
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Gea segera berlari keluar dan dengan cepat mengotak-ngatik ponselnya untuk menghubungi Victor.
Sementara itu Victor baru saja sampai di kantor dan Victor pun langsung duduk di kursi kebesarannya sembari senyum-senyum sendiri, pagi ini Victor sangat bahagia.
Fox mengerutkan keningnya. "Ada apa Tuan? seperti saat ini Tuan sedang bahagia?"
"Tentu saja, pokoknya pagi ini aku sangat bahagia."
Tidak lama kemudian, ponsel Victor pun berbunyi dan tertera nama Gea di layar ponselnya. Senyum Victor kembali mengembang.
"Ya ampun, wanitaku ini baru saja bertemu sudah menghubungiku lagi. Serindu itukah dia kepadaku?" seru Victor dengan menatap layar ponselnya.
Fox hanya bisa tersenyum bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa orang yang lagi jatuh cinta kelakuannya memang seperti orang gila ya?" batin Fox.
Victor pun segera mengangkat teleponnya. "Ha----"
Baru saja Victor ingin bersuara, diujung sana Gea sudah bicara tanpa henti membuat Victor mengerutkan keningnya.
Tut..tut..tut..
Victor menatap heran ponselnya...
"Kenapa Tuan?"
"Gea minta aku antar dia ke rumah orang yang sudah menolongnya dulu."
"Maksudnya ke kampung kecil itu?"
"Iya, ya sudah aku titip kantor aku mau pergi dulu."
"Apa perlu saya ikut, Tuan?"
"Tidak usah, kamu disini saja."
Victor pun segera keluar dari dalam ruangannya dan dengan cepat masuk ke dalam mobilnya. Victor masih bingung, kenapa tiba-tiba dia meminta antar kesana padahal orang itu adalah yang sudah menyebabkan Gea kecelakaan.
Sesampainya di depan kampus, Gea sudah menunggu kedatangan Victor. Setelah melihat mobil Victor datang, Gea langsung masuk ke dalam mobil Victor.
"Victor, cepetan aku harus segera kesana."
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin kesana?" tanya Victor.
"Ada janji yang harus aku tepati."
"Janji apa?"
"Aku sudah janji akan membayar hutang-hutang mereka dan hari ini adalah jatuh temponya."
Victor mulai melajukan mobilnya...
__ADS_1
"Kenapa mereka sampai punya hutang?"
"Sebenarnya mereka itu punya anak dan anaknya itu mirip sekali sama aku, tapi anak mereka sudah meninggal karena kanker dan mereka meminjam uang untuk biaya pengobatan anaknya itu."
Victor mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Butuh waktu berjam-jam dan mereka pun sampai ke kampung kecil itu menjelang sore.
Gea segera turun dari dalam mobil Gerrald dan berlari menuju rumah Ibu Yanti dan Pak Tatang. Victor pun segera menyusul Gea, sesampainya di depan rumah mereka betapa terkejutnya Gea saat melihat Ibu Yanti dan Pak Tatang terduduk termenung di depan rumahnya dengan tas besar yang berada di sampingnya.
"Ibu...Bapak."
Yanti dan Tatang mengangkat wajahnya dan betapa bahagiannya mereka saat melihat Gea sudah ada di hadapan mereka.
"Lia...."
Yanti segera berdiri dan berlari memeluk Gea.
"Lia akhirnya kamu kembali lagi kesini, Ibu tahu kalau kamu akan datang. Kamu pasti lebih memilih tinggal bersama Ibu dan Bapak disini kan?" seru Yanti.
Gea pun meleaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Yanti dan Tatang.
"Tidak Bu, Gea sudah lama mencari keberadaan Daddy Gea dan sekarang kami sudah berkumpul kembali jadi maafkan Gea, Gea tidak bisa tinggal bersama Ibu dan Bapak," sahut Gea.
Yanti langsung menundukan kepalanya merasa sedih dengan keputusan Gea.
"Terus, kalau kamu tidak mau tinggal bersama kami, kamu mau ngapain kesini?" tanya Yanti.
"Gea sudah janji akan melunasi hutang Ibu dan Bapak kepada juragan Darta."
"Sudah terlambat Nak, lihatlah rumah kami sudah dia segel dan kami sekarang sudah tidak punya tempat tinggal lagi," sahut Tatang.
Gea menatap Victor dan Victor tahu apa yang ingin Gea ucapkan.
"Hah...kamu serius Victor?" tanya Gea tidak percaya.
"Buat kamu apa sih yang enggak, semuanya akan aku berikan asalkan kamu bahagia," sahut Victor.
Gea tersenyum dan langsung memeluk Victor, tentu saja Victor sangat bahagia.
"Terima kasih Victor."
"Apa Tuan serius?" seru Tatang.
Gea melepaskan pelukannya. "Iya Pak, dia serius dia orangnya tidak pernah main-main," sahut Gea.
"Terima kasih Tuan, kalau boleh tahu Tuan ini siapanya Nak Gea?" tanya Tatang kembali.
Victor menatap Gea, pertanda Gea yang harus menjawabnya sekalian Victor juga ingin tahu apa jawaban Gea.
"Dia....Dia calon suamiku Pak," sahut Gea dengan merangkul lengan Victor.
"Ya Allah, kalian serasi sekali yang satu cantik dan yang satu lagi tampan. Nak, maafkan Ibu ya karena Ibu sudah egois ingin memiliki kamu seutuhnya soalnya wajah kamu sangat mirip dengan Lia anak Ibu," seru Yanti.
"Tidak apa-apa Bu, Gea juga ucapkan terima kasih karena Ibu dan Bapak sudah merawat Gea selama ini."
"Ya sudah, bawa barang-barang kalian dan ikut bersamaku," seru Victor.
Yanti dan Tatang pun mengikuti langkah Victor dan Gea. Victor segera membuka pintu rumah yang belum lama dia tempati itu.
"Ayo silakan masuk."
Semuanya pun masuk, Yanti dan Tatang sempat terkejut karena rumah itu ternyata sangat besar bahkan barang-barang yang ada di dalamnya merupakan barang-barang mewah.
__ADS_1
"Mulai sekarang, rumah ini milik kalian," seru Victor.
"Tuan, tapi ini terlalu berlebihan. Tuan membeli rumah ini pasti sangat mahal, kami merasa tidak pantas untuk mendapatkannya," seru Tatang.
Gea merangkul pundak Yanti dan Tatang. "Ibu dan Bapak tidak usah khawatir, calon suamiku itu orang yang sangat kaya bahkan rumahnya pun ada dimana-mana jadi kalau cuma memberikan rumah ini, itu tidak berarti apa-apa buat dia," seru Gea.
"Benarkah?"
Gea menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kalau begitu sekali lagi terima kasih Tuan, semoga kebaikan Tuan dibalas lebih banyak lagi oleh Allah," seru Yanti.
"Amin, tapi Ibu dan Bapak cukup do'akan saja semoga aku dan Gea selalu diberikan kebahagiaan," seru Victor.
"Pasti Tuan, kalau itu sudah tidak usah ditanya lagi kami pasti akan selalu mendo'akan untuk kebahagiaan kalian berdua."
"Sayang, sepertinya malam ini kita harus tidur dulu disini karena kalau balik lagi Jakarta aku ga kuat masih capek," seru Victor.
"Baiklah, tapi aku mau menghubungi Daddy dulu supaya dia tidak khawatir."
"Kalau begitu, Ibu minta izin untuk memakai dapurnya Tuan mau buatkan makan malam untuk kalian," seru Yanti.
"Boleh Bu, silakan."
"Ayo Bu, biar Bapak bantu."
Yanti dan Tatang pun pergi ke dapur, sedangkan Victor memperhatikan Gea yang saat ini masih berbicara dengan Daddynya.
Gea pun selesai, perlahan Gea melangkahkan kakinya menuju jendela kaca yang pemandangannya langsung ke lautan luas. Victor pun menghampiri Gea dan memeluk Gea dari belakang membuat Gea tersentak.
"Apa lagi yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi Nyonya Camberra," sahut Gea dengan senyumannya.
Victor pun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya, sungguh Victor merasa dangat bahagia. Begitu pun dengan Gea, akhirnya setelah perjalanan panjangnya yang penuh dengan lika-liku, saat ini dia bisa merasakan lagi kebahagiaan yang luar biasa.
Kembali berkumpul lagi bersama keluarganya dan menemukan seseorang yang akan menemaninya sampai akhir hayatnya.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1