MY BEAUTIFULL BODYGUARD

MY BEAUTIFULL BODYGUARD
Kemarahan Gerrald


__ADS_3

🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Perlahan, Gea melangkahkan kakinya naik ke atas ring dia tidak memperdulikan teriakan semuanya.


"Aku harus menang," batin Gea.


Okta duduk di kursi kebesarannya dengan senyuman yang terus mengembang. "Coba kita lihat, mau sampai kapan kamu terus bungkam Mr.G," batin Okta.


Gea memulai serangannya tapi sedikit pun tidak membuat anak buah Okta bergeming, bahkan tubuhnya pun tidak bergerak sama sekali saat Gea mencoba memukulnya.


"Sial, tubuh orang ini terbuat dari apa kenapa keras banget," batin Gea.


Gea kembali memukul orang yang satunya tapi tetap sama tidak ada perubahan, kedua orang itu justru melipat kedua tangannya di atas dada sembari tersenyum seolah-olah sedang mengejek Gea.


"Kekuatanmu tidak ada apa-apanya, jadi lebih baik sekarang kamu menyerah saja," seru salah satu dari mereka.


"Tidak, aku tidak akan menyerah."


Gea kembali melancarkan serangannya, tapi tetap saja sama hingga akhirnya salah satu dari mereka memukul Gea dan seketika Gea terjungkal dengan darah mengalir dari hidungnya.


"Hentikaann...aku bilang hentikaaann!" teriak Gerrald.


"Jangan dengarkan dia, habisi anak itu!" seru Okta.


Malam ini Gea sudah babak belur, Gea terlihat sangat lemas wajahnya sudah penuh dengan darah.


"Brengsek kamu Okta, hentikan aku bilang!" teriak Gerrald.


"Sudah stop."


Keduanya menghentikan pukulannya dan Gea sudah terkapar di atas ring tanpa bergerak sama sekali. Okta pun menghampiri Gerrald yang saat ini sudah terlihat sangat emosi.


"Berikan surat lahan itu, dan anakmu akan selamat," seru Okta.


"Aku sudah bilang, aku tidak menyimpan surat itu!" bentak Gerrald.


"Oh iya, aku lupa."


Okta pun menghampiri Bram dan menjambak rambut Bram.


"Kata Tuan Gerrald, kamu yang sudah menyimpan semua surat-surat penting mengenai aset dan juga lahan itu, cepat katakan dimana kamu menyimpannya!" bentak Okta.


"Aku tidak punya surat itu," seru Bram.


Bughh...


Okta memukul Bram dengan sangat keras. "Kalian semua memang sudah mempermainkan aku. Tutup mata mereka semua dan bawa mereka ke suatu tempat," seru Okta.


Semuanya berontak, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya semuanya dibawa pergi dengan kepala masing-masing tertutup dengan kain hitam termasuk Gea yang sudah tidak sadarkan diri.


Mereka tidak tahu, Okta akan membawa mereka kemana yang jelas saat ini mereka berada dalam sebuah mobil. Saat ini waktu sudah hampir menunjukan pukul enam pagi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, rombongan mobil itu pun sudah sampai di suatu tempat. Anak buah Okta menyeret semuanya untuk keluar dari dalam mobil.


"Buka semua penutup wajah mereka!" perintah Okta.


Anak buah Okta pun membuka semua penutup wajahnya, mereka tampak menyipitkan matanya karena silau. Mereka tampak celingukan dan saat ini ternyata mereka sudah berada di sebuah ujung tebing dengan di bawahnya air laut.


Gea pun sudah mulai membuka matanya, tubuhnya sangat lemah dengan darah di wajahnya yang sudah mulai mengering.


"Kalian sudah tidak bisa diajak bicara dengan cara lembut, kalau begitu aku harus berbicara dengan cara kekerasan," seru Okta.


Semua orang tampak menatap tajam ke arah Okta.


"Bawa anak itu kesini!" seru Okta.


Gea pun diseret ke hadapan Okta yang saat ini sedang berdiri tepat di atas tebing.


"Kamu lihat Tuan, di bawah air laut itu sangat deras bahkan kalau aku lempar anakmu ke bawah, sudah dipastikan ombak besar itu akan langsung menelan tubuh anakmu ini," seru Okta.


"Jangan macam-macam kamu Okta!" teriak Gerrald.


"Cepat katakan dimana surat-surat penting itu, atau aku lempar anakmu sekarang juga."


"Bram, katakan saja dimana surat-surat itu!" bentak Gerrald.


"Maaf Tuan, tapi saya sudah berikan surat-surat itu kepada Nona Gea," sahut Bram.


Okta mengepalkan tangannya, Okta pun mencengkram wajah Gea.


"Dimana kamu simpan surat-surat itu?"


Gea hanya menyunggingkan senyumannya, tenaganya sudah habis bahkan untuk berbicara pun Gea sudah tidak sanggup.


Lagi-lagi Gea hanya menyunggingkan senyumannya. "Maafkan Gea, Daddy. Gea tidak akan memberitahukan dimana surat-surat itu, Gea yakin walaupun Gea memberitahukan semuanya, orang ini tidak akan membiarkan kita hidup," sahut Gea dengan lemahnya.


"Gea, aku mohon beritahukan semuanya kalau sampai terjadi kenapa-napa sama kamu, aku tidak akan bisa memaafkan diri aku sendiri," seru Victor.


"Ayolah Kak, beritahukan dimana surat-surat itu," seru Gio.


Gea menggelengkan kepalanya membuat Okta semakin murka. "Masukam dia ke dalam karung itu dan lempar ke bawah," seru Okta.


"Tidak, jangan lakukan itu!" teriak Gerrald.


Gea tersenyum ke semuanya, hingga akhirnya Okta benar-benar memasukan Gea ke dalam karung hitam membuat semuanya berontak.


"Cepat, lempar dia!" seru Okta.


Tanpa aba-aba anak buah Okta pun mengangkat tubuh Gea yang sudah berada dalam karung hitam itu dan langsung melempar Gea ke bawah.


"Tidaaaaaaaakkkk...."


"Geaaaaaa...."


Gerrald dan Victor sudah sangat marah, hingga akhirnya tenaga mereka pun bisa melepaskan diri mereka dari ikatan anak buah Okta.


"Kurang ajar kalian, brengsek kamu Okta, aku akan membunuh kamu!" teriak Gerrald.


Gerrald dan Victor memukul semua anak buah Okta dengan membabi buta, bahkan anak buah Okta tidak sempat melawan. Begitu pun dengan Bram dan kedua adik Gea, mereka saling adu kekuatan dengan deraian airmata.


"Brengsek kalian semua!" teriak Glenn.

__ADS_1


Okta sudah mulai memundurkan langkahnya, bahkan saat ini Jeje dan pasukan Victor sudah tiba di tempat itu. Okta mengarahkan senjatanya ke arah Gerrald dan yang lainnya tapi tidak ada satu pun peluru yang bisa menembus tubuh mereka karena mereka mengunakan anak buah Okta untuk menjadi tameng.


Hingga akhirnya, disaat Gerrald sedang fokus melawan anak buah Okta, Okta memanfaatkan kesempatan dan mengarahkan pistolnya kepada Gerrald.


Dorr..dorr..dorr..


Semua orang membelalakan matanya, bahkan Okta menjatuhkan senjatanya dia tidak menyangka kalau Rival akan datang kesana dan menjadi tameng untuk Gerrald.


Dengan amarah yang memuncak, Gerrald mengambil senjata dari salah satu anak buah Okta dan segera mengarahkannya kepada Okta. Okta mulai memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit.


"Mati kamu Okta!" teriak Gerrald.


Dor..dor..dor..dor..


Gerrald memberondong tubuh Okta dengan pelurunya.


"Aaaarrrrghgghh...."


Byuuuuurrrrr....


Okta pun jatuh dari tebing dan tubuhnya langsung di telan oleh ombak besar yang menerjang.


Gerrald terduduk di tanah, pundaknya bergetar hebat dan airmatanya pun mengalir dengan derasnya.


"Geaaaaaaa......"


Anak buah Okta semuanya sudah mati, Victor, Bram, dan Gio serta Glenn tampak lemas dengan airmata yang mengalir di pipi para pria tangguh itu.


"Gea, jangan tinggalkan aku," lirih Victor.


"Kenapa semua ini terjadi kepada Kakak kita, kenapa tidak aku aja yang mati!" teriak Gio.


Glenn mendekap saudara kembarnya itu dengan deraian airmata, sedangkan Bram hanya bisa terdiam tapi airmatanya tidak bisa berhenti mengalir.


"Aaaaaaaarrrrgggghhhh....."


Gerrald berteriak sekuat tenaga...


🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2