
Velicia tidak pernah melepas pandangannya sedetikpun dari setiap pergerakan Davin.
Cara Davin yang menggandeng tangannya melalui kerumunan banyak orang dengan membawa koper kecil berukuran dua puluh empat inc yang mereka bawa berlibur di puncak Bogor kemarin.
Pria itu memutuskan untuk lekas kembali ke kota kelahirannya karna suatu urusan yang benar benar tidak bisa dilewatinya, yaitu urusan yang menyangkut akan resepsi yang tidak lama lagi akan berlangsung.
Harus mengejar penerbangan dengan cara menaiki alat transportasi tercepat kedua setelah pesawat terbang. Selain karna berbenturan dengan hari libur yang telah menyapa dan pasti akan membuat kemacetan, Davin juga tidak bisa menfokuskan diri memperhatikan Velicia jika harus mengemudi sendiri.
Hingga akhirnya pria itu memutuskan meninggalkan mobil sewanya lalu menghubungi pemiliknya dan memboyong Velicia untuk terus mengikutinya. Mengikuti setiap langkahnya karna padatnya stasiun Bogor saat ini, membayar tiket untuk tujuan stasiun Tanah Abang agar bisa turun nantinya di stasiun Sudirman Baru lalu melanjutkan kembali dengan berpindah kereta menuju Bandara Soekarno Hatta.
"Maaf permisi, istri saya sedang mengandung bisa kah anda berbagi kursi dengannya"
Perkataan Davin yang langsung terang terangan pada seorang pemudi yang juga ikut menjadi penumpang KRL membuat Velicia menarik pelan lengan lelaki itu.
Pemudi yang menggunakan hijab itu tersenyum lantas berdiri dan mempersilahkan Velicia untuk menepati tempat duduknya.
Tidak ada percakapan yang melebihi tiga kalimat diantara mereka entah saat turun dari kereta satu ke satunya lagi, atau saat mereka duduk bersebelahan di dalam kereta kedua yang mereka naiki.
Bahkan di bandara pun sama saja, sama sama diam. Mungkin karna Velicia yang saat ini mengalami perasaan aneh terhadap Davin, dan Davin pula yang terus fokus melihat ponselnya meski pria itu tetap tidak kalah fokus saat
memperhatikan Velicia.
🍂🍂🍂
Setibanya mereka di kediaman keluarga Davin, Velicia nampak lesuh dan lemas. Dirinya merasa tidak kuat untuk berjalan terlebih lagi menaiki setiap anak tangga dari tiga tangga di rumah Davin.
Tangga pertama yang mungkin sekitar sepuluh anak tangga untuk menuju ruang tunggu praktek. Lalu masuk pintu ruang tamu menuju tempat rak sepatu disitu pula mungkin dengan tujuh atau delapan anak tangga. Barulah bertemu tangga utama yang langsung mengantarnya menuju lantai dua yaitu lantai yang berisi akan semua kamar dan juga dapur begitu juga meja makan pula.
Velicia mencegat tangan Davin yang hendak mendorong bokongnya supaya saat menaiki tangga Velicia tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak.
Saran yang keluar dari mulut mommy pria itu saat baru mengetahui kehamilan calon menantunya.
Naik turun tangga sendiri menjadi hal paling tidak boleh dilakukan oleh Velicia, apa pun alasannya dan seberapa penting pun yang harus membuat Velicia menaiki atau menuruni tangga sendiri Davin tidak mengizinkannya.
__ADS_1
Davin: "Kenapa?" tanyanya aneh tepat di belakang Velicia.
Velicia: "Aku tidak bisa" ucapnya super lirih yang hampir tidak bisa didengar oleh Davin.
Davin: "Lemas?" tanyanya lagi yang langsung diangguki pelan oleh wanitanya.
Pria itu lalu menghembuskan nafasnya pelan, membenarkan posisi berdirinya supaya tegak lalu tiba tiba langsung mengangkat Velicia tepat di depannya membuat Velicia berteriak kaget karnanya.
Davin: "Pegangan" katanya memberi perintah.
Velicia yang mulai menjadi penurut langsung memeluk leher Davin. Melingkarkan kedua tangannya dengan wajah yang sedikit dia sembunyikan karna merasa malu telah dilihat oleh anak laki laki yang bekerja di rumah Davin.
Setiap anak tangga yang dilalui, nafas yang semakin memberat setiap semakin ke atas membuat Velicia memperhatikan Davin yang kini menampilkan wajah seriusnya.
Velicia: "Aku berat?" ucapnya dengan melihat ke arah wajah Davin.
Davin: "Tidak" sahutnya singkat dengan masih serius untuk menaiki setiap anak tangga.
Velicia: "Kenapa kamu tergopoh gopoh menggendongku?"
Kalimat terakhir yang keluar sebelum akhirnya Davin bertemu dengan mommy nya di depan anak tangga teratas dengan seorang pria yang Davin tidak kenali.
Mommy: "Kalian telah sampai? Apa kamu sudah baik baik saja Veli?"
Velicia meminta diturunkan dari gendongan Davin, dan tersenyum ke arah wanita yang telah melahirkan Davin dengan cukup canggung karna merasa malu.
Velicia: "Saya tidak apa apa tante" ucapnya penuh rasa malu.
Mommy: "Untuk selanjutnya jangan panggil tante lagi ya, tapi panggil mommy. Sama seperti Davin dan anak anak mommy yang lain, karna tidak lama lagi kamu juga akan jadi anak mommy"
Ketulusan yang terpancar dari setiap kalimat yang dilontarkan Melliza membuat Velicia merasa lega entah karena apa.
Namun senyum manis yang selalu mengembang di wajah cantik wanita setengah abad itu mampu membuat Velicia iri akan segala kebahagian yang menimpa Melliza.
__ADS_1
Hidup dengan pria yang menghargainya dan sangat mencintainya hingga telah memiliki anak lima membuat Velicia kagum dan ingin merasakan hal yang sama. Dan Velicia harap Davin akan bisa sama seperti daddy nya, menghargainya meski Velicia sama sekali tidak ingin Davin menjadi hyper dalam berhubungan intim nantinya seperti daddy nya yang terlewat batas.
Mommy: "Perkenalkan ini perancang busana yang telah mempersiapkan segala pakaian kalian nanti. Namanya tuan Wisnu"
"Hai, saya Wisnu" sapanya hendak berjabat tangan dengan Velicia namun ditampik dan dialihkan oleh Davin.
Davin: "Davin. Dan dia istri saya Velicia" dirinya memperkenalkan Velicia tanpa melepas tangannya.
Mommy: "Baju pernikahan kalian begitu juga dengan yang digunakan di resepsi telah jadi, hanya saja tinggal mengukur badan kalian lagi untuk hasil finally takut ada perubahan diantara bentuk badan kalian"
Davin: "Jangan sekarang mommy" sela Davin langsung menjawab.
Mommy: "Kenapa Vin?"
Davin: "Vevei lagi tidak enak badan, dia harus istirahat"
"Hanya sebentar" timpal perancang busana itu langsung mendapat tatapan dari Davin.
Velicia: "Aku masih sanggup Vin" suaranya lirih.
Davin: "Kalau aku bilang tidak berarti tidak. Kalau aku menyuruhmu istirahat dan tidur maka kau harus tidur"
Perkataan Davin yang kental akan sikap posessife dan suka mengatur itu mengingatkan Melliza pada seseorang yang belum lama meninggalkan rumah dengan reaksi marahnya ketika perancang busana yang datang ke rumahnya adalah seorang laki laki.
Davin yang seperti ini sangat mirip dengan David suaminya dulu yang mengaruskan dirinya ini dan itu.
Hanya saja bedanya disini, dulu dia suka melawan dan David pun tidak bisa terus memaksanya karna jika tidak maka Melliza akan membiarkannya tidur sendiri meski tidak selalu menang dan akan berakhir di ranjang. Sedangkan putranya kali ini dia sangat begitu pengatur dan tidak suka dibantah. Velicia pun tidak bisa membantah keinginan Davin jika tidak ingin terus terusan diintimidasi olehnya.
Davin: "Kalau anda masih berniat ingin mengukurnya maka tunggu istri saya bangun dari tidurnya. Jika tidak masih ada kata besok lusa dan lain kali"
Mommy: "Vin.. mommy tahu kamu mengutamakan kesehatan Veli, tapi pernikahan kalian tinggal menghitung hari"
Davin: "Ya karna Davin mengutamakan kesehatan istri dan calon anak Davin mom, lebih baik mengukurnya terlambat dari pada tiba tiba dia tumbang dan tidak bisa melaksanakan hari pernikahan yang telah ditentukan"
__ADS_1