
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Wanita cantik itu menggerakan tangannya dan perlahan membuka matanya, wanita cantik yang tidak lain adalah Gea itu tampak memperhatikan kamar kecil yang dia tempati itu.
Seorang wanita berusia empat puluh tahunan pun masuk ke dalam kamar yang ditempati Gea dengan membawa baskom berisi air, wanita itu berniat ingin membersihkan tubuh Gea.
"Ya Allah, Pak cepat sini Pak!" teriak wanita itu.
"Ada apa Bu? kok teriak-teriak?"
"Lihatlah Pak, Lia sudah sadar."
"Alhamdulillah ya Allah."
Pasangan suami istri pun menghampiri Gea, Gea hanya menatap datar kedua orang itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar juga Nak," seru Bapak-bapak yang bernama Tatang itu.
"Ka--lian siapa? dan aku ada dimana?" lirih Gea.
"Kamu ingat siapa nama kamu?" tanya Ibu Yanti.
Gea menggelengkan kepalanya membuat Yanti menyunggingkan senyumannya.
"Kalian siapa?" tanya Gea kembali.
"Kami menemu......"
Ucapan Tatang terhenti karena Yanti membekap mulut suaminya itu.
"Kamu tidak ingat Nak, kami adalah orangtuamu dan nama kamu Lia," seru Yanti.
"Bu!" sentak Tatang.
"Sebentar ya Nak, Ibu mau bicara dulu dengan Bapakmu."
Yanti pun menarik Tatang untuk keluar dari rumahnya.
"Bu, Ibu sudah keterlaluan kenapa Ibu bohong?" seru Tatang.
"Pak, Bapak tidak lihat apa kalau wajah gadis itu mirip dengan Lia kalau dia hilang ingatan itu tandanya Allah memberikan jalan untuk kebahagiaan kita."
"Bu, Lia sudah meninggal dan anak itu bukan Lia. Bagaimana kalau keluarganya saat ini sedang mencari keberadaan anak itu kasihan Bu keluarganya," sahut Tatang.
"Pak, dia sudah satu bulan tidak sadarkan diri dan sampai sekarang tidak ada satu pun yang mencarinya, itu tandanya anak itu tidak punya keluarga. Pokoknya Ibu tidak mau tahu, Bapak jangan sampai bilang kepada siapa pun kalau ada anak itu disini, Ibu ingin anak itu tetap ada disini."
"Tapi Bu.....?"
__ADS_1
"Awas saja kalau Bapak berani membocorkan kepada siapa pun kalau ada anak itu disini, Ibu tidak akan memaafkan Bapak."
Yanti pun masuk kembali ke dalam rumahnya, sedangkan Tatang terlihat sangat kebingungan. Tatang dan Yanti dulu mempunyai anak bernama Lia, wajah Lia mirip sekali dengan Gea bedanya Lia mempunyai ta* lalat dibawah bibirnya.
Lia meninggal akibat penyakit kanker yang di deritanya, Yanti merasa sangat terpukul dengan kepergian anak satu-satunya itu hingga pada akhirnya sebulan yang lalu, saat Yanti sedang mencari kerang, Yanti melihat karung hitam yang teronggok di sisi pantai.
Awalnya Yanti sangat takut untuk membuka karung itu, tapi Yanti pun merasa penasaran dan akhirnya membuka karung itu. Betapa terkejutnya Yanti saat melihat ada anak perempuan di dalam sana dan yang lebih membuatnya terkejut, wajah gadis itu mirip sekali dengan anaknya yang sudah meninggal.
Gea pun terduduk di kasur sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sayang, ini Ibu masakan makanan kesukaan kamu," seru Yanti dengan membawa nampan makanan.
"Sekarang kamu makan ya, biar Ibu yang suapin kamu."
Perlahan Yanti menyuapi Gea, Gea memperhatikan Yanti dengan seksama.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun?" tanya Gea.
"Sebulan yang lalu kamu mengalami kecelakaan dan kepala kamu terbentur, tapi tidak apa-apa, Ibu akan membantu kamu untuk mengingat semuanya," seru Yanti dengan senyumannya.
Entah kenapa Gea merasa aneh saja, tidak ada ikatan batin yang Gea rasakan seperti halnya seorang anak bertemu dengan orangtuanya.
"Pokoknya kamu jangan khawatir ya, kamu harus banyak istirahat dan jangan keluar rumah tanpa seizin Ibu karena diluar itu sangat bahaya, kamu kan sedang tidak ingat apa-apa takutnya kamu malah tersesat."
Gea pun menganggukan kepalanya, sementara itu Tatang yang melihat dari balik pintu merasa tidak setuju dengan keputusan istrinya itu. Tatang yakin, pasti saat ini keluarganya sedang mencari keberadaan anak yang ditemukan istrinya itu.
Waktu sudah mulai sore, dan mobil Victor pun mulai memasuki daerah yang bisa dikatakan terpencil itu. Sebelumnya, Victor sudah membeli rumah disana.
Walaupun menurut Victor rumah itu jauh dari kata mewah, tapi bagi penduduk disana rumah Victor adalah satu-satunya rumah yang paling besar.
"Gea, aku akan terus menunggumu. Aku yakin kamu masih hidup, jadi aku mohon kembalilah," batin Victor.
"Tuan, ayo masuk anginnya sangat kencang," seru Fox.
Victor pun masuk ke dalam rumah itu, Victor langsung masuk ke dalam kamarnya. Direbahkannya tubuhnya, sungguh akhir-akhir ini tubuh dan pikiran Victor merasa sangat lelah.
Mata Victor pun mulai sayu dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Victor pun menuju alam mimpinya.
***
Keesokan harinya...
Gea sudah bangun pagi-pagi sekali, Gea pun melangkahkan kakinya menghampiri lemari pakaian. Di dalamnya memang ada beberapa baju Lia dan kebetulan ukuran badan Gea dan Lia sama.
Setelah mengambil satu stel pakaian, Gea pun keluar dari dalam kamarnya dan terlihat celingukan mencari keberadaan kamar mandi.
"Astaga Nak, kok pagi-pagi sekali sudah bangun?" seru Tatang yang baru saja kembali dari mushola.
"Aku mau mandi."
"Oh, itu disana kamar mandinya!" tunjuk Tatang.
"Ah iya, terima kasih."
Gea pun segera menuju kamar mandi, Yanti saat ini sedang memasak untuk sarapan. Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan betapa terkejutnya Yanti saat melihat Gea keluar dengan memakai pakaian Lia.
__ADS_1
Mata Yanti sudah sangat berkaca-kaca, Yanti sangat merindukan anaknya itu.
"Ya ampun Lia."
Gea hanya terdiam, dia bingung karena Yanti tiba-tiba berdiri dan memeluk Gea dengan sangat erat.
"Ibu sangat merindukanmu Lia."
"I--ibu kenapa? kok malah menangis?"
Yanti pun melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya.
"Tidak apa-apa, Ibu hanya rindu saja sama kamu."
Gea pun menyunggingkan senyumannya, tapi Gea tidak bisa memungkiri kalau hatinya mengatakan tempat ini asing dan dia tidak mengingat apa pun tentang rumah dan nama dirinya sendiri.
"Kalau begitu, Ibu lanjutkan masak sarapan dulu."
Gea berdiri di depan jendela kamarnya, rumah Yanti dan Tatang berada di pesisir pantai dan sangat dekat dengan laut. Gea menatap lautan di depan sana, melihat deburan ombak membuat kepala Gea merasa pusing.
"Aw...." lirih Gea dengan memegang kepalanya.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Tatang khawatir.
"Kepalaku pusing, Pak."
"Ya sudah kamu tiduran saja, kamu kan masih belum sehat."
Gea pun menganggukkan kepalanya, diwaktu yang bersamaan Victor pun baru saja sampai di pinggir pantai. Lagi-lagi Victor menatap jauh ke lautan luas itu.
"Gea, aku sangat merindukanmu. Kembalilah, aku akan selalu menunggumu sampai kapan pun," batin Victor.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1