Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 50


__ADS_3

Davin menatap lurus ke depan, memperhatikan sebuah tubuh yang telah segar dan enak dipandang.


Menampilkan bahu licin dan setengah paha yang tidak tertutupi oleh handuk. Matanya yang merasa aneh saat Davin menatapnya membuat sosok lain selain Davin mempertanyakannya.


Velicia: "Kenapa?" tanyanya polos dengan wajah yang ingin tahu.


Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng pelan lalu memeluk erat tubuh Velicia tiba tiba tanpa tanda tanda.


Velicia: "Vin?" panggilnya dengan membalas pelukan Davin pada tubuhnya yang tertutup akan handuk.


Davin: "Kau pilih bersamaku atau disini bebas tanpa ku?" tanyanya tiba tiba membuat Velicia bingung masih dalam dekapan suaminya.


Velicia: "Apa maksudnya?"


Davin: "Aku hanya memberikan pilihan dan kau hanya perlu menjawabnya tidak perlu balik bertanya padaku"


Velicia: "Tapi apa pilihannya, aku saja tidak mengerti akan maksud yang kau tanyakan"


Pria itu lebih menenggelamkan wajahnya di bahu istrinya, menghirup aroma yang menguar dari kulit polosnya yang masih begitu lembab.


Davin: "Kau pilih bersamaku dengan segala tekanan yang aku berikan, atau bebas disini tanpaku?"


Velicia: "Kau akan pergi?"


Davin: "Iya"


Davin: "Tapi nanti aku pasti akan selalu menyempatkan waktu ku untuk bisa mengunjungimu, kau bisa bebas disini tanpa ku"


Mendekapnya lebih erat adalah suatu simbol tersendiri bagi Davin saat bayangan bayangan lain tiba tiba muncul dalam benaknya, berusaha menggangu pikiran pria itu dari sebuah kenyataan.


Namun rasa leganya yang dia perkiraan ternyata salah, istrinya malah memilih akan hal yang tidak ia harapkan sama sekali.


Velicia: "Aku ingin bersamamu" ucapnya menarik perhatian Davin.


Tiga kata itu bena benar menarik sikap waspada Davin, pilihan yang sebenarnya tidak ingin pria itu ucapkan dari mulut istrinya.


Davin: "Tidak" sahutnya cepat dengan melepas pelukannya.

__ADS_1


Davin: "Kau akan tetap disini, tidak boleh ikut" lanjutnya berusaha menjelaskan.


Namun tanpa mereka sadari, sebenarnya satu sama lain dalam pikiran masing masing adalah keduanya sama sama memiliki rasa yang sama. Mereka sama sama merasakan rasa takut kali ini, bukan rasa takut pada seseorang atau rasa takut pada suatu hal. Namun rasa takut akan kehilangan.


Setelah belum lama berbincang dengan sahabatnya, memang tidak ada pilihan lagi selain Davin untuk menetap di kota yang sangat ia hindari.


Selain menghindari dan tidak ingin mengingat kembali masa lalunya sendiri, Davin juga tidak mau jika ia membawa Velicia pergi maka masa lalu istrinya juga bisa kapan saja datang untuk menghancurkan pernikahannya yang belum memiliki dasar suatu hubungan.


Velicia: "Aku ingin bersamamu, kemana pun kamu pergi Vin aku mau ikut"


Davin dengan rasa takutnya bila Velicia bisa kabur kapan saja dan membawa janin yang ada dalam perutnya, sedangkan Velicia takut akan adanya orang ketiga dalam hubungan mereka yang bahkan belum saling mencintai satu sama lain.


Mungkin wanita muda itu telah sedikit demi sedikit telah menaruh hati pada suaminya, namun Velicia belum tahu apa Davin suaminya telah mencintainya terlebih dahulu atau bahkan sampai sekarang Davin masih belum memiliki perasaan terhadapnya.


Davin: "Disini lebih bagus untukmu" masih saja Davin berusaha membujuk istrinya agar mau mengerti akan kemauan Davin.


Davin bisa saja pergi tanpa pamit besok, dan mengabarinya saat setelah sampai disana. Atau memaksa kehendaknya lagi seperti biasa yang tidak ingin dibantah oleh siapapun.


Tapi sayangnya, saat melihat istrinya yang begitu manja akhir akhir ini. Melihat Velicia menangis belum lama ini karna merasa takut padanya mengurungkan niat Davin yang hendak pergi begitu saja atau memaksa Velicia untuk menerima keputusannya.


Velicia: "Tempat yang lebih bagus untukku adalah tempat dimana calon anak kita tidak kekurangan perhatian dari ayahnya" ucapan yang diikuti gerakan tangan Velicia yang menuntun tangan Davin untuk memegang permukaan kulit yang berada di balik handuk sungguh memberikan kenyamanan bagi wanita itu.


Davin: "Jika kau ingin bersamaku maka tidak akan ada kebebasan, hanya akan ada tekanan dan segala aturan aturan yang mungkin kamu pun tidak akan menyukainya"


Velicia: "Bukankah selama ini aku hidup dalam tekananmu? Bukankah sudah banyak aturan dan segala larangan yang sudah kamu berikan padaku? Lalu apa bedanya dengan yang saat ini?"


Davin: "Kau yakin Vei?"


Davin mulai terus menggangu kenyamanan istrinya, meski tidak memiliki niat awal namun melihat istrinya yang memaksa ingin ikut dengan kondisi setengah telanjang membuat nyali Davin timbul.


Dirinya dengan perlahan membuka satu satunya penutup yang menghalangi indra penglihatannya. Menampakkan tubuh polos Velicia seutuhnya.


Davin: "Aku mungkin bisa melarang mu berpakaian nanti. Atau mungkin aku bisa saja melarang mu bernafas" ucapnya lembut begitu pun dengan tindakan tanganya yang mulai nakal.


Velicia: "Aku yakin kau bukan suami dan ayah yang seperti itu"


Davin: "Mengapa kau bisa begitu yakin?"

__ADS_1


Velicia: "Karna aku telah..


Velicia tiba tiba berhenti berucap, bibirnya berasa sulit untuk melanjutkan kalimatnya. Jantungnya pun ikut tidak mau bekerja sama. Selain itu nafasnya juga mulai memburu karna rasa yang mengganggu kenyamanan jantungnya.


Davin: "Telah apa?" tanyanya ingin tahu.


Velicia: "Tidak. Tidak apa apa"


Velicia: "Intinya aku mau ikut maka aku harus ikut, kemana pun kamu pergi maka harus selalu denganku"


Davin: "Kau sedang memaksa ku Vei?" keningnya mengernyit saat lantunan lantunan tidak ingin dibantah keluar dari bibir manis istrinya.


Velicia: "Bukan aku yang memaksamu, tapi dia" tunjuknya pada perutnya sendiri.


Davin terkekeh seketika, apa benar itu calon anaknya yang meminta?


Berarti besar kemungkinan anak mereka kelak pun tidak akan jauh berbeda dengan sifat Davin yang suka memaksa?


Davin: "Lakukan sesuatu terlebih dahulu baru kamu boleh ikut" usulnya memberi suatu syarat.


Velicia: "Apa?"


Davin tersenyum jahil, pergerakannya mulai membuat Velicia terus memperhatikannya. Kedua tangannya yang bertengger disebuah bagian lain milik Davin menarik perhatian Velicia untuk terus memperhatikannya.


Dan seketika Velicia mulai paham akan sesuatu yang suaminya inginkan.


Velicia: "Tapi kita baru saja melakukannya" ucapnya polos.


Tangan Davin bergerak menunjuk beberapa bagian tubuh Velicia. Menunjuknya dengan begitu perlahan seolah menarik kembali api yang telah padam dalam diri istrinya.


Davin: "Kau masih punya ini, ini dan ini" katanya sambil menunjuk mulut, payudara dan tangan kanannya.


Davin: "Jika kau berhasil menidurkannya kembali tanpa aku harus bersusah payah mandi dengan air dingin maka kau boleh ikut bersamaku besok Vei"


Davin: "Namun jika tidak, maka aku punya hak untuk tidak mengajak mu besok"


Davin: "Bagaimana?"

__ADS_1



__ADS_2