
"Vin.. Vania kapan mau di beri vaksin? Ini sudah lewat satu minggu sejak dokter Sansan ijin untuk cuti"
Sudah seminggu lebih Davin sibuk dengan urusannya yang tidak ingin dimengerti oleh Velicia. Namun masalah kali ini telah berhubungan secara langsung dengan perkembangan putri mereka. Sudah satu minggu baby girl mereka telat untuk mendapatkan imunisasi polio pertamanya.
Velicia tidak ingin mentolerir kembali segala alasan Davin untuk menolak keinginannya pergi ke rumah sakit.
Davin: "Aku masih sibuk Vei" alasan yang sama dibuat oleh suaminya dengan laptop yang sama hanya saja kali ini ditemani oleh seseorang yang telah dipercaya oleh suaminya.
Velicia: "Lalu Vania tidak diimunisasi lagi?"
Davin: "Mau bagaimana lagi? Aku masih sangat sibuk Vei. Tolong mengertilah" bujuknya tidak mau mengalihkan pandangannya.
Velicia: "Aku tidak mau mengerti dan aku tidak mau menundanya lagi. Kamu mau apa?" tantangnya yang telah membuat Davin menghentikan aktifitasnya namun masih tidak melihat ke arahnya.
Davin: "Vei" panggilnya begitu pelan berusaha menahan agar tidak meluapkan ledakan amarahnya kembali seperti kala itu.
Velicia: "Davin" sahutnya dengan memanggil suaminya menggunakan nada yang lebih tinggi.
Velicia: "Dimana janji manismu yang mengatakan akan selalu ada banyak waktu untukku? Apa kamu lupa?" sindirnya dengan kali ini yang telah menggendong Vania karna terbangun akan suaranya tadi yang meninggi.
Velicia: "Kalau kamu lupa, aku bantu kamu untuk mengingatkannya kembali. Kamu berkata padaku bahwa kamu lebih baik dari pada kak Evan. Kamu mengatakan bahwa kamu akan ada banyak waktu untukku, menemaniku disetiap hariku lalu kemana hilangnya perkataan itu?" terangnya mulai naik pitam terlebih Vania yang ikut tidak mau diam dan tenang sejak terbangun dari tidurnya.
Velicia: "Apa perlu aku pergi hanya berdua dengan Vania?"
Davin: "Apa yang kamu katakan?" selanya langsung saat istrinya baru saja selesai berucap akan pemikirannya.
Davin: "Mengapa kamu menjadi tidak sabar dan sangat cerewet akhir akhir ini? Apa tidak bisa menunggu waktu luangku?"
Hati yang mulai melembut tiba tiba merasa hancur setelah mendengar serentetan kalimat dari Davin.
Mungkin Velicia dulu telah terbiasa akan ucapan pedas Davin sebelum resmi menjadi istrinya, namun semenjak resmi menjadi istri dari Davin Velicia sudah mulai belajar terbiasa akan segala sikap lembut Davin yang mulai berubah.
Sikap lembut dan penyayang yang mulai meluluh lantahkan sikap gigih dari Velicia yang awalnya tidak ingin menyukai ayah dari putrinya berubah menjadi ingin memiliki Davin seorang dalam hidupnya dan putrinya.
Velicia: "Jika Vania dan aku harus menunggu waktu luang mu. Aku ingin bertanya, kapan waktu luangmu itu?"
__ADS_1
Tanpa diharapkan dan diminta butiran bening yang menetes dari pelupuk mata indahnya itu semakin memperkeruh suasana.
Seakan terdapat perpaduan yang terjadi antara ibu dan anak membuat Davin lantas mengusir Fero teman dekatnya untuk pergi dari situasi yang tidak pernah ia harapkan.
Velicia: "Jawab! Kapan?!" ucapnya semakin dengan derai air mata yang kian membasahi kedua pipinya.
Davin: "Tenanglah Vei. Kita ke rumah sakit sekarang" peluknya kini yang ingin menenangkan perasaan istrinya yang tengah kacau.
Velicia: "Apa kini aku dan Vania harus menangis terlebih dahulu di hadapanmu agar mendapat perhatianmu?" tolaknya yang hendak didekap oleh Davin.
Velicia: "Jika memang kau sibuk, mengapa tidak membiarkanku untuk pergi sendiri. Mengapa masih saja melarangku keluar jika tanpamu. Aku pun akan mengerti dan mencoba memahami jika kamu sibuk dan tidak bisa menemani kami"
Davin: "Aku sudah tidak sibuk. Jadi aku minta berhentilah menangis"
Pria itu mengecup kening istrinya begitu lama, seakan ingin menyampaikan permintaan maaf atas segala tindakan dan perkataannya yang telah menyakiti istrinya hingga menangis bahkan di hadapan orang lain.
Velicia: "Kamu mulai berubah Vin" lirihnya yang tidak didengar oleh sang pemilik nama.
Velicia: "Aku bisa memahami mu jika kamu masih sibuk. Aku juga bisa pergi sendiri...
🍂🍂🍂
Seberapa banyak suaminya mengatakan bahwa dia telah tidak sibuk tidak mampu menutup kenyataan bahwa pria itu bahkan masih saja bergelut akan pekerjaannya bahkan saat mengantarkan putri mereka untuk mengantri menunggu nomor antrian nya dipanggil.
Davin beberapa kali menjauh dari tempat yang di duduki oleh istrinya yang mendekap putrinya hanya untuk mengurangi adanya radiasi signal yang bisa kapan saja masuk ke dalam otak putri mereka.
Davin dan Velicia sama sama saling sepakat untuk mengurangi penggunaan handphone saat bersama dengan putri mereka terlebih lagi di dalam ruangan tertutup seperti dalam kamar mereka.
"Kau hanya sendiri?"
Tiba tiba terdapat pergerakan dari kursi tunggu sebelah yang diiringi dengan sapaan yang begitu dikenal oleh Velicia karna suaranya.
"Sudah lama tidak bertemu dan kini benar benar ada orang ketiga diantara kita setelah paman ku" lanjutnya lagi dengan senyuman getir saat melihat peri kecilnya tengah bercuap cuap sendiri.
Velicia: "Hai Van apa kabar, sudah lama tante tidak melihatmu"
__ADS_1
Senyum getirnya mulai hilang dan tergantikan akan kekehan yang begitu menajam pada sebuah perasaan kecewa.
Evan: "Aku baik" sahutnya masih berusaha untuk bisa tersenyum.
Evan: "Bagaimana dengan kabar tante ku yang selalu dikurung di dalam rumah oleh paman ku?" sindirnya membuat jengkel Velicia.
Velicia: "Aku selalu baik karna paman mu selalu menjaga istrinya dengan sangat baik"
Evan: "Oh baguslah"
Evan: "Lalu bagaimana dengan kabar anak yang tidak pernah diharapkan oleh ibu nya ini? Apa kasih sayang paman ku saja sudah cukup untuk bayi mungil dalam dekapan tante ku yang masih ada dalam hatiku?"
Velicia: "Tolong jaga ucapan mu kak Evan!" sentaknya tiba tiba saat mendengar lontaran demi lontaran yang begitu pedas untuk putrinya bahkan yang belum mengetahui apa apa.
Keponakan dari suaminya hanya tersenyum manis dan mendekatkan diri.
Evan: "Jangan memanggilku kakak lagi, sekarang kau adalah istri dari paman ku yang berarti kau adalah tante ku"
Pria yang disebut oleh suaminya sebagai keponakan semakin lancang dan mendekatkan diri pada Velicia yang sedari tadi hanya duduk pada tempat yang sebelumnya.
Evan: "Terkecuali jika kau masih menganggap keponakan mu ini adalah kekasih mu mungkin aku bisa mengerti akan maksud dari mu Vei" bisiknya yang begitu membuat Velicia risih.
Namun saat dirinya hendak menegur akan kelancangan mantan kekasihnya yang sangat berbeda dari sikapnya yang dulu saat menjadi kekasihnya terhalang akan kehadiran seseorang yang membuat dirinya dilanda akan perasaan gelisah bercampur akan rasa takut.
Tubuh kokoh yang biasa menopang tidurnya dalam pelukan hangat di dalam selimutnya, fisik yang biasa wanita itu pandangi disetiap harinya kini menampakan aura yang tidak enak untuk dipandang.
Aura gelap bercampur akan kedinginan yang langsung menggerayap pada perasaan Velicia.
"Masuk" katanya begitu dingin.
Sedari tadi tanpa Velicia sadari, ternyata nama putrinya telah dipanggil beberapa kali oleh suster yang bertugas. Namun tanpa diduga olehnya, suaminya lah yang telah menyadarkannya dalam situasi yang membuat hubungannya pasti akan memperburuk dan merenggang lagi seperti sebelumnya.
"Tapi jika kau tetap ingin disini, aku tidak akan melarangmu. Aku bisa masuk dan pulang hanya berdua dengan Vania"
"Bahkan aku dan Vania mungkin bisa hidup tanpamu. Namun aku bisa menjamin bahwa kamu tidak akan bisa hidup tanpa aku dan putri mu"
__ADS_1