Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 27


__ADS_3

Setelah perhelatan yang begitu singkat namun sangat bermakna bagi David karna sangat jarang dirinya bisa memuaskan hasratnya dikarenakan kondisi istrinya yang kian bertambah usia, kini David harus ditodong dengan berbagai serangan omongan omongan pedas dari istrinya yang sebelumnya baru saja bermesraan dengannya.


Mommy: "Mas David ini seorang ayah atau bukan?!" bentak wanita yang baru saja menyelesaikan acara mandi dimandikan.


Tak tanggung tanggung, Melliza langsung menyembur suaminya lantaran tak berusaha menegur putranya atas kesalahannya. Atau menghukumnya atas tindakan yang tak sepatutnya.


Melliza benar benar geram dibuatnya, bagaimana David malah memperkeruh dengan akan menikahi gadis yang diperkosa oleh putranya jika Davin tak ada niatan untuk serius dan hanya mempermainkan gadis yang masih dikurung oleh putranya itu.


Daddy: "Jelas mas seorang ayah, apa lima anak kita masih kurang membuktikan bahwa mas telah berstatus sebagai seorang ayah?" sahutnya sambil memilah baju dalam lemarinya.


Mommy: "Jika mas David adalah seorang ayah seharusnya mas tidak membiarkan Davin berbuat seperti itu kepada anak gadis. Bagimanapun gadis itu juga memiliki orang tua, apa yang akan dipikirkan oleh mereka mengenai putra kita? Apa mas tidak berpikir bahwa kita dianggap telah gagal mendidik putra kita?" ucapnya panjang lebar yang tengah duduk di atas ranjang tepat berada di belakang suaminya berdiri.


Daddy: "Lalu maksud Clara mas harus menghukum Davin dan melepaskan gadis itu?" tanyanya balik dengan menghadap ke arah istrinya berada.


Melliza diam, tapi tak urung dirinya kembali mengutarakan isi pikirannya.


Mommy: "Aku dan mas David selalu berbeda dalam hal mengurus dan mendidik anak anak kita, mas selalu memiliki cara mas sendiri. Tapi mas.. jika cara mas David kali dengan mendukung yang dilakukan oleh Davin, aku tidak setuju"


Mommy: "Apa mas tidak berpikir? bagaimana jika yang di posisi gadis itu adalah Celine, Viana atau bahkan Kanya. Apa mas sebagai ayah akan terima kalau putri putri kita ada yang diperlakukan sama seperti gadis yang disekap oleh Davin?"


David hanya diam dan mendengarkan segala keluh kesah istrinya yang sedang menumpahkan apa yang berada dalam isi hatinya, rasa khawatirnya pada anak anak mereka membuat David bersyukur karna telah benar menunjuk seorang wanita yang tak hanya sanggup menemani masa tuanya bersama, namun juga sanggup membesarkan anak anaknya dalam sebuah kasih sayang dan perhatian yang tak ada batasnya.


Mommy: "Mommy takut dad.. mommy takut Davin hanya bermain main pada gadis itu. Bagaimana jika dia hanya ingin merusaknya lalu meninggalkannya?" ada segurat kesedihan dan rasa khawatir yang melingkupi raut wajahnya.


Daddy: "Sayang?" belainya lembut pada bagian kepala belakang istrinya.


Daddy: "Bukankah Clara lebih mengenal Davin dari pada yang lainnya?"


Daddy: "Bukankah Davin putra mas? apa dia akan perbuat seperti itu?" ucapnya sayang memeluk istrinya yang masih terduduk berusaha menenangkan.


Daddy: "Dan lagi, dia itu sama seperti Clara. Egonya tidak boleh tersentuh, apa menurut Clara dia akan biarkan daddy nya menikah lagi secara diam diam tanpa diketahui pihak luar? itu tidak akan pernah dia biarkan, karna dia sangat tahu bahwa daddy nya hanya milik mommy nya seorang"


Perkataan David yang panjang lebar berhasil menjernihkan pikiran pikiran Melliza yang sebelumya sangat kalut.

__ADS_1


Tapi tetap meski telah berusaha ditenangkan, seorang ibu mana yang akan hanya diam saat putranya melakukan sebuah kesalahan yang tak termaafkan.


Mommy: "Jadi maksud mas David kita juga harus diam dan tak berbuat apa apa saat anak gadis orang disekap oleh putra kita Davin?"


Daddy: "Clara sayang.. seharusnya kita bersyukur karna apa?"


Daddy: "Karna Davin tidak tertutup pada kita, dia dengan sengaja membawa gadis itu pulang kerumah dan mengurungnya di dalam kamar"


Daddy: "Coba kalau dia tidak terbuka dan jujur pada kita? mungkin kita tidak akan pernah tau bahwa Davin menyekap gadis dan memaksanya untuk hamil anaknya"


Kalimat terakhir itu benar benar menyadarkan ibu lima anak itu. Dan disaat yang bersamaan Melliza mungkin seharusnya lebih mendekatkan diri pada putranya supaya putranya Davin bisa lebih terbuka lagi dan memperbolehkan Melliza bertemu dengan gadis yang disekapnya. Atau alih alih Davin akan membebaskan gadis itu.


🍂🍂🍂


Malam menyapa dan Velicia yang tadinya berniat tak ingin berbicara lagi pada pria yang masih saja mengurungnya harus mengurungkan niat awalnya.


Velicia: "Dimana koperku?" tanyanya datar tak ingin melihat ke arah pria yang sedang mengedit sebuah gambar di layar monitornya.


Davin: "Tidak ada" sahutnya tak kalah singkat dengan masih menggerakkan tangan kanannya pada sebuah mouse yang menjadi penunjuk posisi kursor atau pointer pada layar monitor dengan pandangannya yang fokus pada layar komputer.


Davin: "Dan jawaban ku tetap sama" sahutnya lagi tak mau menghiraukan.


Velicia: "Davin?!!" bentaknya yang membuat Davin langsung berbalik arah dari duduknya dan langsung menghadapnya.


Davin tertegun dalam diamnya saat tubuh tanpa penutup bahan yang layak pakai itu menutupi bagian bagian pokok yang Davin sukai.


Tubuh yang terlihat segar karna sehabis tertimpa air.


Seutas handuk yang biasa dia pakai menjadi penghalang antara indra penglihatannya dengan bagian pokok yang baru tadi sore dia sapa dengan suka rela.


Dua tanda merah keunguan yang berada di perpotong leher dan dada sebelah kanannya membuat Davin tersenyum melihatnya.


Davin terkekeh bahkan menyandarkan dirinya sambil terus memperhatikan tubuh itu yang masih setia berdiri di depannya.

__ADS_1


Velicia: "Apa yang kau lihat?!" bentaknya lagi tapi tak mau menatap Davin juga.


Davin: "Apa lagi selain tubuh calon istriku"


Velicia membuang nafasnya kasar merasa jengah begitu pula jijik yang begitu mendalam.


Velicia: "Dimana koperku Davin!" katanya lagi kali ini yang sudah tidak sabar.


Davin: "Tidak ada, berapa kali lagi aku harus menjawabnya"


Velicia: "Bagaimana bisa tidak ada? tadi siang saat pertama masuk ke kamar mu jelas jelas ada disitu bahkan aku ingat terkahir kali aku melihatnya sebelum mandi. Bagaimana mungkin sekarang tidak ada?" terangnya sampai menunjuk dan menerangkan keberadaan kopernya sebelumnya.


Davin: "Bagaimana bisa tidak ada? Ya karna aku buang" sahutnya enteng membuat Velicia ternganga dibuatnya.


Velicia: "Dibuang?!" katanya terkejut.


Velicia: "Kau baru saja mengatakan bahwa koperku dibuang? Iya?!" katanya berusaha memastikan.


Davin: "Hmm"


Velicia: "Kau gila?! lalu bagaimana dengan pakaianku?"


Davin: "Aku tidak perduli"


Velicia sudah cukup muak kali ini, selain dirinya dikurung oleh pria haus s*ks seperti Davin, ponselnya juga entah hilang kemana semenjak sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Dan sekarang koper yang berisi beberapa pakaiannya juga tidak ada bekasnya sekarang.


Velicia: "Kalau begitu belikan aku baju baju baru" celetuknya memaksa.


Davin: "Aku tidak mau"


Velicia: "Kau!!!"

__ADS_1


Davin: "Tidak usah malu seperti itu, di kamar ini cuma ada kita berdua. Kau bisa bebas leluasa tanpa menggunkan baju aku tak keberatan sama sekali. Kau juga bebas meminta padaku jika ingin ditiduri, itu akan lebih baik dan lebih cepat membuat mu mengandung. Akan lebih baik jika kau belajar ikut menikmati jadi aku bisa mendalami peranku dalam memperkosamu"



__ADS_2