
Ternyata meninggalkan istri yang tengah hamil muda hanya dengan peringatan saja tidak lah cukup.
Davin lupa bahwa istrinya yang saat ini, adalah seorang istri yang tidak mudah lagi untuk dapat dia atur sesuka hati seperti sedia kala.
Niatan awal tidak ingin terlalu kejam dengan tidak mengurung wanitanya dalam kamar, namun naasnya perasaan iba itu tergantikan dengan rasa was was saat dirinya ditelpon oleh pembantu rumah tangganya yang mengatakan bahwa sang istri dan sang mantan kekasih sedang ribut hebat.
Namun saat dirinya sampai di kediaman rumahnya sendiri, bukan pertengkaran hebat yang Davin dapatkan seperti apa yang telah diucapkan oleh pembantu rumah tangganya melalui telepon melainkan tangisan dan segala macam pertanyaan yang pria itu dengar dari lantai satu saat dirinya baru saja memasuki rumah.
Segala pertanyaan dan tangisan yang keluar dari bibir manis yang selalu berusaha Davin jaga selama ini.
"Apakah yang dikatakan oleh kak Lenci benar bu?"
Suara bergetar yang begitu ketara dan terdengar sangat memilukan itu mulai menghantarkan rasa perih dan iba bagi siapa saja yang mendengarnya.
Terlebih saat pria itu berjalan cepat melewati setiap anak tangga hanya untuk dapat melihat apa yang terjadi pada istri tercintanya.
Penampakan dimana Velicia yang berdiri dengan peluh keringat di keningnya dan mata yang semakin sembab mempertontonkan betapa hancurnya wanita itu saat ini.
Vallenci yang berdiri tidak jauh hanya berpangku tangan serta adanya sosok lain yang sangat Velicia muliakan dalam hidupnya.
Sosok ibu yang selalu dihormati oleh wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istri dari Davin Aditya Mayndra.
"Jawab bu?!"
Pertanyaan yang sangat memaksa ingin mendapat jawaban itu hanya menghasilkan raut wajah gusar dari sang empu yang ditanya.
Ibu dari Velicia nampak terlihat bersalah dan tidak ingin menjawab pertanyaan dari putri ke duanya, membuat Davin yang menyaksikan betapa tergoncangnya Velicia saat ini lantas langsung datang menghampiri Velicia dan memeluknya.
Davin: "Kenapa kamu tidak mendengarkan perintahku Vei" bisiknya yang semakin erat menenggelamkan tangisan wanitanya dalam dada bidang yang kian lebar.
Velicia: "Aku siapa Vin. Aku siapa?" tangisnya kian bertambah membuat amarah dalam diri Davin tiba tiba melonjak keluar.
"Veli.. kamu anak ibu. Jangan dengarkan Lenci"
Vallenci: "Ibu!" sarkas wanita yang masih berdiri dengan senyum jumawahnya.
Vallenci: "Jangan ditutup tutupi lagi" lanjutnya terlihat tidak senang saat Davin memeluk adiknya.
Ibu: "Lenci!" gertaknya.
__ADS_1
Vallenci: "Kenapa bu. Memang benar bukan bahwa dia bukan adik ku?" ucapnya membuat Davin terdiam dan hanya menampilkan tatapan mata dinginnya.
Vallenci: "Dia bukan adikku!"
Vallenci: "Dia bukan Velicia adik kandungku. Dia hanya bayi yang ayah ambil dari rumah sakit untuk menggantikan adik kandungku yang meninggal saat baru dilahirkan" terangnya semakin membuat Velicia tidak ingin mendengarnya.
Vallenci: "Dia bukan Velicia bu. Bukan!"
Semakin meluapnya segala ucapan Vallen maka semakin meluaplah tangisan Velicia.
Kenyataan bahwa dirinya bukan lah anak kandung dari orang tua yang merawatnya dari bayi benar benar meluluh lantahkan perasaan Velicia hingga tak bersisa.
Seakan dijatuhkan dari ketinggian setelah menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah siapa siapa dalam keluarganya semakin perih lagi saat dirinya diterpa segala cemoohan dari sang kakak yang selalu menyalahkannya.
Menyalahkan mengapa anak angkat lebih diperhatikan dibanding anak kandung.
Mengapa Velicia selalu mendapat pujian dari orang tuanya sedangkan sang kakak yang anak kandung selalu dibanding bandingkan dengan dirinya.
Menjadi juara kelas dan berprestasi dalam seni gambar yang membuat Velicia menjadi seorang desainer muda membuat sang kakak berpikir telah dijatuhkan karna dirinya yang hanya bergelut pada bidang modeling dan tidak seperti Velicia.
Dan Velicia di tetapkan oleh sang kakak sebagai penyebab dirinya meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan ibu dan ayah nya.
Vallenci: "Kamu bukan siapa siapa, tapi kamu merebut semua yang seharusnya menjadi milikku" tunjuknya saat tidak terima melihat Davin yang semakin erat memeluk Velicia.
Vallenci: "Ketenaran, pujian dan puncak kejayaan seharusnya semua itu milikku!"
Vallenci: "Termasuk Davin"
Mendengar namanya disebut, berhasil menarik perhatian pria itu untuk menatap tajam pada arah seorang wanita yang pernah ia sesali dalam hidupnya.
Selain karna pernah singgah di hatinya, wanita itu pula pernah membuat dirinya buta akan segalanya.
Vallenci: "Aku yang pertama bertemu dengan Davin. Aku yang membuat dia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan mengapa dia kini menjadi milik mu juga?"
Vallenci: "Tidak cukup kah hanya ibu dan ayah yang memihak anak pungut seperti mu?"
Ibu: "Lenci cukup!" gertaknya merasa putrinya telah kelewat batas.
Velicia: "Davin suamiku!" pekiknya yang sedikit menengok dari balik tubuh suaminya.
__ADS_1
Vallenci: "Tapi dia tidak ingat pernah menikahi mu" sahutnya tidak mau kalah.
Vallenci: "Tidak bisa kah kamu mengikhlaskan Davin yang saat ini kembali padaku karna sebuah takdir?"
Velicia: "Takdir Davin adalah menjadi suamiku, dan takdirku adalah menjadi istri dan ibu dari anak anaknya"
Meski masih dalam rasa kecewa, namun entah mengapa Velicia tidak pernah ingin mengalah jika harus memperebutkan pria yang dulu kerap menyiksanya dalam usahanya yang terus menginginkan Velicia untuk mengandung anaknya.
Seakan dalam hidup ini, Davin terlahir hanya untuk melindungi Velicia dari segala macam bahaya yang siap menerpa. Sehingga wanita hamil ini bahkan sanggup bila harus mengorbankan perasaannya agar bisa mendapatkan Davin seutuhnya.
Vallenci: "Lalu bagaimana dengan anak yang aku kandung?" tanyanya membuat Velicia terdiam.
Vallenci: "Aku berani bersumpah bahwa ini adalah anak dari seseorang yang kau sebut sebagai suami" lanjutnya dengan penuh percaya diri.
Ucapan yang dilantunkan dengan sangat yakin dan penuh keangkuhan itu menarik perhatian Davin.
Karna, sebab ucapan yang dikatakan oleh mantan kekasihnya itu telah berhasil membuat Velicia melepaskan diri secara paksa dari pelukan Davin yang berusaha menenangkan sang istri.
Menjauhkan diri dari Davin dan menampilkan raut wajah penuh kedengkian yang teramat dalam.
Velicia: "Pembohong!" sarkasnya dengan sangat jelas pada Davin yang hanya bisa diam.
Vallenci: "Dia tidak ingat padamu, dia tidak cinta padamu, lalu untuk apa kamu mengemis pada orang tua Davin untuk mendapat kasih sayang dari Davin secara tidak suka rela?"
Vallenci: "Apa kau bahagia mendapat cinta palsu?"
Davin: "Diam" ucapnya biasa namun dengan aura dingin yang ketara karna merasa sudah tidak tahan.
Telinga Davin mulai gatal dan tidak sanggup lagi untuk menahan rasa yang ingin diungkapkan.
Davin: "Kau mengandung anakku?" tanyanya polos namun penuh makna.
Vallenci: "Iya Vin, bukankah kemarin kita baru saja check up kandungan? Apa kamu lupa" sahutnya yang semakin membuat api amarah pada diri Velicia berkobar.
Davin: "Benarkah?"
Davin: "Tapi bagaimana mungkin kau bisa mengandung anakku bila aku saja tidak pernah melakukan apapun terhadapmu"
Davin: "Atau mungkin lebih tepatnya, benarkah ada bayi dalam kandunganmu?" tanyanya yang membuat lawan bicaranya terheran heran atas ucapan Davin.
__ADS_1
Davin: "Mungkin kau bisa mengeceknya ulang tanpa diriku. Karna bisa saja aku membuat laporan kehamilan palsu untuk dirimu"