Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 35


__ADS_3

Kenyataan yang baru saja Davin dengar bahwa janin dalam rahim wanita yang hendak dinikahinya telah berusia sebelas hari dan masih rentan itu membuat sisi lain dari dalam diri pria berusia dua puluh enam tahun itu mulai muncul.


Sisi yang menginginkan Velicia dan calon anaknya dengan berbagai cara tapi masih dalam sisi kelembutan dan pemaksaan yang akan membuat wanita yang sekarang tengah duduk di sebelahnya dalam mobil berdominan warna putih itu benar benar menjadi miliknya.


Mobil dengan mesin yang memiliki kapasitas sebesar dua koma empat ratus delapan puluh delapan dengan tipe mesin SKYACTIV-G dua setengah L in-line empat cylinder DOHC enam belas valve.


Mampu menghasilkan tenaga maksimum mencapai seratus empat puluh kw per enam ribu rpm dengan banderol harga yang bersekitar lima ratus empat puluh delapan juta rupiah bahkan lebih itu mampu memberi kenyamanan saat berkendara bagi Velicia.


Davin: "Kata dokter kamu tidak boleh terlalu capek" kalimat pertama setelah saling bungkam untuk beberapa saat.


Velicia: "Aku di sana tadi saat dokter mengatakannya dan aku tidak tuli hingga tidak mendengarkan perkataannya" sahut wanita itu ketus.


Davin: "Bagus. Berarti dengan begini aku tak perlu lagi harus mengingatkanmu akan segala hal yang boleh dan tidak kau lakukan" sahut Davin tak kalah ketus.


Velicia tak lagi menyahut akan perkataan Davin, dirinya lebih memilih bersandar dengan nyaman pada kursinya, meluruskan kakinya dan memejamkan matanya.


Karna seingatnya tadi perjalanan antara rumah Davin dan rumah sakit yang mereka datangi sepertinya masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk bisa sampai di rumah pria yang sedang menjadi supir pribadinya itu.


Elusan lembut pada kepala bagian samping kanannya yang mulai merambah menuju perut ratanya itu dia biarkan begitu saja.


Karna baginya akan sangat percuma berdebat dengan pria keras kepala dan suka memaksa seperti Davin, dirinya hanya akan membuang buang tenaga untuk hal yang tak berarti. Lagi pula dengan atau tidak ada ijin dari dirinya, Davin akan tetap melakukan apa yang menjadi keinginannya.


Davin: "Besok pagi kita akan pergi ke Jakarta" ucap Davin masih setia mengelus calon anaknya.


Velicia: "Terserah"


Davin: "Kita akan bertemu kedua orang tua mu dan meminta restu mereka" sambungnya lagi.


Velicia: "Terserah"


Davin: "Kita akan adakan pernikahan di sini, karna semuanya telah aku siapkan"


Velicia: "Aku bilang terserah ya terserah!" nada suaranya mulai meninggi diikuti gerakannya yang membuang wajahnya ke arah lain membuat tangan Davin teralihkan dari tempat keberadaan calon anaknya.


Davin: "Tapi sebelum itu kita akan menemui Evan terlebih dahulu sebelum upacara pernikahan"


Satu nama yang terucap dari mulut Davin benar benar berhasil menarik segala perhatian wanita di sampingnya.


Bagaimana raut wajahnya, pandangan matanya bahkan gerak tubuh wanita itu jelas menginginkan suatu kalimat tambahan yang akan keluar dari mulut Davin.


Davin: "Tenang lah, aku tidak akan menemuinya"


Velicia: "Kenapa?" tanya wanita itu merasa aneh.


Davin: "Karna setelah sekian lama tidak bertemu kekasihnya tak mungkin kan aku hadir di sampingmu saat kau bertemu dengannya untuk pertama kalinya lagi? Aku tidak ingin disebut sebagai perebut kekasih orang"


Dari perkataan Davin, Velicia hanya menautkan alis sebelah kirinya merasa akan ucapan Davin sangat tidak benar adanya.


Karna pada kenyataannya, Davin memang benar telah merebut kekasih orang. Merebut kekasih dari seorang dokter muda bernama Evan yang teramat ia cintai dan sayangi.


Davin: "Dan lagi, kau pasti butuh waktu berdua dengannya untuk menjelaskan segala hal yang telah terjadi diantara kita"


Velicia: "Kau membiarkan aku bertemu dengannya? Hanya berdua? Apa aku tidak salah dengar?" tuturnya merasa tidak percaya.


Jelas wanita hamil muda itu tidak percaya akan ucapan Davin, karna sepengetahuan Velicia setelah tinggal beberapa lama bersama pria pengatur seperti Davin sangat tidak mungkin pria dengan kadar otoriter tinggi serta dominan mengatur itu bisa begitu saja melepasnya untuk bertemu seseorang yang seharusnya tidak dibiarkan begitu saja.


Terlebih lagi ini akan bertemu dengan seseorang yang sampai saat ini masih melekat dengan jelas perasaan Velicia terhadap pria yang tengah diperbincangkan.


Davin: "Siapa bilang hanya berdua?"


Davin mulai memarkirkan posisi mobilnya diantara ketiga mobil yang ada di garasi rumahnya.


Davin: "Kamu lupa ada sebagian besar diri aku yang sekarang bersemayam di dalam tubuh kamu?"


Bagaimana Velicia bisa lupa akan satu hal yang baru saja diucapkan oleh pria yang kali ini tengah tersenyum manis padanya.


Janin dalam kandungannya bahkan sangat membuat diri wanita itu mudah merasa letih bahkan sebelum dirinya tahu akan keberadaan janin kecil dalam rahimnya.


Mual yang semakin berkepanjangan, tak mudah menerima segala jenis bau yang terlalu menyengat bahkan tak suka bau yang terlalu wangi dan membenci segala hal yang berbau mencolok di hidungnya membuat wanita yang masih ditatap oleh Davin kadang enggan untuk keluar kamar.


Bahkan dirinya tak tanggung tanggung membawa kantung plastik yang tadi dia bawa di dalam tas kecil yang tadi dibawa oleh Davin sendiri atas keinginan pria itu untuk berjaga jaga.


Mencoba mencegah segala kemungkinan dirinya bisa muntah di lingkungan rumah sakit karna bau bau antiseptik yang jelas sangat ketara.

__ADS_1


Dan benar apa adanya, dirinya hampir disetiap tempat yang disinggahinya untuk duduk di kursi tunggu selalu merasa mual bukan hanya karna bau segala jenis obat obatan melainkan kadang terdapat beberapa pengunjung lain yang terlalu berlebihan dalam menggunakan parfum.


Davin: "Lagi pula kamu akan percaya begitu saja bahwa aku akan membiarkan kalian berdua?"


Davin: "Oh come on baby I'm not a good person who will let it all happen"


🍂🍂🍂


Kalimat yang diucapkan oleh Davin saat terakhir bercakap cakap dengan Velicia sungguh menjadi kenyataan.


Kalimat yang kemarin dia layangkan sebelum akhirnya bertolak menuju kota Jakarta di pagi hari yang menyebutkan bahwa dirinya bukan lah orang baik yang akan membiarkan Velicia berada dalam situasi yang hanya berdua dengan Evan saja.


Sungguh Davin tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi.


Bahkan Davin tak menghiraukan perkataan Velicia untuk pulang terlebih dahulu dari bandara menuju rumah orang tuanya, Davin malah bersikukuh ingin lekas mengakhiri hubungan yang masih dianggap oleh pria yang umurnya hampir sama dengan dirinya.


Davin ingin Velicia benar benar menjadi miliknya dan tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa wanita itu adalah milik pria lain selain dirinya.


Namun tanpa Velicia duga sebelumnya, Evan telah mempersiapkan segalanya. Segala bentuk penyambutan yang begitu hangat untuk kekasih yang masih dia anggap sama seperti dulu sebelum pergi meninggalkannya.


Velicia berada dalam situasi yang terlihat sangat canggung untuk mengatakan sesuatu saat melihat yang berada disekelilingnya.


Nuansa romantis yang begitu memanjakan mata, kelopak bunga mawar merah yang bertebaran disepanjang jalan yang dilewati oleh Davin dan Velicia membuat segurat perasaan timbul dari dalam diri Velicia.


Sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun sudah menjadi tradisi bagi Evan dan Velicia saat berpacaran dulu untuk selalu menyempatkan diri berkencan di tempat dimana untuk pertama kalinya mereka jalan berdua.


Kafe yang biasa dia gunakan untuk mengobrol satu sama lain, saling terbuka terhadap setiap masalah masing masing hingga membutuhkan solusi dari pasangan kali ini berbeda dari biasanya.


Hampir keseluruhan sudut yang ada diubah menjadi pemandangan baru. Tulisan kalimat selamat datang kembali pun menjadi kalimat pertama yang wanita itu lihat sebelum melihat kekasihnya yang berdiri tepat di depan kerumunan beberapa orang.


Beberapa orang yang diantaranya sangat ia kenal yaitu orang tua Evan dan juga orang tuanya sendiri.


Mereka tersenyum saat menyambut wanita yang dikira masih sama seperti dulu yang kini telah diikuti oleh sosok pria lain yang berjalan tepat di sampingnya.


Evan: "Kepulanganmu kali ini benar benar mengejutkanku Vei" sapanya dengan senyum merekah yang selalu menghiasi wajah tampan dan menawannya.


Evan: "Untunglah Davin memberitahuku terlebih dahulu, jika tidak mana sempat aku mempersiapkan ini semua" lanjutnya kali ini melangkah lebih dekat pada sosok wanita yang ia puja.


Velicia tetap diam dan masih begitu syok melihat setiap apa yang dia lihat.


Orang tuanya teman temannya bahkan orang tua Evan sendiri hingga dirinya tanpa sadar telah menghiraukan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Evan, pria yang kini berdiri di depannya.


Evan: "Terima kasih karna kau telah mengantar calon tunanganku dengan selamat dan tanpa lecet sedikit pun" ucapnya tulus pada pria yang hanya menunjukan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Velicia bingung dan mulai berfikir tentang ini


semua, apa maksud dari perkataan Evan?


Dia berterima kasih pada pria yang merebut kekasihnya?


Apa gadis ini tidak salah dengar?


Namun saat Velicia masih melalang buana dalam pemikirannya yang mulai menerka nerka.


Tiba tiba tanpa permisi atau tanda tanda, pergerakan dari pria di depannya membuat tubuh wanita itu terpundur sedikit ke belakang karna merasa terkejut olehnya.


Pria berkemeja biru cerah secerah langit di atas sana dengan jas hitam itu berlutut di hadapannya dengan sedikit mendongak dan berusaha meraih tangan kanan Velicia.


Evan: "Kau pernah berkata padaku, bahwa kau ingin dilamar dengan cara yang tidak biasa" ucapnya pertama saat Velicia masih saja diam.


Evan: "Kau juga ingin aku bekerja keras dalam mengejar cintamu dan mau untuk memahami mu. Harus selalu mengerti akan dirimu dan setiap apa yang ada pada dirimu termasuk pekerjaanmu yang telah menjadi impianmu" lanjutnya masih dalam posisi yang sama.


Evan: "Kali ini aku ingin mengatakan bahwa aku sanggup dan aku terima atas segala yang kau inginkan tanpa terkecuali"


Evan: "Semua yang kau ingin dan tak kau inginkan aku akan terus berusaha untuk menjadi seseorang yang berada di sampingmu dan menemanimu"


Perlahan mata indah itu mulai berkaca kaca, butiran butiran bening yang menghiasi atau mungkin lebih tepatnya mengotori pemandangan indah yang tertera pada wajah cantiknya.


Evan: "Jadi setelah sekian lama aku menanti, setelah sekian lama kita terpisah karna jarak dan komunikasi. Bisakah..


Evan: "Bisakah kita memulai awal yang baru dengan status yang baru pula?"


Evan: "Maksudku bisakah kau menerima lamaranku dan menjadi tunanganku?"

__ADS_1


Velicia tak tahan lagi untuk membendung air mata yang sedari tadi ia tahan.


Air matanya mengalir bersamaan dengan isak tangisnya yang terdengar pilu.


Dia menangis bukan karna bahagia, dia juga bukan menangis karna bingung harus menjawab apa.


Yang dia tangisi adalah..


Mengapa Davin begitu kejam pada Evan dan dirinya. Mengapa dia membuat sebuah situasi yang nantinya akan membuat sebuah luka untuk semua orang yang ada. Apa dia sengaja?


Tangannya yang dipegang oleh Evan ia tarik secara paksa membuat laki laki yang masih berlutut di hadapannya terheran sekaligus terkejut dalam waktu bersamaan.


Velicia: "Maaf kak" dua kata yang mampu dilayangkan oleh wanita itu tanpa melihat Evan yang berada di depannya.


"Veli sayang, apa maksud kamu? Nak Evan sedang melamar kamu apa kamu tidak tahu akan maksudnya?" ucap ibu Velicia.


Velicia: "Maaf kak Evan, maaf" ucapnya sekali lagi membuat semua orang merasa bingung akan tingkah aneh desainer muda itu.


Bagaimana seisi pengunjung kafe yang dikenalnya tidak merasa bingung. Pasalnya pasangan yang digadang gadang akan menjadi pasangan romantis yang telah membuat banyak kalangan pemuda pemudi diusianya yang mengenalnya merasa iri karna saling mengerti akan kesibukan masing masing dan saling percaya satu sama lain.


Kisah cinta antara Evan dan Velicia telah banyak diketahui oleh beberapa kalangan dari pihak rumah sakit milik ayah Evan bahkan beberapa teman seperjuangan Velicia dalam menitikan karirnya dalam segi desain gambar.


Dan kali ini bisa terlihat dengan jelas dari raut wajah Velicia, terlihat bahwa wanita itu sepertinya tidak akan menerima atas segala yang baru saja Evan katakan di depan semuanya.


Evan lantas langsung berdiri dan menjejerkan diri di hadapan Velicia yang masih saja dalam isak tangisnya.


Evan: "Jika kamu ada masalah, katakan saja" ucapnya membelai lembut puncak kepala Velicia.


Evan: "Jika aku harus menunggu lagi, maka aku akan melakukannya"


Evan: "Apa pun asalkan...


Velicia: "Tidak!" sahutnya langsung menghentikan perkataan Evan.


Tangannya menepis keberadaan telapak tangan pria itu yang masih saja setia berada di puncak kepalanya.


Velicia: "Tidak. Jangan pernah menungguku lagi" lanjutnya membuat Evan tiba tiba terkesiap.


Evan: "Apa maksudnya Vei?"


Evan: "Jika kau kecewa padaku karna lamaran ini menurutmu terlalu sederhana maka katakan saja. Maka aku akan melangsungkan lamaran yang kau inginkan"


Evan: "Aku kira dengan menggunakan tempat pertama kita berkencan maka akan lebih berkesan. Tapi jika kau tidak menyukainya maka aku akan menggunakan cara yang lain lagi"


Velicia: "Tidak. Jangan lakukan lagi, karna seberapa banyak kak Evan melamar ku pun jawaban ku akan tetap sama" ucapnya dengan nada perih saat mengucapkannya.


Evan: "Apa?! Kenapa? Kenapa bisa seperti itu?"


Evan meraih paksa kedua tangan Velicia, menggenggamnya kuat berusaha meyakinkan wanita itu akan kegigihan dan kesungguhan hatinya.


Velicia tak menjawab dan hanya terus saja menangis membuat seisi ruangan itu juga bingung dengan keadaan yang tengah terjadi, tentunya terkecuali satu pria yang sedari tadi hanya diam dan merasa bosan.


Evan: "Kenapa Vei? Kenapa?! Jawab aku" serunya ingin tahu akan kepastian.


Evan: "Kau sudah berjanji bukan bahwa kau akan menjawab secara langsung ajakanku bahkan tanpa menunda waktu. Kau sudah berjanji tidak akan menggantungkan perasaanku saat aku berusaha melamarmu. Tapi mengapa sekarang seperti ini?"


Bayangan akan ucapan bahkan sebuah janji yang pernah dia katakan pada Evan langsung muncul di dalam benaknya.


Bagaimana saat itu mereka tengah bercanda ria dalam sebuah mobil penuh dengan aura asmara yang saling mencintai satu sama lain.


Tapi apa yang harus Velicia katakan sekarang?


Apa dia harus bilang bahwa dirinya telah hamil dan akan menikah dengan saudaranya?


Apa itu adil untuk pria baik baik seperti Evan?


"Jika dia tidak ingin menikah denganmu, untuk apa kau memaksanya" kata demi kata keluar dengan lancarnya dari mulut seorang pria yang sedari tadi hanya diam tanpa ekspresi.


Davin: "Lagi pula sampai matahari bisa terbit dari barat, sampai gajah bisa bertelur bahkan sampai matahari timbul di kutub utara. Velicia sampai kapanpun tidak akan pernah menikah denganmu"


Davin: "Karna apa?"


Davin: "Karna kekasihmu ini akan menikah denganku. Menikah dengan pamanmu ini"

__ADS_1


Davin: "Jadi sebagai keponakan yang baik lebih baik jangan bersaing dengan pamanmu. Karna aku yakin ayahmu bapak Bagas Ariel Daynitra tidak akan keberatan jika putra kedua dari pamannya David Setya Mayndra menikahi kekasih dari putranya sendiri"



__ADS_2