Davin selaku kepala keluarga.


Kejadian penculikan Vania, membuat Davin tidak mau mudah percaya pada orang baru.


Bahkan dirinya memilih untuk merawat putrinya sendiri dari pada mengambil resiko memasukan orang baru ke dalam lingkup keseharian putri sulungnya.

__ADS_1


Mommy: "Siapkan bahan bahannya, nanti mommy yang bicara pada daddy"


Davin yang tidak mau ambil pusing terlebih saat Velicia terus saja memaksa menginginkan apa yang dia inginkan membuat Davin hanya bisa menurut akan apa yang diperintahkan oleh mommy nya.


Pergi ke supermarket bersama dengan mba Rini yang dulu selalu memasak segala jenis makanan yang masuk ke dalam mulut Velicia saat mengandung Vania.


Membeli segala macam bahan yang dibutuhkan untuk membuat apa yang diinginkan oleh istrinya.


Kendati dirinya yang sudah menyingkat waktu supaya tidak didahului oleh daddy nya ternyata tetap sama saja.


Davin ingin daddy nya pulang dari laboratorium setelah dirinya telah mempersiapkan semua bahan dan peralatan.


Namun sayangnya dirinya lupa akan satu hal.


Secepat apapun Davin pasti akan kalah oleh daddy nya.


Karna seorang David Setya Mayndra akan bergerak cepat bila Melliza Clara yang memanggilnya.


Dan itu terbukti saat Davin baru saja sampai dan meletakan semua barang belanjaannya.


Sang ayah telah duduk manis di meja makan dengan santainya meski masih menggunakan baju yang biasa David kenakan untuk mengawasi para dokter yang melakukan otopsi pada mayat yang bermasalah.


Awalnya semua tugas itu dilakukan oleh Celine anak sulungnya, bahkan David menciptakan laboratorium khusus untuk putrinya tepat di dalam rumahnya. Ruangan sebelum masuk ke pintu utama adalah ruangan yang dirancang oleh David untuk putrinya. Namun sayang ruangan itu kini kosong dan terbengkalai karna putrinya kini sudah tidak tinggal lagi bersamanya.


"Daddy tidak ingin membantu"


Kalimat yang terlontar dari pria yang tengah duduk manis di meja makan bersama dengan Melliza begitu juga dengan Velicia memancarkan aura tidak suka saat Davin baru saja tiba dan meletakan barang bawaannya di atas meja bar dapur lantai dua.


Mommy: "Kasihan Veli dy" bujuknya angkat bicara pada saat pandangan kedua pria dalam hidupnya saling mengobarkan api penuh kedendaman.


Daddy: "Dia memiliki suami" sindirnya karna masih merasa kesal perihal David yang dilarang menemui cucunya sendiri padahal satu rumah bersamanya.


Setelah kesembuhan Vania yang dirawat oleh kakeknya sendiri, Davin selaku ayah mulai mengurangi adanya hubungan jarak dekat antara putrinya dan ayah dari Davin sendiri.


Meski satu atap, meski satu rumah namun Davin hanya akan mengajak Vania keluar dari kamarnya saat daddy nya pergi ke pusat laboratorium atau saat daddy nya tengah istirahat di dalam kamar bersama dengan mommy nya.


Memang.


Namun bagi Davin itu lebih baik, karna Davin merasa bahwa putrinya bisa kapan saja jatuh hati pada kakeknya bila terus selalu bersama dengan kakeknya.


Terdapat rasa iri pada diri Davin saat Vania banyak tertawa pada waktu diajak main oleh kakeknya.


Davin: "Kalau Davin bisa, Davin tidak perlu meminta bantuan daddy" celetuknya sembari mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong plastik.


Daddy: "Maka belajarlah" sahutnya kemudian berdiri dan berjalan ke arah westafel.


Daddy: "Kamu ini suaminya, kamu calon ayahnya kenapa daddy yang direpotkan?" ocehnya saat tengah mencuci kedua tangannya.


Davin: "Karna daddy juga akan menjadi granpa nya. Apa salahnya calon cucu merepotkan kakeknya?" balasnya yang kali ini menggunakan celemek masak.


Daddy: "Berikan telur bebeknya" perintahnya setelah menggulung lengan bajunya hingga di atas siku.


Daddy: "Calon cucu granpa mau telur bebeknya berapa?" tanyanya pada Velicia yang sedari tadi hanya bengong melihat Davin dan ayah mertuanya yang berdebat namun masih menjalankan tugasnya.


Mommy: "Seperti yang biasa daddy buat, jangan terlalu banyak" katanya angkat bicara mewakili menantunya.


Daddy: "Sesuai keinginan grandma" sahutnya dengan kedipan mata yang membuat Davin bergidik ngeri melihatnya.


Cukup lama tidak ada percakapan diantara Davin dan ayah nya.


Saling fokus pada kerjaan masing masing.


David yang sibuk mengocok telur sedangkan Davin yang serius tengah memotong daun bawang.


Hingga akhirnya Melliza membuka suara terlebih dahulu saat Velicia undur diri hendak melihat Vania yang sedang tidur di dalam kamar.

__ADS_1


Mommy: "Kamu sudah tahu jenis kelamin anak kedua mu Vin?" tanyanya yang duduk di depan meja bar dapur tepat di hadapan suami serta putrinya yang berkeluh keringat.


Davin: "Belum"


Daddy: "Periksa lah kamu kan banyak uang" jawabnya dari orang di sebelah Davin.


Davin: "Vevei tidak mau"


Mommy: "Kenapa tidak mau?"


Davin: "Coba mommy tanya pada menantu mommy itu, karna setiap Davin tanya dia hanya menjawab tidak mau ya tidak mau" gaya bicaranya mengikuti apa yang diucapkan persis oleh istrinya.


Mommy: "Ya sudah mommy masuk kamar temui Veli dulu ya. Kalian harus akur jangan berdebat hal yang tidak perlu dibicarakan" kalimat terakhir yang menjadi perintah untuk suami serta putranya.



Daddy: "Laki laki itu. Daddy yakin" ucapnya penuh percaya diri saat mencampur semua bahan menjadi satu dan saat setelah Melliza benar benar telah lenyap dari balik pintu kamar putranya.


Davin: "Mengapa bisa yakin?"


Daddy: "Karna daddy adalah kakeknya. Dan jauh mata memandang, kehamilan Velicia kali ini sama persis saat mommy mu mengandungmu"


Davin: "Bukan laki laki, tapi seorang perempuan" ucapnya melontarkan pendapat.


Daddy: "Jangan sok tahu"


Davin: "Aku tahu karna aku ayahnya" kekehnya tidak mau kalah.


Daddy: "Ayahnya belum tentu tahu jenis kelamin anaknya" ucapnya semakin tidak mau kalah.


Davin: "Aku tahu karna aku sering menjenguknya" celetuknya yang keceplosan hingga membuat dua orang pria itu tiba tiba saling berhadapan dan saling menatap aneh pada satu sama lainnya.


Kejanggalan itu tidak berlangsung lama saat David memutuskan untuk mengambil teflon di lemari.


Daddy: "Semoga dia memang benar benar perempuan seperti apa katamu"


Davin:"Memangnya mengapa kalau dia laki laki?"


David tiba tiba menghentikan aktifitasnya yang baru saja meletakan teflon di atas kompor listrik dan menatap putranya penuh dengan penekanan.


Daddy: "Karna daddy belum sanggup mendapat cucu laki laki darimu"


Davin: "Lalu daddy mengharapkan cucu laki laki pertama daddy dari kak Celine?"


Daddy: "Kamu sinting?!"


Daddy: "Kakakmu baru menikah kemarin, bunga melati yang dia pakai saja belum layu dan kering"


Daddy: "Akan daddy hajar suaminya kalau sampai menuntut anak cepat dari putri daddy"


Davin: "Dilihat dari bibit bebet dan bobot saja sudah terlihat cucu daddy yang berkualitas hanya dari Davin. Coba daddy tengok menantu yang baru daddy angkat itu" katanya membanggakan diri.


Daddy: "Jangan melihat dari covernya Vin"


Nada suara yang awalnya bersahabat berubah menjadi nada dingin saat putranya merendahkan orang lain.


Hal pertama yang paling tidak disukai oleh David dan Melliza selaku orang tua adalah anak anak mereka dilarang memandang sebelah mata pada semua orang.


Termasuk pada orang orang kurang mampu yang berada jauh di bawahnya.


Daddy: "Kamu ingat pria yang dibawa Viana di acara pernikahan Celine?"


Davin: "Pria pendek yang menggunakan kaca mata itu?"


Daddy: "Iya"

__ADS_1


Daddy: "Tanpa kamu sadari karna hanya melihat luarnya, sebenarnya dia bukanlah pemuda biasa"


End.


__ADS_2