
Tidak pernah terlintas di pikiranku sejak awal hidupku hendak memaksa kehendakku pada orang lain. Terutama pada seorang gadis yang tidak pernah aku kenali bahkan tidak pernah ada rasa untuk dirinya.
Kecelakaan yang menimpa diriku setelah menyaksikan kenyataan bahwa wanita yang pertama kali singgah di dalam hidup ku berselingkuh dengan pria yang masih memiliki hubungan darah dengan keluargaku membuat diriku hancur di titik terdasar tanpa sebuah harapan.
Pria yang terpaut sangat jauh dariku. Pria yang tidak akan mampu menyamai rupa maupun kemampuanku namun bisa menarik rasa minat dari wanita cantik yang begitu elok dan sangat aku cintai dulu.
Beralasan bahwa aku adalah seorang pria yang tidak menarik, terlalu membosankan dan terlalu membebaskan dirinya hingga membuat model berparas indah dan tubuh lemah gemulai itu membagi perasaannya pada seorang dokter yang memiliki spesialis yang sama dengan daddy ku.
Seorang dokter bedah, seorang pria yang telah berumur, seorang pria yang telah berkeluarga dan seorang pria yang telah memiliki anak yang tidak terpaut jauh dariku telah berhasil merebut wanita yang aku kira wanita baik baik.
Seorang pria yang daddy ku sebut sebagai keponakan telah merebut kekasih milik anak dari pamannya.
Pria yang daddy ku sebut sebagai Bagas, telah merebut hati Vallen dariku. Menidurinya bahkan saling memadu kasih dengan sama sama saling menikmati kala aku mengetahui untuk pertama kalinya.
Aku terkejut.
Aku terpuruk.
Dan tanpa sadar, tiba tiba kecelakaan yang menimpa diriku datang begitu saja bersamaan dengan rasa hancur yang menerpa.
Kecelakaan yang mempertemukan aku dengan dirinya.
Awal pertama aku melihatnya, awal pertama dia menemuiku untuk meminta maaf atas kecerobohannya dalam mengemudi. Aku sama sekali tidak meresponnya.
Aku bersikap biasa selayaknya aku bersikap pada seorang wanita asing yang tidak aku kenal dan tidak ingin aku kenali.
Hingga waktu terus berlalu, dia pun selalu datang mengunjungiku dengan kekasihnya yaitu seorang pria yang berselisih satu tahun lebih muda dariku, yang sangat aku kenal yaitu anak dari pria yang berselingkuh dengan Vallen mantan kekasihku.
Dia yang aku kenal sebagai Velicia telah memiliki hubungan dengan Evan yang ternyata adalah keponakan jauhku.
Awalnya aku kira itu semua adalah sebuah kebetulan. Sampai suatu saat aku baru menyadari bahwa Velicia adalah adik dari Vallenci.
Aku sungguh tidak tahu kala itu bahwa wanita yang sama sekali memiliki kepribadian terbalik dari Vallenci adalah adiknya. Terlebih lagi Vallenci tidak pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki saudara perempuan.
Dirinya hanya mengakui bahwa dirinya adalah anak tunggal dan adiknya telah meninggal waktu baru saja dilahirkan.
Hari silih berganti. Velicia yang ceria, Velicia yang sangat memiliki rasa semangat yang tinggi dan selalu terasa sangat mencintai Evan selalu aku pantau dalam ikatan pertemanan yang dia ajukan.
Evan yang selalu berada disisinya, selalu menyempatkan waktu untuk wanita yang kian gemilang dengan karirnya membuat aku merasa bahwa aku adalah pria yang kurang beruntung dalam masalah percintaan.
Membuat diriku menjadi pria yang sangat dingin bahkan terhadap anggota keluargaku sendiri.
Menjadi pria yang sangat tertutup bahkan terhadap seorang wanita yang sangat aku agung agungkan.
Lalu datang sebuah hari yang tiba tiba menarik pikiranku.
Hari dimana aku menerima sebuah kabar yang aku dengar dengan telingaku sendiri bahwa Evan memiliki niatan yang tidak baik dalam hubungannya.
Hubungan yang dia lewati bersama dengan gadis seceria dan sepolos Velicia.
Aku berencana untuk menikahinya nanti setelah dia sukses. Bila dia telah jatuh dalam hubungan pernikahan denganku, maka aku akan memberinya anak sebanyak mungkin untuk dirinya lalu meninggalkannya.
Meninggalkannya dengan begitu banyak luka.
Aku tak mengerti awalnya mengapa Evan hendak melakukan itu semua pada seorang gadis baik baik seperti Velicia.
Namun, aku mulai terdasar.
Kenyataan bahwa ayah dari Evan berselingkuh dengan Vallenci ternyata bukan hanya diriku saja yang tahu.
Bahkan selain Evan, ibu dari Evan sendiri yaitu Mita juga telah mengetahui ulah dari suaminya yang berselingkuh di belakangnya.
Dan disitulah aku baru tahu bahwa Velicia adalah adik dari Vallenci.
Evan berencana membalaskan dendam ibunya yang hampir gila karna ulah dari kakaknya Velicia.
Dirinya ingin menumpahkan semua rasa dendamnya pada gadis yang tidak tahu apa apa setelah menghilangnya kabar Vallenci setelah ketahuan berhubungan gelap dengan Bagas.
Ada segelintir rasa kasihan pada diriku bila gadis sebaik Velicia menjadi korban atas tindakan orang lain.
Terlebih itu karna ulah wanita yang sudah sangat aku benci.
Awalnya aku hanya ingin tutup mata dan membiarkannya begitu saja.
Namun bila terngiang kata bahwa Evan akan meninggalkan Velicia dengan begitu banyak anak dan menelantarkannya, diriku mulai terenyuh dan tergugah.
Bayangan akan mommy ku dengan kelima anak termasuk diriku yang memiliki selisih tak terpaut jauh dari anak satu ke anak yang lain tiba tiba timbul di permukaan pikiranku.
Bayangan mommy ku yang ditinggal oleh daddy ku yang hypersex setelah memberikan banyak anak tidak luput dari pikiranku.
Dan karna itu, aku menjadi tidak ingin hal yang Evan rencanakan terjadi.
Diriku mulai lebih mendekatkan diri pada Velicia.
Ingin memahaminya lebih jauh lagi supaya lebih mudah dapat mengambilnya dari Evan.
Tapi kenyataannya, aku yang lebih unggul segalanya dari Evan tidak cukup mampu untuk membalikan perasaan Velicia dari Evan menuju diriku.
Gadis itu terlalu setia dan terlalu mencintai pria yang memiliki niat jahat pada dirinya.
Segala upaya telah aku coba.
Namun hasil akhirnya tetaplah sama. Velicia tetap mempertahankan kesetiaannya meski aku telah berbuat banyak pada dirinya.
Sampai hingga akhirnya, aku tidak memiliki cara lain selain memaksakan kehendakku pada dirinya.
Aku memperkosanya.
Aku memperkosanya tanpa adanya sebuah rasa dalam diriku untuk dirinya.
Bila kebanyakan orang mengatakan bahwa memaksakan seseorang untuk mencintai itu sulit. Maka aku ingin mengungkapkan bahwa memperkosa seorang wanita yang tidak aku cintai dan tidak memiliki nafsu terhadapnya adalah hal yang paling sulit dalam hidupku.
Aku kira setelah drama pemerkosaan yang aku buat semulus mungkin dapat mengubah pemikirannya dan menerima aku dengan terpaksa.
Tapi nyatanya, setelah datang menemui kedua orang tuanya dan membuang jauh harga diri akan datangnya hinaan dan celaan diriku tetap ditolak oleh Velicia.
Kata kata yang mengartikan ikhlas dalam ucapannya karna keperawanannya yang aku ambil secara paksa kala itu membuat ego ku terusik untuk bisa memilikinya bagaimana pun caranya.
Dan sejak saat itu. Gadis yang biasanya ceria saat melihatku dan selalu ingin aku tersenyum meski hanya sedikit tiba tiba menjauh dan menghilang tanpa sebuah tanda.
Kepulanganku kala itu yang membawa penolakan sempat menjadi permasalahan dalam keluargaku.
Aku tidak banyak bicara pada keluargaku, termasuk pada mommy ku mengenai setiap masalah mau pun hal yang bisa aku kendalikan.
Meski raut wajah kecewa jelas ketara di raut wajah dari wanita yang melahirkanku, namun tidak dengan pria yang mewarisi segala hal yang ada pada dirinya termasuk namanya pada diriku.
Pria tua yang masih memiliki kadar nafsu tinggi yang aku sebut sebagai daddy itu hanya diam dan tidak banyak mempermasalahkan segala tindakanku yang teramat senonoh.
Dirinya juga selalu diam saat aku melontarkan segala jenis ucapan pedas yang menyindir dirinya atas tindakannya dulu pada ibu kandungku.
Dan pada akhirnya, karna ulahku yang sangat kurang ajar itu telah membuat wanita yang memiliki hati lemah lembut pada semua anak anaknya menjadi ambil alih dan berinisiatif untuk meminta maaf pada keluarga Velicia atas tindakanku.
Mendatangi kediamannya secara langsung dan bertutur sapa manis meski dari pihak orang tua Velicia sangat berbicara kotor.
Aku tahu bahwa aku yang salah. Aku tahu bahwa aku adalah pria hina yang bertindak keji pada anak gadis orang.
__ADS_1
Namun haruskah ibu Velicia berkata begitu kasar pada mommy ku?
Penolakan yang terjadi bukan hanya dari sang korban namun juga dari pihak keluarganya semakin membangkitkan rasa ingin memiliki dalam diriku.
Hinaan yang dilayangkan pada wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk membesarkan ku telah membuat diriku memendam rasa amarah yang teramat sangat dalam.
Kehilangan Velicia tidak menjadi hambatan bagi diriku untuk terus mencari tahu akan keberadaannya.
Koneksi yang aku miliki memang cukup luas karna jaringan fitur game yang aku ciptakan. Namun meski begitu, aku masih kesulitan untuk menemukannya perihal letak keberadaannya yang memang menghilang bagai tertelan bumi.
Akan tetapi, tiba tiba saja terdapat sebuah jalan.
Aku tidak tahu ini dikatakan sebagai takdir atau usaha yang tidak mungkin membohongi hasil.
Namun yang pasti aku telah menemukannya. Menemukannya tepat saat diriku merasa jengah dengan adik bungsuku yang terlalu banyak tingkah.
Mengejarnya tanpa memberinya celah kembali untuk menghilang dalam jangkauan mataku.
Dan saat aku menemukannya, tanpa aku duga dirinya telah merasa frustasi karena ulahku.
Niatan itu tidak pernah aku duga sebelumnya karna Velicia yang aku kenal bukanlah seperti apa yang pernah gadis itu rencanakan.
Entah karna aku yang terlalu gencar mengejarnya atau dia yang telah merasa gila dan ketakutan sehingga membuat dirinya berencana melenyapkan ku dari sekitar hidupnya untuk selamanya.
Tapi karna kecerdikan ku atau mungkin karna kebodohannya yang mudah percaya akan anak buahnya membuat dirinya tertipu untuk kedua kalinya oleh diriku.
Aku yang berpura pura mati telah berhasil mengunci dirinya kembali.
Memberikan bayaran yang berkali kali lipat lebih tinggi dari Velicia untuk jasa keamanan yang gadis itu sewa dalam upaya menjaganya namun menjadi beralih bekerja sama denganku untuk mendapatkan apa yang aku mau.
Dan akhirnya, aku pun memperkosanya lagi.
Memperkosanya tanpa bantuan obat apapun seperti sebelumnya. Karna waktu itu aku ingin memberikan rangsangan secara langsung agar gadis itu tahu betapa aku bertekad ingin memilikinya.
Waktu berlalu dengan aku yang memaksanya untuk kembali ke negara asal kita berdua.
Jelas awalnya mendapat penolakan dari dirinya namun jangan sebut aku putra dari seorang David Setya Mayndra bila aku tidak memiliki semua cara untuk dapat memiliki apa yang aku mau.
Aku mengancamnya dengan sebuah cctv tersembunyi. Memaksa kehendakku agar dia ikut pulang bersamaku. Memaksanya agar dia harus tinggal satu atap denganku, satu kamar denganku dan satu ranjang denganku hingga dia benar benar telah mengandung anakku.
Usaha yang hampir aku kerahkan di setiap malamku pun pada akhirnya membuahkan hasil.
Dirinya positif hamil anakku dan mulai saat itu semakin merubah hidupku.
Aku bertambah over protektif pada dirinya meski aku belum bisa memastikan mungkinkah aku memiliki rasa padanya.
Aku selalu melarang ini dan itu atau semuanya yang tidak aku sukai pada dirinya.
Aku ingin dia menjadi wanita yang tunduk dalam kuasaku.
Aku ingin dia menjadi tidak bebas dan tidak pernah berniat untuk melawan perintahku.
Aku ingin dia sadar, bahwa setelah dia terikat denganku maka semua yang berhubungan dengan dunia luar tidak akan bebas lagi untuk dirinya.
Aku memutuskan segala akses yang berhubungan dengannya.
Aku menghentikan langkahnya untuk semakin gemilang di manca internasional. Aku ingin dia tahu, bahwa setelah dia resmi menikah denganku maka hanya akan ada aku dan anak anakku dalam hidupnya tidak ada yang lainnya.
Kian bertambahnya usia kandungan Velicia yang menyatakan bahwa dirinya mengandung seorang bayi perempuan membuat jantung pada diriku berdegup dengan sangat kencang disetiap kali melihat dirinya.
Ingin selalu menjaga sebuah janin yang masih tidak aku percaya bahwa itu adalah keturunanku sendiri.
Dan karna itu pula aku semakin menjadi pria pemaksa dan menjadi lebih berkuasa atas dirinya.
Velicia harus mengikuti setiap apa kataku.
Harus seperti ini, harus seperti itu tanpa boleh menolak atau membantahnya.
Aku tidak perduli dia mau atau tidak.
Aku tidak perduli dia setuju atau tidak.
Aku juga tidak perduli dia menyukainya atau tidak.
Namun yang pasti saat itu aku ingin dia mengikuti setiap perkataanku.
Mau tidak mau, suka tidak suka aku lah yang berkuasa.
Dia selalu mendengar apa kataku, dia selalu menuruti setiap perintahku dan dia selalu menerimaku setiap aku ingin menemui putri ku di dalam rahimnya.
Kehamilan anak pertamaku dalam rahimnya benar benar aku jaga dengan baik. Segala upaya aku kerahkan demi anak yang aku hasilkan dari pemaksaan.
Hingga pada saatnya dia lahir ke dunia, saat dimana aku melihat perjuangan Velicia untuk melahirkan putrinya dalam operasi caesar terdapat setitik rasa yang timbul saat melihat betapa mulianya seorang wanita di dunia ini.
Aku tidak tahu apa yang mommy ku rasakan dulu saat melahirkanku ke dunia ini, terlebih dirinya melahirkanku secara normal.
Namun seperti kala itu, aku sepertinya tahu apa yang daddy ku rasakan saat melihat keturunannya hadir di tengah tengah hidupnya.
Ada segelintir rasa haru, senang dan sedih yang hadir secara bersamaan.
Vania Lavina Putri Mayndra
Nama yang tidak diketahui oleh banyak orang termasuk Velicia selaku ibu kandungnya.
Keluarga Velicia maupun keluargaku tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya nama itu diberikan secara langsung oleh daddy ku.
Dirinya memaksa agar bayi perempuan yang menjadi cucu pertamanya harus diberi nama oleh dirinya.
Bila aku membantah maka daddy ku tidak mengijinkanku memberikan marga keluargaku pada seorang putri yang baru saja lahir.
Dan karna nama itu, sempat terjadi perselisihan antara aku dan sang ibu kandung.
Velicia mengira bahwa nama yang dia ketahui aku yang memberinya nama pada anak kita, dia kira sebagai nama yang sama seperti nama mantan kekasihku dulu yang aku benci.
Velicia yang tidak mengetahui siapa mantan kekasihku, tidak tahu siapa sosok wanita murahan itu, tidak tahu siapa wanita yang sangat aku benci itu hanya menduga bahwa Vania anak dari tante Marsya teman mommy dulu sebagai mantan kekasihku.
Hubungan kita yang mulai renggang karna kecurigaannya, mulai merambah lagi dan lebih mengembang saat Evan selalu berusaha hadir diantara kita berdua.
Aku yang masih menyimpan rasa takut bahwa Evan akan berbuat yang tidak tidak terhadap Velicia terutama terhadap Vania membuat diriku mengunci mereka berdua dalam rumah indah yang aku beli khusus saat Velicia mengandung Vania di daerah kota yang ramah lingkungan dan tingkat keamanan yang tinggi.
Selain persyaratan yang rumit untuk memasuki daerah perumahan, aku pun masih memberikan peraturan pada istri beserta putri kesayanganku untuk tidak keluar rumah sembarangan bahkan hanya untuk sekedar di halaman tanpa pengawasan secara langsung dari diriku.
Akan tetapi, apa yang aku rencanakan tidak sesuai dengan rencana yang aku perkirakan.
Aku yang telah memasang tameng pada hubunganku dan Velicia ternyata tetap saja tidak bisa kuat meski aku berkorban banyak.
Cobaan itu silih berganti.
Terutama saat kesalah pahaman diantara kita semakin meningkat lagi karna ketidak jujuranku terhadapnya mengenai Vania teman masa kecil ku yang memang pernah singgah di hatiku sebagai sahabat dekatku membuat dirinya mengira bahwa Vania sebagai Vallenci.
__ADS_1
Aku yang kurang terbuka namun menginginkan dirinya untuk percaya membuat dirinya terus meyakini bahwa diriku bermain di belakangnya.
Kurangnya kepercayaan pada dirinya dan habisnya kesabaranku saat melihat dirinya bertemu dengan Evan di cafe yang biasa ia gunakan untuk berkencan dengan Evan dulu dengan membawa Vania bersamanya membuat tali kesabaranku mulai terputus.
Aku yang meninggalkan rumah tanpa pamit karna bertengkar dengan dirinya berniat agar Velicia menjernihkan pikirannya dan percaya akan ucapanku, namun yang dia lakukan malah keluar rumah tanpa ijin dariku bahkan membawa Vania bersamanya.
Hilangnya kesabaranku membuat diriku mempermalukan dirinya di depan umum.
Selain karna terpancing akan keberadaan Evan, diriku pula terpancing akan ucapan Velicia.
Ucapan yang menyatakan akan perpisahan dalam suatu hubungan suami istri.
Perceraian
Kata cerai yang ia lontarkan dengan berlinang air mata seakan sangat tersiksa karna hubungannya dengan diriku.
Menyatakan segala keluh kesahnya karna sikap otoriterku yang sangat mengikat dirinya dalam hidupku.
Dan karna itu, lagi lagi aku pergi tanpa penjelasan.
Meninggalkan dirinya bersama pria yang hanya berdiam diri menatapku dengan begitu banyak tanda tanya di raut wajahnya.
Aku yang terus berusaha meredam amarah di sepanjang jalan dengan menggendong Vania dalam dekapanku sama sekali tidak merasa curiga akan seseorang yang belum lama aku temui.
Karna tanpa sepengetahuanku, tanpa aku duga sebelumnya ternyata Evan telah mempersiapkan segalanya.
Persiapan yang hampir membunuhku dengan sangat sempurna.
Aku yang tiba tiba dihadang oleh beberapa orang bertubuh kekar tiba tiba memaksa diriku untuk keluar dari dalam mobil kala itu.
Dengan menggendong Vania aku tidak bisa berbuat banyak atau bahkan hanya untuk sekedar melawan.
Dalam pikiranku kala itu, Vania harus baik baik saja tanpa menghiraukan beberapa pukulan yang mendarat di titik fital pada tubuhku.
Karna jumlah lawan yang tidak seimbang dan diriku yang mulai lemas, tiba tiba seseorang datang menghampiri dan merebut Vania secara paksa yang sedari tadi menangis.
"Maafkan aku karna harus mengambil putrimu" kalimatnya terdengar jelas waktu telingaku sedikit berdengung karna sebuah pukulan.
"Bawakan mantan kekasihmu padaku, maka putrimu akan kembali padamu" lanjutnya yang mulai samar samar aku bisa melihat wajahnya.
"Jangka waktu tidak ditentukan. Tapi akan lebih baik jika kamu memberikan wanita j*lang itu secepatnya. Karna semakin cepat maka semakin baik"
Wajah yang memiliki keriput tak jauh beda dari mommy ku sedikit tersenyum waktu menggendong Vania yang tengah menangis.
"Aku akan berusaha merawatnya semampuku, bila aku tidak mampu maka jangan salahkan aku, tapi salahkan putrimu karna terlalu pemilih dalam menunjuk orang yang merawatnya"
"Di depan sana tidak jauh dari tebing yang mengarah pada sungai, berusaha lah untuk tetap hidup dan jemputlah putrimu. Karna jika tidak, aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku manfaatkan dari bayi kecil ini terkecuali menjualnya pada orang yang membutuhkannya"
Kalimat terakhir itu menjadi pengantar diriku menuju sebuah tebing jurang yang begitu curam.
Dan karna kejadian itu, aku dikabarkan mengalami kecelakan lalu koma selama beberapa hari akibat benturan keras.
Aku tidak tahu tentang apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri, akan tetapi yang aku lihat saat aku pertama terbangun dari tidur panjangku yaitu dirinya berada di sisiku. Keberadaannya yang pertama aku lihat memberikan sedikit kelegaan meski rasa sakit di sekujur badanku tidak dapat dipungkiri rasanya.
Tapi rasa lega itu tidak berlangsung lama, karna setelah itu aku langsung terpikirkan akan bayi mungil yang entah seperti apa keadaannya.
Maka dari itu, sebab kejadian penculikan Vania yang hanya diketahui oleh diriku aku pun memutuskan untuk membuat drama untuk semua orang.
Bekerja sama dengan dr. Gunawan suami dari Vania teman masa kecilku untuk mau ambil alih dalam upaya membantuku tanpa ada yang tahu.
Akan tetapi semua itu tidak akan mudah untuk membuat seorang David Setya Mayndra percaya.
IQ yang berada di atas rata ratanya memang tidak akan mudah untuk dikelabuhi.
Kini aku benar benar yakin bahwa aku adalah penerusnya. Gen yang paling kuat dalam tubuhku adalah milik daddy ku. Dia menguasi setiap apa yang aku bisa, dia bisa melakukan namun tidak bisa lebih unggul dariku.
Karna...
Tanpa diketahui oleh siapapun, pria yang telah melepas jas putih kebesarannya dan sarung tangan yang selalu menjadi saksi bisu keterampilan tangannya telah melakukan otopsi secara diam diam pada mayat yang diyakini oleh semua orang sebagai anakku dan Velicia.
Aku tidak tahu seperti apa bentuk dari mayat bayi yang begitu dipercaya oleh semuanya sebagai Vania. Namun dengan sangat percaya diri pria yang aku sebut sebagai daddy itu melakukan otopsi untuk penyelidikan forensik mengenai benar atau tidaknya mayat bayi perempuan itu adalah cucu satu satunya atau bukan.
Dan hasil dari otopsi yang dia dapatkan. Dari rambut dan juga struktur tulang karna Vania yang belum memiliki gigi menyatakan bahwa mayat itu bukanlah cucunya.
Nampak jelas saat setelah terjadinya pengakuan diriku yang lupa ingatan dan menyebutkan nama Vallenci di depan Velicia telah mengundang sisi gelap dari pria yang sebenarnya bernotabe penindas.
Daddy ku datang kala itu dengan menunjukan semua bukti bahwa bayi yang bersama denganku waktu kecelakaan bukanlah cucunya.
Dirinya memaksa ingin tahu yang sebenarnya terjadi, sehingga diriku pun tidak memiliki pilihan lain selain memberi tahu yang sebenarnya.
Aku tidak sangka bahwa cerita panjangku akan membuat dirinya yang telah termakan usia pun ikut ambil peran.
Dirinya lah yang membuat jalanku semakin mudah.
Dirinya yang telah menghadirkan Vallenci di antara aku dan Velicia untuk memancing Evan sekaligus Vallenci secara bersamaan.
Dan karna sebab kedatangan Vallenci pula Velicia pun ikut tergoyahkan dan semakin menunjukan bahwa dirinya tidak ingin pisah diriku.
Terbukti saat Vallen kakaknya tidur satu kamar denganku dirinya lantas langsung mengamuk dan meminta agar aku tidak melakukan itu.
Ada rasa iba setiap saat melihatnya yang terlihat sangat sedih. Ada pula rasa gelisah dimana Velicia bisa kapan saja berhenti untuk bersabar lalu menyerah dan mundur secara perlahan karna tidak tahan dalam situasi yang ia hadapi.
Hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk membuatnya hamil kembali.
Memutuskan untuk memiliki anak kedua tanpa memikirkan Vania yang baru hendak menginjak lima bulan.
Dan rencanaku pun berhasil. Meski juga harus dibarengi dengan kejujuranku perihal skenario amnesiaku.
Dan kini, aku harus berjuang demi seseorang yang ingin aku paksakan dalam hidupku kembali selain Velicia.
Aku ingin bayi yang tidak tahu apa apa itu harus berada dalam hidupku lagi bagaimana pun caranya.
Aku ingin Vania Lavina ku kembali lagi di sisi ku untuk bermain bersamaku.
Dan aku ingin agar keluarga kecilku kembali lagi seperti sebelumnya.
Dimana terdapat anak dan istri tercinta di dalamnya.
Aku tidak tahu kapan aku mulai mencintai Velicia.
Namun seiring berjalannya waktu yang ku lewati bersamanya aku hanya merasa bahwa aku tidak ingin melihatnya menangis.
Aku tidak suka melihatnya dalam bahaya. Dan aku tidak suka saat dirinya bersama dengan pria lain selain diriku.
Aku ingin terus menindasnya agar menurut padaku. Aku ingin mengaturnya agar dia tidak mudah lepas dariku.
Aku ingin menjadi pria posessife agar dia tidak pernah berniat untuk meninggalkanku lagi seperti sebelumnya.
Karna sekali dia telah menyatakan cintanya padaku, maka tidak ada jalan keluar baginya dari hidupku, Vania dan calon anak kedua kita.
Aku mencintaimu Vei.
Dan aku harap kamu tahu itu.
__ADS_1