
Hari demi hari hingga musim berganti dari musim satu ke musim lainnya, Velicia tetap bertahan pada peraturan Davin yang memintanya untuk ini dan itu.
Kondisi kandungannya yang kian menua tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling bertukar rasa yang mereka rindukan dari satu sama lainnya. Namun meski begitu, meski sama sama saling menyadari bahwa tidak bisa tanpa satu sama lainnya, meski tahu akan rasa khawatir saat tidak terdengar kabar dari salah satunya, meski rindu sering menghampiri keduanya. Namun hingga saat ini belum pernah terucap dari salah satu bibir sepasang suami istri ini untuk saling menyatakan sebuah perasaan yang telah melekat pada diri mereka untuk lawan jenisnya.
Bagi satu sama lainnya sebuah pernyataan bukanlah hal penting.
Mereka berdua melewati hari harinya dengan kebersamaan setiap waktu.
Davin yang lebih mengutamakan beberapa fitur games nya yang dirancang lebih awal olehnya membuat dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dari pada di luar rumah. Hanya saja ada kalanya dia harus datang untuk menghadiri beberapa rincian gagasan gagasan baru dari ojek online nya yang dikembangkan oleh Fero membuatnya harus mendapatkan persetujuan darinya sendiri atas dasar hak cipta.
Dan Velicia juga yang selalu memilih untuk menuruti perkataan suaminya dalam segala hal. Jika Davin mengatakan tidak maka Velicia tidak akan melakukan hal yang tidak diinginkan oleh suaminya. Jika Davin melarangnya untuk tidak keluar bahkan hanya untuk berada di teras depan maka Velicia akan menurutinya.
Selain karna untuk kebaikan anak yang dikandungnya, Velicia juga merasa bahwa tidak ada baiknya melawan perkataan Davin.
Hingga akhirnya rumah besar tiga lantai itu yang biasanya dilingkupi akan kesunyian dan begitu tenang mulai menunjukan adanya kehangatan baru setelah lahirnya anak pertama mereka yang Davin dapatkan dari jerih payahnya dulu saat terus menerus memaksakan kehendaknya pada Velicia.
Kelahiran anak pertama yang tidak bisa juga dikatakan dengan buah cinta dari Davin dan Velicia akhirnya mendapat perhatian hangat dari orang tua bayi itu sendiri, meski awalnya Velicia kira bahwa Velicia tidak akan mampu hidup lama dengan Davin, tapi apa mau dikata jika dirinya kali ini berbanding terbalik dari perkiraannya. Karna pada kenyataanya, Velicia begitu bahagia kali ini. Kebahagiaan yang untuk pertama kalinya wanita itu rasakan selama hidupnya.
Memiliki suami yang awalnya tidak ia cintai bahkan sangat ia benci telah selalu berusaha melindunginya, menyayanginya meski Velicia tahu mungkin juga sampai detik ini pria itu bisa saja masih menaruh hati pada mantan kekasihnya telah merubah pandangan Velicia tentang suaminya, atau mungkin telah merubah perasaan Velicia yang kini telah melunak dan mulai benar benar mau menerima Davin sebagai pria satu satunya dalam hidup Velicia.
Selain menjadi suami yang selalu siaga dan selalu menjaganya, Davin juga telah merubah sedikit sikapnya yang suka terlalu memaksa Velicia untuk ini dan itu setelah lahirnya putri kecil mereka.
Meski tidak sepenuhnya, tapi itu lebih baik karna Davin kadang mau mengalah jika istrinya mulai mengeluh mengenai putri mereka yang selalu terjaga disepanjang malam dan hanya akan tidur disiang hari.
Davin pun terus berusaha untuk menjadi ayah terbaik untuk putri kecil meraka. Putri yang berdominan menyerupai Davin atau bisa disebut dengan Davin versus perempuan kecil itu juga telah mampu membuat kebahagian tersendiri dari kedua belah pihak keluarga.
Karna kelahiran putri mereka adalah kelahiran cucu pertama di dalam keluarga Mayndra maupun dari keluarga Velicia.
Vania Lavina Putri Mayndra
__ADS_1
Nama yang secara langsung hanya mendapat campur tangan dari ayah kandungnya dan tidak ingin mendapat usulan lain bahkan dari sang kakek yang memiliki marga pun tidak diberi hak akan pemberian nama pada cucu pertama keluarga David.
"Davin kemana Vel? Mommy tidak melihatnya?" ucap wanita setengah abad itu sambil membedong seorang bayi perempuan yang baru berusia delapan hari.
Setelah kelahiran Vania yang telah diketahui dan dilakukan secara persalinan caesar, David dan Melliza selaku orang tua dari Davin langsung bertolak dan menetap sementara di rumah putra mereka untuk ikut ambil bagian dalam menjaga cucu pertama mereka.
Sedangkan orang tua Velicia sendiri yang tidak terlalu jauh meski tidak bisa dibilang terlalu dekat pula hanya berkunjung diwaktu siang hari dan akan pulang saat larut menjelang disetiap harinya saat awal kehadiran Vania.
Velicia: "Davin tadi pamit hendak membeli botol susu di toko" sahutnya sambil membersihkan kotoran Vania yang baru saja dibersihkan oleh ibu mertuanya.
Mommy: "Botol susu?" tanyanya mengernyit heran.
Velicia: " Iya"
Mommy: "Untuk Vania?" tanyanya lagi masih penasaran.
Mommy: "Vania mau langsung dialihin ke susu formula? Apa tidak terlalu dini?" tebaknya asal saat pikirannya datang menghampiri.
Velicia: "Tidak mommy tidak" sahutnya cepat menepis pemikiran ibu dari suaminya.
Velicia: "Selagi Veli masih sanggup memberi ASI, Veli akan terus memberi ASI untuk Vani mommy. Veli juga tidak mau Vani kekurangan ASI" lanjutnya menjelaskan.
Mommy: "Lalu untuk apa botol susu?"
"Palingan juga putra kamu itu tidak mau berbagi put*ng dengan putrinya. Dia ingin milik istrinya hanya dia saja yang menikmati dan tidak mau ada yang merecoki, sudah jelas dari raut wajahnya" sosok lain yang sedari tadi terduduk dengan kepala yang mengadah ke atas dengan mata terpejam itu ikut ambil suara.
Mommy: "Daddy ini ngomong apa? Mana mungkin Davin seperti itu pada putrinya sendiri. Dan lagi mana tega Veli menyusui Vania dari botol" serunya tidak terima.
Daddy: "Pemompa ASI di kotak steril itu jawabannya. Mungkin mommy bisa bertanya langsung pada menantu tercinta kita tentang kenyataanya jika mommy masih tidak percaya akan ucapan daddy"
__ADS_1
Velicia yang mendengar itu hanya mengalihkan pandangan dan bergegas pergi dengan berpura pura menyibukkan diri mencuci kain yang terkena ompol Vania.
Daddy: "Mau mengumpat daddy nya sebagaimana juga tetap saja dia sama seperti daddy. Hanya saja menantu kita mau mengalah dan menuruti suaminya tidak seperti mommy yang galak terhadap daddy setiap kali daddy memintanya dulu"
Daddy: "Dulu saja selalu mengatakan daddy ku seorang hypersex. Sekarang siapa yang hyper bahkan sampai tega terhadap anaknya sendiri" sindirnya saat David mencoba menggangu tidur nyenyak cucunya dalam gendongan istri tercintanya.
Mommy: "Davin seperti itu karna dia adalah putramu" ucapnya disertai tepisan tangan saat suaminya terus saja mengganggu cucunya.
Daddy: "Vania sayang. Meski kamu mirip dengan ayah mu, grandpa dan grandma mohon kamu jangan sama sepertinya ya"
Daddy: "Kasihan bunda mu, jangan biarkan menantu grandpa menyesal telah melahirkan cucu cantik seperti mu. Ok?" ocehnya terus dengan berusaha mengajak bicara pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa apa.
Mommy: "Daddy ini ngomong apa?! Kalau Davin dengar bisa diusir daddy dari rumah ini dan tidak boleh kembali lagi. Bahkan tidak boleh bertemu dengan Vania lagi. Daddy mau?!"
Daddy: "Davin bisa apa? Mengusir daddy? Menjauhkan daddy dari cucu daddy? Apa mungkin bisa"
Daddy: "Davin yang seperti ini semua berkat dari daddy. Ketampanannya? Kepintaran dan kejeniusannya? Sikap tegasnya? Menurut mommy dari siapa kalau bukan dari daddy"
Daddy: "Kalau Davin tidak seperti daddy, bagaimana mungkin bisa menantu kita menerimanya dengan begitu cepat atas segala sikapnya dulu. Dan bagaimana mungkin anak itu bisa mendapatkan bayi cantik seperti Vania kalau bukan dari gen daddy. Semua itu berkat daddy, bukankah seharusnya mommy juga bersyukur karna telah mendapatkan daddy?"
Mommy: "Sejak kapan daddy menjadi narsis seperti ini?"
Daddy: "Narsis? Tidak. Daddy hanya berusaha mengingatkan mommy akan perjuangan mommy dulu yang pertama mengejar seorang dokter pria beristri. Mommy ingat pertama kali kita bertemu? Pertama kali kita berciuman? Pertama kali kita saling terbuka dan melihat satu sama lain? Dan apa mommy ingat malam pertama kita?" ucapnya menggoda.
Mommy: "Tidak" sahutnya berbalik badan dan pergi membawa bayi mungil dalam gendongannya.
Mommy: "Yang mommy ingat hanya saat daddy terus memaksa mommy dan memperkosa mommy hingga mommy mengandung Celine"
Mommy: "Dan lagi, saat mommy diperkosa lagi oleh daddy untuk mengandung Davin dan memaksa Celine yang kala itu baru berusia enam bulan untuk beralih ke susu formula. Yang mommy ingat hanya pemaksaan daddy yang selalu ingin mommy mengandung lagi dan lagi tidak ada yang lain"
__ADS_1