
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Hari ini Okta kembali datang ke rumah besar yang sama sekali Bram tidak tahu, sesampainya di rumah besar itu, Okta terlihat celingukan.
"Kalian harus berjaga-jaga yang benar, jangan sampai ada orang yang mengikutiku lagi dan tahu tentang rumah ini, kalau kalian melihat ada orang yang mencurigakan langsu g eksekusi saja jangan banyak mikir," seru Okta.
"Baik Tuan."
Okta pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu, Okta berjalan ke lantai dua dan berdiri di depan sebuah kamar dengan pintu jati dengan ukiran-ukiran yang sangat unik.
Okta mengambil kunci dari kantong celananya dan perlahan membuka pintu itu.
Ceklek....
Okta pun masuk ke dalam kamar itu, Okta menyunggingkan senyumannya saat melihat seseorang yang terbaring di atas tempat tidur dengan posisi kaki dan tangan yang terpasung.
"Mau sampai kapan kamu memperlakukanku seperti ini, Okta?"
Suara itu tampak tegas dan sangat mengintimidasi.
Okta kembali menyunggingkan senyumannya. "Sampai Tuan mau mengikuti semua keinginanku."
"Keinginan kamu yang mana? semuanya sudah aku lakukan, bahkan sekarang kamu sudah menjadi ketua dari God Of Death. Kamu pun sudah mendapatkan semuanya rumah mewah dan uang yang berlimpah. Sekarang apa lagi yang kamu inginkan?"
Perlahan Okta menghampiri orang itu dan menggeser kursi kemudian duduk di hadapan orang itu. Ternyata dia adalah Gerrald, selama sepuluh tahun ini Okta mengurung Gerrald disana dengan posisi kaki dan tangan terpasung.
"Aku tahu, Tuan menyimpan surat-surat penting mengenai beberapa saham God Of Death yang sangat fantastis itu dan kemarin aku bertemu dengan investor dari Jepang, mereka ingin membeli lahan yang ada disana dan mereka akan membayar sepuluh kali lipat untuk lahan itu," seru Okta.
Gerrald menyunggingkan senyumannya. "Aku tidak menyimpan surat-surat itu semuanya Bram yang menyimpannya dan bukanya anak buah kamu sudah membunuh Bram," sahut Gerrald.
"Apa? sial...."
"Aku tahu dari dulu kamu mengincar posisiku menjadi ketua, terus sekarang kamu sudah mendapatkan posisi itu jadi lepaskan aku dan biarkan aku hidup bebas bersama keluargaku!" bentak Gerrald.
"Tidak semudah itu Mr.G, sebelum aku mendapatkan semuanya aku tidak akan pernah melepaskanmu. Apalagi lahan itu sangat penting karena banyak sekali orang yang mengincarnya, kalau aku sampai mendapatkan lahan itu semua orang akan bertekuk lutut kepadaku dan dunia ini akan segera berada dalam genggamanku," seru Okta dengan tawanya yang menggelegar.
"Kamu tidak akan pernah mendapatkan lahan itu, Okta."
Okta menghampiri Gerrald...
__ADS_1
Bughh..bughh..
Okta memukul wajah Gerrald membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah, tapi Gerrald hanya menyunggingkan senyumannya bagi Gerrald pukulan Okta tidak ada apa-apa dibandingkan rasa sakit akan dipisahkan dari keluarganya sendiri.
Lahan yang memiliki luas seratus hektar itu adalah lahan yang diperebutkan oleh kalangan Mafia. Bagi yang memiliki lahan itu menjadi pertanda kalau orang itu sangat kaya dan sangat disegani oleh kalangan Mafia lainnya karena harganya pun bernilai fantastis dan menjadi tolak ukur kalau lahan itu adalah pertanda sang pemilik memiliki kekuasaan tertinggi.
"Tuan jangan main-main denganku, tidak mungkin hanya Bram yang memegang surat itu pasti Tuan menyembunyikan surat yang aslinya kan? cepat katakan dimana surat itu!" bentak Okta.
"Aku sudah bilang, semua surat-surat penting aku serahkan kepada Bram."
Okta menjambak rambut Gerrald yang saat ini terlihat gondrong, tapi walaupun rambut Gerrald gondrong dan wajahnya dipenuhi bulu-bulu halus tetap saja Gerrald terlihat tampan.
"Kalau Tuan tidak mau memberitahuku mengenai surat itu, aku akan kerahkan anak buahku untuk mencari keluargamu dan membunuh mereka semua," ancam Okta.
"Berani kamu menyentuh keluargaku, aku bersumpah aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri," seru Gerrald dengan mata yang memerah.
"Hahaha....."
Okta melepaskan jambakannya dan tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana Tuan bisa menghabisiku, sementara saat ini saja nyawa Tuan sudah berada di ujung telunjukku. Aku tinggal menjentikan jariku, dan namamu hanya akan menjadi tinggal kenangan. Tapi, aku tidak akan membunuh Tuan secepat itu karena harta yang paling berharga belum bisa aku dapatkan. Pikirkan baik-baik, karena nyawa keluargamu ada di tanganku," seru Okta.
Okta pun melangkahkan kakinya meninggalkan kamar tempat dimana sepuluh tahun ini Gerrald di pasung disana.
"Kurang ajar, Ya Allah aku mohon lindungi istri dan anak-anakku."
"Bagaimana keadaan kalian sekarang? maafkan Daddy yang sudah tidak becus menjaga kalian semua. Semoga kalian baik-baik saja, tunggu Daddy pasti Daddy akan kembali kepada kalian," batin Gerrald.
Sementara itu, salah satu anak buah Okta melihat kalau Okta sudah pergi dari rumah itu. Dia dengan mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Gerrald dan dengan cepat menutup pintunya kembali.
"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan istri dan anak-anakku?" tanya Gerrald.
"Belum Tuan, semenjak Tuan disini sepuluh tahun yang lalu ternyata istri dan anak-anak Tuan sudah pindah dari rumah itu dan saya kehilangan jejak mereka," serunya dengan menundukan kepalanya.
"Ya ampun, mereka pindah kemana?" gumam Gerrald khawatir.
"Tapi menurut saya, mereka sangat cerdik Tuan karena Okta pun tidak bisa menemukan keberadaan mereka, dan saya yakin untuk saat ini mereka masih aman."
"Iya, tapi ke depannya tidak menutup kemungkinan kalau Okta bisa menemukan mereka. Oh iya, bukanya di markas utama kita punya orang suruhan?" seru Gerrald.
"Iya Tuan, namanya Jeje."
"Coba nanti kamu koordinasi bersama dia, barang kali dia sudah menemukan informasi penting mengenai kelurgaku."
"Baik Tuan, malam ini juga saya pergi ke markas utama untuk menemui Jeje."
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi jangan sampai anak buah yang lainnya curiga sama kamu."
__ADS_1
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
Orang itu pun langsung keluar dari dalam kamar Gerrald, selama ini Gerrald memang masih punya anak buah setia dan lewat mereka Gerrald bisa mendapatkan informasi mengenai keluarganya tapi sayang untuk saat ini anak buahnya itu belum menemukan keberadaan keluarganya membuat Gerrald merasa sangat khawatir.
"Kalian ada dimana? semoga kalian baik-baik saja, Daddy sangat merindukan kalian pasti sekarang kalian sudah tumbuh menjadi dewasa," gumam Gerrald.
Deg...
Gea yang saat ini sedang mengikuti mata kuliah, tiba-tiba merasa jantungnya berdebar sangat cepat dan pikirannya langsung tertuju kepada Daddynya.
"Daddy..." gumam Gea.
Tata langsung menoleh ke arah Gea. "Kamu kenapa, Ge?"
Gea tidak menjawab pertanyaan Tata, tangannya memegang dadanya sendiri entah kenapa tiba-tiba Gea teringat akan Daddynya.
"Daddy, dimana Daddy sekarang? Gea yakin Daddy masih hidup, dan Gea akan segera menemukan Daddy," batin Gea.
Tata menepuk pundak Gea. "Kamu kenapa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Gea pun kembali memperhatikan Dosen yang sedang menjelaskan mata kuliahnya, sedangkan Rival tampak memperhatikan Gea.
"Kenapa dengan dia? dari tadi aku lihat sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan," batin Rival.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU