
Hampir semalaman Velicia tidak bisa tidur, bukan karna keberadaan Davin melainkan titisan Davin yang berada dalam kandungan Velicia.
Entah dirinya salah memakan sesuatu atau mencium aroma yang tak cocok dengan hidungnya, tapi mual yang tak berkesudahan tadi malam benar benar menguras habis tenaganya.
Keberadaan Davin semalam yang awalnya tidak diinginkan oleh Velicia pun akhirnya membuatnya bersyukur meski dengan adanya Davin semalam dirinya juga merasa terganggu akan segala kemauan ayah dari calon anaknya yang tidak boleh dibantah sama sekali.
Davin: "Vei.. ayo bangun"
Elusan lembut pada lengan sebelah kirinya begitu pula dengan bisikan halus yang diberikan pria yang semalam tidur bersamanya membuat tubuh Velicia hanya menggeliat merasa terganggu.
Merasa belum cukup akan tidurnya yang belum lama ini karna dirinya baru bisa tertidur setelah pukul dua dini hari.
Davin: "Ayo bangun"
Davin: "Kamu lupa yang dikatakan sama dokter kemarin" lanjutnya lagi masih terus berusaha.
Velicia tetap diam dan melanjutkan tidurnya yang sudah benar benar nyaman.
Davin: "Vei?!"
Velicia masih tetap diam dan malah lebih mengeratkan selimut yang membalutnya supaya semakin naik ke atas.
Davin: "Kamu tidak mau bangun juga aku terobos nanti kamu!" Davin mulai hilang akal untuk membangunkan wanitanya yang tak kunjung bangun dari tidurnya.
Mulai dari cara lembut supaya tidak membuatnya terkejut, atau mengusiknya perlahan dan Davin pula sudah memanggil manggil namanya beberapa kali sedari tadi namun calon istrinya itu tetap saja menutup telinga dan matanya rapat rapat.
Seolah tak mau menghiraukan apa yang dikatakan oleh Davin dan apa yang diperintahkan untuknya.
Namun setelah mendengar satu kalimat yang baru saja Davin lontarkan itu, membuat Velicia menarik sedikit kesadarannya namun masih dengan mata tertutup sempurna.
Velicia: "Terobos saja kalau kamu mau, tapi jika terjadi sesuatu itu bukanlah salah ku" katanya menyahut dari balik selimut.
Davin yang tertarik akan perkataan Velicia, membuat pria yang awalnya bersikap lembut lantas berubah menjadi pria dingin yang terdengar menyeramkan.
Davin: "Bangun" katanya dingin dengan menyibakkan selimut dan menarik bahu Velicia paksa.
Velicia yang tadinya sudah akan menyeberang ke sisi dunia lain dalam alam bawah sadarnya tertarik secara paksa saat Davin menarik bahunya dengan tiba tiba.
Pergerakan tiba tiba itu membuat Velicia terkejut dan entah mengapa menjadi ingin menangis.
Gadis yang tengah hamil muda itu menangis bak anak kecil yang merasa terkejut terlebih lagi wajah Davin yang memancarkan aura dingin dan tak bersahabat membuat Velicia semakin tak tahan untuk merengek dan menangis sejadi jadinya.
Davin: "Kenapa menangis?"
Davin mengernyit heran, pasalnya wanitanya menangis bahkan terlihat seperti anak kecil yang tertindas dan tersakiti.
Sangat berbeda dengan wanita yang dulu terlihat tegar dan selalu menahan diri untuk tidak menunjukan segala ekspresi yang dia rasakan dihadapan Davin.
__ADS_1
Velicia: "Kenapa kau sangat kasar!" pekiknya dari sela tangisannya.
Velicia: "Aku ini mengandung anakmu tidak bisakah kau berhenti berperilaku buruk terhadapku? Tak bisakah kau menjadi lembut terhadapku dan tak suka memaksa ku?" keluhnya yang telah duduk dan mendorong dada Davin supaya menjauh darinya.
Davin: "Aku sudah membangunkanmu secara perlahan tapi kau malah menulikan telingamu dan mengabaikanku"
Velicia: "Dan karna aku belum juga mau bangun kau langsung hilang kesabaran? Iya?!"
Velicia: "Kau kira aku menginginkan posisiku yang saat ini?" katanya masih dengan mata sembabnya.
Velicia: "Tidak Vin. Tidak!" serunya.
Velicia: "Kau kira menjadi wanita hamil itu mudah? Kau tahu bukan semalam aku tidur jam berapa karna anakmu ini"
Karna sebuah perasaan aneh yang melingkupi diri Velicia, antara sedih bercampur amarah yang ingin dilontarkan membuat Velicia mulai hilang kendali.
Dirinya tanpa sadar menepuk nepuk perutnya tepat di tempat calon anaknya berada dengan cukup sangat kuat.
Davin yang melihat lantas menghentikannya dan langsung memeluknya erat dalam dekapannya.
Davin: "Maaf" katanya begitu lirih yang menenggelamkan wajahnya diantara perpotongan leher Velicia.
Velicia: "Apa kata maaf mu bisa mengurangi rasa mual yang terus menghantamku? Apa kata maaf mu yang terlambat ini dapat membuatku menerima semua yang pernah kamu lakukan?"
Davin: "Untuk pertama kalinya aku memohon pada seorang wanita..
Davin: "Aku mohon terima aku dan anakku dalam hidupmu" lanjutnya.
Velicia: "Kalau aku menolak dan tidak mau menerima kalian?"
Davin tersenyum dan menyeka setiap air mata yang membasahi wajah wanitanya.
Mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.
Davin: "Kau tidak akan bisa menolak. Karna kau tidak memiliki pilihan lain"
Velicia menampik tangan Davin yang masih berada di wajahnya, menatap lekat pria yang juga duduk menghadap ke arahnya.
Davin: "Ayo bangun dan ganti bajumu" perintahnya yang sudah turun dari ranjang.
Velicia: "Aku tidak mau" bantahnya kembali dan merebahkan diri.
Davin: "Vei kamu harus berjemur" katanya lagi.
Velicia: "Aku tetap tidak mau" kali ini wanita itu bersembunyi dan meringkuk dalam selimutnya.
Davin mulai menahan diri supaya tidak kehilangan kesabarannya kembali.
__ADS_1
Dengan paksa namun tak berniat bersikap kasar pada wanitanya, dia menarik selimut dan mendudukan Velicia supaya bangun.
Velicia: "Aku tidak mau berjemur" serunya saat Davin hendak menggendongnya.
Davin: "Kamu harus berjemur sekarang, matahari pagi bagus untukmu dan juga calon anak kita"
Velicia: "Tidak untuk sekarang, masih ada hari besok lusa bahkan masih banyak hari lain yang akan datang" tolaknya masih kekeh.
Davin: "Bagaimana kalau besok mendung? Bagaimana kalau lusa turun hujan? Bagaimana kalau sudah terbiasa tidak berjemur bahkan untuk hari hari berikutnya kau jadi malas untuk berjemur?"
Velicia: "Tapi aku masih mengantuk. Kau tahu tidak?!" serunya sambil mendongak saat Davin terus saja berusaha hendak menariknya perlahan.
Davin: "Kau bisa tidur sepuasmu setelah berjemur, mandi dan sarapan pagi" bujuk Davin.
Velicia: "Aku tetap tidak mau"
Davin menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha hendak menggendongnya lagi namun secara paksa untuk paling tidak supaya Velicia cuci muka.
Namun Velicia yang telah siap akan penolakan, dengan sigap mendorong tubuh Davin supaya menjauh.
Davin yang berusaha memaksa dan Velicia yang terus menolak.
Penolakkan yang terus mendorong Davin untuk pergi menjauh.
Tapi karna pergerakan Davin yang tak menentu dan Velicia yang semakin menunduk membuat arah tangannya jauh dari yang awalnya menjadi tujuan.
Sikap Davin yang tiba tiba diam mematung pun menarik perhatian Velicia.
Davin yang terpejam dengan nafas yang sedikit terpenggal membuat Velicia semakin lekat menatap wajahnya.
Davin yang tiba tiba meringis dan seketika membuka matanya langsung bersirobok dengan pandangan mata Velicia.
Namun entah mengapa mata yang sekilas melihat wanitanya beralih turun ke bawah. Ke tempat suatu benda yang berhasil membuat sebuah gumpalan darah dalam rahim Velicia, benda yang kini tiba tiba bangun karna tertekan oleh telapak tangan Velicia yang tadi berusaha mendorongnya.
Dan karna tingkah Davin itu pula Velicia ikut melihat ke arah pandangan mata Davin.
Tonjolan yang begitu ketara dari balik celana pendek tidur pria yang semalam membantu menjaganya.
Semakin menjulang dan semakin membuat Velicia terkesiap akan rasa yang tiba tiba membuat jantungnya berdetak cepat.
Davin lantas menatap Velicia kembali yang juga sedang memperhatikan tubuh bagian lain dari dalam dirinya.
Seketika itu pula Davin langsung beralih dan berjalan menuju kamar mandi.
Davin: "Ya sudah kalau kau masih mengantuk, lanjutkan saja tidurmu. Aku ada urusan lain jadi harus pergi untuk mandi terlebih dahulu"
__ADS_1