
Amsterdam
Nama kota yang berasal dari kata Amstelredamme merupakan asal usul kota ini, yaitu sebuah bendungan di sungai Amstel.
Awalnya dihuni oleh penduduk desa nelayan kecil pada akhir abad ke dua belas. Tapi sekarang telah menjadi salah satu pelabuhan terpenting di dunia selama masa keemasan Belanda.
Dan disinilah Davin sekarang, setelah melalu begitu lamanya perjalanan yang dia tempuh akhirnya sampai juga ditujuan utamanya.
Davin yang telah melakukan perjalanan secara mendadak bahkan sampai tidak memberi tahu terlebih dahulu pada keluarganya termasuk pada mommy nya langsung melenggang pergi meninggalkan adik bungsunya bersama rombongan yang tadinya membawanya di bandara internasional Changi Singapore.
Davin berupaya waktu itu untuk mendapatkan tiket penerbangan tercepat yang tidak begitu beda jauh jam terbangnya dari wanita yang dikejarnya.
Meski harus berselisih berjam jam dari penerbangan sebelumnya, tapi itu tidak mengurungkan niat Davin untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
Karna setelah mengetahui bahwa wanita itu akan melakukan perjalanan menuju salah satu kota yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO, Davin pun langsung bergerak cepat. Bahkan dirinya langsung meminta secara pribadi pada kakak perempuannya Celine untuk datang ke Singapore dan memaksa untuk bersedia menggantikan posisinya sebagai wali murid dari Kanya adiknya.
Bukan Davin namanya jika belum mempersiapkan rencana dan strategi. Termasuk dalam hal ini, hanya orang bodoh dan ***** yang akan langsung pergi ke negara yang bahkan sangat teramat jauh hanya demi mengejar pujaan hatinya yang sedang merajuk tanpa mempersiapkan amunisi terlebih dahulu.
Davin bahkan sengaja membeli ponsel baru sebelum akhirnya bertolak dari negri Singa menuju negara yang kerap menjadi salah satu list yang wajib dikunjungi saat bertamu di benua Eropa ini.
Davin: "Bagaimana?" sapanya langsung saat seseorang tiba tiba datang menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Kau sangat tidak sabaran Davin, benar benar tidak berubah sedari kita masih duduk dibangku sekolah" sahut pria yang seumuran dengan Davin.
Davin: "Apa kau sudah menyelidiki apa yang aku minta kemarin?" tanyanya saat langkah mereka mulai keluar dari Bandar Udara Internasional Schiphol dan memasuki salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari pintu keluar yang telah disediakan oleh pria itu.
"Tentu. Untuk sahabatku apa yang tidak" sahut pria itu sambil tertawa saat mereka baru akan memasuki sebuah mobil berwarna putih.
Davin: "Jadi?" Davin mulai menuntut sebuah jawaban pasti.
"Haarlem.. dia berada di Haarlem, dia telah menetap selama kurang lebih satu bulan. Tinggal disebuah rumah sewa khusus dan bekerja sebagai perancang busana. Namanya cukup terkenal ternyata di kota ini, sungguh aku tak tahu bahwa wanita mu itu adalah seseorang yang sangat berbakat"
Haarlem..
Sebuah kota di bagian Belanda yang menjadi ibu kota dari provinsi Noord Holland.
Davin menatap setiap bangunan demi bangunan yang dia lewati bersama teman kuliahnya dulu.
Bangunan yang memang dirancang khusus untuk memanjakan sepasang mata manusia saat melihatnya.
"Tapi Vin, ada satu hal yang harus kamu ketahui. Entah ini benar atau tidak tapi sepertinya semenjak kembalinya dia kemari ada beberapa orang yang kerap mondar mandir didepan rumah sewanya. Jika dugaanku benar, sepertinya dia memiliki keamanan khusus untuk melindunginya. Tetapi saat aku menyelidiki latar belakangnya, dia bukanlah tipekal orang yang suka memakai jasa keamanan seperti itu. Dan lagi, hari hari sebelumnya memang tidak pernah menggunakannya dan wanita itu sepertinya baru baru ini memakai jasa keamanan" terang temannya yang masih mengemudi dengan pandangan yang fokus pada jalanan yang mereka lewati.
Davin terkekeh dan tersenyum kecut saat mendengar penjelasan temannya.
__ADS_1
Mungkin dalam hatinya, dirinya tak percaya bahwa Velicia telah tahu bahwa Davin akan datang dan mengganggunya lagi, sehingga dirinya telah memprediksikan segala kemungkinan yang akan terjadi hingga harus menyewa jasa keamanan segala.
Davin: "Terima kasih atas informasinya. Kau benar benar teman sejati Josh"
"Tenanglah.. aku ini sahabatmu, meski kita bertemu tidak dalam jangka waktu lama. Tapi kau sungguh adalah seorang sahabat yang aku impikan, benar benar suatu keajaiban bisa berteman dengan seorang pemuda berbakat sepertimu. Terlebih kau tak banyak menjalin hubungan baik dengan teman teman kuliah kita dulu, jadilah aku merasa bahwa aku adalah yang paling beruntung telah diangkat olehmu menjadi seorang sahabat"
"Jadi kau akan ikut tinggal bersamaku atau kau memiliki rencana lain?"
Davin: "Aku memiliki rencana lain, turunkan saja aku dengan jarak sepuluh meter dari rumah sewanya. Untuk selanjutnya aku urus sendiri" sahut Davin menolak tawaran temannya yang mengajaknya tinggal bersama.
"Kau serius Vin?" tanya temannya lagi karna merasa kurang yakin.
Davin: "Tentu. Tenang saja"
Setelah diantar ketempat tujuan sebenarnya, yaitu sebuah lingkungan ramah tamah yang tak jauh dari kota, tersuguhkanlah mata Davin dengan masih berjejer rapihnya pepohonan yang tidak begitu besar tapi sedap untuk dipandang. Terlebih lingkungan yang bersih dan terlihat nyaman untuk dihuni.
Sungguh ini memang sangat layak untuk Davin huni, salah satu kriteria manusia yang memiliki tingkat kebersihan dan kedisiplinan tinggi seperti seorang Davin.
Davin bahkan tak mengulur waktu lagi untuk menyewa sebuah rumah kecil yang tak jauh dari rumah sewa Velicia hanya untuk beberapa saat saja selama dirinya masih berada di negara yang jauh dari negaranya sendiri.
Rumah sederhana, tapi masih sangat layak pakai dan ditempati itu langsung menarik perhatian Davin tatkala terdapat sebuah balkon dilantai dua yang berada tepat dikamar yang akan digunakannya itu ternyata bisa langsung melihat kearah rumah sewa Velicia karna dirinya telah menyewa sebuah rumah yang hanya berjarak oleh beberapa rumah saja.
__ADS_1
Davin: "Aku menemukanmu Vei, dan mari kita mulai permainannya. Dengan aku yang akan menjadi pemeran utamanya"