Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 22


__ADS_3

Velicia tak banyak berdebat saat dibersihkan tubuhnya oleh Davin, dirinya pula tak membantah ucapan Davin yang menyuruhnya untuk lekas beristirahat.


Bukan karna dirinya mau mematuhi perkataan seorang Davin melainkan dirinya sudah merasa letih dan lelah terlebih lagi tak memiliki tenaga untuk hanya sekedar duduk.


Velicia: "Bisakah kau keluar? aku ingin tidur dengan tenang" katanya yang telah merebahkan tubuhnya membelakangi Davin yang masih berdiri disebelah ranjang miliknya.


Ranjang yang juga telah menjadi bukti dan saksi dari kegiatan mereka yang masih begitu terasa.


Davin tak menjawab, hanya meresponnya dengan tindakan lalu berjalan kearah keluar kamar gadis itu dengan memakai kembali kemeja hitam polosnya.


Tubuh segar sehabis mandi dan kebutuhan biologisnya yang terpenuhi membuat tubuh Davin kembali bugar dan segar.


Beda halnya dengan wanita yang ditinggalnya sendiri didalam kamar.


Air mata yang tak berkesudahan sedari tadi bahkan sebelum memejamkan matanya untuk terlelap dan beristirahat menunjukan sebuah pergolakan yang tak ingin diterimanya.


Memang tak sesakit saat awal melakukannya, tapi kali ini benar benar terasa nyata.


Setiap momen yang Davin berikan begitu tertera dalam ingatan Velicia. Momen dimana Davin memejamkan matanya kuat karna merasa tak tahan.


Mulutnya yang terbuka setiap saat pelepasannya, dan rambut Davin yang bergerak kesana kemari seiring pergerakannya yang ingin mencapai puncaknya benar benar membuat hati Velicia teriris begitu dalam.


Keringatnya, nafasnya dan perpaduan yang mempertemukan miliknya dan milik pria itu begitu kental membayangi otaknya yang semakin membuat Velicia benci dan semakin benci terhadapnya.


Velicia berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk, Velicia berharap bahwa ini adalah mimpinya karna telah membunuh Davin. Velicia berharap Davin yang sesungguhnya telah tiada di dunia ini. Dan Velicia berharap selekasnya dia bangun nanti semua ini tidaklah pernah terjadi.


🍂🍂🍂


Pelukan erat pada tubuhnya mulai menggangu tidur nyenyaknya.


Bahkan bisikan bisikan dari suara yang terdengar serak itu langsung membuat Velivia terkesiap dan mencoba melepaskan diri.


Davin: "Sepertinya kau tidur dengan nyenyak honey. Apa masih kurang tidurmu wahai calon istri dan calon ibu dari anak anakku?"


Velicia tersenyum kecut saat wajah Davin tak jauh dari wajahnya.


Velicia: "Ternyata bukan mimpi" katanya langsung tepat didepan wajah Davin yang sedang menatapnya lekat.


Davin tak memberikan respon dan hanya semakin mendekatkan wajah Velicia supaya lebih dekat lagi dengan wajahnya.


Saat Davin sedang berusaha hendak mencium bibir ranum yang berada dihadapannya, sang empu mulai angkat bicara lagi dan menahan wajahnya terutama bibirnya supaya tidak tersentuh atau mungkin ternodai kembali oleh seorang Davin.


Velicia: "Bagaimana bisa kamu tidak mati?" tanyanya langsung tanpa basa basi.


Davin tak langsung menjawab dan malah semakin mengeratkan pelukannya dengan wajah Velicia yang dia tempatkan didepan dadanya.


Velicia: " Bagaimana bisa?" gumamnya lagi yang tak melawan.


Davin: "Jelas bisa karna aku adalah Davin" sahutnya yang semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Velicia semakin menempel pada tubuhnya.


Davin: "Aku tak mengira kau akan merencanakannya, sungguh diluar dugaanku sebelumnya. Ku kira kau wanita anggun, sopan dan ceria ternyata dibalik itu semua terdapat sisi jahatmu juga"

__ADS_1


Velicia: "Wanita mana yang akan diam saja jika diteror oleh pria yang merusak masa depannya?" Davin melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangan Velicia agar melihat kearah wajahnya.


Davin: "Aku pikir kau akan diam saja"


Velicia: "Bisa kau lepaskan aku sekarang?" katanya tak mau lebih dekat lagi dengan Davin.


Bukannya melepaskan Davin malah mendekatkan wajahnya dan mengecup keningnya lembut.


Velicia: "Tunggu! bagaimana caramu masuk kedalam rumah ini?" selanya saat Davin tak kunjung melepaskan kening wanita itu dari bibirnya.


Davin: "Caraku?" tanyanya balik dan menampilkan senyum semlirik.


Davin: "Caraku dengan seperti ini" lanjutnya lalu ******* bibir tipis yang kian memerah milik wanita yang kian erat dia peluk.


Velicia meronta dan meminta dilepaskan. Tapi Davin tak urung mengubah keputusannya untuk melepas pelukannya hingga akhirnya Velicia pun menggigit lidah Davin yang terus saja menerobos ingin masuk.


Davin: "Kau tak tahu? itu lah caraku masuk bahkan caraku mengawasimu. Tak terlihat tapi bisa dirasakan. Rasa yang terlihat manis tapi sebenarnya begitu pahit"


Velicia masih belum paham akan ucapan pria yang masih saja memeluknya.


Davin: "Lihatlah" serunya yang langsung melonggarkan pelukannya dengan menunjuk suatu arah dengan pandangan matanya yang letaknya berada dibelakang punggung Velicia.


Davin: "Bukankah itu terlihat manis?" lanjutnya berbisik saat Velicia menelisik dari arah yang dimaksud Davin.


Velicia: "Apa?" tanyanya benar benar tak maksud dengan perkataan Davin.


Davin terkekeh kemudian memeluk tubuh Velicia dari belakang. Menghimpitnya agar punggungnya bersentuhan dengan dadanya. Mengunci kedua kaki Velicia dengan kaki kirinya.


Kedua mata hitam beningnya yang memiliki bulu mata lentik itu mulai menelisik sebuah lemari kayu yang tidak terlalu tinggi itu yang dia gunakan biasanya untuk menaruh beberapa kertas gambar atau alat tulis lainnya.


Tak ada yang istimewa dan tak ada yang aneh dari kelihatannya, hanya ada sebuah pot kecil bunga baterai yang selalu bergerak lalu sebuah poster foto yang ukurannya jauh lebih besar.


Foto dirinya bersama kekasihnya Evan.


Davin: "Bukankah itu terlihat manis Vei? tapi coba kamu perhatikan baik baik dipojok kanan bawah tepat dibawah foto pria yang memeluk pinggangmu itu" instruksinya benar benar diikuti oleh Velicia.


Matanya menajam dan terlihat sebuah robekan kecil yang berbentuk suatu lingkaran berwarna hitam.


Davin: "Aku selalu mengawasimu Vei, tepat berada dibelakang Evan"


Velicia: "Kau menaruh cctv di rumahku? di kamarku Davin!" pekiknya merasa syok dengan apa yang baru saja dia sadari.


Davin: "Ya! Aku mengetahui setiap aktifitasmu. Aku tahu saat kau tidur, saat kau berdandan bahkan saat kau tanpa baju pun aku tahu"


Velicia dipenuhi amarah yang meluap, bagaimana Davin bisa selancang ini pada dirinya. Bahkan hubungan teman antara dirinya dengan pria baj*ngan ini saja tidak terlalu dekat.


Dirinya kemudian berdiri setelah Davin melepas pelukannya.


Velicia: "Atas hak apa kau mengusik kehidupan pribadiku Davin?! kau bukan siapa siapa! INGAT!!! bukan siapa siapa" teriaknya terlihat frustasi.


Davin: "Bukan siapa siapa?" Davin terkekeh dan mulai terduduk.

__ADS_1


Davin: "Kita lihat sejauh mana aku bukan siapa siapa lagi dihidupmu" lanjutnya.


Velicia ingin sekali mengamuk lantaran Davin berbuat sesukanya sendiri.


Tapi baru saja dirinya hendak menghampiri cctv yang berada dibelakang poster itu, tubuhnya digulingkan oleh Davin dan ditindihnya.


Velicia: "Sejak kapan itu berada dirumahku? Dan siapa yang menaruhnya disitu?" katanya menatap tajam mata Davin.


CUP


Davin: "Aku benar benar gemas dengan bibirmu" ucapnya ngelantur.


Velicia: "Sejak kapan?!" pekiknya saat Davin hendak menciumnya kembali.


Bukannya menyingkir Davin malah kembali mengecup bibirnya.


CUP


Davin: "Kamu manis Vei, dan aku sangat suka"


Velicia benar benar sudah tak tahan lagi, dirinya kalut dengan perasaan emosi bercampur aduk dengan perih yang teramat oleh sikap Davin yang berusaha menguasainya.


Air mata itu turun kembali tanpa permisi saat Davin terus saja menindih tubuhnya dan tak mau melepaskannya. Terlebih dirinya tak mau memberikan jawaban atas pertanyaannya.


Davin: "Jangan menangis" ucapnya terdengar tulus dengan bibirnya yang mengecup kedua mata Velicia.


Davin: "Aku bilang jangan menangis honey.. apa kamu tidak mendengarnya?" ucapnya sekali lagi memperingatkan wanitanya.


Velicia: "Sejak kapan?" katanya lirih dalam isak tangisnya.


Davin terpukau akan mata indah yang berlinang air mata yang menatapnya. Terdapat kesedihan yang tak tertahankan dan amarah yang meluap ingin dilepaskan namun tidak bisa.


Davin: "Kesetiaan seseorang tidak bisa dibeli. Sekalinya kau membeli sebuah kesetiaan maka orang itu siap kapan saja meninggalkanmu hanya demi orang yang bisa membayarnya lebih dari harga yang kau berikan" usapnya lembut pada seuntai rambut yang menghalangi Davin untuk sepenuhnya memperhatikan wajah sendu yang dia inginkan.


Davin: "Menurutmu, aku masih bisa tetap hidup jika berhadapan dengan tujuh orang bayaranmu itu?"


Davin: "Dan apa menurutmu aku bisa meletakan itu didalam kamarmu dan mengawasimu dengan begitu mudah?"


Davin: "Ayolah honey, aku ini manusia biasa. Tidak akan semudah itu jika aku tidak dibantu oleh otak cerdikku dan juga...


Davin menggantungkan kalimatnya dan lebih mendekat kearah wajah Velicia yang masih diam membatu dalam tangis.


Davin: "Uangku" bisiknya lagi dan akhirnya ******* basah bibir yang sedari tadi bergetar karna merasa tak kuat dengan apa yang baru saja didengarnya.


Mendengar kenyatan bahwa dirinya telah dikhianati oleh orang yang dipercaya untuk menjaganya dari pria baj*ngan seperti Davin.


Tapi orang yang dipercayainya itu malah menjerumuskannya lebih dekat lagi dengan orang yang ingin dihindarinya.


Yang itu berarti foto yang waktu itu dikirim oleh Mike adalah omong kosong belaka.


Semua itu adalah sandiwara Davin untuk menjebak gadis yang masih dikulum olehnya untuk masuk dalam perangkapnya.

__ADS_1



__ADS_2