MY BEAUTIFULL BODYGUARD

MY BEAUTIFULL BODYGUARD
Perasaan Aneh


__ADS_3

🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Gea merebahkan tubuhnya, tangannya menyentuh dadanya.


"Kenapa jantung aku dari tadi berdebar terus? terus kok aku merasa aku merindukan seseorang, tapi siapa?" batin Gea.


Gea kembali memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.


"Pak, tadi Ibu lihat rumahnya Juragan Dadang sudah ada yang membeli ya? soalnya ada mobil terparkir disana," seru Yanti.


"Sepertinya iya, katanya yang membeli rumah Juragan Dadang itu orang kota dan yang sudah melihat orangnya, kata mereka orang itu sangat menyeramkan karena seluruh tubuhnya penuh dengan tato walaupun wajahnya memang ganteng sih."


"Iyakah Pak? jangan-jangan mereka buronan lagi yang kabur ke desa kita ini."


"Sepertinya bukan Bu, soalnya kata mereka orang itu baik dan ramah."


"Syukurlah kalau seperti itu. Lia mana?" tanya Yanti.


"Bapak suruh rebahan karena katanya tadi kepalanya pusing."


"Apa? pusing kenapa?"


"Bapak juga tidak tahu."


Yanti pun segera menuju kamar Gea, dia merasa khawatir dengan keadaan Gea.


"Lia sayang, kamu kenapa?" tanya Yanti khawatir.


"Kepala aku sedikit pusing."


"Mau Ibu ambilkan obat?"


"Tidak Bu, ini hanya pusing biasa nanti juga sembuh sendiri."


"Ya sudah, Ibu ambilkan sarapan dulu ya kamu harus sarapan dulu biar tidak pusing."


Gea hanya menganggukan kepalanya, Gea kembali melihat ke arah jendela entah kenapa Gea ingin melihat keluar terus. Perlahan Gea pun kembali bangkit dari tempat tidurnya, baru saja satu langkah Yanti pun datang.


"Lia, kamu mau kemana? sini sarapan dulu."


"Ah iya Bu."


Gea pun menghampiri Yanti dan tidak jadi mendekat ke arah jendela. Gea duduk di atas tempat tidur dan mulai menyantap sarapan yang sudah dimasakan oleh Yanti.


Sementara itu, Victor terlihat celingukan dan membalikan tubuhnya. Victor memperhatikan rumah yang tidak jauh dari pantai itu, Victor melihat ke arah jendela rumah itu.


"Rumah siapa itu? kok jantung aku tiba-tiba berdebar tidak karuan seperti ini," gumam Victor.


"Tuan, sarapanya sudah siap. Ayo kita sarapan dulu!" seru Fox.


"Iya."


Victor pun meninggalkan pantai itu dengan pandangannya terus memperhatikan rumah sederhana itu.


***


Gio saat ini sedang duduk sendirian di taman kampus, sedangkan Glenn entah kemana.


"Bisa kita bicara sebentar," seru Priska.


"Mau bicara apa?" tanya Gio.

__ADS_1


Priska pun duduk di samping Gio, Priska tampak gugup dia ingin sekali menanyakan tentang kejadian dulu tapi Priska merasa takut.


Gio menoleh ke arah Priska. "Kamu mau bicara apa?" tanya Gio dingin.


Priska menelan salivanya dengan susah payah, hingga akhirnya Priska pun bangkit dari duduknya.


"Tidak jadi, maaf."


Priska hendak melangkahkan kakinya tapi Gio menahannya.


"Katakan, apa yang mau kamu bicarakan denganku?"


Priska meringis, tapi tidak lama kemudian mata Priska mulai berkaca-kaca dia merasa takut dengan tatapan Gio.


"Hendri Pamungkas, pengusaha Batu bara," seru Priska.


Gio membelalakan matanya, perlahan Gio melepaskan tangannya dan mundur satu langkah.


"Ka--mu....."


Airmata Priska pun mulai jatuh dan Priska pun lebih memilih berlari pergi meninggalkan Gio. Tubuh Gio lemas, dia terduduk di kursi taman dengan pikiran yang entah melayang kemana-mana.


"Kenapa dia bisa tahu kalau orang itu aku?" batin Gio.


"Woi, kamu kenapa? kok wajah kamu pucat seperti itu?" tanya Glenn.


"Priska, dia tahu kalau aku yang sudah membunuh kedua orangtuanya," sahut Gio.


"Apa? sial, itulah akibat dari kecerobohanmu. Aku kan sudah bilang, jangan sisakan saksi mata dan sekarang terbukti kan, dia akan membahayakan kita jadi kita harus bunuh Priska," seru Glenn dengan kesalnya.


"Tidak Glenn, jangan lakukan itu."


Glenn mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? kamu mau membiarkan dia hidup dan kita akan masuk penjara!" bentak Glenn.


"Aku sudah tidak peduli lagi Glenn, lagipula kita memang pantas mendapatkannya. Kita sudah terlalu banyak membunuh orang yang tidak berdosa hanya demi uang, jadi aku siap menanggung semua akibatnya," sahut Gio dengan menundukan kepalanya.


"Terus bagaimana dengan Daddy, siapa yang akan menjaga dia dan siapa yang akan menemani dia untuk mencari Kak Gea!" bentak Glenn.


Tapi karena atas nama profesional, Gio mampu melakukan hal kejam itu. Glenn sudah sangat marah kepada Gio memilih untuk pergi meninggalkan Gio.


"Kak, kembalilah," batin Gio dengan airmata yang menetes dari kedua matanya itu.


Praaanngggg...


Gea menjatuhkan piring yang dia pegang, dan Gea pun memegang dadanya.


"Astaga Lia, kamu kenapa? apa ada yang terluka?" seru Yanti khawatir.


Gea hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Yanti, Yanti pun memapah Gea untuk duduk di kursi kayu yang sangat sederhana itu.


"Sebentar ya, Ibu bereskan dulu pecahan piringnya takutnya keinjek sama kaki kamu."


Gea hanya menganggukan kepalanya. "Ada apa ini? kenapa dari kemarin aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Aku merasa ada seseorang yang sedang menungguku, tapi siapa? dan kenapa?" batin Gea.


Beberapa saat kemudian, Yanti pun selesai membereskan pecahan piring itu dan Yanti mengajak Gea untuk istirahat di kamarnya.


Gea kembali terduduk di atas tempat tidurnya.


"Kamu istirahat ya Nak, jangan banyak pikiran biar kamu cepat sembuh."


Yanti pun hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Gea.


"Tunggu! Bu, bolehkan aku bertanya?"


Yanti kembali menghampiri Gea dan duduk di samping Gea. "Kamu mau tanya apa, Lia?"


"Apa selama aku tidak sadarkan diri, ada orang yang menungguku?" tanya Gea.


Yanti mengerutkan keningnya. "Tidak ada, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa kok Bu aku hanya ingin tahu saja."


Yanti tersenyum dan mengusap kepala Gea. "Kamu itu belum punya kekasih Lia, jadi tidak ada orang yang menunggu kamu. Sudah ya, Ibu mau ke pantai dulu bantu Bapakmu mencari ikan. Ingat, kamu jangan kemana-mana kamu itu masih sakit dan Ibu sudah siapkan makanan untukmu jadi kalau kamu merasa lapar, kamu bisa cari makanan di dapur."


Gea kembali menganggukan kepalanya, Yanti pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Gea. Yanti dengan cepat keluar dari rumahnya dan menguncinya.


"Pokoknya anak itu tidak boleh ingat apa pun, dia akan menjadi anakku selamanya," batin Yanti.


***


Malam ini Gio datang ke rumah Priska, Priska tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Priska sudah menjual rumah orangtuanya, dan Priska tidak mau tinggal disana karena Priska trauma dan bayangan kematian kedua orangtuanya selalu membekas di kepalanya.


Ting tong ting tong....


"Iya, tunggu sebentar!" teriak Priska.


Ceklek...


Priska membelalakan matanya saat melihat siapa yang datang, Priska segera menutup kembali pintunya tapi dengan cepat Gio menahannya.


Dengan satu kali hentakan, pintu rumah Priska pun terbuka. Gio segera masuk ke dalam rumah Priska dan menutup kembali pintunya.


"Kamu mau ngapain kesini?" tanya Priska dengan bibir yang bergetar.


Priska saat ini sungguh sangat takut kepada Gio, Priska terus memundurkan langkahnya menjauhi Gio.


"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!" ancam Priska.


"Berteriaklah, bahkan kalau kamu lapor polisi pun aku tidak peduli."


"Kamu memang jahat Gio, apa salah kedua orangtuaku sampai-sampai kamu membunuh mereka!" teriak Priska dengan deraian airmata.


"Maaf...maafkan aku."


"Apa? maaf? mudah sekali kamu bicara maaf, setelah kamu membunuh kedua orangtuaku. Apa bagi kamu nyawa seseorang itu sangat tidak berharga? sampai-sampai dengan mudahnya kamu menghilangkannya tanpa rasa belas kasihan!" bentak Priska.


Gio menundukan kepalanya, perlahan Gio mengeluarkan pistol dari saku jaketnya membuat Priska kembali membelalakan matanya.


"Kamu mau membunuhku, Gio?"


Gio menyimpan pistol itu di atas meja membuat Priska mengerutkan keningnya.


"Ambilah pistol itu, dan tembak aku sesuka hatimu. Bukanya hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa juga, dan aku hutang nyawa kepadamu," seru Gio.


Priska menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukannya. Bukanya Priska tidak dendam akan kematian kedua orangtuanya, tapi rasa cinta Priska kepada Gio mampu mengalahkan rasa dendamnya.


Ya, Priska memang sudah mulai menyukai Gio pria tampan yang sudah membunuh kedua orangtuanya.


🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2