
Setibanya Davin dan Velicia di rumah orang tua Velicia, Davin sama sekali tidak mendapat teguran atas tindakannya tadi pagi menjelang siang diacara yang dibuat khusus oleh Evan calon menantu yang didamba dambakan oleh kedua orang tua gadis itu pasalnya setiap tingkah dan perilaku pria yang mengaku telah menghamili putri dari keluarganya itu mampu menghentikan segala rasa kecewa dari sepasang suami istri yang kian menua.
Sikap perhatian Davin pada putrinya saat pertama kali datang dan memasuki rumah telah berhasil membuat ibu Velicia tak mampu berkata apa apa lagi atas segala perhatian Davin pada putri kesayangannya itu.
Bagaimana Davin berbicara secara tegas melarang putrinya menaiki setiap anak tangga seorang diri tanpa bantuan dari pria yang niatan awal hendak diusir oleh ibu Velicia.
Ibu Velicia pula menahan suaminya yang hendak menegur Davin bahkan hendak melaporkannya pada polisi karna telah lancang dan tidak bermoral karna menghamili putri mereka diluar nikah.
Melakukan pelecehan seksual serta menyekap putrinya beberapa hari hingga mengakibatkan putrinya hamil diluar nikah yang sama sekali tidak mereka berdua ketahui.
Karna setahu orang tua Velicia, putri yang mereka gadang gadang akan menjadi wanita sukses itu masih berada di Amsterdam sesuai dengan kabar yang terakhir mereka dapat dari putri mereka.
Namun tidak disangka apa yang mereka kira ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka duga.
"Kita harus melaporkan pria b*jingan itu ke pihak berwajib supaya dia tahu akan akibat dari apa yang dia perbuat" seru pria yang tak lain adalah ayah Velivia yang berdiri lumayan jauh dari dapur tempat Velicia dan Davin berada.
"Dan membiarkan putri kita mengandung dan membesarkan anaknya sendiri?" sela sang istri mengintropeksi akan perkataan suaminya.
"Semuanya sudah terjadi, kita mau melaporkannya pada polisi pun percuma yang ada putri kita yang dirugikan" lanjutnya berusaha memberi arahan pada suaminya.
"Lagi pula coba ayah lihat" serunya sambil memperhatikan kedua manusia yang sedang sama sama diam dari kejauhan.
"Pria itu tidak terlihat buruk untuk Veli kita, dia terlihat begitu perhatian dan sayang pada putri kita. Apa salahnya kita lihat terlebih dahulu, kedepannya kita serahkan pada Veli biarkan dia sendiri yang menentukan. Putri kita sudah dewasa ayah, dia pasti sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang menguntungkan dan mana yang membuatnya rugi, dia pasti sudah memikirkan semuanya" terang wanita yang sudah berumur itu menjelaskan akan maksudnya pada suaminya.
Pemandangan seorang pria tampan rupawan yang begitu telaten membuat segelas susu ibu hamil untuk putrinya itu sedikit menurunkan amarah yang tadinya membara dalam benak ayah Velicia.
"Baiklah ayah akan mengalah dan diam lagi hanya demi Veli, tapi jika Davin berniat hanya mempermainkan Veli maka bukan lagi penjara yang patut untuk menghukumnya. Ayah sendiri yang akan menghukum pria b*adap sepertinya"
🍂🍂🍂
Malam hari yang begitu panjang bagi Davin karna untuk pertama kalinya setelah menghamili Velicia dirinya harus pisah ranjang dari wanita yang telah lama ini selalu menghangatkan ranjangnya.
Rasa akan kehangatan itu lenyap begitu saja bergantian kesunyian karna dirinya harus tidur seorang diri dalam kamar tamu yang telah disediakan oleh ibu calon mertuanya.
Melarang Davin satu ranjang dengan Velicia sebelum resmi menikahi gadis itu meski telah terbukti mengandung anaknya tidak mengubah keputusan ibu dari wanitanya.
Rasa itu semakin bergejolak dalam diri Davin saat panggilan yang ia layangkan untuk calon istrinya itu sama sekali tidak mendapatkan respon.
Bahkan dirinya tak cukup sekali atau dua kali melakukannya, dirinya berkali kali melakukan panggilan keluar kepada wanita yang tak kunjung juga mengangkat panggilannya.
__ADS_1
Padahal jam di dinding masih terbilang belum terlalu larut, terlebih lagi Davin sudah mulai hafal sedikit demi sedikit kebiasaan Velicia termasuk tidur pukul sepuluh malam yang tak pernah berubah hingga kini.
Davin: "Kamu sudah tidur?" send.
Pesan singkat itu tak mampu menenangkan Davin kali ini karna belum juga mendapatkan balasan.
Davin: "Vei? Jawab pesanku atau aku akan datang ke kamarmu" send.
Pesannya lagi melalui salah satu aplikasi pesan yang banyak dipergunakan oleh semua kalangan.
Davin: "Kau sungguh sudah tidur?" send.
Davin mulai pasrah akan rasa penasarannya, ini adalah kali pertama Davin terpisah dari calon anaknya.
Davin benar benar merutuki keputusannya yang ingin tinggal di rumah calon mertuanya untuk beberapa saat.
Jika tahu akan seperti ini mungkin dirinya akan jauh lebih memilih tinggal disalah satu hotel terdekat batinnya saat mulai terbaring lesu.
Namun saat dirinya baru saja merebahkan tubuhnya, hendak menutupkan kelopak matanya untuk memperistirahatkan indra penglihatannya tiba tiba ponsel yang masih dia gengangam bergetar.
my wife
Dengan cepat Davin bangkit lalu duduk dan mengangkat panggilan dari seseorang yang sudah Davin tunggu sedari tadi.
Davin: "Halo? Vei?" sapanya langsung pada lawan bicaranya.
Bukan sebuah jawaban yang menyahut namun sebuah tarikan nafas yang begitu berat disertai suara ingus yang terdengar dari telinga Davin.
Davin: "Vei?!" kali ini nada suaranya mulai meninggi.
Velicia: "Aku mual dan memuntahkan semuanya" sahutnya lirih.
Davin: "Aku kesitu sekarang" ucapnya tanpa menghiraukan perkataan Velicia dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Tanpa menunggu lama, Davin langsung bergegas pergi dari kamar tamu yang berada di lantai satu menuju lantai dua tempat kamar calon istrinya berada.
Tak sulit bagi pria itu untuk mengetahui kamar wanitanya, karna tadi sebelum membiarkan wanita yang mengandung anaknya masuk ke dalam kamarnya Davin sempat melirik keberadaan kamar Velicia.
Dengan langkah cepat tanpa bersuara supaya tidak diketahui oleh calon mertuanya, Davin melangkah pasti menuju tujuan utamanya yaitu menemui Velicia. Wanita yang tidak lama lagi akan menjadi istri sekaligus ibu dari anaknya.
__ADS_1
Velicia: "Davin?" lirihnya saat baru saja mengelap ujung bibirnya menggunakan tisu saat Davin tiba tiba membuka pintu kamarnya yang lupa ia kunci, karna pada dasarnya Velicia sebelumnya tidak pernah mengunci pintu kamarnya saat tidur.
Davin: "Duduk duduk" perintahnya saat mendekat dan memapah Velicia untuk duduk di ranjang.
Velicia: "Vin kamu tidak..
Davin: "Aku kali ini tidak ingin mendengar apa pun dari mulutmu Vei. Bahkan jika orang tua mu marah padaku pun aku tidak perduli" ucapnya menyela perkataan Velicia.
Davin: "Karna aku lebih perduli akan janin dalam kandunganmu terlebih lagi aku perduli padamu. Aku tidak akan mentolerir setiap kesalahan yang akan membuat kamu dan calon anak kita dalam bahaya dan terluka"
Velicia: "Aku hanya mual dan itu wajar"
Belanya saat sikap Davin mulai membuatnya jengah.
Davin: "Mual bagi seorang wanita hamil memang wajar. Tapi apa wajar kamu melewati semuanya sendiri tanpa ada yang membantu, tanpa ada yang menemani?"
Velicia: "Aku bisa, lebih baik kau kembali ke kamarmu"
Davin: "Tidak" sahutnya kekeh dari keinginan Velicia yang hendak mengusirnya pergi.
Memang suatu kesalahan memberi laporan tentang kondisi dirinya pada pria yang sangat over protektif seperti Davin batin wanita itu menatap pria yang kekeh akan keputusannya.
Tahu akan seperti ini, lebih baik dirinya membiarkan saja segala pesan kekhawatiran yang Davin kirim padanya batin Velicia menyesali.
Velicia: "Aku bisa Vin"
Davin: "Kalau aku bilang tidak ya tidak"
Davin: "Bagaimana kalau nanti kamu mual lagi? Bagaimana kalau kamu terpeleset saat berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi? Bagaimana kalau mual kamu bertambah parah dan tidak ada yang berada disampingmu? Bagaimana kalau kamu membutuhkan sesuatu namun tidak ada yang bisa menolongmu?"
Davin: "Bagaimana? Huh? Bagaimana aku tanya?"
Serangan demi serangan dari perkataan Davin tak mampu membuat Velicia angkat suara untuk berbicara lagi.
Davin: "Aku tanya bagaimana? Ayo jawab?!" ucapnya menyudutkan wanita yang sudah benar benar pasrah.
Velicia: "Terserah kamu saja Vin"
__ADS_1