
"Apa yang kamu bicarakan tadi di belakang ku?"
Ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya Velicia dengar, begitu jengah dan membosankan namun tak urung dirinya selalu memberikan jawaban yang sama pada suaminya supaya pria itu tidak salah paham dan akan menimbulkan hal yang tidak ia harapkan.
Velicia: "Hanya perbincangan biasa" sahutnya masih sama saat acara yang baru saja selesai hanya memberikan rasa letih pada tubuhnya kali ini yang terbaring cukup lemas di samping Davin.
Davin: "Biasa itu yang seperti apa?"
Davin bukanlah tipekal manusia atau pria yang dapat terus bertanya tentang hal yang sama, karna dia akan mudah mengerti saat kali pertama mendengarnya.
Namun yang membuat Davin naik pangkat menjadi suami resmi Velicia ini geram pada istrinya adalah Velicia selalu diam saat ditanya tentang apa yang menjadi pembahasan yang membuat istri beserta keponakannya tadi berbincang hanya berdua.
Davin: "Kau tidak berniat berselingkuh dari ku dihari pertama kita menikah kan Vei?"
Velicia: "Kamu ini ngomong apa?!" sambarnya langsung saat Davin menuduhnya.
Velicia: "Aku memang belum mencintaimu tapi apa aku serendah itu hingga berpikir untuk berselingkuh darimu?"
Davin: "Maka cepat cintai aku" selanya langsung yang memaksa Velicia untuk melihat ke arahnya.
Velicia: "Kau kira mencintai seseorang itu mudah apa?!"
🍂🍂🍂
Velicia mengutuk mulutnya sendiri atas ucapannya tempo lalu saat menjadi malam pertamanya bersama Davin.
Mencintai seseorang memang tidak mudah dan pastinya membutuhkan waktu yang cukup untuk melonggarkan hati.
Namun sepertinya kalimat itu tidak layak diterapkan pada pria yang telah resmi sepekan ini menjadi suaminya.
Davin dengan segala pesonanya, Davin dengan segala perhatiannya, Davin dengan segala kasih sayangnya pada wanita yang mengandung anaknya, dan Davin dengan segala tingkah posessife dan otoriternya telah benar benar mampu membolak balikkan hati begitu pula dengan perasaan Velicia.
Hati dan perasaan yang dulu hanya dipenuhi dengan satu nama mantan kekasihnya kali ini hanya dipenuhi dengan nama ayah dari calon anaknya.
Tapi sayangnya itu masih terlalu awal untuk membuat Velicia mengakui sepenuhnya bahwa dirinya telah benar benar jatuh hati pada Davin.
Atau mungkin ini terlalu awal untuk mengungkapkan kebenarannya pada pria itu bahwa Velicia telah jatuh akan pesonanya.
Bagaimana mungkin Velicia tidak jatuh akan pesona pria yang kini telah dia anggap sebagai pria tertampan dalam hidupnya?
Kata dasar Davin dan perhatian adalah suatu gabungan yang sangat sering dirasakan oleh Velicia akhir akhir ini.
Bagaimana Davin tidak pernah telat mengatur menu makanannya.
Bagaimana manisnya pria itu saat berbicara pada buah hati mereka yang belum lahir kala Velicia sedang tertidur dan tidak sengaja mendengarnya.
Dan bagaimana dinginnya Davin saat Velicia tidak menuruti perkataannya namun itu masih terlihat menawan dimata Velicia.
Dan satu hal yang harus Velicia klarifikasi pada dirinya sendiri adalah, tentang apa yang dia pikirkan selama ini ternyata tidak benar adanya.
Pikiran tentang Davin, menikah dan hypers*ks adalah kesatuan yang sebenarnya tidak lah nyata.
Sering kali Davin menahan diri dari belenggu kenafsuannya yang tiba tiba muncul entah karna tidak sengaja melihat tubuh Velicia yang polos sehabis mandi atau terangsang sesuatu, namun Davin tidak pernah melakukan hal yang tidak dikehendaki oleh Velicia. Termasuk memaksanya dalam berhubungan, ini adalah satu poin terkecuali yang membuat Davin tidak memaksanya dan tidak menerapkan sikap otoriternya.
Velicia telah salah besar mengira Davin adalah seseorang yang haus akan s*ks selama ini, karna jauh dari penerawangannya memandang memang jika dipikir pikir ulang Davin bukanlah sosok yang Velicia gambarkan sebelumnya.
Namun kali ini ada hal besar yang benar benar mengganjal pada diri Velicia. Dalam sekejap rasa kagumnya tergantikan dengan rasa penasaran.
Rasa ingin sedikit lebih dimanja oleh Davin berkurang secara perlahan. Dan menyisakan tingkah Velicia yang mulai aneh saat didekati oleh suaminya sendiri.
Tapi itu bukan lah kesalahan Velicia sendiri, dia hanya seorang wanita yang sedang mulai jatuh cinta pada lelakinya.
Dia hanya sedang mencoba untuk membangun sebuah keluarga yang sesungguhnya, keluarga yang dipenuhi cinta dan kasih.
Dan itu semua secara perlahan membuat diri wanita yang tengah hamil muda itu menjadi goyah dan ragu.
Ada rasa sakit di dada Velicia saat pertama mendengarnya, meski tidak terlalu jelas namun sangat pasti.
"Kau mencariku?" sapanya langsung.
Velicia: "Iya" sahutnya ragu ragu beserta malu yang ikut meramaikan suasana hatinya saat bertemu dengan seseorang yang belum lama ia hubungi dari ponselnya.
"Duduklah.. ada apa kau mencariku?"
__ADS_1
Velicia pun ikut turut mendengarkan arahannya dan duduk tepat di ranjang milik lawan bicaranya, duduk bersebelahan dengan orang yang menjadi sosok yang pasti tahu akan segalanya.
Velicia: "Aku ingin bertanya tentang Davin kak" ucapnya masih sedikit ragu meski wanita cantik yang dikenal akan ramah tamah serta senyumnya yang begitu menawan tidak sama sekali menaruh kecurigaan.
Ada rasa syukur yang melekat pada diri Velicia saat Davin mengubah kontak yang ada pada ponselnya.
Sister
Yaitu id kontak yang tersimpan di ponselnya, kontak nomor handphone milik seorang wanita dengan tingkat kejeniusan yang setara atau mungkin telah melampaui suaminya.
Celine Veronica Mayndra
"Davin?" tanyanya balik dengan wajah heran akan ucapan Velicia.
Velicia: "Iya kak"
Celine: "Kau ingin tanya apa tentang Davin?" ucapnya dengan nada suara yang begitu ramah, sama persis dengan sosok wanita lain yang menjadi ibu mertuanya.
Velicia: "Aku langsung ke intinya saja ya, tidak apa apa kan?"
Celine: "Itu bagus. Aku juga bukan tipekal orang yang suka berbasa basi, langsung saja pada intinya" sahutnya menyetujui keinginan adik iparnya.
Velicia: "Sebelum aku..
Wanita berusia dua puluh empat tahun itu masih saja terdengar ragu untuk mengucapkan perihal tekanan yang mengganggunya akhir akhir ini.
Menginginkan sebuah jawaban pasti namun juga takut merasa tersakiti setelah mendengarnya.
Karna ucapan Davin masih saja menggema dalam pikirannya.
Atau kamu akan merasakan rasa sakit yang teramat jika kamu mengetahuinya.
Celine: "Ve?" panggilnya membuyarkan lamunan Velicia dari perkataan Davin tempo lalu saat mereka baru saja tiba di puncak Bogor.
Celine: "Apa yang mau ditanyakan tentang Davin?"
Tekad Velicia membulat dan berusaha meyakinkan diri bahwa dia pasti mampu menerima sebuah kebenaran. Kebenaran yang Davin bilang akan membuatnya sakit hati yang teramat karna telah mengetahuinya.
Velicia: "Aku tahu, sebelum aku Davin pasti memiliki banyak wanita. Namun aku masih tidak mengerti tentang dia..
Celine: "Kamu salah" selanya langsung menghentikan ucapan Velicia.
Celine: "Davin? Dan wanita? Adalah hal yang sangat bertolakan" lanjutnya membuat Velicia terperanjat karna merasa tidak percaya.
Davin dengan ketampanannya tanpa wanita?
Celine: "Sama hal nya dengan diriku"
Velicia: "Maksud kak Celine?"
Celine: "Sejak dulu semasa kami masih sama sama sekolah entah itu sekolah dasar atau bahkan telah sekolah menengah atas. Kami sama sama menjadi murid dengan tampang di atas rata rata. Davin yang tepat berada menjadi adik kelas ku menjadi incaran wanita wanita genit disetiap kemana saja dia pergi"
Celine: "Namun itu tidak cukup untuk dapat membuka hatinya. Dan aku pun sama dengannya. Kita sama sama menjadi anak yang giat belajar. Aku yang ingin menjadi nomor satu dan dibanggakan oleh daddy ku, begitu pula dengan Davin yang tidak ingin terkalahkan dan terus berusaha mencari perhatian mommy kita dengan bakat bakat luar biasanya"
Penjelasan yang dituturkan Celine sedikit lebih membuka mata Velicia, bahwa Davin adalah pria yang benar benar menyayangi mommy nya. Bukan hanya sekedar akting di depan orang lain saja.
Velicia: "Lalu? Apa sampai sekarang baru aku wanita yang dekat dengannya?"
Sambil mengingat ingat wanita berumur dua puluh tujuh tahun yang memiliki keterampilan yang sama dengan kepala keluarga Mayndra tiba tiba tersenyum getir dan bibirnya sedikit bergetar.
Celine: "Seseorang pasti memiliki masa lalu, begitu juga dengan Davin dan aku. Hanya saja, Davin bisa melewatinya meski butuh perjuangan dengan waktu yang lama. Sedangkan aku, aku masih berdiri di tempat yang sama"
Velicia: "Kak Celine jangan bersedih, pria tidak hanya ada satu di dunia ini" hiburnya merasa tidak enak hati.
Celine: "Aku tahu" jawabnya dengan senyumannya yang kembali.
Celine: "Namun meski pria di dunia tidak hanya ada satu, aku tidak yakin ada pria sepertinya lagi di dunia ini"
Kemurungan yang tiba tiba dialami oleh kakak iparnya semakin membuat Velicia tidak enak hati.
Mana tahu Velicia jika membahas tentang masa lalu Davin juga akan menyerempet pada kisah cinta kakak iparnya.
Velicia: "Bagaimana kalau kita bahas masa lalu Davin saja kak?"
__ADS_1
Velicia: "Kak Celine tahu seperti apa mantan kekasih Davin itu?"
Sekuat tenaga Velicia berusaha menarik perhatian kakak iparnya agar tidak hanyut dalam kesedihan masa lalunya yang harus terpaku pada pria yang belum menjadi jodohnya.
Celine: "Yang aku tahu.. dia seorang model, dia cantik dan dia mampu mengubah segala kepribadian Davin"
Model?
Velicia: "Kak Celine mengenalnya?"
Celine: "Hanya sekedar tahu, Davin dulu kerap membawanya main ke rumah untuk diperkenalkan dengan mommy"
Rasa sakit tiba tiba muncul begitu saja di rongga dada terdalam Velicia, begitu perih yang tidak terlihat namun begitu terasa.
Seperti itu kah suaminya dulu bersikap manis pada seorang wanita?
Bahkan dia mengajak wanita itu main ke rumahnya untuk di kenalkan kepada keluarganya?
Apa mungkin hubungan mereka telah begitu serius?
Velicia: "Lalu apa yang terjadi?"
Celine: "Yang terjadi?"
Celine: "Yang terjadi adalah Davin menjadi pria otoriter dan tidak suka dibantah. Davin menjadi pria dingin terhadap semua orang termasuk mommy kami. Ya! Davin menjadi seperti itu setelah putus dengannya. Atau lebih tepatnya dikhianati olehnya"
Velicia: "Maksudnya dikhianati.. Davin diselingkuhi?"
Celine: "Ya benar. Diselingkuhi di depan matanya, itu yang menjadi hal terakhir Davin terbuka padaku. Setelah itu aku tidak begitu mengenal Davin, adik laki laki ku yang dulu selalu bermain denganku"
Velicia mulai paham sedikit demi sedikit. Meski dirinya belum sepenuhnya menemukan titik terang dari jawabannya namun ini sudah lebih bagus dari pada tidak memiliki secercah kenyataan.
Celine: "Dari penuturan Davin kala itu, dia mengatakan bahwa Davin adalah pria polos dan membosankan. Tidak tahu cara bermain yang menyenangkan bersama seorang wanita. Davin juga dia anggap bodoh karna selalu percaya akan ucapannya. Dan membebaskannya melakukan hal yang disukainya"
Celine: "Sungguh aku sangat membencinya, dia telah merubah Davin yang hangat menjadi Davin yang begitu dingin bahkan terhadap keluarga dan juga pada saudara saudaranya sendiri"
Saat Celine terus berkicau akan amarahnya yang begitu terlihat, Velicia mulai merenungkan diri.
Jadi Davin bersikap dingin, kasar, dan tidak suka dibantah hanya semata mata agar aku tunduk akan kuasanya? Agar aku tidak bisa menginjak injak dirinya dan merendahkannya?
Velicia: "Kak Celine mengenalnya kan? Apa kak Celine masih ingat nama wanita itu?"
Celine: "Jelas aku masih ingat. Aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku"
Velicia: "Kalau boleh tahu siapa namanya?"
Celine: "Kau penasaran dengannya? Atau kau takut Davin berpaling dan kembali padanya?" Velicia hanya bisa diam.
Diam karna kedua pertanyaan itu sama sama benar adanya. Yang pertama dia begitu penasaran akan mantan kekasih suaminya. Yang kedua Velicia juga takut Davin akan kembali pada cinta pertamanya dan melupakannya begitu saja.
Celine: "Tenang jangan takut, aku berani bersumpah bahwa adikku tidak akan menerima dia kembali di hidupnya" ucapnya menyemangati dengan mengelus punggung Velicia.
Velicia: "Mengapa kak Celine bisa seyakin itu?"
Celine: "Aku juga tidak tahu sebabnya mengapa"
Celine: "Namun jika dilihat dari cerita Davin dulu, aku benar benar yakin bahwa Davin telah membencinya hingga tulang rusuknya. Aku juga tidak tahu dia berselingkuh dengan siapa, tapi Davin benar benar kecewa bahkan mengamuk kala itu"
Velicia: "Siapa nama wanita itu?" selanya sudah merasa tidak sabar.
Celine: "Kau benar benar ingin tahu?"
Velicia: "Ya" sahutnya cepat.
Celine: "Namanya Va...
"Apa yang sedang kamu lakukan disini Vei?!"
Velicia: "Dav..
"KELUAR!"
__ADS_1