Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 67


__ADS_3

Velicia terkejut akan tindakan Davin yang tidak seperti sebelumnya.


Bukan seperti Davin yang dingin kala memaksa kehendaknya atau Davin yang acuh padanya karna tidak mengingat dirinya.


Kali ini Davin benar benar seperti orang lain di hadapan Velicia, berbau alkohol pekat dan berbicara sendiri. Tersenyum saat melihat Velicia bahkan dirinya dipeluk erat beberapa kali oleh Davin yang tengah mabuk.


Davin: "Kenapa kau masih menggunakan celana" rengeknya bak seorang anak kecil.


Davin: "Ayo buka! Aku ingin melihatnya" lanjutnya yang hendak memaksa Velicia membuka celana piyama tidur panjangnya.


Velicia yang tidak bisa menolak langsung saja menuruti keinginan dari suaminya dan melepas semua pakaiannya tanpa terkecuali.


Menampilkan tubuh polosnya pada pria yang dulu selalu mempermainkan tubuhnya dalam gelora nafsu yang membara.


Dan karna kepolosan itu lah,Davin lantas langsung mendekap dan menggulingkan Velicia untuk bisa terbaring di bawahnya.


Davin: "Semua ini milikku bukan?" katanya penuh makna saat tangan kanannya mulai bekerja dengan semestinya.


Wanita yang ditanya tidak bisa langsung memberikan jawaban. Dirinya dirundung rasa heran begitu pula senang saat Davin bermain manja dengannya.


Memainkan hal yang biasa pria itu rutin lakukan saat sebelum tidurnya dulu.


Davin: "Sayang?" panggilnya menarik kembali perhatian Velicia dari kenangan masa itu.


Davin: "Ini semua punyaku bukan?"


Velicia: "Iya" sahutnya menatap Davin yang memperlihatkan binar matanya.


Velicia: "Semua yang ada di tubuhku milik mu"


Velicia yang merasa gemas akan tindakan Davin lantas langsung saja menyambar bibir yang telah lama tidak ia sapa.


Mencicipinya kembali dengan penuh kelembutan dan ingin menyalurkan rasa bahwa dirinya kali ini telah benar benar jatuh cinta pada lelaki itu.


Velicia: "Aku mencintaimu Vin" lirihnya saat bibir itu baru saja terlepas.


Sedangkan lawan bicaranya hanya tersenyum lalu kembali menautkan bibir mereka kembali. Lebih menggairahkan bahkan lebih panas dari sebelumnya. Membuat Velicia sedikit tertatih untuk mengimbangi nafsu suaminya.


Davin: "Aku tahu" bisiknya.


Davin: "Dan aku juga sangat mencintaimu"


Setelah mengatakan itu, Davin mulai melakukan aksinya. Berusaha memasukan benda yang telah lama terpisah dari sarang aslinya.


Dirinya berusaha untuk mendapat kenikmatan disetiap sentuhan yang saling bertemu antara kulit panas Davin dengan kulit lembab Velicia yang sebentar lagi akan menyatu dalam kenikmatan.

__ADS_1


Davin: "Apa aku boleh melakukannya sesuai yang aku inginkan?" ijin nya terlebih dahulu saat puncak kepala itu telah menusuk hal yang membuat tubuh Velicia serasa melambung dalam rasa nikmat yang telah lama tidak ia rasakan.


Velicia: "Sesuai keinginanmu tuan muda" sahutnya yang sudah siap siap dengan membuka lebih lebar lagi kakinya supaya Davin lebih mudah mengekspos tubuhnya.


Davin: "Berjanjilah untuk tidak mengeluh, dan menghentikanku saat aku belum merasa puas" katanya lagi masih menahan diri belum masuk seutuhnya.


Dan karna itu Velicia hanya bisa mengangguk anguk mengiyakan keinginan Davin.


Davin: "Aku semakin mencintaimu honey" ucapnya seiring dorongan kuat yang membuat tubuh Velicia melenguh karna harus menerima milik Davin secara tiba tiba.


"Ahh"


Davin: "Kau selalu nikmat sayang, selalu cantik seperti biasa dan aku semakin bertambah mencintaimu.. ahh.. Vallen"


Rasa nikmat itu hilang begitu saja saat nama seseorang keluar beriringan dengan geraman Davin yang terus menumbuk Velicia.


Menumbuk bertubi tubi bahkan mencoba menyentuh hal yang tidak bisa disebut biasa dalam diri Velicia.


Tak terasa air mata Velicia mengalir karna rasa perih yang kasap mata. Tak terlihat namun sangat menyakitkan.


Bagaimana bisa Davin melakukannya dengan Velicia namun menyebut nama wanita lain yang menjadi kakaknya.


Karma hidup apa lagi ini?


Pria itu perlahan melambatkan pergerakannya namun masih tidak ingin menghentikannya.


Davin: "Apa sakit? Tapi aku belum ingin mengakhirinya"


Davin: "Bukankah sebelumnya kau sudah janji tidak akan mengeluh dan menghentikanku?"


Velicia semakin gencar dalam tangisnya. Tapi tak urung dirinya tersenyum kembali meski air mata tidak bisa dibohongi dan meraih tengkuk Davin, menariknya untuk mendekatkan bibir mereka.


Velicia: "Lakukan saja hingga kau puas, tapi tolong jangan banyak bicara"


Velicia: "Karna ada beberapa kalimatmu yang membuatku terbang dan ada pula beberapa kata yang membuatku jatuh terpuruk"


Davin yang sudah tidak tahan, sama sekali tidak menanggapi perkataan Velicia. Dirinya terus berusaha memanjakan malamnya dengan Velicia yang tertindas di bawahnya.


Menumbuknya bertubi tubi dan menyemburnya berkali kali hingga Velicia semakin lama semakin lemas karna ulah Davin yang belum kunjung jus mau berhenti.


Meninggalkan jejak cairannya disekitar milik Velicia, menimbulkan aroma yang lebih pekat bahkan saat Davin terus berupaya memasukan benihnya dalam rahim Velicia.


"Ahh.. Vin"


Davin: "Enak?"

__ADS_1


"Ahh.."


Davin: "Enak bukan?"


Velicia: "Ehmm.. iya enak"


Davin yang terus menusuknya dari berbagai sisi, dari berbagai gaya hingga seisi ruangan itu hanya dipenuhi desahan mereka berdua membuat Velicia melambung berkali kali karna semburan Davin yang tidak ada hentinya.


Davin: "Kau ingin hamil bukan?"


Davin: "Maka aku akan melakukannya untukmu Vallen ku sayang"



🍂🍂🍂


Velicia membeku dan tersenyum kecut saat mendapati tempat tidurnya kosong tak berpenghuni lagi.


Teman ranjangnya semalam telah pergi dari tempat sewajarnya pada sebuah tempat asing yang tidak dikenal oleh Davin sendiri.


Belum lama Velicia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari aroma pekat milik suaminya semalam, tapi kini Velicia harus menerima kenyataan bahwa Davin telah kembali pada tempat yang bukan semestinya.


Dan sejak saat itu, Velicia mulai sulit untuk bisa melihat Davin.


Davin mulai menjauh darinya, mengurangi segala kesempatan yang dapat mempertemukan mereka berdua dalam rumah yang sama.


Dan karna itu pula, Velicia mulai terbiasa untuk melawan sang kakak. Mulai berani menunjukan taringnya sebagai nyonya pemilik rumah yang sebenarnya dan bersikap masa bodoh saat kakaknya berusaha memprovokasi perasaannya terhadap Davin.


Akan tetapi.


Setelah tiga minggu berlalu, setelah hari hari yang ia lewati tanpa melihat Davin. Kini dirinya mendapat dua berita besar dalam hidupnya.


Kedua berita yang menghempaskan Velicia pada rasa bahagia dan rasa kecewa yang tidak berkesudahan sampai kapanpun itu.


"Aku hamil Vin! Aku hamil!" pekik suara lain namun bukan Velicia dengan sangat girangnya.


Davin: "Benarkah?" suara yang menimpali pun terdengar ikut bahagia.


Saat kedua orang itu berbahagia dengan kehamilan yang tidak diharapkan oleh Velicia, Velicia hanya bisa berdiri di ambang pintu dengan sebuah benda kecil yang menunjukan dua garis merah kecil.


"Haruskah aku pergi karna kehadiran anak yang dikandung kakakku?"


"Atau aku harus bertahan karna anak yang berada dikandungku?"


__ADS_1


__ADS_2