
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Sementara itu, Victor dan Bram sedang menyusun rencana. Mereka sudah memutuskan untuk mengirim anak buah Victor masuk menyusup ke markas utama, rumah Okta dan juga ke rumah besar yang waktu itu Okta masuk ke dalamnya.
Bram mencurigai ada sesuatu di rumah besar itu dan feelingnya mengatakan kalau Gerrald ada disana.
"Pokoknya kalian harus hati-hati jangan sampai ada yang curiga kepada kalian," seru Victor.
"Baik Tuan."
"Malam ini kita pergi ke markas utama, disana nanti Jeje membukakan akses untuk masuk ke dalam markas itu," seru Bram.
"Baju yang kalian pakai sudah dipasang alat penyadap jadi aku dan Pak Bram bisa memantau keadaan kalian dan satu lagi, kalian tempel ear phone kecil ini di belakang telinga kalian. Alat ini bisa membantu untuk kita berkomunikasi," seru Victor.
Semua anak buah Victor menganggukan kepala tanda mengerti akan apa yang sudah di ucapkan oleh Bos mereka itu.
"Sekarang kalian boleh pergi dan persiapkan semuanya untuk nanti malam," seru Victor.
"Baik Tuan."
Puluhan anak buah Victor pun pamit pergi, tinggalah Victor, Bram, dan juga Fox.
"Saya sudah mengirim pesan kepada Nona Gea tentang rencana kita dan Nona Gea bilang, dia akan membantu anak buah kamu untuk masuk ke dalam rumah Okta," seru Bram.
"Bagus, aku yakin kalau rencana kita ini akan berhasil dan kita akan segera menemukan Tuan Gerrald," sahut Victor.
"Mudah-mudahan rencana kita akan berjalan dengan lancar sampai kita bisa menemukan Tuan Gerrald, soalnya kalau sampai kita ketahuan sebelum bisa menemukan Tuan Gerrald, sudah dipastikan kita akan habis dibantai oleh mereka," seru Fox.
"Kita harus optimis, kasihan Non Gea sudah puluhan tahun mencari Daddynya," sahut Bram.
***
Malam pun tiba...
Rombongan anak buah Victor pun sudah berangkat ke tempat yang sudah direncanakan. Victor memimpin ke markas utama, Bram memimpin ke rumah besar, dan Fox memimpin ke rumah Okta.
Di markas utama, Jeje sudah menunggu kedatangan Victor di depan gerbang. Jeje tampak celingukan dengan jantung yang sangat berdebar karena takut ketahuan oleh yang lainnya.
Jeje melihat di kejauhan ada mobil yang terparkir dan Jeje yakin kalau itu adalah rombongan anak buah Victor, Jeje pun segera melambaikan tangannya sebagai isyarat kalau situasi dan kondisi sedang aman.
"Nah, itu si Jeje sudah melambaikan tangannya sekarang kalian turun dan jangan lupa tetap berjaga-jaga," seru Victor.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Puluhan anak buah Victor menyusup lewat jalan rahasia seperti yang sudah diintrupsikan oleh Jeje. Setelah mereka berhasil masuk, mereka pun menjalankan tugasnya berpura-pura berjaga supaya tidak ada yang mencurigai mereka.
Begitu pun di rumah besar, puluhan anak buah Victor sudah masuk setelah sebelumnya mereka harus melumpuhkan beberapa anak buah Okta.
Lain halnya di rumah Okta, Gea terlihat kesulitan untuk memasukan anak buah Victor karena penjagaan yang ketat dan yang paling utama, disana ada Rival dan juga Okta.
"Sial, bagaimana caranya mereka bisa masuk sedangkan tidak ada sedikit pun celah untuk bisa menyusup ke rumah ini," batin Gea.
Rival dari tadi terus saja memperhatikan Gea, Rival curiga dengan Gea karena Gea terlihat melamun dan sedang memikirkan sesuatu.
Gea sudah terlihat tidak enak diam, takut kalau anak buah Victor ketahuan.
"Sudah malam, Papa pamit istirahat dulu," seru Okta.
"Baik Pa, have a nice dream Pa."
"Oke..."
Okta pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Rival dan Gea menuju kamarnya. Rival sedang sibuk dengan laptopnya, Gea pun memanfaatkan keadaan untuk mengirim pesan kepada Fox.
Fox dan puluhan anak buahnya secara diam-diam masuk ke dalam halaman rumah Okta dan melumpuhkan beberapa penjaga di rumah itu dan digantikan oleh anak buahnya.
Gea bisa melihat perkelahian senyap antara Fox dan anak buahnya, setelah dirasa berhasil, Fox menyeret penjaga rumah Okta dan menggantinya dengan anak buahnya. Fox menoleh ke arah Gea dan mengacungkan jempolnya membuat Gea menganggukkan kepalanya.
Rival mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Gea, Gea langsung memalingkan wajahnya.
"Ini sudah malam, anda juga sudah tidak membutuhkanku lagi kan? jadi aku pamit pulang," seru Gea.
"Tidak usah, aku bawa motor sendiri."
Gea pun bangkit dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya kemudian pergi dari rumah itu.
Gea segera melajukan mobilnya menuju mansion Victor karena semuanya sudah ada disana termasuk Gio dan juga Glenn.
Tidak membutuhkan waktu lama, Gea pun sudah sampai di mansion Victor. Semuanya sedang duduk berkumpul sembari memperhatikan alat yang mereka gunakan untuk memantau keadaan para anak buahnya.
Ceklek...
"Kakak..."
Victor bangkit dari duduknya saat melihat Gea datang, Gea langsung berlari dan memeluk Victor.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Victor.
Gea menganggukkan kepalanya dalam dekapan Victor.
"Nona Gea, anak buah Victor sudah tersebar di tiga tempat mudah-mudahan kita segera menemukan keberadaan Tuan Gerrald," seru Bram.
Gea pun melepaskan pelukannya. "Om, sepertinya Okta sudah mulai curiga sama Gea."
"Maka dari itu, kita harus percepat misi kita jangan sampai kita ketahuan sebelum menemukan Tuan Gerrald," sahut Bram.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang menyusun rencana, akhirnya Gea, Bram, dan kedua adiknya pamit pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Gio dan Glenn langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Nona, bisa kita bicara sebentar?" seru Bram.
"Bisa Om."
Gea pun duduk di sofa, sedangkan Bram masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian, Bram datang dengan membawa map.
"Nona, ini adalah aset dan saham milik Tuan Gerrald maaf Om baru bisa memberikannya sekarang karena Om baru bisa menemukan Nona."
Gea pun mengambil map itu, perlahan Gea membukanya dan melihat satu persatu surat yang ada di dalamnya, hingga akhirnya Gea menemukan sebuah surat lahan di Hokaido Jepang.
"Ini lahan apa, Om?" tanya Gea.
"Lahan ini adalah lahan yang diperebutkan oleh para kelompok Mafia dari dulu sampai sekarang, lahan itu masih saja jadi rebutan karena bagi orang yang memiliki lahan itu, artinya orang itu memiliki kekuasaan tertinggi karena lahan itu merupakan sebagian besar daerah kekuasaan Yakuza dan Tuan Gerrald yang berhasil mendapatkan lahan itu, maka dari itu seluruh anggota mafia sangat takut dan segan kepada Tuan Gerrald. Om yakin, Okta pun mengincar lahan itu."
Gea terlihat memperhatikan surat kepemilikan lahan itu.
"Jaga baik-baik surat-surat penting itu jangan sampai jatuh ke tangan Okta."
"Iya Om."
"Ya sudah, sekarang Nona istirahat besok kita akan tahu kabar dari Jeje mengenai perkembangannya dan kita akan segera menjalankan misi kita sebelum semuanya terlambat."
"Baik Om, kalau begitu Gea istirahat dulu. Om juga istirahat."
"Iya, Om akan istirahat sebentar lagi."
Gea pun segera masuk ke dalam kamarnya, kali ini Gea dan yang lainnya harus menyiapkan mental dan tenaga.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU