
Velicia terus saja termenung dengan pandangan kosong. Pikirannya melalang buana entah kemana saat raganya juga hanya berdiam diri di dalam mobil yang terparkir di garasi rumahnya.
Garasi yang lagi lagi hanya ada satu mobil yang ia tunggangi, tanpa adanya mobil yang tadi dibawa oleh suaminya dengan membawa Vania bersamanya.
Seakan matanya telah lelah dan tidak ingin menitikan air mata lagi, Velicia pun hanya bisa menunjukan raut wajah gusarnya karna Davin belum juga pulang dan entah membawa kemana putri mereka.
Langkah demi langkah beratnya ia angkat paksa hanya untuk sekedar mengantarnya pada ranjang yang telah Davin tinggalkan sepekan ini.
Ingin merehatkan sejenak pikiran dan tubuhnya yang telah begitu letih dalam meratapi nasib rumah tangganya yang belum menemukan titik terang kebahagian.
"Ibu!" suara lantang yang lumayan cukup mengejutkannya di anak tangga saat dirinya sedang menuju lantai dua.
Velicia: "Mbak Yanti? Kenapa mbak?"
Namun saat pekerja rumah tangganya hendak melanjutkan kalimatnya, dering ponsel menunda kalimat pekerja yang telah setia menemaninya selama ini dalam membantu merawat Vania.
Velicia: "Mommy Melliza?" gumamnya pelan saat membaca seseorang yang berusaha menghubunginya.
Meski masih heran karna tidak biasanya ibu lima anak yang sudah menjadi ibu mertuanya menghubungi melalui ponselnya dan akan selalu menghubunginya ataupun sekedar berbincang ringan kepada Vania pasti akan melalui ponsel suaminya Davin.
Namun tak urung Velicia pun mengangkat panggilan itu. Menyapanya dengan nada biasa seperti dulu seakan ingin menutupi keretakan rumah tangganya dengan putra dari wanita yang sedang meneleponnya.
Akan tetapi belum sempat selesai Velicia memberi salam selamat siang terhadap ibu mertuanya, wanita paruh baya itu langsung saja memberendengkan kalimat dengan nada tingginya.
Melliza: "Kamu dimana?!" serunya langsung dengan nada tinggi yang diiringi dengan nafas terburu buru.
Velicia: "Veli di..
Melliza: "KAMU DIMANA?!" katanya ulang dengan nada yang lebih tinggi lagi.
Melliza: "Mommy bilang kamu dimana!!!" kalimatnya lagi tidak mau mendengarkan jawaban dari Velicia terlebih dahulu.
Melliza: "Kamu..
Kalimatnya terhenti tiba tiba, tidak ada suara lain lagi namun dengan seiringnya waktu tiba tiba tangis memilukan terdengar dari seberang sana.
Menyisakan rasa khawatir pada diri Velicia saat mendengar untuk pertama kalinya ibu mertuanya menangis bahkan sampai begitu pilu.
__ADS_1
"DAVIIIN"
Kata terkahir yang terdengar dari teriakan seorang ibu yang berusaha memanggil anaknya sekuat tenaga dalam tangisannya sebelum panggilan itu diakhiri secara sepihak.
Membuat begitu banyak tanda tanya di dalam pikiran Velicia yang belum sempat untuk beristirahat.
"Bu?" panggil mbak Yanti yang mulai mendekat dengan gagang telepon rumah yang ia pegang.
Velicia hanya memperhatikan pekerja rumah tangganya, menantikan sebuah kata yang hendak keluar dari mulut pekerjanya.
Yanti: "Bapak bu" lanjutnya masih terdengar ambigu.
Velicia menautkan alis sebelah kirinya, mencoba memahami akan hal yang seperti tidak akan terdengar baik untuknya.
Yanti: "Bapak kecelakan"
Jantung Velicia langsung saja mencelos, seolah jatuh dan tidak pada tempatnya lagi.
Dan dengan refleks dirinya berpegangan pada pegangan yang berada di pinggir tangga.
Wanita itu sudah tidak kuat lagi untuk mendengar kalimat berikutnya. Lututnya terasa lemas, nafasnya mulai tersedat dan tangannya mulai bergetar. Jari jari tangannya bergetar hebat bahkan saat bibirnya untuk pertama kalinya merespon nama seseorang.
Velicia: "Vania?" gumamnya dengan lemas.
Velicia: "Bagaimana dengan Vania?!" serunya menghadap pekerja rumah tangganya.
Akan tetapi yang dilakukan oleh pekerja rumah tangga itu hanya diam dan menunduk dengan memberi jawaban gelengan kepala yang pelan karna merasa tidak tahu akan jawaban dari sebuah pertanyaan yang dilayangkan oleh nyonya dalam rumah yang ia rawat.
Velicia: "Vania bersama dengan Davin tadi!"
Velicia: "Dia membawa Vania bersamanya"
Velicia: "Bagimana ini?"
🍂🍂🍂
Seperti orang kesetanan Velicia mulai lari saat menuruni mobil yang dibawa oleh supir yang telah mengantarnya pada sebuah rumah sakit yang belum lama ini disebutkan oleh mbak Yanti.
__ADS_1
Mencari tujuan utama yang sudah menjadi pikirannya sedari tadi.
Bahkan sepanjang jalan hingga dirinya kelimpungan mencari seorang perawat atau dokter untuk ditanyai Velicia terus saja mengapalkan bahkan suami dan putrinya pasti baik baik saja.
Mencoba untuk terus percaya pada Tuhan nya bahwa mereka pasti baik baik saja.
Namun sekuat apapun Velicia menahan, dan mencoba untuk tetap tegar dan percaya pada-Nya tetap saja air matanya tidak mau berhenti dari pelupuk matanya.
Bayangan akan truk yang menerpa suami serta anaknya lalu kata sungai yang menyertai tidak akan pernah mampu membuat dirinya tenang sebelum melihat kedua orang yang dikhawatirkannya itu.
Velicia: "Permisi!" katanya pada dokter yang tengah berbincang dengan seorang pengunjung lain.
Akan tetapi dokter itu mengangkat tangannya yang menandakan bahwa Velicia harus menunggu terlebih dahulu untuk bisa berbicara pada seorang pria berjas putih yang mulai tumbuh beberapa uban di kepalanya.
Velicia: "Permisi! Saya ingin bertanya pak!" serunya lagi sudah tidak sabar.
"Tunggu sebentar ibu, saya sedang berbicara dengan bapak ini mengenai putri beliau" jawabnya dengan mencoba ramah dan sopan saat Velicia yang lebih muda menarik bahu sang dokter pria dengan tidak sopan.
Velicia: "Tolong saya pak, tolong saya. Dimana suami dan anak saya?" ucapnya disertai tangisan yang belum juga mau berhenti.
"Saya tidak tahu suami dan anak ibu itu siapa, coba ibu tanya pada...
"Velicia?!" seru suara lain dari arah samping kiri Velicia yang sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu Velicia kan ya?" kalimatnya lagi mencoba untuk memastikan dari lebih dekat lagi.
"Ah! Iya kamu Velicia"
Setelah yakin bahwa Velicia adalah orang yang dicari, wanita yang tiba tiba tadi berteriak ke arahnya kemudian menarik paksa dirinya untuk mengikuti setiap langkah wanita asing yang baru untuk pertama kalinya Velicia jumpai.
Velicia: "Tunggu!" cegatnya menghentikan langkahnya yang diseret oleh wanita asing itu.
Velicia: "Kamu sia..
"Itu tidak penting sekarang, yang lebih penting sekarang adalah Davin" selanya saat Velicia hendak menanyai siapa gerangan wanita muda berparas tak kalah cantik dari serentetan model yang dulu bekerja sama dengan dirinya.
__ADS_1