
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari minggu, meskipun kuliah libur tapi Gea harus tetap menemani Rival. Kali ini Rival akan main golf bersama rekan-rekan bisnisnya termasuk Okta juga.
Gea mengemudikan mobil Rival menuju lapangan golf elit, sesampainya disana banyak rekan bisnis Rival yang memperhatikan Gea membuat Gea merasa tidak nyaman.
"Abaikan saja mereka jangan pedulikan tatapan itu," seru Rival.
Gea hanya menganggukkan kepalanya, Rival mengajak Gea duduk di meja yang berada di pojokan.
"Kamu duduk disini saja, aku mau ke sana dulu."
"Baik."
Rival pun menghampiri teman-temannya dan mulai bermain golf, Gea mengotak-ngatik ponselnya tapi tidak sengaja Gea melihat Okta sedang berbicara dengan beberapa orang.
Gea melihat Rival sedang asyik main golf dan Gea memutuskan untuk menyelediki Okta. Dengan langkah yang mengendap-ngendap, Gea menghampiri meja dimana Okta dan ketiga orang itu sedang mengobrol.
Gea bersembunyi dibalik tiang pembatas..
"Bagaimana apa kalian sudah menemukan keluarga Mr.G?" tanya Okta.
"Belum Tuan, mereka pintar sekali bersembunyi tapi menurut informasi ketiga anak Mr.G kuliah di kampus yang sama dengan Tuan Rival."
"Benarkah?"
"Iya Tuan dan menurut informasi juga mereka mempunyai kerjaan sampingan menjadi pembunuh bayaran dan kami yakin kalau mereka juga yang berada dibalik semua perampokan yang selama ini mengatasnamakan God Of Death."
"Ternyata buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, darah mafia mengalir di darah mereka. Satu lagi, menurut penjaga waktu aku ke rumah besar ada yang mengikutiku dan aku yakin itu adalah salah satu dari mereka, perketat penjagaan di rumah itu jangan sampai ada penyusup," seru Okta.
"Baik Tuan."
"Bagus, kalau begitu kalian boleh pergi dan berikan makanan untuk dia kalau sampai dia menolaknya lagi, kalian paksa saja dia untuk makan jangan sampai dia mati sebelum aku mendapatkan semuanya," seru Okta.
Gea membelalakan matanya. "Dia? siapa orang yang dimaksud Okta?" batin Gea.
Orang-orang itu pun pamit meninggalkan Okta dan Okta pun bangkit dari duduknya dan bergabung bersama Rival untuk bermain golf.
Gea kembali ke tempat semula, pikirannya melayang mengingat perkataan Okta barusana.
"Apa jangan-jangan orang itu Daddy? aku harus tahu rumah itu, bagaimana pun caranya aku harus masuk ke rumah itu," batin Gea.
__ADS_1
Selama menunggu Rival bermain golf, perasaan Gea merasa tidak enak dia terus saja kepikiran Daddynya.
***
Sementara itu...
Victor, Bram, dan Fox sudah berada di sebuah restoran dengan privat room menunggu kedatangan Jeje.
Ceklek...
"Maaf Tuan saya terlambat soalnya saya harus menunggu situasi aman dulu," seru Jeje.
"Tidak apa-apa, duduklah," sahut Bram.
Jeje pun duduk...
"Bagaimana apa ada informasi terbaru?" tanya Bram.
"Tadi malam Tedi ke markas, dan dia memberikan informasi penting," sahut Jeje.
"Tedi?"
"Iya Tuan, sepuluh tahun yang lalu Tedi dibawa oleh Okta dan aku hilang kontak dengannya tapi tiba-tiba tadi malam dia datang ke markas dan memberikan informasi tentang keberadaan Tuan Gerrald."
"Apa? dimana Tuan Gerrald sekarang?" tanya Victor tidak sabar.
"Ini alamat rumahnya, Tuan Gerrald di sekap disana dan Tedi bilang Okta saat ini sedang mencari keberadaan anak-anak Tuan Gerrald, Okta ingin mendapatkan lahan yang ada di Jepang itu," sahut Jeje dengan memberikan secarik kertas kepada Bram.
"Baiklah Tuan-tuan, saya harus segera kembali ke markas karena takut ada yang curiga."
"Oke, terima kasih Je kamu sudah setia kepada Tuan Gerrald," seru Bram.
"Sampai kapan pun Tuan saya hanyalah Tuan Gerrald tidak ada yang lain, soalnya Tuan Gerrald adalah orang yang sudah menyelamatkan saya, jadi sampai kapan pun saya akan mengabdikan diri kepada Tuan Gerrald," sahut Jeje.
Setelah pertemuan itu, mereka bertiga pun kembali ke mansion Victor untuk menyusun rencana selanjutnya. Gio dan Glenn pun sudah berada disana, tinggal Gea saja yang belum datang karena masih harus menemani Rival.
Berbeda halnya dengan Tedi, saat ini Tedi sedang berada di kamar Gerrald dan menceritakan semuanya kepada Gerrald tentang pertemuannya dengan Jeje semalam.
Airmata Gerrald menetes, bahkan saat ini Gerrald sudah mengepalkan kedua tangannya saat mendengar kalau istri yang sangat dia cintai sudah meninggal akibat bunuh diri.
"Kurang ajar kamu, Okta. Kamu harus membayar semuanya. Tedi, buka pasung ini!" seru Gerrald dingin.
"Tapi Tuan, ini belum saatnya kita pergi dari sini kita hanya berdua sedangkan diluar penjagaan sangat ketat. Tuan Bram baru akan bergerak malam ini untuk menolong Tuan."
"Kamu meragukan kemampuanku, Tedi!"
Tedi langsung menundukan kepalanya, dia sangat takut akan tatapan Gerrald. Hingga akhirnya Tedi pun membuka pasung yang sudah menjerat tangan dan kaki Gerrald.
Setelah terlepas, Gerrald pun mengangkat kasur yang selama ini menjadi tempat untuk dia tidur. Ternyata di dalamnya ada senjata yang sengaja Gerrald sembunyikan untuk berjaga-jaga.
Gerrald bukannya tidak mau kabur, sepuluh tahun lamanya Gerrald menahan diri karena Okta selalu mengancamnya bahwa dia akan membunuh seluruh keluarganya tapi setelah mendengar kalau istrinya meninggal akibat bunuh diri, darah Gerrald mendidih dan langsung naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Jadi selama ini anak-anakku hanya tinggal di sebuah apartemen kecil dan mereka bekerja sebagai pembunuh bayaran hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka," gumam Gerrald.
Gerrald hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu tapi lagi-lagi Tedi menahannya.
"Tuan, saya mohon pikirkan baik-baik bukanya saya tidak percaya akan kemampuan Tuan tapi untuk sekarang situasinya tidak memungkinkan, pengawal diluar sana sangat banyak dan kita disini hanya berdua. Tuan tidak mau kan berakhir dengan kematian? ingat Tuan, anak-anak Tuan menunggu kepulangan Tuan dengan selamat jadi Tuan mementingkan ego Tuan yang pada akhirnya akan berakhir dramatis. Maaf Tuan saya tidak bermaksud menasehati Tuan," seru Tedi dengan menundukan kepalanya.
Gerrald menghentikan langkahnya, ucapan Tedi ada benarnya kemudian Gerrald melihat ke arah lantai bawah dari jendela kamarnya dan Gerrald mengerutkan keningnya.
"Mereka siapa? sepertinya mereka bukan bagian dari God Of Death?" seru Gerrald.
"Mereka anak buah Tuan Victor, Tuan."
"Victor?"
"Iya, sepertinya Tuan Victor sama seperti kita tapi dia bukan Mafia. Tuan Victor adalah kekasihnya Nona Gea."
"Apa?"
"Iya, Nona Gea awalnya bekerja sebagai Bodyguardnya Tuan Victor tapi lama-kelamaan Tuan Victor menyukai Nona Gea dan sekarang dia yang membantu kita."
Gerrald terlihat mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Oke, kita akan beraksi nanti malam persiapkan semuanya."
"Baik Tuan."
Gerrald pun kembali menyimpan senjatanya dan dia pun kembali terbaring di atas tempat tidur kemudian menyuruh Tedi untuk memasungnya kembali.
"Lihat saja Okta, aku akan habisi kamu dengan tanganku sendiri," batin Gerrald.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU