
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Dengan tangan yang bergetar, Priska mengambil pistol itu dan mengarahkan kepada Gio. Gio masih berdiri di hadapan Priska, dia sama sekali tidak gentar saat Priska menodongkan pistolnya ke arah dirinya.
"Kenapa kamu membunuh kedua orangtuaku? apa salah mereka kepadamu?" tanya Priska dengan deraian airmatanya.
"Mereka tidak mempunyai salah apa pun tapi alasan pekerjaanku yang mengharuskan aku melakukan semua itu," sahut Gio.
"Pekerjaanmu?"
"Iya, selama ini aku bekerja sebagai pembunuh bayaran. Jadi siapa pun yang menyewa jasaku, aku harus melakukannya dengan profesional."
"Si--siapa yang sudah menyuruhmu untuk membunuh kedua orangtuaku?"
"Hendra, Hendra Pamungkas."
Deg...
Priska tampak membelalakan matanya, bahkan pistol yang dia pegang pun sudah terjatuh ke lantai. Tubuh Priska merosot ke lantai dan terduduk di lantai dengan airmata yang semakin keluar deras dari mata indahnyanya itu.
Priska menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak mungkin. Apa alasannya Om Hendra membunuh Mama dan Papa?" seru Priska.
"Dia iri karena usaha Papamu lebih maju dibandingkan dirinya mangkanya dia menyewa jasaku untuk membunuh orangtuamu supaya dia bisa menguasai harta kedua orangtuamu," sahut Gio.
Tangisan Priska semakin tidak terkendali lagi, pundaknya bergetar hebat mendapat penjelasan dari Gio. Gio sungguh tidak tega melihat Priska seperti itu, perlahan Gio mendekati Priska dan berjongkok di hadapa. Priska.
Gio mengulurkan tangannya dan memegang pundak Priska.
"Maaf, maafkan aku," seru Gio.
Priska mendongakan kepalanya dan langsung memukuli Gio dengan tangannya tapi Gio diam saja, dia membiarkan Priska melampiaskan kemarahannya.
"Kamu jahat Gio, kamu sudah dengan kejamnya membunuh Mama dan Papaku. Kamu tahu tidak, kalau di dunia ini aku hanya punya mereka dan setelah kamu bilang kalau Om Hendra yang menyuruhmu, aku sekarang tidak punya lagi orang yang bisa aku jadikan tempat bersandar. Kamu jahat Gio, kamu jahat, aku benci sama kamu!" teriak Priska dengan deraian airmatanya.
Gio benar-benar tidak tega melihat Priska hancur seperti itu, Gio pun memeluk Priska. Awalnya Priska berontak dan menolak pelukan dari Gio, tapi lama-kelamaan Priska merasa lemas dan hanya bisa menangis di pelukan Gio.
"Kamu jahat Gio, aku benci sama kamu."
"Maaf, maafkan aku Priska."
Tidak lama kemudian, Priska pingsan membuat Gio sedikit panik.
"Pris, Priska kamu kenapa?" seru Gio dengan. menepuk pipi Priska.
__ADS_1
Gio pun mengangkat tubuh Priska dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Gio merebahkan tubuh Priska di tempat tidurnya, Gio mengambil minyak angin dan berusaha membuat Priska sadar kembali.
Beberapa saat kemudian, Priska pun mulai membuka matanya dan langsung terbangun saat melihat Gio ada di sampingnya.
"Apa kamu mau membunuhku malam ini?" seru Priska.
"Tidak, justru aku menyerahkan diri kepadamu. Aku sudah capek hidup bergelimangan dosa, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaanku lagipula saat ini aku sudah menemukan Daddy kami, jadi tidak ada alasan lagi untuk aku menjadi pembunuh bayaran lagi," sahut Gio.
"Apa kamu sudah siap kalau aku laporkan kamu ke Polisi?" tanya Priska.
"Jangankan kamu laporkan aku ke Polisi, kamu mau bunuh aku sekalipun aku sudah sangat siap karena aku akui kalau aku sudah melakukan hal yang sangat berdosa dan mungkin hanya nyawaku yang bisa menebus semua kesalahanku padamu."
"Kenapa kamu memilih pekerjaan seperti itu? padahal masih banyak pekerjaan yang halal yang bisa kamu lakukan."
"Ceritanya sangat panjang dan aku tidak mungkin menceritakannya kepadamu."
Priska memalingkan wajahnya ke arah lain. "Pergilah!"
Gio tampak terdiam mendengar ucapan Priska.
"Aku bilang pergilah, aku tidak bisa melaporkanmu ke Polisi ataupun membunuhmu."
"Kenapa?" tanya Gio.
Priska terdiam, dia tidak mungkin mengatakan alasannya karena dia sudah mulai mencintai Gio.
Gio kembali menghampiri Priska dan menyerahkan pistolnya kepada Priska, kemudian Gio menuntun tangan Priska untuk mengarahkan pistolnya tepat ke arah bagian jantung Gio.
"Tarik pelatuknya, Priska!"
"Aku tidak bisa."
"Kenapa Priska?"
Priska menatap mata Gio, cukup lama Priska dan Gio saling tatap hingga akhirnya Priska kembali menjatuhkan pistolnya dan itu membuat Gio merasa sangat bingung.
"Ayo tembak aku, Priska!" perintah Gio.
Priska kembali menundukan kepalanya dan menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis, tembaklah aku!"
"Apa kamu tidak dengar, aku bilang aku tidak bisa melakukannya!" bentak Priska.
"Tapi kenapa? jawab aku Priska?" Gio balik membentak Priska dengan mengguncangkan kedua pundak Priska.
"Aku tidak bisa melakukannya karena aku sudah mulai menyukaimu!" teriak Priska dengan deraian airmatanya.
Gio membelalakan matanya dan memundurkan langkahnya.
"Aku menyukaimu, Gio. Aku sudah menyukai pria pembunuh orangtuaku," seru Priska.
__ADS_1
Priska menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku tidak tahu, ada apa dengan diriku? yang jelas aku sudah mempunyai perasaan itu sejak pertama kali kita bertemu."
Perlahan Gio menghampiri Priska, dan menarik tubuh Priska untuk berdiri. Gio menghapus airmata Priska.
"Aku ini orang jahat, bahkan aku sudah membunuh kedua orangtuamu jadi kamu tidak pantas mencintaiku. Kamu berhak mendapatkan pria yang baik-baik dan bisa membahagiakanmu," seru Gio.
Priska kembali menggelengkan kepalanya. "Apa salah kalau aku mencintai seorang pembunuh? cinta itu tidak bisa dipaksakan Gio, dan cinta itu datang secara tiba-tiba tanpa diminta. Aku tahu kamu sudah membunuh kedua orangtuaku, tapi dengan aku balik membunuhmu apa orangtuaku akan kembali lagi? dengan kamu sudah mengakui semuanya saja aku sudah sangat bahagia, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan identitasmu."
Gio langsung memeluk Priska, Gio juga sebenarnya sudah menyimpan perasaan yang sama kepada Priska.
"Maafkan aku Priska, sekali lagi aku minta maaf."
Priska tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara itu...
Gea dan Victor walaupun tinggal di tempat yang berbeda tapi malam ini mereka sama-sama tidak bisa tidur. Keduanya terlihat guling-guling kesana kemari, merasa tidak enak.
"Gea...aku harus cari kamu kemana lagi? kalau menurut secara logika, seharuskan aku mengikhlaskan kamu karena kamu tidak mungkin selamat secara kamu dilempar dalam keadaan terikat dalam karung ke lautan yang dalam itu dan sampai sekarang aku belum bisa menemukan keberadaanmu, tapi entah kenapa aku merasa kalau kamu masih hidup dan justru aku merasakan kalau kamu saat ini sedang berada di dekatku," batin Victor.
Victor bangkit dari tidurnya, kemudian membuka jendela balkon yang langsung mengarah ke lautan.
"Gea, aku sangat merindukanmu."
Deg...
Jantung Gea tiba-tiba kembali berdebar, Gea pun segera bangkit dari tidurnya dan berdiri di depan jendela dengan melihat pantai yang tampak gelap dan hanya ada cahaya bulan disana.
"Kenapa jantungku, selalu tiba-tiba berdebar seperti ini? Ibu bilang, aku tidak punya kekasih tapi aku merasa ada seseorang yang sedang menungguku," batin Gea.
Gea dan Victor saat ini sama-sama melihat ke lautan, mereka tidak sadar kalau selama ini cinta mereka ada di tempat yang sama hanya tinggal menunggu waktu saja kapan saatnya mereka bisa bertemu.
🔫
🔫
🔫
🔫
🔫
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU