Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 47


__ADS_3

Terbalut dalam Ball gown dress berwarna mahogany yaitu warna merah yang lebih tua dari maroon bertabur akan kristal swarovski asli sebanyak tiga ratus butir dengan model v-neck short telah mampu mengubah seorang wanita biasa menjadi seorang ratu.


Dan yang lebih mengagumkannya lagi adalah mahkota kecil yang ia kenakan diantara rambutnya yang tertata sengaja dibuat sedikit berantakan dengan anak anak rambut yang menjuntai namun memberikan kesan yang lebih cantik lagi di wajah mungilnya.


Mahkota yang ia kenakan memang terlihat kecil, namun siapa sangka bahwa Davin benar benar memanjakan istrinya.


Mahkota dengan jumlah berlian sebanyak lima ratus butir itu jelas telah mampu menguras banyak uang suaminya. Entah apa yang dipikirkan pria itu mengapa bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang banyak hanya untuk suatu hal yang tidak terlalu penting nantinya bagi Velicia.


"Dia benar benar perhatian padamu. Bahkan menyiapkan ini semua agar dapat memuaskanmu" elusan lembut pada lengannya yang terbuka membuat wanita yang telah sah menjadi istri dari seorang Davin Aditya Mayndra menoleh ke arah cermin yang tepat berada di depannya.


Ibu Velicia tersenyum kecil melihat putrinya dari pantulan cermin yang terlihat begitu mewah bak seorang ratu dari sebuah kastil yang dulu sangat diimpikan putrinya itu.


Velicia dengan impiannya yang ingin menikah layaknya seorang putri, kemegahan dan kemewahan yang berpadu menjadi satu dalam balutan kebahagiaannya.


Namun apa dia saat ini sedang bahagia karna pernikahannya?


Mamah: "Apa kamu tidak bahagia? Atau karna pria yang menikahimu bukan yang kamu harapkan?"


Velicia mengelus permukaan kulit tangan ibunya yang masih setia berada di kedua lengannya. Tersenyum kecil namun terlihat begitu manis saat dipandang.


Velicia: "Bahagia atau tidak itu semua menjadi pilihan untuk Veli sendiri mah. Jika sudah seperti ini bukankah Veli harus belajar untuk menerimanya?"


Velicia: "Sebenarnya Davin itu adalah pria yang baik, dia memperlakukan Veli dengan begitu baik. Dia juga menyayangi kami dan selalu menjaga kami dengan sangat baik" ucapnya dengan mengelus permukaan perutnya yang mulai lebih membuncit.


Velicia: "Jadi apa salahnya Veli berusaha untuk menerimanya. Semua hanya butuh waktu dan sedikit perjuangan"


Mamah: "Mamah akan mendukung setiap keputusanmu. Jika kamu ingin seperti ini maka mamah tidak akan melarangmu"


Mamah: "Hanya saja, jika terjadi sesuatu nantinya. Kamu harus pulang dan datang kepada mamah jangan ke tempat lainnya" lanjutnya nampak begitu sedih.


Velicia yang paham akan sikap mamahnya yang terlihat begitu khawatir kali ini berusaha menenangkannya.


Mungkin karna cara Davin yang begitu kasar untuk mengikatnya dan cara Davin yang terus terusan mengganggu hidup Velicia membuat ibunda wanita itu dirundung akan rasa khawatir yang begitu ketara.


Velicia: "Mamah cukup doa kan saja supaya tidak akan pernah ada kata terjadi sesuatu didalam rumah tangga Veli ke depannya. Jika pun ada itu hanya sebuah permasalahan kecil yang dapat dengan mudah Veli selesaikan bersama Davin"


🍂🍂🍂


Luxury


Satu kata yang dapat menjabarkan tentang pernikahan Davin dan Velicia disalah satu hotel ternama yang letaknya terdapat di pusat kota Surabaya.


Beratus ratusan tamu undangan yang datang memberikan segala tutur manisnya untuk mengucapkan sepatah dua patah selamat kepada Davin dan Velicia atas pernikahannya.


Tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan dokter dan beberapa pengusaha lebih menjadi dominan karna adanya sosok David dan Melliza yang bersanding sebagai orang tua mempelai laki laki.

__ADS_1


Terlebih lagi sepak terjang David yang kali ini diturunkan pada putri sulungnya berhasil banyak menarik pihak luar untuk ikut kerja sama dan ambil tempat dalam perusahaannya yang berkiprah dibidang pembuatan vaksin dan obat obatan unggul yang belum ditemukan.


"Jangan pikirkan hal yang tidak boleh kau pikirkan Vei, berapa kali lagi aku harus mengingatkanmu"


Setelan tuxedo claret red slim menjadi pesona lain bagi pria penyandang suami Velicia.


Warna yang selaras dengan gaunnya yang indah dan mewah itu cukup sangat mengubah Davin menjadi sosok pria lain.


Terutama tatanan rambutnya yang berbeda dari biasanya membuat Davin terlihat seperti sosok lain yang membuat pria itu semakin menawan dalam pandangan semua orang tak terkecuali istrinya sendiri.


Tubuh tinggi besarnya yang terlihat begitu sempurna saat memakai segala outfit santai atau pun resmi seperti saat ini berhasil mengusik lebih dalam lagi sebuah rasa yang belum bisa ditebak oleh Velicia.


Sesi foto bersama kerabat dan beberapa tamu itu tidak bisa menghentikan Davin dari perhatiannya terhadap wanitanya yang telah resmi menjadi istrinya.


Velicia: "Aku hanya berfikir, untuk apa kamu melakukan ini semua. Untuk membuka mata para tamu undangan tentang betapa kayanya keluargamu atau untuk menunjukan sisi tertinggi kalian di hadapan keluargaku" ucapnya menggunakan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh kedua insan itu.


Davin: "Dugaan mu semuanya salah sayang" sahut Davin dengan pandangan mata ke depan karna sedang siap akan difoto.


Dirinya tersenyum begitu pula dengan Velicia yang menarik sudut bibirnya agar lebih ke atas.


Davin: "Yang pertama, ini semua hanya memakai uangku bukan uang keluargaku. Dan yang kedua, aku melakukan ini semua hanya semata mata untuk membuka matamu"


Velicia: "Apa maksudmu?"


Wanitanya mengernyit merasa belum paham akan ucapan Davin.


Davin: "Kau lihat disana?" tujuknya dengan hanya lirikan mata yang diikuti oleh kedua mata Velicia.


Davin: "Dia yang sedang berbaris hendak mengucapkan kata selamat kepada kita, apa kau tidak melihatnya?"


Velicia menajamkan indra penglihatannya untuk lebih menelisik siapa gerangan orang yang suaminya maksud.


Davin: "Kau sungguh tidak melihatnya?" tebaknya karna istrinya masih saja memperhatikan barisan yang hendak naik ke atas pelaminan.


Namun lama kelamaan sosok yang Davin maksud pun mulai mendekat, menampilkan seogok tubuh yang sangat familiar dalam hidup wanita itu sebelumnya.


Evan


Pria malang yang ia tinggalkan dan telah dikhianati oleh pamannya sendiri.


Saat ini datang ke acara resepsi pernikahannya dengan begitu menawan. Tidak seperti biasanya yang kerap memakai serba warna putih dalam tugasnya, kali ini pria yang pernah menyandang sebagai kekasihnya itu berpenampilan begitu rapih.


Setelah tuxedo berwarna hitam menjadi dasar dirinya patut untuk diwaspadai oleh Davin yang berdiri tepat di sebelah Velicia.


"Turut berduka cita sedalam dalamnya"

__ADS_1


Kalimat yang terlontar begitu saja membuat beberapa orang yang berada di atas pelaminan menoleh ke arah sumber suara.


Davin dengan pandangan mengejeknya setelah mengucapkan kalimat yang begitu tak sedap untuk didengar, telah melontarkan bom atom pertamanya pada seorang pria yang sebenarnya memiliki hubungan kerabat dengan keluarga dari daddy nya.


Davin: "Sebagai sesama pria aku ikut bersedih karna kekasihmu direbut oleh paman mu. Namun sebagai paman mu, aku bahagia karna bisa merebutnya dari mu"


Davin tersenyum manis saat Velicia melihat ke arahnya dengan pandangan tidak suka. Bagaimana mungkin Davin bisa memiliki mulut yang begitu pedas pada sesama pria. Terlebih lagi Evan tidak pernah mengajaknya bertengkar, sebaliknya pria itu malah bersikap baik pada pamannya yang dulu sangat ia banggakan karna otak cerdasnya dan cara berpikirnya yang cepat dalam menyelesaikan masalah yang tengah Davin hadapi.


"Om David, bisakah om ajari tutur bicara putra om ini? Yang sopan dan tahu akan etika yang benar?"


Kalimat yang menyambar dari balik punggung pria yang baru saja mendapat hinaan dari Davin mengalihkan ayah dari mempelai pria untuk memastikan dugaannya.


Pria yang belum terlihat tua dan hampir setara dengan istrinya, pria yang dulu kerap dia waspadai hendak merebut wanitanya, dan pria yang sebenarnya adalah keponakan terdekatnya dulu telah hadir di acara bahagia keluarganya.


Bagas: "Apa dia begitu bangga karna merebut pacar keponakannya?"


Melliza selaku orang tua Davin hanya bisa terdiam akan perkataan keponakan suaminya yang dulu telah menjebaknya untuk hanyut dalam permainnya. Permainan yang membuat dokter cantik dan seksi itu dulu harus terikat selamanya pada dokter bedah yang berselisih tiga belas tahun dengannya.


Daddy: "Davin mungkin salah telah merebut yang bukan miliknya, tapi aku mengenal putra ku dengan sangat baik"


Daddy: "Dia selalu memiliki alasan dibalik perbuatannya" lanjutnya membuat istrinya menggenggam telapak tangan pria tua itu.


Davin: "Jangan salahkan cara mendidik daddy ku. Coba bapak Bagas yang terhormat bercermin terlebih dahulu, apakah didikan anda pada putra semata wayang anda telah benar dan patut bersanding dengan daddy ku?"


Davin menarik Velicia untuk lebih dekat lagi dengannya, merengkuh pinggulnya dengan begitu posessife di hadapan keluarga kecil yang telah lama tidak berhubungan dengan keluarga Mayndra.


Davin: "Aku memang memiliki alasan merebutnya darimu" ucapnya dengan senyum semlirik.


Davin: "Jadi..


Kalimatnya terhenti begitu pula dengan raut wajahnya yang berubah menjadi lebih serius atau lebih mengarah pada ketidak sukaannya.


Raut wajah yang mengeluarkan aura dingin, begitu membekukan bagi mereka yang tidak sanggup menghadapai sisi lain dari seorang Davin.


Davin: "Carilah alasan mengapa aku merebutnya darimu. Mungkin dari sana kamu akan tahu dan tidak akan mempermasalahkannya lagi dengan ku"


Davin: "Tapi sebelum itu..


Lirikan matanya mengarah pada seseorang yang juga berada dalam ruangan besar itu.


Begitu mengintimidasi meski orang yang dia lirik sedang melihat ke arah lain.


Davin: "Kamu harus menyiapkan mental dan dirimu dari sebuah kenyataan yang sama sekali tidak pernah kamu harapkan"


__ADS_1


__ADS_2