
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Setelah sarapan, Gea pun pamit kepada Yanti dan Tatang. Yanti bangkit dari duduknya hendak menahan Gea supaya tidak keluar, tapi Tatang segera menahannya.
“Biarkan dia keluar, dia juga butuh menghirup udara segar,” seru Tatang.
“Tapi Pak, bagaimana kalau diluar sana ada orang yang mengenali Lia?” sahut Yanti cemas.
“Memangnya kenapa kalau ada yang mengenalinya? Bukanya itu malah bagus, dan itu tandanya dia harus kembali kepada keluarganya.”
“Tidak Pak, Lia tidak boleh pergi dari sini.”
Tatang menggenggam tangan istrinya itu. “Bu, Lia itu sudah meninggal dan Ibu sendiri sudah menyaksikan pemakamannya dan anak itu hanyalah kebetulan mirip dengan Lia.”
“Tidak Pak, itu tetap Lia dan selamanya akan menjadi anak kita,” kesal Yanti.
Yanti pun beranjak dari duduknya hendak menyusul Gea, tapi disaat Yanti keluar ternyata Gea sudah tidak ada dan itu membuat Yanti sangat khawatir.
Berbeda halnya dengan Gea, dia mengayuh sepedanya dengan perasaan yang sangat bahagia. Gea sangat menikmati suasa desa kecil itu yang sangat nyaman.”
“Aku harus cari kerja kemana? Benar apa yang dikatakan Ibu, kalau disini mayoritas penduduknya bekerja sebagai Nelayan,” gumam Gea.
Sementara itu...
“Aku mau ke toko bunga yang ada disana dulu, habis itu aku mau ke pantai,” seru Fox.
“Mau saya antar, Tuan!”
“Ah, tidak usah aku bisa sendiri.”
Victor pun berjalan menuju toko bunga, hari ini adalah bertepatan dengan hari dimana kejadian menyakitkan itu terjadi.
Victor ingin membeli bunga dan melemparkannya ke laut, berharap Gea akan menemukan bunga itu dan kembali pulang.
Jarak dari rumah Victor menuju toko bunga itu tidaklah jauh, hanya beberapa ratus meter saja tapi Victor memilih jalan kaki dibandingkan menggunakan mobil. Victor merasa senang saja melihat aktivitas masyarakat disana.
Tidak lama kemudian, Victor pun sampai di toko bunga.
“Selamat pagi Mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya si pelayan.
“Mbak tolong carikan bunga yang paling bagus dan indah.”
“Maaf, bunganya untuk siapa? Orangtua, teman, atau kekasih?”
“Buat kekasihku.”
“Baiklah, tunggu sebentar Mas.”
Selagi menunggu, Victor pun berkeliling melihat-lihat bunga yang ada disana.
Setelah berkeliling kesana-kemari, Gea pun memutuskan untuk beristirahat sebentar. Gea menuntun sepedanya, hingga dari kejauhan Gea melihat sebuah toko bunga.
“Ternyata disini ada toko bunga juga, apa aku kesana saja ya? Mudah-mudahan toko bunga itu sedang membutuhkan pekerja,” gumam Gea.
Gea pun dengan semangat melangkahkan kakinya sembari menuntun sepedanya. Bibirnya terangkat melengkung membentuk sebuah senyuman.
Sesampainya di depan toko bunga, Gea memperhatikan toko yang lumayan besar besar itu.
“Mudah-mudahan toko ini membutuhkan pekerja,” gumam Gea kembali.
Gea lagi-lagi menyunggingkan senyumannya, melihat deretan bunga yang berjejer dan ditata dengan rapi.
Sedangkan di dalam toko, Victor sudah selesai. Setelah dibayar, Victor pun segera keluar dari toko bunga itu.
__ADS_1
Gea dan Victor sama-sama menoleh, dan betapa terkejutnya Victor saat disana ada Gea sedang berdiri di hadapannya.
Plukk....
Bunga yang Victor pegang terjatuh ke jalanan, tatapan keduanya sama-sama tidak mau lepas. Mata Victor terlihat berkaca-kaca, perlahan Victor menghampiri Gea.
“Gea.....”
Gea hanya bisa berdiri mematung, jantung yang selama ini selalu berdetak tak karuan sekarang kembali berdetak lagi. Gea seakan mengenal lama pria di hadapannya ini tapi siapa.
Tangan Victor terulur dan menyentuh pipi Gea, Victor menyunggingkan senyumannya.
“Gea, ini benar kamu Gea berarti aku tidak sedang berhalusinasi.”
Victor langsung memeluk Gea dan airmatanya pun akhirnya menetes.
“Akhirnya kamu kembali Gea, aku sangat merindukanmu. Selama ini aku menunggumu dan mencarimu kemana-mana,” seru Victor.
Gea hanya bisa mematung, dia tidak tahu harus melakukan apa. Disatu sisi, Gea sama sekali tidak mengenal orang itu tapi disisi lain Gea tidak bisa melepaskan pelukan Victor.
Walaupun Gea tidak mengenal Victor, tapi entah kenapa Gea merasa merindukan pria itu.
“Ka—mu si—apa?” seru Gea.
Victor mengerutkan keningnya, kemudian melepaskan pelukannya. Victor menatap mata Gea dengan seksama dan Victor yakin kalau dia benar-benar Gea miliknya.
“Gea...”
“Maaf, kamu siapa?”
“Apa? Kamu tidak mengenalku?” tanya Victor kaget.
Gea menggelengkan kepalanya lemah.
“Gea, kamu Gea dan aku adalah Victor kekasihmu.”
“Victor? Kekasihku?”
“Lia.....”
Gea dan Victor menoleh bersamaan...
Ternyata Yanti menyusul Gea dan mencari Gea, Yanti langsung menarik tangan Gea dan menghalangi Gea.
“Anda bukanya warga baru disini? Rumah anda yang besar itu kan? Tolong jangan ganggu anak saya, ayo Lia kita pulang!” ajak Yanti.
Gea pun akhirnya menurut kepada Yanti, tapi selama Gea berjalan Gea terus saja menoleh ke belakang dan melihat Victor yang masih berdiri disana.
“Victor...Victor...siapa dia? Kenapa dia bilang kalau dia kekasihku?” batin Gea.
“Aku yakin dia Gea, ada sesuatu yang terjadi sama Gea dan aku harus menyelidikinya,” batin Victor.
Victor pun segera pulang ke rumahnya, begitu pun dengan Gea yang masih sibuk dengan pikirannya.
“Lia, Ibu kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh sembarang mengobrol dengan orang asing, kalau dia berniat mencelakai kamu atau menculik kamu bagaimana?” kesal Yanti.
Gea tidak mendengarkan ocehan Yanti, Gea pun masuk ke dalam kamarnya. Gea duduk di ujung tempat tidur.
“Siapa dia sebenarnya?” batin Gea.
Tiba-tiba bayangan entah siapa muncul di pikiran Gea, membuat Gea merasa bingung. Saking terus berseliweran di otaknya, Gea pun memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
“Aw....”
Gea memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut.
Bruukkk...
Gea jatuh tak sadarkan diri...
“Ya Allah Lia, kamu kenapa?” seru Yanti panik.
__ADS_1
Tatang yang baru saja pulang pun merasa kaget melihat Gea sudah tak sadarkan diri.
“Ya ampun, dia kenapa?” tanya Tatang.
“Ibu juga tidak tahu Pak, tapi Lia langsung pingsan.”
Tatang pun mengangkat tubuh Gea dan merebahkannya di atas tempat tidur. Yanti dan Tatang mengolesi minyak angin dan memijit kepala Gea.
Â
***
Sementara itu, dengan tergesa-gesa Victor pun masuk ke dalam rumahnya. Victor segera menghubungi Daddy Gerrald memberitahukan kalau dia bertemu dengan Gea tapi anehnya Gea tidak mengenalinya sama sekali.
“Ada apa Tuan?” tanya Fox.
“Fox, barusan aku bertemu dengan Gea tapi anehnya Gea tidak mengenaliku.”
“Kok bisa?”
“Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin kalau itu memang Gea karena aku tahu tatapan Gea seperti apa.”
“Terus sekarang Gea dimana?”
“Tadi Gea dibawa oleh Ibu-ibu, tapi Ibu-ibu itu memanggilnya dengan sebutan Lia bukan Gea.”
“Tuan salah lihat mungkin.”
“Tidak Fox, aku kenal siapa Gea dan aku yakin wanita itu Gea. Kamu harus cari tahu dimana Gea tinggal, pasti dia tinggal disalah satu rumah disini,” seru Victor.
“Baik Tuan.”
Tanpa menunggu lagi, Fox pun langsung pergi mencari keberadaan Gea. Berbeda halnya dengan Gerrald, ia langsung menghubungi kedua anaknya dan juga Bram.
Bram langsung melajukan mobilnya menuju tempat dimana Victor tinggal saat ini.
“Dad, Victor tidak bercanda kan?” seru Glenn.
“Tidak Glenn, tapi Victor bilang anehnya Gea tidak mengenali Victor,” sahut Gerrald.
“Apa? Kok bisa?”
“Mangkanya, kita harus segera kesana Daddy ingin membuktikan itu Gea apa bukan.”
Gerrald benar-benar ingin cepat-cepat bertemu dengan puterinya itu.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Â
__ADS_1
Â